Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 314


__ADS_3

Malam itu, untuk pertama kalinya Laila bisa tidur nyenyak di rumah keluarga suaminya. Di tempat tidur lama Aisyah dan Ceasy sebelumnya. Suasana kembali hangat setelah sebelumnya tegang masalah teror. Masih menjadi misteri siapa pengirim paket berisikan boneka seram itu. Tentu saja tidak mungkin Mita, karena ia berada di rumah sakit jiwa saat ini.


Di kamar, Yusuf, Falih dan Hamdan tidur di rumah Airy. Mereka akan mulai penyelidikannya usai belajar pelajaran sekolah. Sementara Aminah dan Mayshita juga tidak tinggal diam. Meski mereka berdua tidak menginap di rumah Airy, tapi tetap satu tujuan.


Ponsel baru Yusuf berdering. Ia langsung gelagapan ketika mengetahui Clara yang menelponnya. "Sebentar, aku mau angkat, dulu!" Yusuf keluar dari kamarnya. Baik Falih maupun Hamdan sama sekali tidak menaruh rasa curiga kepada Yusuf. Mereka masih bersikap biasa saja terhadapnya.


"Assalamu'alaikum, ada apa, Tante? Kok, malam-malam begini telfon, sih?" tanya Yusuf.


"Wa'alaikumsalam, ya penting aja, Suf. Besok kamu ke rumah sakit jiwa jam 8, jangan telat!" Clara langsung menutup telponnya.


"Ba... Lah, di tutup? Besok kan senin, sekolah aku, dong? Gimana, ya...." gumam Yusuf.


Yusuf kembali ke kamarnya. Berusaha menyembunyikan masalah Mita dengan mempertanyakan bagaimana cara langkah awal untuk teror itu.


"Tenang, Suf. Besok, setelah pulang sekolah kita bisa datang di mana kurir itu sering mengambil paket sebelum di kirim ke penerima. Biarkan kami berdua, kamu bisa melakukan yang lainnya." ucap Hamdan belibet.


"Baiklah! Ayo sekarang kita tidur, besok kalian berdua masih ada setor hafalan, bukan? Jangan teror ini kalian jadikan sebagai alsan, aku tampol nanti, kalian!" Yusuf memang selalu menang dari Falih dan Hamdan.


_-_-_


Di rumah Ruchan, Laila terbangun dari tidurnya. Ia pergi ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar. Setelah buang air, Laila jadi tidak mengantuk lagi. Ia iseng membuka ponsel Raihan, sebelumnya ia sudah mengunduh beberapa game di ponsel suaminya.

__ADS_1


Ketika membuka menu, ia menerima pesan dari nomor yang tidak di kenal, atau belum di save oleh Raihan. Karena penasaran, Laila pun membukanya. Melihat isi pesan itu, Laila langsung melemparkan ponsel Raihan ke karpet lantai


"Astaghfirullah!" ucap Laila dengan sedikit bernada keras.


"Kenapa?" tanya Raihan terbangun.


Laila menunjuk ponsel milik Raihan yang baru saja ia lempar ke bawah. Dengan mata yang masih mengantuk, Raihan memungut ponselnya, kemudian melihat isi pesannya.


"Astaghfirullah hal'adzim. Siapa yang mengirim ini? Aku harus segera mengirimkan kepada Yusuf, lalu menghapusnya dari ponselku. Agar Laila tak lagi ketakutan." batin Raihan.


"Dengarkan kata-kataku, bukankah kamu seorang pendekar? Tetap tenang dan jangan pikirkan lagi, kita serahkan semuanya kepada Allah, lalu percaya dengan adik-adik kita supaya bisa segera mengatasi teror ini, Bismillah! Oke?" tutur Raihan memeluk Laila.


Laila mengangguk, kemudian kembali tidur di pelukan Raihan. Menerima pesan dari Raihan, Yusuf menjadi terbangun. Waktu menunjukkan jam setengah empat pagi, segera Yusuf membangunkan Falih dan Hamdan. Mereka harus kembali ke pesantren karena masih ada setor hafalan sebelum subuh nanti.


(Aku masih mengantuk, Suf. Lima menit lagi lah!)


"Ck, ra ono mang menit menitan. Ayo tangilah, pret! wah, ngiler? Hamdan, Lih! Tangi woy!" Yusuf mulai kesal karena mereka berdua mengotori bantalnya dengan ilernya.


(Nggak ada lima menit menitan!)


"Suf! Koe ki lapo? Kok, soyo sui saiki koyo emak-emak muslimatan sik sok ngenggo gamis ijo, lipen abang, alis ngencrit bulan sabit koyo parang lan parfum melati, hah? sehat to?" Falih malah membual.

__ADS_1


(Suf! Kamu ini kenapa? KOk, semakin lama sekarang seperti emak-emak muslimatan yang suka memakai gamis hijau, lipstik merah, alis bulan sabit seperti parang dan parfum melati.)


Tak sabar dengan keduanya, Yusuf masuk ke kamar mandi dan membawa segelas air, kemudian di siramkan ke wajah Falih dan Hamdan yang susah di bangunkan. Itu yang biasa para pengurus pesantren gunakan untuk membangunkan santri yang susah sekali di bangunkan.


Tentu saja Hamdan gelagapan, meski ini bukan pertama kalinya bagi mereka di siram air, tapi menurut mereka tidak sedang berada di pesantren. Jadi, baik Falih maupun Hamdan merasa marah, gelud-lah mereka bertiga, hingga kaki Falih tidak sengaja menendang gelas yang Yusuf bawa.


Tarr…!


Suara gelas pecah. Airy terbangun dari tidur cantiknya. Mimpi indahnya ambyar seketika karena adik-adiknya yang ribut di kamar sebelah.


Blang!


Pintu dibuka paksa oleh Airy hingga terbanting dan menimbulkan suara. Untung saja, kamar Rafa tidak bersebelahan dengan kamar Yusuf, jadi aman dari suara itu.


"Kalian berdua... kembali ke pesantren, sekarang!" perintah Airy masih dengan nada yang lembut.


"Masih ngantuk, Kak. Sebentar lagi, ya…." kilah Falih.


"Iya, lima menit aja, hehehe," timpal Hamdan.


"Oke, kakak yang akan me-nina bobok kalian sampai lima menit itu berakhir. Kaka juga akan menyediakan fasilitas, antara mau obat merah, atau es batu? Monggo di pilih!" Airy masih bermurah hati.

__ADS_1


"Weslah, awak dewe kalah. Ayo kembali ke pesantren," bisik Hamdan.


Menyerahlah mereka, dengan sedikit mengomel, Falih dan Hamdan kembali ke pesantren.


__ADS_2