
Andra terus menatap wajah Tiara yang belum juga membuka suaranya untuk memberitahu apa maksud ucapannya tadi sebelum Tiara mendonorkan darahnya.
" Tiara, kenapa kamu diam saja? apa maksud dari perkataan mu tadi, sebelum kamu mendonorkan darah kamu untuk Cahaya?" lagi lagi Andra bertanya karena Tiara masih bungkam.
" Aa..Aku.." Ucapan Tiara terputus karena pintu ruangan tempat Tiara istirahat di ketuk.
Tok
Tok
Tok
Andra dan Tiara sama sama melihat ke arah pintu dimana Haikal sudah berdiri di sana karena memang pintu ruangannya tidak tertutup.
" Ndra aku uda cariin kamu di parkiran taunya kamu di sini, ayo buruan, kita harus segera ke kantor polisi" ucap Andra.
Deg
Jantung Tiara mendadak berhenti mendengar ucapan Haikal.
Andra menganggukan kepalanya setelah mendengar ucapan Haikal, kemudian dia kembali melihat ke arah brangkar dimana Tiara menatapnya dengan wajah sedikit pucat bukan karena habis donor darah, melainkan mendengarkan ucapan Haikal yang akan pergi ke kantor polisi.
" Sebaiknya kamu istirahat dulu, kalau kamu sudah enakan kamu bisa pulang, biar supir aku yang antar kamu pulang" ucap Andra yang langsung di jawab Tiara dengan anggukan kepala.
Haikal yang masih berada di depan pintu mendengar ucapan Andra pada Tiara hanya bisa tersenyum kecil tanpa ada yang melihat.
Setelah kepergian Andra dan Haikal, Tiara langsung beranjak turun dari brangkar tempat tidur walau pun tubuhnya masih sedikit lemas.
" Aku harus cepat cepat ke kantor polisi sekarang, kasian kak Wisnu kalau harus di hukum terlalu berat" ucap Tiara yang langaung bergegas keluar dari kamar tempat Ia istirahat.
Namun saat baru saja di depan pintu, Tiara di kagetkan oleh suster yang akan memeriksa kondisi Tiara.
" Lho nona mau kemana? nona harus istirahat dulu, nona baru saja di ambil darah nya dalam jumlah yang banyak" ucap suster.
__ADS_1
"Aku sudah tidak apa apa sus, aku harus pergi, permisi" jawab Tiara yang langsung berlari di koridor rumah sakit menuju parkiran.
" Nona..nonaa tunggu, anda masih belum pulih, akan bahaya jika anda berlari lari seperti itu" teriak suster, tapi tidak di hiraukan Tiara.
Tiara melihat kepergian mobil Andra saat di lobi rumah sakit, dengan cepat Tiara berlari arah mobilnya untuk mengejar mobil Andra.
Baru saja Tiara ingin membuka pintu mobil, tiba tiba kepala Tiara mendadak pusing.
" Aiiiishhh kepala ku pusing banget" ucap Tiara memegang kepalanya.
Tiara merasakan kepalanya berdenyut begitu nyeri, dan mendadak perutnya mual.
" Aku gak bisa nyetir mobil kalau keadaan ku begini, sebaiknya aku naik taksi saja, dari pada aku celaka, yang ada kak Wisnu gak ada nolongin" ucap Tiara dan langsung berlari ke arah jalan raya untuk menyetop taksi.
Haikal dan Andra sudah sampai di kantor polisi, saat sampai di sana, ternyata Pandu dan Aldi sudah berada di sana juga.
" Kalian kemana saja? kenapa baru sampai" tanya papa Aldi menatap wajah putranya.
" Tanyakan saja sama Andra Pa, kenapa kita lama sampai ke sini" jawab Haikal yang langsung di tatap Andra dengan mata tajamnya.
Kini mereka sudah berafa di ruang tunggu dimana mereka ingin melihat siapa yang sudah mencelakai Cahaya.
Seorang laki laki dengan rambut gondrong di ikat ke belakang keluar dengan di dampingi oleh dua orang polisi.
" Ini orang yang sudah menabrak nona Cahaya tuan Pandu, dan kami sudah mengintrogasinya" ucap kepala kepolisian memberitahu.
Pandu dan yang lainnya langsung menatap ke arah tersangka.
" Aku tahu kamu tidak sendiri, karena aku melihat mobil mu memang sengaja ingin menabrak Raja saat itu, namun target kalian meleset" ucap Haikal.
" Kata kan siapa yang sudah menyuruhmu untuk melakukan ini, karna aku tau kau adalah orang suruhan orang bukan" sambung Haikal lagi.
Pandu, Aldi dan Andra masih mendengar saja, belum ada niat buat buka suara.
__ADS_1
" Benar tuan Haikal, kecelakaan ini sudah di rencanakan, namun tersangka saat ini masih belum mau membuka suara nya untuk mengetahui siapa yang menyuruhnya untuk melakukan tabrakan mau itu" ucap sang polisi.
" Katakan, maka kami akan meringan kan hukuman mu" ucap Papa Pandu.
" Aku tidak di suruh siapa siapa, ini memang niat ku sendiri untuk mencelakai putra anda tuan Pandu yang terhormat" ucap Baron orang yang sudah di bayar oleh Wisnu.
" Aku tidak percaya, kau bahkan tidak mengenal Raja dan Cahaya, bagaimana mungkin kau mau mencelakainya" ucap Haikal dengan wajah yang sudah emosi.
Baron sedikit takut melihat kemarahan di wajah Haikal, Aldi sang Papa langsung menenangkan Haikal agar tidak semakin emosi.
" Tenangkan dirimu, semua akan baik baik saja" ucap papa Aldi yang membuat Haikal langsung mengeluarkan nafas nya dengan pelan.
Tiara yang sudah sampai di kantor polisi langsung berlari masuk ke dalam, dia mencari cari dimana keberadaan kakaknya yang di fikir Tiara sudah di tahan di dalam sel.
" Pak saya mau menemui palaku tabrak lari di jalan Ayahanda hari ini" tanya Tiara pada salah satu polisi.
" Nona masuk saja ke pintu itu, di sana lagi ada keluarga korban yang juga sedang menemui pelakunya" jawab sang polisi memberitahu.
Tiara langsung melihat arah pintu yang tertutup, " terima kasih pak" ucap Tiara yang masih melihat ke arah pintu dimana ia mengira kakaknya berada di dalamnya.
" Sama sama Nona" jawab sang polisi.
Dengan langkah yang begitu berat, Tiara melangkah sedikit demi sedikit hingga ia sampai di depan pintu tersebut.
Samar samar Ia mendengar suara dari dalam, dan seketika matanya membulat saat mendengar suara dari dalam yang mengatakan akan membuat yang menabrak Cahaya akan mendekap di dalam penjara seumur hidup.
Dengan cepat Tiara membuka pinti tersebut untuk melihat kakaknya.
" Jangaaaaaaan" teriak Tiara sambil membuka pintu.
Semua yang ada di dalam langsung melihat ke arah Tiara yang malah mematung di depan pintu.
Deg
__ADS_1
Jantung Tiara mendadak berhenti seketika.
Bersambung.