Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 371


__ADS_3

"Kenapa nggak diangkat, sih?" gumam Yusuf.


Anak-anak telah selesai mengaji, namun Airy tak kunjung menjawab telpon dari Yusuf. Hamdan menanyakan, bagaimana jawaban Airy. Yusuf pun menggeleng.


"Kalau begitu, kita bersihkan saja dulu. Nanti kalau mereka tiba-tiba datang, dan melihat seperti kapal pecah gini. Yang ada kita malah dapat hukuman," ujar Hamdan.


Tak berselang lama, Airy dan Laila pun datang membawa anak-anak mereka. Rafa masih mending dia mau di pesantren bersama Mayshita. Tapi ketiga Balita itu tidak ada yang merawatnya.


"Hah? Sampai besok sore?" tanya Yusuf dan Hamdan bersamaan.


"Terus? Kenapa harus kita?" lanjut Hamdan. "We? We, we, we, we?"


"Apa, sih! Cuma bentar doang, 'kan? Nggak ada 24 juga!" tampol Airy.


"Aw, Kak Airy mah gitu. Main tampol aja, kesel ane!" seru Hamdan.


"Kita ngga mungkin nitipin ke Uti ataupun tante Balqis dan Tante Sera. Kalian harus jagain mereka ya. Besok aminah akan kesini membantu kalian, kok. Lagipula besok kalian kan libur sekolah, apa susahnya? Ini bayi tiga nggak ngrepotin, kok, makasih sebelumnya…." ucap Airy dengan manis.


"Kalian berangkat malam? Suami kalian kemana?" tanya Yusuf.


Justru mereka menitipkan balitanya kepada Yusuf dan Hamdan karena para bapaknya ikut serta dalam perjalanan itu. Tidak mungkin balitanya akan dibawa karena perjalanan jauh. Laila dan Airy mengharap keikhlasan dan kelapangan dada para adiknya untuk mengurus Ayanna, Anthea dan Gehna.


Setelah Airy dan Laila menitipkan anaknya tanpa rasa belas kasih karena mereka langsung pergi begitu saja, tak berselang lama Gu dan Raditya pulang dalam keadaan lelah. Mereka melihat rumah berantakan dengan mainan anak-anaknya pun merasa kesal.


"Yusuf, Hamdan! Kenapa rumah berantakan gini, sih? Si Kembar berkunjung ke sini, kah?" teriak Gu.


"Sttt, biasakan masuk mengucapkan salam, ngapa? Mereka juga baru saja tidur. Jangan teriak-teriak, aku juga sedang belajar. Sudahlah, kalian makan malam masak sendiri ya. Aku mau sambung belajar dulu, jangan masuk ke kamar Hamdan juga. Di sana ada Gehna yang juga baru tidur," ucap Yusuf menggaruk-garuk kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa semua balita ada di sini? Siap-siap malam nanti nggak bisa tidur dah!" keluh Gu.


Gu dan Raditya langsung bersih-bersih dan tidur. Tepat jam 3 pagi, Gehna menangis sangat keras. Hamdan yang kaget pun sampai melompat dari kasur, dirinya lupa jika ada Gehna di sampingnya.


"Bayi siapa ini? Nangis pula?" Hamdan menyalakan lampunya.


"Gehna? Kok dia ada di sini, sih? Siapa yang... ah, aku lupa kalau dia dititipin di sini. Kenapa nangis, sih? Jangan nangis, dong!" serunya kebingungan.


Baru saja Hamdan merasa nyenyak dengan tidurnya, terbangun langsung melompat karena kaget mendengar tangisan Gehna. Tentu saja membuat kepalanya pusing, masih bingung harus bagaimana, Hamdan menelpon Laila karena bayinya menangis.


"Nggak di angkat! Sudah 50x aku telpon, keterlaluan!" kesal Hamdan.


"Jangan nangis, dong, Gehna, cantikku. Berhenti nangisnya ya. Kamu mau apa? Susu, maem atau mau jalan-jalan? Om mu yang ganteng ini bakal gendong kamu deh, kamu diem ya....." Hamdan berusaha masih keras agar Gehna berhenti dari nangisnya.


Namanya juga bayi, jika satu nangis, pasti semuanya nangis. Termasuk Anthea yang saat itu ikutan menangis. Berbeda dengan Ayanna yang masih ngebo tidurnya. Ia bahkan tak terganggu sama sekali dengan tangisan kedua saudarinya.


