Dokter Cantik Jodohnya Presdir Tampan

Dokter Cantik Jodohnya Presdir Tampan
DCJPT 188


__ADS_3

Ratu dan Haikal langsung berhenti seketika, mereka saling pandang sesaat, kemudian mereka kembali melanjutkan langkah kaki mereka dengan pelan, dan saat masuk.


Deg.


Semuanya yang berada di kamar yanh di tempati Oma sudah mengeluarkan air matanya, Ratu kembali berjalan lebih dekat lagi sambil menggenggam tangan Haikal dengan erat.


"Ma" panggil Ratu dengan suara tercekat.


Semua yang berada di kamar Oma langsung menoleh ke arah Ratu dan Haikal berdiri, Mata Ratu membulat begitu melihat wajah Oma yang begitu pucat dan tersenyum ke arah dirinya berdiri dengan mata yang begitu sayu.


Ratu dan Haikal kembali berjalan dan berdiri tepat di bawah kaki sang Oma, di tatapnya semua yang ada di sana, semua nya lagi-lagi mengeluarkan air mata.


" Adek, Oma begitu bahagia bisa melihat cucu Oma sudah dewasa, kamu harus mendengar apa yang di katakan suami kamu, dia adalah pintu surga buat kamu nantik Dek, jangan suka merajuk lagi, karena kamu sekarang sudah menikah" ucap Oma menasehati Ratu dan di jawab anggukan kepala oleh Ratu yang masih bingung karena tidak mengerti kenapa tiba-tiba Oma mengumpulkan semua anak dan cucu mantu nya di kamar tersebut.


Tangan Oma menggapai tangan Kia setelah tadi sudah memberikan wejangan pada anak perempuannya Anita sebelum Ratu dan Haikal masuk.


"Kia mama berterima kasih sama kamu nak, karena kehadiran mu di keluarga Atmaja, semua nya menjadi damai, dan kamu wanita yang sudah bisa meluluh kan hati anak mama yanh begitu dingin dan kejam" ucap Oma menatap wajah Pandu yang hanya diam sambil memegang tangan sang mama yang satu nya.


"Mama juga bangga sama kamu karena sudah memberikan cucu yang tampan dan cantik yang pastinya menjadi anak yang sholeh dan sholeha, mama mau kalian semua nanti nya rukun, hidup lha rendah hati, jangan sombong pada orang orang di luat sana, dan jadilah orang yang selalu berhati sabar" sambung Oma.


Kia sudah mampu menjawab ucapan ucapan Oma, dia hanya mampu menangis dengan diam, begitu juga dengan yang lainnya.


Oma menatap anak, cucu mantunya satu persatu dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya, dan sesaat kemudian mata Oma perlahan tertutup dan tangan yang ada di dalam genggaman Anita dan Pandu seketika melemah.


Pandu dan Anita yang berada di sisi kanan dan kiri Oma Dewi langsung menatap Oma dengan jantung yang berdetak lebih cepat.

__ADS_1


" Ma" panggil Anita dengan suara parau karena melihat keadaan sang mama yang sudah menutup mata.


Azmi dengan perlahan memeriksa denyut nadi Oma, dengan berat hati Azmi menggelengkan kepalanya memberi tahu kalau Oma Dewi sudah berpulang ke rahamatullah.


Anita dan Pandu langsung memeluk Oma Dewi dengan jeritan yang keluar dari mulut Anita. Yang lainnya hanya mampu menangis terkejut melihat Oma sudah tidak ada lagi di dunia.


"Innalilahi wa innailahi rojiun" ucap Kia dan yang lainnya dengan suara yang tertahan karena menahan tangis.


Pandu langsunh memeluk istrinya dengan satu tangannya, tak terasa air mata Pandu juga keluar karena melihat wanita yang sudah melahirkan nya sudah menutup mata untuk selama-lamanya.


Dari arah pintu nyawa Opa Ridwan yang menjemput istri tercinta tersenyum melihat anak dan cucu-cucunya hidup dengan bahagia.


