
Setelah sholat tarawih, sesuai dengan perjanjian, Airy, dan Adam bertemu, tetapi Adam membawa Ustadzah Ifa bersamanya, Adam memberikan buku dan pena itu kepada Airy.
Tidak ada lagi rahasia didiriku yang belum aku ungkap kepadamu Airy, tentang kenakalanku yang menyebabkan Umi ku meninggal, aku belum siap menjelaskannya.
"Assallamu'alaikum Airy" salam Ustadzah Ifa.
"Wa'alaikum sallam," jawab Airy sambil memakan apel.
"Ayo kalian ngobrol lah, aku duduk disini ya." Kata Ustadzah Ifa.
Sementara Ustadzah Ifa duduk dan membaca bacaan kesukaannya, Airy dan Adam sedikit berjauhan dan memulai pembicaraan mereka.
"Ustad, aku nggak bermaksut membuka luka lama, tapi tentang Sari? Aku rasa kalian masih ada rahasia yang harus aku ketahui. Ustad, aku suka perubahanmu menjadi seorang Ustad seperti ini, dari kisahmu juga aku bisa menyimpulkan, nggak gampang berhijrah itu, tapi........" Airy tidak tau apa yang harus ia katakan.
"Airy, itulah masa laluku, yang aku tahu Sari itu membunuh Bela, adikku. Maka dari itu, dulu aku mau dijodohkan denganya saat itu. Tapi itu bukan keinginanku. Cinta? Aku bahkan lupa cara mencintai saat aku sudah memutuskan untuk mengejar akhiratku Airy, hanya kamu yang bisa menumbuhkan rasa Cinta itu dihatiku ini," jelas Adam.
__ADS_1
"Pendiam? Tenang? Itu memang sifatku sejak kecil, kenakalanku hanyalah salah pergaulan karena aku merasa di bedakan dengan Mas Zainal, tapi itu tidak berlangsung lama, hanya sekitar 1 tahunan, Alhamdulillah aku sudah kembali, selain itu, itu bukan rahasiaku lagi Airy." Sambung Adam.
"Aku ingin kita sama-sama belajar, kenapa aku ingin segera menikah denganmu? Itu bukan karena mengindari Sari, bukan! Karena......" Adam memalingkan pandangannya.
"Karena apa?" tanya Airy.
"Karena aku tidak ingin berdosa lebih dalam mencintaimu yang belum menjadi mahramku. Aku ingin merasakan cinta itu lagi denganmu, bersama menuju jalan yang di ridhai Allah, bukan yang lain lagi. Aku ingin mencintaimu karena Allah." Ucap Adam.
Airy terdiam, sekilas melihat ketulusan dimata Adam, ia pun tersenyum dan tertawa keras, hingga membuat Adam dan Ustadzah Ifa heran.
Sebenarnya, Airy melakukan itu karena ia masih khawatir tentang Raihan. Malam ini juga Raihan harus bisa menjelaskan apa yang dimaksut dengan omongan Rindi hari sebelumnya.
Karena masalah Adam dan Airy sudah selesai, Airy meminta untuk Adam berjanji. Apapun yang terjadi, Adam harus percaya kepadanya, karena yang Airy tahu, orang seperti Sari itu tidak mudah di tangani.
Serasa seperti pesantren milik sendiri, Airy berjalan sambil bersholawat ria dan menggibas-gibaskan tangannya. Melihat Raihan sedang sibuk menelfon, ia pun berniat mengerjainya.
__ADS_1
"Assallamu'alaikum ya Abangku sayang!" Salam Airy terlalu keras hingga membuat Raihan kaget.
"Wa'alaikum sallam warromatullahi wabbarokatuh, Airy, kamu ngagetin Abang aja deh, Abang lagi telfon nih." Kata Raihan.
"Sama siapa?" tanya Airy.
"Tante Clara," jawab Adam.
"Oh" jawab Airy.
Selesai telfon, Airy menanyakan rahasia tentang Sari kepadanya. Menurut Raihan, Airy ini sangat cerdik walau sering terlihat banyak bercanda. Raihan pun menceritakan segalanya, bahkan sekarang Airy tahu harus bagaimana.
"Nah, kalau kayak gini kan baru nyambung Bang, aku akan membongkar kejahatan dan memberi keadilan. Kita berdua ye Bang hahaha. Heh ada patroli santri Bang, nunduk Bang." kata Airy heboh.
"Apa sih Ry, jangan heboh deh, kamu sendiri kenapa ada di kawasan santri laki-laki, berdiri jangan nunduk ah. Cepat kembali ke kamar dan istrirahat, atau tadarus gitu, bulan ramadhan juga, harus perbanyak pahala." kata Raihan menarik kerah baju Airy deperti membawa anak kucing yang pup.
__ADS_1
Airy kembali ke kamarnya, setelah ujian selesai, Nadia kembali kerumahnya, karena ia bersiap-siap meneruskan sekolahnya di luar pulau, ikut orangtuanya yang dinas di sana. Kini Airy tidur sendirian dikamar itu, seketika tetingat dengan teman-teman lamanya, yakni Risna dan Mira.