Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 214


__ADS_3

"Anda ini bagaimana sih, Pak Raihan. Karyawan salah kok di bela, saya ini klien anda, loh." ketus Hans.


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya sebelumnya, Pak Hans. Tapi anda 'kan bukan klien saya lagi, lagian karyawan saya belum tentu bersalah. Bukan masalah dompet anda sudah ada di tasnya, terus anda main fitnah begitu saja," jelas Raihan.


"Siapa tahu, mungkin ya. Karyawan saya ini di fitnah. Bisa saja, 'kan? Ada seseorang yang tidak menyukainya, terus orang itu kebetulan menemukan dompet anda di temukan olehnya, dan ya... Pak Hans tau sendiri lah, apa selanjutnya," Imbuhnya.


Urusan kantor selesai sampai di situ, Raihan merasa capek. Semua harus ia sendiri yang handle. Maka dari itu, dia membutuhkan asisten yang harus siap 24 jam di sampingnya. Bukan Nina, karena ia hanya sekertarisnya saat di kantor.


"Opo? Wegah! Emoh aku, mumet Han!" tolak Raditya.


"Wah sombong, langsung nolak, loh. Njaluk gaji piro we tak turuti lah! (Minta gaji berapa aku turuti lah!)" tawar Raihan.


"Dudu masalah gaji, Han. Tapi tanggung jawabe kui, abot! (Berat!)" Jawab Raditya.


"Wes numpang, seh angil jak nyambut gawe, kampret! (Udah numpang, masih susah di ajak bekerja)" kesal Raihan.


"Asyem, kok. Guyon lah! Mulai besok, ya. Hari ini aku mau ke monas dulu, Cilo nunggu di sana," ucap Raditya.


"Cilo? Nginap?" tanya Raihan.

__ADS_1


"Ra ngerti, coba nanti aku tanyain. Assalamu'alaikum!" pamit Raditya.


"Wa'alaikumsalam,"


Setelah sholat isya' berjamaah, Airy pun mengatakan, bahwa mulai besok, Rafa sudah ada yang ngurus. Jadi ia bisa bekerja dan ngampus dengan tenang. Tidak merepotkan Hafiz dan Doni lagi.


"Lah, Mbak Airy nyewa bater?" tanya Doni.


"Bater? Blue band?" jawab Airy.


"Baby sitter to, Mbak. Mosok ganti blue band, ngopo ndak margarin sisan," ketus Doni.


"Apa? Kak Ale sama Mas..... " Airy menengok ke arah Adam.


Melihat lirikan Airy yang begitu menyeramkan, Raditya, Raihan, Doni dan Hafiz pun keluar dari mushola rumah itu.


"Woh, kabeh ra setia kawan!" gerutu Adam.


"Maksudnya apa ini? Nggak ada angin, nggak ada topan, entong sama memet tiba-tiba mau ke kampung? Kenapa?" tanya Airy dengan wajah tak biasa.

__ADS_1


"Em, Mas Hafiz loh yang ngajak," jawab Adam gugup.


"Ndak usah bawa-bawa orang lain. Kenapa nggak ada omongan, hah? Why ngono, loh?" emosi Airy sudah masuk ke level 2.


"Anu, lha wong. Opo, yo? Perkebunan, harus Mas chek, 'kan? Hehehe, boleh ya. Dua hari aja, cantik wes," ucap Adam meringis.


"Oh, jadi selama ini aku ndak cantik, ngono? Tidur dengan Doni malam ini, Assalamu'alaikum!"


Airy pun masuk ke kamar, tanpa memperdulikan Adam. Bukan ia marah betulan, ia hanya kesal karena Adam tidak membicarakan hal itu dengannya dulu. Bahkan, makan malam pun Airy memilih makan di ruang kerjanya.


"Yang, udah dong ngambeknya. Nggak enak sama yang lain," pinta Adam.


"Salahmu dewe!" seru Airy


"Aku mau makan di ruang kerjaku, saja!" ketusnya.


"Dan iya, ayam yang ada di dapur, milikku! Tak sunat dua kali kalau kalian ambil. Dan besok, sambut temenku dengan baik, dia yang akan merawat Rafa sampai aku tidak sibuk lagi, Wassalam dan terima kasih!"


Dengan wajah yang lucu, Adam pun meminta Raihan untuk membantu membujuk adik kesayangannya itu. Namun, Raihan malah kembali mengerjai Adam, dan tidak akan membantunya. Karena itu bukanlah urusannya.

__ADS_1


__ADS_2