
"Sari, Airy, kalian ini punya dendam apa sih? Dosa tau, hentikan dendam itu, kalian sama-sama mengerti agama bukan?" tanya Adam.
Kali ini tidak ada pembelaan dalam diri Airy, karena memang Airy merasa, jika dirinya memang bersalah. Bahkan Airy juga sudah meminta maaf, lain dengan Sari yang masih ngotot minta Airy di hukum, karena mereka berdua sama-sama bersalah, maka Adam menghukum keduanya untuk membersihkan halaman belakang sekolahan.
Setelah sholat dzhuhur, mereka berdua menjalani hukumannya, Airy di temani oleh Rindi, yang saat itu memang tidak mengaji karena dia sedang datang bulan. Rindi juga memberi semangat untuk Airy. Dengan semangat Airy menyapu halaman, sedangkan Sari hanya menggoyang-goyangkan sapunya kekanan dan kekiri. Melihat Adam memberikan sapu tangan kepada Airy, Sari menjadi panas dingin. Otaknya mendidih, dan menghapiri Adam dan Airy.
"Adam!" sapa Sari.
"Assallamu'alaikum warrohmatullahi wabbarokatuh,"
"Wa'alaikum sallam warohmatullahi wabbarokatuh,"
"Hemm katanya tau agama, nyapa orang aja lupa salam, *eh lali nek manungso ki nggone luput *(Eh lupa kalau manusia itu tempatnya salah)," sindir Airy.
Tiba-tiba Sari mengangkat tangannya, seperti ingin menampar Airy.
__ADS_1
"Sari! Cukup ya," tegas Adam.
"Airy, sudah ya, jangan di goda lagi Mbak Sari nya," kata Adam dengan lembut kepada Airy.
"Kamu yakin mau nikahin bocil ini Dam? Hah, kamu nggak pernah cerita tentang masa lalu kita ke dia? Kamu ini hanya bisa menikah denganku, ingat perjodohan Umi kita Dam! Kemarin kamu bilang hanya main-main dengan anak ini kan? Sudahi ini Dam, kasihan dia menjadi bahan percobaanmu!" kata Sari mengompori Airy.
Airy mengucapkan salam dan tiba-tiba pergi, ia tidak ingin mendengar apa yang di katakan oleh Sari tentang masa lalu mereka, merasa menang, Sari menjulurkan lidah kepada Airy, di balas dengan lemparan sandal dari Airy yang mengenai pipi mulus Sari.
"Aduh, Adam lihat kelakuannya!" Teriak Sari.
"Datanglah padaku jika masa lalumu sudah kelar, dan iya. Ustad Adam, aku terima lamaranmu, minggu depan aku siap untuk menikah, wassallamu'alaikum!" salam Airy pergi menarik tangan Rindi.
Melihat senyum di wajah Airy, Rindi jadi semakin heran dengannya. Bahkan Airy juga mengajak Rindi duduk di empang milik Adam. Rindi kembali mengingatkan Airy, jika seharusnya ia tidak beulah senekat itu.
"Hahaha puas tuh sandal nampar muka dia, nakal sih." kata Airy.
__ADS_1
"Berhentilah seperti anak kecil Airy, dia itu bukan lawanmu, kamu belum mengerti apa yang sudah ia lakukan terhadap Rai......Astaghfirullah hal'adzim, ini sudah mau sore, sebaiknya kita segera mandi dan ikut menyiapkan buat buka puasa Ry!" Rindi menarik tangan Airy.
"Tunggu! apa kamu bilang? Rai? maksutmu Bang Raihan? Apa yang sudah ia perbuat kepada Abangku?" tanya Airy.
"Jika kamu mau tau, sebaiknya kita bertanya kepada Raihan juga, karena aku hanya mengerti kisah separuhnya saja, agar kamu bisa lebih berhati-hati dengan Mbak Sari." Kata Rindi serius.
Airy tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Sari kepada Raihan, tetapi ia tidak akan tinggal diam jika itu sudah membawa-bawa nama Raihan. Sedangkan disisi lain, Adam sedang menjelaskan, menegaskan kepada Sari untuk tidak mencari masalah dengan Airy.
"Apa yang kamu bilang tadi Sari, aku sudah bersusah payah untuk berubah, tapi kau mengingatkan ku akan aib itu? Kita hanya menjalani hubungan saja, tidak lebih! Bahkan, aku tidak pernah menyentuh kulitmu saat itu, jadi berhenti membahas masa lalu jika kita sedang bersama Airy." Ucap Adam sambil membelakangi Sari.
"Jangan mentang-mentang dia calon istrimu, jadi kau mengistimewakan dia Dam! Allah pun benci dengan orang yang suka berlebihan sepertimu ini." Kata Sari.
"Aku hanya ingin menjaga perasaannya saja, Bismillah, aku mantap menikahi dia, dan aku mohon kepadamu dengan sangat, jaga jarak denganku. Kita sudah sama-sama berhijrah Sari, jangan nodai hijrah kita dengan membongkar kembali dosa lama, Assallamu'alaikum warrohamtullahi wabbarokatuh!"
Adam pergi meninggalkan Sari, masa lalu itu sangatlah menakutkan bagi Adam, karena kenakalan Adam lah Uminya pergi untuk selama-lamanya. Jalan yang ditempuh oleh Adam untuk berhijrah juga tidaklah mudah, butuh waktu yang tepat dan mental yang kuat untuk mejalaninya.
__ADS_1