
Maureen terus memiliki kearah Airy, ia ingin bicara tetapi masih canggung. Airy yang sadar dengan lirikan Maureen pun menegurnya.
"Lirikan matamu, menarik sapi, oh senyumanmu seram sekali. Sehingga membuat, aku ketakukan, Na na na na...... " Airy melirik.
"Kalau ada yang ingin dikatakan, ya katakan aja. Ngapain cuma lirik-lirik gitu? Naksir sama aku!! " ketus Airy.
"Biasa aja kale, gue normal ye. Gue hanya pendamba cogan dalam hidup gue, ngapain gue naksir ame lu!" jawab Maureen.
"Heh, kamu kalau jutek terus gitu. Yang ada nggak laku tau. " goda Airy.
Maureen kesal, ia pun hanya diam saja dan kembali memainkan karet kucir nya dengan sangat cepat. Airy tertawa terpingkal-pingkal hingga kentut sembarangan.
"Huek, bau tau ah! " kesal Maureen.
Airy hanya tertawa tanpa menghiraukan Maureen.
"Jadi, cogan yang kemarin itu suamimu ya? " tanya Maureen.
Airy hanya melirik.
__ADS_1
"Apa sih, iya iya. Suamimu ganteng, dan kamu anak orang berpunya kan? Kenapa saat aku hina kau miskin kau diam saja! Ada apa dengamu? " tanya Maureen.
"Ada deh! " jawab Airy singkat.
"Ck, mbok jawab gitu loh. Kenapa kamu sembunyikan identitas keluarga, suamimu punya usaha, keluargamu orang berada semua. Aku jadi males dengernya, " ucap Maureen tak henti-hentinya.
"Harta yang aku nikmati saat ini hanyalah titipan dari Allah, semua tidak bersifat permanen/abadi. Lagian kan yang berada orang tuaku dan suamiku, bukan aku! " jelas Airy.
Setelah pertemuan Maureen dan Airy saat itu, sudah membuka mata hati Maureen, ia masih sedikit mengesalkan bagi Airy, tetapi sudah jauh lebih baik berubah dan baik dengan Airy. Airy di rawat hanya dua hari saja, ia sudah diperbolehkan pulang dan menjalani aktivitasnya sebagai mahasiswi seperti gadis lainnya.
"Baiklah, karena Airy sudah sehat, Ami sama Papa pulang dulu ya. Kasihan Yusuf di rumah sendiri terus, " ucap Aisyah hendak berpamitan dengan Airy dan Adam.
"IsyaAllah Pa, Mi. Saya akan menjaga Airy dan kandungannya dengan sangat baik," jawab Adam dengan pasti.
Pertemuan itu, adalah pertemuan terakhir antara Airy dan kedua orangtuanya. Diperjalanan, mereka berdua mengalami kecelakaan yang hebat, yang akhirnya merenggut nyawanya. Kedua orangtuanya meninggal ditempat. Bagai disambar petir di siang hari, pagi tadi Airy baru berpelukan dan bercanda dengan Aisyah dan Rifky, tapi sekarang Airy harus kehilangan kedua orang tuannya.
"Apa? Tidak mungkin Ami dan Pa........ " Karena tidak kuat mendengar kabar tersebut, Airy jatuh pingsan.
"Astaghfirullah, Airy! Cepat kabari Ustad Zainal dan Ustadzah Ifa, suruh mereka cepat kesini dan minta Rindi memanggil Dokter, " perintah Adam.
__ADS_1
Ia pun mengangkat tubuh Airy ke tempat tidur. Tak lama setelah itu, Ustad Zainal dan Ustadzah Ifa datang, mereka juga panik melihat Airy pingsan. Adam juga bersiap-siap untuk Ke Jogja pulang ke rumah keluarga Airy.
Kemudian, selang beberapa menit Rindi dan sorang Dokter kandungan telah datang. Airy belum juga siuman, untung saja kandungannya baik-baik saja, hanya saja Airy tidak boleh terlalu stres karena kemungkinan akan berakibat fatal dengan kandungannya.
"Ami, Papa..... Jangan tinggalin aku....." Airy mengigau di dalam alam bawah sadarnya.
"Airy demam! " ucap Adam seraya menyentuh kening Airy.
"Kita harus bergegas ke Jogja sekarang juga Dam. Kamu angkat Airy, biar Mas yang menyetirnya. Dek Ifa tolong, bawa semua barang-barang dan keperluan kita semua ya. " pinta Ustad Zainal.
Tak butuh waktu lama, mereka pun berangkat ke Jogja. Ustad Zainal, Ustadzah Ifa, Rindi, dan juga Adam, Airy tentunya, bahkan Raka David dan Maureen pun akan menyusul jika berita kematian ibunya Airy benar-benar sudah dinyatakan meninggal dunia.
Di sepanjang perjalanan, Adam terus aja berkomunikasi dengan Ruchan. Ruchan mengatakan bahwa yang meninggal dunia hanyalah Aisyah, sedangkan Rifky hanyalah luka ringan dan mengalami trauma saja. Kenapa Aisyah meninggal, karena minibus yang parah hanya bagian kiri saja, menabrak sebuah truck, lalu terguling. Kebetulan Aisyah dan Rifky ke rumah Adam tidak mengendarai mobil sendiri, karena sebelumnya mereka panik dan langsung mengambil penerbangan.
"Kata Abi, Papa hanya luka ringan. Tiga diantara nya meninggal, karena mereka duduk disebalah kiri. Dan kebetulan Ami ada diantara meraka bertiga itu. " kata Adam sudah mulai kacau.
"Tenang, kita harus tenang. Perhatikan istrimu, dia jauh lebih terpukul darimu. Teruslah istighfar dan memohon doa agar amal ibadah ibu mertuamu diterima oleh Allah Subhanahu WA Ta'ala, " ucap Ustad Zainal menepuk-nepuk bahu Adam.
Begitu juga dengan Raihan, setelah mendapat kabar dari Syakir, Raihan pun langsung mengambil penerbangan cepat dari Kairo ke Jogja. Butuh waktu 10 jam 24 menit untuk tiba di Jogja. Iya sangat gelisah, emosi, marah, sedih semua bercampur menjadi satu. Bagaimana masa depannya nanti, jika ia sudah tidak memiliki seorang ibu lagi ataupun seorang ayah fikirnya. Bagaiamana masih Yusuf, karena Raihan pun belum tahu jika yang meninggal hanya Aisyah saja. Ia terus berdoa, bertasbih kepada Allah, memohon ketabahan kepada-Nya. Sesekali ia meneteskan air mata. Mengingat semua kenangan Ami tercintanya, di pesawat ia terus mengalirkan air mata, agar nanti jika sampai di rumah, bertemu dengan adik-adik dan keluarganya, ia bisa tabah dan bisa menguatkan mereka.
__ADS_1
Kakak kakak, sampai disini dulu ya, nanti aku lanjut. Kok nyesek aku nulis ini, sesak bgt di dada. Tapi namanya manusia ya kak, walaupun di kehidupan novel, tapi kisah ini supernatural, jadi ah.... nanti lagi ya,