"Astaghfirullah hal'adzim, Allahu Akbar. Thea kenapa nangis? Lapar, ya? Mau minum susu? Sini, Om Ucup gendong ya, tapi Thea berhenti nangis, nanti Kakak Ayanna kebangun, Om Ucup tambah repot nanti, oke?" ucap Yusuf seraya menggendong Anthea pergi ke dapur dengan bersholawat.


"Haih, aku pusing sekali. Kenapa Gehna makin menjadi-jadi, sih, nangisnya? Pasti karena dia lagi pengen dimanja sama cowok se ganteng diriku," gumamnya.


"Gehna, cantik diam ya, Sayang... susu nggak mau, makan nggak mau. Udah aku cium-cium juga masih nangis, kamu maunya apa?" nampak gambaran ke frustasi-an dari wajah Hamdan.


Gu dan Raditya keluar dari kamarnya, mereka bertemu dengan Yusuf yang sedang duduk di ruang tamu menggendong Anthea yang sudah tidak menangis lagi.


"Si kembar nggak nangis?" tanya Gu.


"Thea tadi nangis sebentar, kalau Ayanna masih ngleketer boboknya," jawab Yusuf dengan santai.

__ADS_1


"Gehna. Berarti Gehna yang nangis. Hamdan ini ya, kenapa nggak pinter ngurus bayi, sih? Bayinya juga kan sudah hampir setahun, $@&©×$#-@;:...." Gu berjalan ke kamar Hamdan dan mengetuknya. Sementara Raditya duduk di sebelah Yusuf dengan senyuman konyolnya.


"Capek pasti ngurus bayi, tapi yang satunya boboknya anteng ya?" tanya Raditya.


"Capek nggak capek, sih, Mas. Kalau dilakuin dengan ikhlas hati, pasti juga akan terasa nikmat. Itung-itung latihan aja, anggap saja anak ini anak kita sendiri gitu. Apalagi, memang tiga bayi ini keponakan kandung semua," jawab Yusuf.


"Kamu beda banget sama si Hamdan. Dia sepertinya kerepotan ngurus Gehna. Coba kamu bantu, biar aku yang nidurin Anthea ke kamar," pinta Raditya.


Akhirnya Raditya dan Gu ikut turun tangan juga. Sementara Anthea bersama dengan Raditya, Yusuf pergi ke kamar Hamdan menanyakan ada apa dengan Gehna. Di kamar, Hamdan dan Gu malah sedang bertengkar karena Gehna belum juga berhenti menangis.


"Kalian ini kenapa, sih? Malah berantem sendiri, tuh Gehna-nya masih nangis. Di diemin kek, dikasih susu kek atau apa gitu, cari tahulah dia tuh nangis karena apa?" kesal Yusuf meraih Gehna dari gendongan Gu. Karena waktu itu itu, Gu yang giliran menggendong Gehna.


Alasan Gehna menangis, ternyata karena dia tidak nyaman dengan popok ya yang ter-kotori oleh poopnya sendiri. Hamdan hanya cengangas-cengegesan mendengar itu, ia tidak tahu jika Gehna buang air besar.


"Hehe, aku mana tau, ya udah sana kamu ganti, Cup. Terima kasih sebelumnya," ucap Hamdan tak tau diri.


"Enak aja, kamulah yang gantiin. Aku dah lelah ngurus dua balita, masa kamu ngurus satu aja ngeluh. Dah ni, cepat ganti, terus di kasih susu lagi. Pasti dia tidur nanti," baru kali ini Yusuf menggerutu yang bisa membuat Hamdan cuma bilang iya, iya saja.


Masalah tangisan Gehna teratasi, dengan gugup dan takut salah, Hamdan mengganti diapers Gehna dengan hati-hati. Apalagi, dengan jenis kelamin Gehna yang berbeda dengannya, Hamdan merasa tidak nyaman karena melihat itu.


"Eh, ngapain ambil tisu basah? Cebokin lah, pakai air hangat tuh ada di dapur!" seru Raditya.


"Ya, masa cebokin, sih? Aku lihat itunya aja takut, apalagi nyentuh?" protes Hamdan.


"Ini bayi, nggak usah mikir aneh-aneh, deh. Cepat sana cebokin ke wastafel, buru!" tegas Gu.


"Iya, iya!"

__ADS_1


"Kamu juga kenapa poop di malam hari, sih? Harus ya nunggu Aminah datang besok, huu dasar!" gerutu Hamdan.


Selesai semuanya, mereka kembali ke kamarnya masing-masing dan sambung tidur. Begitu juga dengan Gehna yang sudah nyenyak tidur kembali bersama dengan Hamdan.


__ADS_2