Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 223


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, semuanya. Kalian mau dengar nggak? Yusuf, hah.. hah.. hah," teriak Aminah dengan terengah-engah.


"Wa'alaikumsalam, minum dulu!" ucap Mayshita memberikan sebotol air putih.


"Tarik nafas dulu, tenangkan hatimu. Setelah itu, baru kamu ungkapkan," sahut Falih, yang kini sudah mulai lancar berbahasa Indonesia maupun Jawa.


Posisi mereka saat ini, sedang berada di perkebunan milik pesantren. Mereka sedang memanen sayuran, dan bermain. Di antara mereka ada Mayshita, Gu, Hamdan dan Falih, yang kemudian di susul oleh Aminah dengan membawa kabar penting.


Selain Gu, mereka ini lahir di tahun yang sama meski beda bulan dan tanggal, termasuk Yusuf adik Airy. Mereka juga sangat rukun, perbedaan bahasa bukan berarti membuat mereka canggung, malah mereka semakin erat tali persaudaraannya karena perbedaan itu.


"Lanjutkan!" seru Hamdan.


"Yusuf! Yu.. sek, Yusuf.. hah.. kok kesel aku, yo (kok capek aku, ya)," keluh Aminah.


"Ndene, kei aku wedange, neh! (Sini, kasih aku minumnya, lagi!)" pintanya.


"Mbok yo, berdoa sek. Koyo ra nde adab wae, sih! (Berdoa dulu, seperti tak punya adab saja, sih!)" tegur Mayshita.

__ADS_1


Setelah selesai meneguk minum sampai satu botol, Aminah melanjutkan ceritanya. Ia mengatakan, jika Yusuf dan Papanya akan pergi ke Jakarta, untuk beberapa hari. Dan jika diijinkan, Aminah juga ingin ikut ke sana.


"Yang benar? Kok Yusuf nggak ajak-ajak kita, ya?" sela Falih.


"Mungkin, memang ada urusan penting," timpal Hamdan.


"Sepenting apa urusannya, sehingga kita tidak di beri tahu sama sekali?" tanya Gu.


"Nah itu dia, aku juga nggak tau," jawab Aminah masih dengan nafas terengah-engah.


Mereka pun memetik sayur secepat mungkin, kemudian berlari ke rumah Kakung dan Utinya, agar bisa ikut Yusuf bertemu dengan Airy dan Raihan.


"Ck, kenapa nggak di angkat, sih? Nggak kangen apa sama istrinya yang manis ini!" gerutunya.


Beberapa kali Airy menelfon nya, namun tak juga Adam angkat. Sampai Airy tertidur pulas karena lelah dengan pekerjaan dan tugas kampusnya. Sementara itu, Raihan juga belum tidur. Ia masih teringat yang di alamat oleh Laila.


"Astaghfirullah hal'adzim, kenapa jadi ingat si mercon, sih? Baru juga sehari tinggal di sini sudah membuatku sangat pusing," keluhnya.

__ADS_1


Menjelang subuh, seperti biasa. Di keluarga itu melakukan sholat jama'ah di mushola yang ada di dalam rumah. Nampak raut wajah Airy yang seperti tak bisa di senggol, ia masih kesal karena Adam tak memberinya kabar. Padahal nomornya baru saja aktiv.


"Lu kenapa, Ry?" tanya Laila.


"Aku cantik!" jawabnya.


"Dih, pede amat!" seru Laila.


Sampai waktu sarapan juga Adam belum ada kabar, itu membuatnya kesal. Karena ia tahu, jika suaminya sudah sampai rumah sejak kemarin, sebab Hafiz sudah memberinya kabar.


[Kalau masih nggak beri kabar, awas aja! Pulang sampai sini, tidur sendiri! ]


Pesan yang Airy kirimkan kepada Adam.


"Semuanya, aku berangkat dulu ya," pamit Airy.


"Dan iya, Laila jika kamu sudah pulang dari kampus, tolong nanti Rafa nya kamu ajak main ke taman aja, dia bosen keknya di rumah," imbuhnya.

__ADS_1


Semua orang heran melihat tingkah laku Airy yang seperti anak kecil. Sampai ditengah jalan, Airy yang mengendarai motor Doni ke kantor pun di behentikan oleh sekelompok orang berbaju serba hitam dan sangat kumal, turun dari sebuah mobil Jeep berwarna hijau tua. Yang tak lain adalah orang suruhan Hans untuk menculiknya.


Apakah si pendekar kita ini bisa menangani sekelompok penculik itu? Atau bahkan sebaliknya? Nanti lagi ya


__ADS_2