Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 163


__ADS_3

Seluruh keluarga bahagia mendengar kelahiran bayi laki-laki Airy dan Adam. Begitu juga dengan adik-adik Airy yang sebentar lagi makan ikut pulang menyambut bayi laki-laki itu. Selama dua hari di rumah sakit, Adam tak pernah lepas penjagaan nya untuk istri dan putranya.


Hari ini waktunya Airy dan bayi nya pulang. Di usia ke 19 tahun, Airy sudah menjadi seorang ibu. Lebih muda dari Leah dan Aisyah dulu.


"Mas Adam, Kak Ale, Rindi, jangan sampai keluarga tau tentang kejadian malam itu ya," pinta Airy.


"Tapi Ry, aku takut jika Sari berbuat ulah di penyambutan bayi kalian." Kekhawatiran Rindi sudah tak bisa tertahankan.


"Bismillah, kita serahkan semuanya kepada Allah. Aku yang akan membungkamnya, jika dia berani mengusik acara anakku, bukan begitu Mas Adam?" ucap Airy.


Adam mengangguk,

__ADS_1


"Aku akan segera mencari kebenarannya. Kalian tenang saja, akun yakin jika Sari dan Adam tidak melakukan hal itu." Sahut Hafiz.


"Makasih Kak Ale, tapi tolong, jangan buat di terpancing emosi. Aku takut, akan berimbas ke anakku. Aku baru menjadi ibu, kan sayang!" Kata Airy mengelus pipi mulus anaknya.


Semua sudah beres, tinggal membawa pulang Airy dan bayi nya. Di sepanjang perjalanan, Airy hanya diam dan terus memandangi anaknya. Adam masih merasa tidak enak hati, diam nya Airy membuatnya resah. Ia lebih suka Airy yang sembrono, dan suka memancing keributan.


"Airy kok hanya diam saja sih? Ahh, sepi kalau dia jadi pendiam gitu." Ucap Rindi dalam hati.


"Airy, aku janji. Aku akan membuat Sari menyesal, jika apa yang aku pikirkan ini benar. Aku yakin, mereka tidak melakukan apapun, hanya menjadi jalan agar kalian pisah saja. Awas kamu Sari!" Geram Hafiz dalam hati.


"Iya, tapi matanya seperti Mas Adam, bulet seperti tahu bulat," Senyuman terpaksa itu sangat membuat Adam sakit.

__ADS_1


Sampai di rumah, seluruh keluarga telah menyambutnya. Ada keluarga besar juga dari Airy, namun semua itu masih ada yang kurang. Tanpa sosok Aisyah, Airy tiba-tiba menangis sangat keras. Rifky langsung sigap memeluknya. Semua ia tumpahkan air matanya di pelukan Papa nya. Sementara bayi nya, langsung di bawa oleh Akbar.


"Sst, sayang. Jangan nangis dong ya, kamu seorang ibu sekarang. Papa bahagia sekali, selamat ya," ucap Rifky.


Airy kembali memeluk Rifky, bukan hanya tanpa kehadiran Aisyah yang membuatnya menangis. Namun, ia juga melepaskan beban berat masalah suaminya di pelukan Papa nya juga, meskipun ia tidak mengatakannya.


"Maafkan aku Airy. Aku harus bagaimana?" ucap Adam dalam hati.


Hafiz yang menyadari kesedihan adiknya itu pun berusaha menebarkan hatinya. Ia juga memberi semangat, agar tidak putus asa mengembalikan senyuman Airy.


"Airy, selamat ya." Ucap Leah.

__ADS_1


"Alhamdulillah, makasih Uty, Tante-tante ku yang paling baik, Om Abang, Kakung, Pak Lek kembar, Om Keny juga, makasih banget kalian udah nyempetin ke sini, jauh-jauh dari luar negri juga. Aku bahagia sekali, kalian selalu a.... " Airy tak lagi bisa meneruskan kata-kata nya.


Semakin ia sedih, semakin ia mengingat kejadian malam itu. Airy berusaha tersenyum, dengan pelukan keluarga, bebannya terasa berkurang. Meskipun ia akan menjaga rahasia itu, Airy tetap akan bercerita dengan salah satu keluarga agar dapat membantunya menyelesaikan masalahnya.


__ADS_2