
Malam telah tiba. Setelah selesai sholat isya’ berjama’ah, Rifky, Raihan dan Yusuf menghabiskan waktu bersama di rumah. Meski mereka sedang berkumpul, Yusuf tetap belajar dengan giat. Mungkin, ia bisa di katakan
tidak pernah menghabiskan waktunya senggangnya untuk bermain seperti anak seusiannya.
“Ngerjain apa sih, Suf?” tanya Raihan.
“Tugas. Kalau nggak di selesaikan malam ini, takutnya kelupaan!” jawab Yusuf.
“Coba Abang lihat,” pinta Raihan.
Raihan sangat bangga dengan adiknya itu. Nilainya semua sangat sempurna, bahkan ia saja kalah. Sekilas, ia teringat kepada, Ami nya. Anak tertuanya tidak mampu menjaga sang Papa selepas kepergiannya. Namun, Yusuf yang usianya jauh lebih muda, malah mampu merawat Papanya seorang diri. Itupun tidak mempengaruhi kuwalitas nilai sekolahnya.
“Abang jadi malu nih sama, Yusuf!” ucap Raihan.
“Malu kenapa? Pakai baju juga, ‘kan? Nggak nyuri, 'kan? Aman dah…” sahut Yusuf.
“Bukan gitu konsepnya, Tukimin!” Raihan mengetuk kepala, Yusuf.
“Jangan merasa bersalah teruslah, Han. Papa ngerti kok. Amanah itu kan suatu hal yang akan di pertanyakan pertanggung jawabannya, di akhirat nanti. Lagian kan masih ada si bontot di sini. Nggak papa,” terang Rifky.
__ADS_1
Raihan menceritakan segala hal yang ia jumpai di Jerman kepada Papa dan adiknya. Malam itu suasana menjadi hangat, dengan kepulangan Raihan ke Jogja. Raihan juga berniat untuk membuka usaha sendiri dengan hasil jerih payahnya bekerja kala di Jerman.
Berbeda dengan malamnya Airy dan Adam. Mereka masih membahas tentang kunjungan Hans di kehidupan mereka lagi. Orang yang memiliki sifat yang di milki Hans, memang susah untuk bertaubat sebelum mendapatkan karmanya.
“Tapi Mas, aku ki ndak main-main, loh!”
“Ngopo ngono, ndadak Hans ki moro maneh? (Kenapa gitu, Mendaak Hans datang lagi).
“Mungkin dia rindu, padamu. Bisa jadi, to?” goda Adam.
“Tak supiti maleh purun? (tak sunat lagi mau)” kesal Airy, dengan menaikkan alis sebelah.
Airy mencubit perut Adam yang mulai membuncit itu. Merekatidak akan mengangap kemunculan Hans terlalu serius. Atau malah akan menambah beban pikiran mereka nanti.
Adzan subuh berkumandang, Adam bersiap ke masjid pesantren bersama dengan Rafa. Sementara Airy membawa Zahra dengannya, berangkat juga ke pesantren untuk menunaikan sholat subuh berjama’ah. Setelah itu mereka pun mengaji hingga setengah jam sebelum berangkat ke sekolah.
Rafa dan Zahra kini sudah sekolah taman kanak-kanak di samping pesantren, letak sekolahnya. Mereka selalu di antar oleh Airy setelah menyiapkan sarapan untuk suaminya. Saat ini, kemampuan memasak Airy sudah sangat bagus.
“Aku ngantar anak-anak dulu ya, Mas.” pamitnya, seraya mencium tangan sang suami.
__ADS_1
“Assallamu’alaikum,”
“Wa’alaikum sallam warohmatullahi wabbarokatuh, hati-hati, ya!”
Mereka pun berangkat dengan riang.Ketika berjalan keluar gerbang, Airy dengan kedua anaknya bertemu dengan Aminah dan Mayshita yang hendak berangkat ke sekolah juga.
“Assallamu’alaikum, ya ukhty!” salam Aminah.
“Wa’alaikum sallam. Kalian baru berangkat jam segini? Mencurigakan!” tegur Airy.
“Kakakku yang paling bawel. Pencuci piring di rumahku masih sangat banyak, nanti aku akan bawain untu Kak Airy.” Ujar Aminah.
“Untuk, apa Minah?” tanya Mayshita.
“Mencuci pikiran, Kak Airy. Untuk apa lagi? Pikirannya terlalu kotor! Assallamu’alaikum, ayo May!”
“Wa’alaikum sallam, hati-hati adikku-adikku yang comel,” teriak Airy.
Meskipun begitu, pada dasarnya ,mereka saling menyayangi satu sama lain. Mereka juga memiliki batasan dalam bercanda. Airy pun melanjutkan perjalanannya yang terhenti, karena bertemu dengan kedua adiknya.
__ADS_1