
Naya masih diam berdiri di depan Ricki, mata nya memandang amplop yang yang ada di tangan Ricki setelah itu kembali menatap Ricki.
" Kenapa liatin saya seperti itu, saya memang tampan dari lahir Nay" ucap Ricki dengan percaya diri nya.
" Iya bapak memang tampan" sahut Naya sambil tersenyum.
" Benar kah, kalau aku tampan berarti kamu mau jadi pendamping ku" ucap Ricki sengaja memancing Naya.
Naya sontak terkejut mendengar ucapan Ricki, Naya terbengong masih memandang Naya Ricki, sedang kan Ricki tersenyum melihat reaksi Naya, Ricki pun langsung menjentik kan tangan nya di depan Naya, sontak Naya terkejut dan langsung memaling kan wajah nya karena malu ketahuan sudah memandang wajah Ricki.
" Ini ambil lha, karna ini memang hak kamu, kalau soal uang kemarin gak usah di pikiran" ucap Ricki sambil menyerah kan kembali amplop yang berisi uang.
Dengan ragu Naya mengambil amplop yang di serah kan Ricki pada nya, saat Sedikit lagi tangan Naya menyentuh amplop yang ada di tangan Ricki, tiba tiba suara pintu di ketuk dari luar, Ricki dan Naya pun menoleh ke arah pintu secara bersama.
" Selamat pagi" sapa Kia tersenyum di depan pintu.
Naya tersenyum pada Kia, sedang kan wajah Ricki langsung cemberut karna melihat kedatangan Kia.
" Apa aku mengganggu" tanya Kia yang masih berdiri di depan pintu.
" Tidak Dok, silah kan masuk, saya juga mau permisi" ucap Naya sambil menuduk kan tubuh nya dengan sopan.
Naya berjalan ke arah Ricki dan Naya," kenapa pergi? di sini saja, saya hanya sebentar kok" ucap Naya ketika sudah berdiri di antara Naya dan Ricki.
Kia tersenyum menatap wajah Ricki karena sudah tahu siapa wanita yang saat ini lagi di dekati Ricki,Kia pun langsung memberi kan data laporan pasien Kia yang hari ini akan di bedah Ricki.
" Kak ini riwayat pasien Kia yang akan di operasi hari ini" ucap Kia memberi kan map yang ada di tangan Kia.
" Tolong Nay pegang ini" ucap Ricki menyerah kan amplop yang di pegang nya dari tadi.
__ADS_1
Kia melihat amplop yang di serah kan pada Ricki ke Naya dan langsung di ambil Naya, Kia tersenyum manis ke arah Naya karena melihat wajah Naya yang segan mengambil amplop itu.
" Yasudah nanti kakak visit dulu ke ruangan pesien nya melihat kondisi nya sekarang, apa bisa di tindak lanjuti atau tidak hari ini" ucap Ricki setelah melihat hasil laporan yang di berikan Kia.
" Oke, kalau gitu kalian lanjut kan, dan jangan lama lama kak, biar anak kita bisa satu sekolah" ucap Kia sengaja berbisik ke Ricki agar tidak di dengar Naya.
Ricki yang mendengar bisikan Kia sontak melotot kan mata nya, dan hal itu di lihat oleh Naya, Kia tersenyum ramah ke arah Naya, kemudian langsung keluar dari ruangan Ricki.
" Kalau begitu Naya juga permisi ya Dok,dan ini amplop nya" ucap Naya.
" Kamu ambil aja Nay, karena itu memang punya kamu" sahut Ricki sambil tersenyum.
" Makasih banyak ya Dok, semoga rezeki Dokter melimpah, kalau begitu saya permisi Dok, sekalo lagi terima kasih" pamit Naya dan di angguki Ricki dengan tersenyum.
Ricki memandangi punggu Naya yang keluar dari ruangan nya, entah kenapa Ricki tidak rela Naya pergi dari ruangan nya.
Hari ini adalah sidang keputusan yang akan di berikan pada Talita, Kia membujuk Pandu untuk melihat sidang itu, sebenar nya Pandu tidak ingin Kia ikut, tapi Kia terus memaksa dan membujuk Pandu, ahkir nya mau tidak mau Pandu mengajak Kia untuk menghadiri sidang keputusan Talita.
" Maaf Mas lama, tadi Kia ngasih laporan pasien dulu sama kak Ricki" ucap Kia saat sudah masuk ke dalam mobil.
" Iya sayang gak apa apa" sahut Pandu sambil mengelus kepala Kia.
Aldi pun langsung malaju kan mobil nya ke tempat persidangan, di dalam mobil entah kenapa perasaan Kia tidak enak, hal itu di lihat oleh Pandu.
" Kenapa sayang? kok gelisah begitu?" tanya Pandu sambil mengelus tangan Kia dengan lembut.
" Gak apa apa Mas, mungkin karena ini hal pertama untuk Kia menghadiri persidangan, jadi Kia sedikit gugup" sahut Kia.
" Nanti kamu slalu di dekat Mas ya, jangan jauh jauh dari Mas, apa pun yang terjadi" ucap Pandu dan di angguki kepala oleh Kia.
__ADS_1
Mobil mereka pun tiba di pengadilan tempat persidangan, di depan pintu masuk, Bima sudah menunggu mereka, Pandu pun langsung menggandeng tangan Kia dan berjalan masuk ke dalam, di susul Bima dan Aldi di belakang Pandu.
Kedua orang tua Talita memandang Kia dengan tatapan membunuh dan hal itu membuat Kia merasa takut, Pandu pun langsung merangkul tubuh Kia agar Kia merasa rileks.
Mereka duduk di kursi depan yang telah di sediakan, dan sebrang kursi mereka kedua orang tua Talita duduk.
Talita pun di bawa masuk dan berdiri di tempat yang sudah di sediakan, tatapan Talita langsung mengarah ke Kia yang duduk di samping Pandu.
Sidang pun di mulai, pembelaan demi pembelaan di beri kan pada pengacara dari pihak Talita, tapi tidak membuah kan hasil, dan ahkir nya Talita di tetap kan 10 tahun penjara dan kerugian sebesar 2 Trilyun karena sudah memanipulasi laporan proyek yang saat ini sedang di kerja kan Pandu.
Talita yang tidak terima di hukum selama itu langsung mengambil pistol yang ada di kantong polisi yang berdiri di samping nya.
Sontak semua yang ada di ruangan itu terkejut dan ketakutan, polisi yang di sebelah Talita berusah untuk mengambil pistol itu kembali, tapi Talita sudah mengarah kan pistol tersebut ke arah polisi itu,sehingga polisi itu langsung diam.
" Jangan mendekat atau kalian aku tembak" ucap Talita mengarah kan pistol pada para polisi.
" Turun kan semua senjata kalian, kalau tidak aku akan menembak hakim ini" ucap Talita lagi yang sudah mengarah kan pistol ke pada hakim yang berdiri di depan nya.
Semua Polisi langsung meletak kan semua pistol mereka di lantai, Pandu yang melihat itu langsung menatap Talita dengan tatapan tajam, sedang kan Kia sudah ketakutan dan memeluk Pandu.
" Kau kira kau menang Pandu, tidak segampang itu kau bisa menjeblos kan aku ke dalam penjara" ucap Talita sambil berjalan menyeret hakim dan meletak kan pistol di kepala hakim tersebut.
Bersambung..
Ayo jangan lupa untuk Like,Komen dan Vote nya ya readers tercinta, kasih rate dan point yang banyak plisss.
Dukungan kalian lha yang membuat Author semangat buat nulis 💪💪💪
Love you more 😊😊
__ADS_1