
Di dalam mobil Kia masih menangis karena mengingat kejadian tadi, Pandu pun menenang kan Kia dan memeluk Kia agar Kia tidak ketakutan lagi.
" Sayang sudah jangan menangis lagi, semua nya sudah beres, wanita itu sudah mendekam di dalam penjara bersama kedua orang tua nya" ucap Pandu menenang kan Kia.
" Kia takut Mas, hampir saja tadi Mas meninggal kan Kia dan pergi berama wanita itu, tolong jangan lakukan hal seperti ini lagi Mas, karena Kia gal sanggup" sahut Kia terisak di dalam pelukan Pandu.
" Iya sayang, Mas gak akan melakukan hal seperti tadi lagi, karena wanita itu sudah berada di tempat yang pantas" ucao Pandu lagi.
" Mang nanti kita berenti di indoxxx atau Alfaxxx ya mang, buat beli air mineral untuk Kia" ucap Pandu memberi tahu mang Madi.
" Baik Den" sahut Mang Madi.
Setelah meminum air yang di beli Mang Madi barusan, Kia langsung merasa tenang dan langsung terlelap di pelukan Pandu.
Pandu langsung menghubungi Firman yang masih mengikuti mobil Pandu dari belakang.
" Man kamu ikut aku ke rumah sekarang, dan anak buah mu tidak perlu ikut" ucap Pandu langsung mematikan ponsel nya setelah berbicara pada Firman.
Firman yang ingin menjawab tapi sudah keburu di mati kan oleh Pandu langsung mengumpat Pandu dengan kesal.
" Sialan ni Pandu, main mati matin aja, aku juga belum ngomong uda main mati kan aja, untuk sahabat kalau gak uda aku suruh anak buah ku kuliti diri mu" umpat Firman.
Firman pun langsung memberi tahu anak buah nya untuk kembali ke markas dan siap siap untuk menerima instruksi selanjut nya.
Tak lama mobil Pandu dan Firman sudah sampai di kediaman Atmaja, Papa dan mama sudah menunggu di depan pintu, begitu pun dengan Anita.
Mereka merasa khawatir dengan Kia dan kehamilan nya kerena mendengar kabar dari Bima.
" Sayang kamu gak kenapa napa kan? mama khawatir sekali sama kamu dan calon cucu mama" ucap Mama Dewi langsung memeluk Kia saat sudah keluar dari mobil.
" Sebaik nya kita masuk dulu, kasian Kia" ucap papa Ridwan.
Mereka duduk di ruang keluarga, tak lama bibi memberi kan teh kepada majikan nya agar berbicara lebih tenang.
" Bagaimana bisa cerita nya seperti ini Ndu, kenapa kamu bisa lalai" ucap papa Ridwan.
" Semua di luar kendali Pa, wanita itu mengambil pistol di saku polisi saat hakim mengetuk palu memberi tahu hukuman buat Talita, maka nya tadi sempat ada kekacauan" sahut Pandu menjelas kan.
" Tapi semua nya sudah aman kok Om, berkat Firman, kalau Firman gak datang tepat waktu, sudah habis Pandu di gerayangin sama wanita ular itu" ucap Firman memberi tahu sambil bergidik ngeri melihat sikap Talita tadi.
__ADS_1
Pandu yang mendengar ucapan Firman langsung menatap Firman dengan tatapan tajam nya, sedang kan Kia kembali menangis mengingat kejadian di persidangan tadi.
" Sudah sayang jangan menangis lagi, yang penting kamu dan calon cucu mama tidak apa apa" ucap mama Dewi menguat kan Kia.
" Ndu sebaik nya kamu bawa Kia ke kamar, biar dia istirahat sebentar, sebentar lagi kita juga mau makan siang" ucap Anita pada Pandu.
Pandu pun langsung mengajak Kia untuk naik ke kamar mereka, Di ruang keluarga Firman mencerita kan bagaimana kronologi kejadian nya dan semua itu malah di dukung oleh kedua orang tua Talita.
Di kantor polisi Bima dan Aldi sudah selesai mengurus masalah Talita dan kedua orang tua nya, mereka meminta untuk di pisah setiap sel nya, karena Bima dan Aldi tidak mau mereka menyusun rencana untuk menggunakan cara licik agar bisa keluar dari penjara.
Sementara di rumah sakit Atmaja Hospital, Naya yang sedang asik menyusun obat obat di setiap rak, agar lebih mudah mengambil nya, di kejut kan dengan panggilan Ricki yang sudah berada di ruangan apoteker.
