
"Hai Ya, apa kabar?" tanya Yusuf saat sudah dekat dengan mereka.
"Alhamdulillah baik" jawab Cahaya.
" Kamu mau cari kue buat mama kamu?" tanya Cahaya yang penasaran.
" Iya Ya, sekalian mau pesan kue juga buat acara di rumah aku lusa" jawab Yusuf.
" Acara apa? ulang tahun? " tanya Cahaya lagi.
" Bukan, bukan ulang tahun, tapi mau menyambut wanita spesial malam itu" ucap Yusuf yang tak melepas senyuman dari bibir.
Deg.
Cahaya langsung menatap ke arah Arti yang menampilkan wajah biasa saja, Cahaya berfikir Arti terkejut mendengar ucapan Yusuf, ternyata dia biasa saja, dan malah dirinya yang terkejut karena takut Arti.
Arti mengeluarkan nota dari celemek yang saat ini di pakainya, kemudian dia mencari pulpen di saku celana nya, dan langsung memberikan nota tersebut pada Yusuf.
"Untuk apa notanya? catat nomor ponsel ku ya?" tanya Yusuf yang terus menatap wajahnya Arti dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
" Ck, gue gak butuh nomor ponsel Lo" ucap Arti dengan wajah kesal.
" Lah terus ini buat apa dong?" tanya Yusuf lagi.
" Catat kue apa yang mau Lo pesan di situ, biar nanti di siapin sama karyawan lain dan di antar ke rumah Lo" Jawab Arti.
__ADS_1
Yusuf hanya menganggukkan kepalanya saja, namun dia kembali mengembalikan nota tersebut pada Arti, dan mebuat Arti menatapnya.
" Kenapa di balikin?" tanya Arti.
" Aku pesan kue yang paling laris di toko ini, dan buat apa aku nota itu, toh aku juga gak tahu nama nama kue, aku tau nya cuma makan doang" ucap Yusuf yang membuat Arti langsung menyambar nota tersebut dari tangan Yusuf.
" Dan satu lagi aku mau kamu yang antar kue kue nya besok malam" ucap Yusuf yang langsung mmebuat Arti terkejut.
" Kenapa harus gue, gak bisa! karena sudah ada khusus delivery yang akan antar ke rumah Lo" tolak Arti.
" Ohh jadi Kamu gak mau, baiklah aku akan nyebarin ke media sosial kalau pelayanan di toko kue ini sudah menurun" ucap Yusuf yang langsung mmebuat mata Arti melotot dengarnya.
" Resek banget sih, catat di sini alamat rumah Lo, besok gue antar ke rumah Lo kue nya, puas Lo" ucap Arti dengan wajah yang sudah begitu kesal.
" Puas banget" sahut Yusuf yang langsung menuliskan alamat rumahnya di nota yang di berikan Arti.
" Sayang kue dan donatnya sudah kan? ayo kita pulang biar kamu bisa istirahat lagi" ajak Raja sambil memeluk pinggang Cahaya dengan mesra.
" Iya Aii sudah" jawab Cahaya.
" Ar aku balik dulu ya, dan ingat aku serahin toko kue ini sama kamu" pamit Cahaya dan memberikan amanah pada Arti.
" Siap, dan hati hati ya, jaga calon keponakan aku" ucap Arti yang di jawab Anggukan kepala oleh Cahaya dan senyuman manis di bibirnya.
Setelah pamit pada Yusuf juga, kini Raja dan Cahaya langsung keluar dari toko kue, Namun Yusuf masih berdiri tepat di sebelah Arti.
__ADS_1
" Kenapa Lo masih di sini?" tanya Arti.
" Emang kenapa? ada yang negelarang aku di sini? lagian pesanan aku juga belum kamu siapain" jawab Yusuf yang langsung mmebuat Arti langsung berdecak kesal dan mengambil tempat kue untuk mengambil pesanan Yusuf.
Setelah membungkusnya di kotak kue, Arti langsung mmeberikan kuenya pada Yusuf. " Ni kue pesanan Lo, dan sekarang buruan pergi dari sini" ucap Arti.
" Jangan judes judes napa sih, entar rindu loh" ucap Yusuf dengan senyuman kemudian pergi meninggalkan Arti yang melihatnya dengan tatapan tajam.
Kini Cahaya sudah sampai di rumah, Raja selalu menggenggam tangannya dan menggendong Cahaya saat mau menaiki tangga, padahal sebenarnya tidak apa apa kalau Cahaya pelan pelan menaiki tangga, tapi rasa khawatir Raja lebih besar sehingga ia rela menggendong Cahaya sampai masuk ke dalam kamarnya.
" Aii apa kamu tidak capek gendong Aya terus kalau mau naik tangga, padahal Aya berat loh" tanya Cahaya yang langsung mmebuat Raja tersenyum di wajahnya.
"Ini tidak seberapa sayang, nanti kamu bakalan lebih berat bawa perut kamu kalau sudah membesar selama 9 bulan, jadi sebelum perut kamu jadi buncit karena ada anak kita, Aii akan selalu menggendong kamu naik ke atas kamar" sahut Raja dan menundukkan Cahaya di atas tempat tidur.
" Sekarang kamu istirahat dulu ya, dan ini donatnya, Aii mau kasih kue tadi ke dapur dulu biar di siapin bibi" ucap Raja yang langsung di angguki kepala oleh Cahaya.
Di dapur Raja bertemu dengan mamanya dan tante Nita, Raja memberikan kue yang tadi mereka bawa.
" Sayang gimana kandungan Cahaya? sudah ada perkembangan pada janinnya?" tanya mama Kia.
Raja hanya menghela nafas sesaat, " Belum terlalu Ma, beratnya hanya bertambah sekitar 0,75 gram, Aku takut Ma, aku takut anak kami tidak bisa di selamatkan" ucap Raja dengan wajah begitu sedih.
" Jangan bicara begitu sayang, semuanya belum tentu pasti, minta lah pada Allah, mama yakin dia akan memberikan yang terbaik buat kalian dan kesehatan buat anak kalian" ucap mama Kia menasehati anaknya.
" iya Ja, kasus ini bukan hanya Cahaya yang ngalami, banyak wanita hamil yang ngalaminya, ada yang sehat anaknya, kita tidak boleh mengalahkan takdir, yang penting kita berusaha kasih yang terbaik buat Cahaya" ucap Tante Nita menimpali.
__ADS_1
Raja langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat, di hapusnya air mata di ujung matanya, kemudian dia ingin kembali ke kamar untuk melihat Cahaya, namun saat berbalik raja begitu terkejut melihat seseorang berdiri tepat tak jauh dari Raja berdiri sambil memegang perutnya dan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Deg.