Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 233


__ADS_3

Setelah sampai di depan gapura pesantren, Airy pun meminta Aminah dan Masyita untuk membawa anak-anak untuk pulang terlebih dahulu. Ia akan menemui Adam ke pesantren dan mengatakan jika Hans sebelum ini telah menemuinya.


"Kak, tunggu!" ucap Aminah menahan lengan, Airy.


"Ada apa lagi sih, Min?" tanya Airy.


"Soal ini..."


"Itulah...."


"Mau ngomong apa sih, Minah?" sahut Mayshita.


"Kalau lama, Kakak jotos, ini!" Airy mulai kesal.


"Aduh gimana, ya. Em, anu...itu bisa enggak, Kak Airy itu manggil namaku sedikit nggenah, ngono, loh! (benar)." ujar Aminah.


"Aminah, A-M-I-N-A-H, atau bisa panggil Minah aja nggak papa, wes. Bener nama kampungan, sih. Tapi aku lebih suka dipanggil Minah daripada 'Min'. Apaan, Min? Amin? Parmin, Tukimin, Taskimin, aaaa ndak mau!" tungkasnya.


"Timbang nama aja, kamu seheboh ini. Dah nanti aja lah negosiasi nya, Assalamu'alaikum!" Airy pergi begitu saja.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh,"

__ADS_1


"Angel!" seru Aminah.


"Kok, Angel (Malaikat)?" sahut Mayshita.


"Angel gundulmu! Angel, susah, May." kesal Aminah.


Airy bergegas menemui Adam yang tengah mengajar. Seperti pencuri yang hendak masuk ke tambang emas. Airy berjalan mengendap-endap, dan berbisik memanggil nama, suaminya.


"Stt, Mas Adam! Mas!" bisik Airy.


Yang namanya sedang mengajar, pasti Adam tidak dengar. Kesal karena Adam tak kunjung meresponnya, Airy memiliki ide untuk menjepret Adam menggunakan tali yang di pakai mengikat bungkus nasi padang, yang ia temukan di dekat tong sampah.


"Aduh,"


"Tunggu dulu, ya. Saya keluar sebentar, tolong kerjakan halaman 28, Assalamu'alaikum!" ucap Adam.


Adam berjalan mendekati, Airy. Kemudian, Adam pun langsung mencubit pipi tembam istrinya itu. Bukan hanya pipi yang ia cubit, bahkan hidung mungil Airy pun juga menjadi sasaran tangan gemesnya.


"Aw," cerita iri dengan lirik


"Assalamualaikum, ya Zawjati. Kenapa nggak langsung panggil aja, sih. Ucapkan salam, terus masuk. Kenapa mengendap-endap seperti ini, Sayangku?" tanya Adam tambah gemas.

__ADS_1


"Wa'alaukum sallam. Ih, udah jadi emak bapak juga. Masih aja gaya pacaran!" balas Airy, dengan menepuk paantat, suaminya.


"Astaghfirullah hal'adzim, ini di madrasah. Main tepuk-tepuk aja, deh." ucap Adam.


"Ada, apa?" sambungnya.


"Tuh, 'kan. Jadi lupa mau ngomong apa, Mas Adam sih godain mulu," ucap Airy manja.


"Ehem" suara degham Syakir mengejutkan mereka.


"Assalamu'alaikum, ini madrasah. Buka tempat pacaran!" tegurnya.


Syakir berlalu begitu saja, dengan menunduk malu, Adam hanya cengar-cengir saja. Sementara Airy malah dengan pedenya mengatakan, "Iri bilang, ngomong aja udah nggak di mesra-mesra in sama, Tente Balqis. Kakek!"


Syakir menarik telinga Airy dan membawanya keluar dari madrasah. Dan, hal yang ingin Airy katakan menjadi tertunda, namun ia sempat mengirim pesan kepada Adam, jika Hans muncul lagi di depannya.


"Kenapa nggak dari tadi aja, kau ngirim pesannya. Kenapa harus kek maling dan ketahuan sama, si kakek ini!" gumam Airy.


"Apa kamu bilang? Si kakek? Kamu pikir Pak Lek ini udah tua banget apa?" sahut Syakir.


"Heleh, 'kan emang kakeknya si Rafa dan Zahra. Gimana, sih!" ucap Airy.

__ADS_1


Mendapat pesan dari istrinya, Adam langsung menenangkan Airy, untuk tidak panik dan tetap hati-hati ketika keluar rumah. Bukan hanya itu saja, Adam pasti akan melakukan apapun untuk melindungi keluarga kecilnya.


__ADS_2