" Apa aku menganggu mu Nay" ucap Ricki yang mengagget kan Naya.
" Dok kenapa bisa ada di sini?" tanya Naya yang kaget dan heran.
" Emang nya saya tidak boleh ke sini?" tanya balik Ricki.
" Bu...bukan bukan begitu maksud Naya Dok, tapi.." ucapan Naya terpotong.
" Aku cuma mau ngajak kamu makan siang Nay, mau kan?" memotong ucapan Ricki.
" Memang nya kenapa? emang ada larangan di rumah sakit ini, dokter tidak boleh mengajak makan siang perawat atau karyawan yang bukan Dokter" ucap Ricki lagi yang langsung membuat Naya malu.
" Yauda ayok, nanti bisa di lanjut lagi" ajak Ricki.
Naya pun langsung mengikuti Ricki di belakang nya, tapi Ricki langsung menghenti kan langkah nya karena melihat Naua yang berjalan di belakang nya.
" Sini dong Nay, ngapain kamu jalan di belakang saya" tarik Ricki agar mensejajar kan pada diri nya.
Naya hanya terkejut dan langsung menunduk kan wajah nya karena malu, sedang kan Ricki hanya tersenyum senang karena melihat Naya yang malu.
Ricki mengajak Naya makan di restoran tak jauh dari rumah sakit, Naya hanya mengikuti saja tidak ingin protes.
Setelah sekita 15 menit, Ricki dan Naya sudah sampai di restoran, mereka pun langsung masuk dan duduk di sudut sambil melihat jalanan kota Jakarta.
" Nay gimana kabar ibu dan adik kamu" tanya Ricki saat sudah duduk di meja mereka dan memesan makanan.
" Ibu sama Putri baik Dok, ibu juga sudah mengihklas kan kepergian ayah, dan sekarang ibu berjualan kue di depan rumah untuk membantu Naya menghidupi kebutuhan kami di rumah" sahut Naya memberi tahu.
__ADS_1
" Jangan panggil dong Nay, kan kita gak lagi di rumah sakit" ucap Ricki dan langsung di angguki Naya dengan wajah malu nya.
" Boleh aku menanyakan sesuatu sama kamu Nay?" ucap Ricki sambil menatap Naya.
Naya yang di tatap oleh Ricki mendadak jantung nya langsung bergetar hebat, dia pun hanya mengangguk kan kepala nya saja tanda Ricki boleh bertanya oada nya.
" Nay kamu sudah pacar" tanya Ricki langsung.
Naya langsung melotot kan mata nya saat mendengar pertanyaan Ricki, Saat Naya ingij menjawab tiba tiba ada seseorang yang menghampiri Ricki dan Naya ke meja mereka.
" Selamat siang Dokter Ricki, ternyata dokter makan di sini juga" ucap Yara yang saat itu sedang membeli makanan.
" Yara kamu makan di sini juga?" tanya Ricki.
" Tidak Dok, saya hanya membeli makanan saja, dan mau makan di rumah sakit, karena saya tadi tidak sempat makan di rumah, karena saya melihat dokter di sini, jadi saya menyapa dokter" ucap Yara dan melirik wanita yang duduk satu meja dengan Ricki.
Yara pun langsung tersenyum dan di balas senyuman oleh Naya. Karena tidak mau menganggu, Yara pun pamit.
" Dok saya langsung ke rumah sakit ya, soal nya takut pasien sudah menunggu" pamit Yara dan langsung di angguki Ricki.
" Mari saya diluan" ucap Yara pada Naya tersenyum ramah, dan di balasan senyuman juga oleh Naya.
Yara langsung berjalan ke luar restoran, saat ingin membuka pintu, tiba tiba pintu terbuka dan pintu pun langsung membentu kepala Yara.
" Maaf maaf saya tidak lihat kalau ada orang di depan pintu" ucap seseorang.
" Yara pun langsung mengangkat kepala nya dan terkejut melihat orang yang ada di depan nya.
" Reza"
" Yara"
Bersambung
Jangan lupa tinggal kan jejak ya readers tercinta, dengan Like Komen dan Vote yang banyak 🙏🙏
Kasih Reta dan Point yang banyak juga plisss 😊😊
Dukungan kalian yang membuat author semangat buat nulis 💪💪
__ADS_1
Love You More 😘😘