Oma Dewi sendiri tersenyum menerima uluran tangan sang suami yang sudah menjemput nya setelah sekian lama berpisah dengan dunia yang berbeda.


" Mama senang Pa karena mama bisa melihat kebahagian mereka sebelum mama pergi ikut dengan papa" ucap Oma Dewi sebelum pergi meninggal kan anak dan cucu mantunya.


Raja yang dapat melihat kepergian Oma dan Opanya hanya bisa menatap dengan senduh, lambaian tangan di lambaikan oleh Oma dan Opa sebelum mereka masuk ke dalam pintu dengan sinar yang begitu terang.


Suara ambulance berbunyi di jalanan mengantarkan jenaxah Oma ketempat peristirahatan Oma yang terahkir.


Begitu sampai di makam, semua anggota keluarga yang laki-laki sudah bersiap untuk menurunkan Oma ke liang lahat, Pandu sebagai anak tak lupa mengazanin Oma Dewi sebelum di tutup papan dan di timbun tanah.


Begitu selesai, tanah pun langsung di tumpahkan ke dalam makam Oma Dewi dan kini makam tertutup bersamaa helaan nafas Pandu yang masih belum percaya dengan kepergian mamanya.


Bima menapuk bahu Pandu untuk menguatkan sang adik ipar, Raja dan Andra juga menatap makam sang Oma dengan wajah yang tak bisa di baca.

__ADS_1


Pandu duduk di tengah-tengah makam kedua orang tuanya, di pegangnya batu nisan sang papa dan mama dengan tagannya.


Sudah tidak ada lagi air mata yang keluar dari mata Pandu, dirinya sudah ikhlan menerima kepergian sang mama dan berkumpul kembali dengan papanya di surga sana.


" Pa ayo kita pulang, sebentar lagi hujan akan turun" ajak Raja dan di jawab anggukan kepala oleh Pandu.


Perlahan Pandu berdiri, di tatapnya sekali makam kedua orang tuanya secara bergantian.


Pandu berjanji Pa, Ma akan menggantikan sosok orang tua seperti kalian, dan mendidik anak-anak Pandu menjadi yang seperti kalian inginkan, batin Pandu kemudian langsung menghela mafas sekali lagi dan langsung melangkah kan kakinya meninggalkan makam sang papa dan mama di susul oleh Raja dan yang lainnya untuk segera pulang.


Di kediaman Atmaja, Anita dan Kia berada di kamar sang mama di temani oleh Widya.


Anita masih sesekali menangisi kepergian sang mama, namun dirinya langsung ingat kalau tidak boleh menangisi orang yang sudah meninggal terlalu dalam.


" Kia nanti baju-baju mama dan papa kita bagi-bagi saja sama orang yang tidak mampu, di sini juga tidak ada yang pakai kan" ucap Anita dan langsung di jawab anggukan kepala oleh Kia.


Di kamar Raja dan Cahaya, wanita yang sudaj hamil tujuh bulan itu berdiri di balkon dengan sesekali msngusap perutnya yang sudah membesar.


Tanpa terasa air matanya kembali menetes mengingat begitu sayang dan perdulinya sang Oma saat pertama kali Cahaya mengenal Oma Dewi.


" Seandainya kamu bisa ketemu sama Oma nak, pasti kamu sangat bahagai bisa melihat wajah Oma secara langsung, tapi sayang Oma sudah tidak ada lagi saat kamu lagir nanti" ucap Cahaya pada bayi yang ada di dalam kandungannya.


"Apa pun jenis kelamin kamu nanti, mama mau kamu bersifat rendah hanti seperti Oma dan Opa ya sayang, dan jadilah anak yang bersifat tauladan untuk semua orang" lanjut Cahaya dan tanpa dia sadari seseorang telah memperhatikan dirinya berbicara seorang diri di balkon kamarnya.


Bersambung.

__ADS_1


Maaf baru bisa Up lagi, Author bener bener minta maaf karena author gak bisa sempetin Up di karena kan ada yang harus di urus.


Mohon pengertiannya ya readers tercinta. 🙏🙏


__ADS_2