Dokter Cantik Jodohnya Presdir Tampan

Dokter Cantik Jodohnya Presdir Tampan
Bab 272


__ADS_3

Sore hari ini semua keluarga Atmaja mengantar kan papa Ridwan ke peristirahatan terahkir nya, cuaca yang mendung menanda kan kalau keluarga Pandu saat ini sedang berduka.


Pandu terduduk di nisan sang papa sambil memegamg batu nisan papa Ridwan yang bertulis kan nama papa nya.


Tidak ada air mata yang keluar dari mata Pandu dari kemarin malam saat papa nya di nyata kan meninggal.


" Ayo Ndu kita pulang, mama pasti saat ini membutuh kan kamu" ucap Bima yang menemani adik ipar nya dan pasti nya seluruh sahabat sahabat nya.


Pandu belum beranjak sedikit pun, dia masih menatap batu nisan sang papa.


Papa....maaf kan Pandu yang tidak berada di sisa sisa terahkir nafas papa, Pandu akan menjaga mama dengan nyawa Pandu pa, dan Pandu akan mencari tahu siapa dalang di balik kecelakan yang papa dan mama alami, batin Pandu.


Tak lama hujan turun begitu deras nya, Pandu berdiri dan melihat tanah kuburan sang papa sudah basah terkena deras nya air hujan.


" Ayo Ndu, hujan nya semakin lebat" kini Aldi yang berbicara.


Pandu tidak menjawab, dia hanya berjalan meninggal kan makan sang papa di ikuti yang lain nya.


*****


Di rumah sakit, mama Dewi masih menangis karena tidak bisa mengantar kan jenazah suami nya di tempat perisitirahatan terahkir.


Kia yang begitu setia menemani mama mertua nya, di dampingi Anita yang selalu ada bersama mama nya, sedang kan anak anak mereka di jaga oleh Widya dan Rika di rumah utama.


" Ma...mama makan dulu ya, setelah itu biar minum obat, dari pagi mama belum ada masuk nasi sedikit pun dan juga minum obat" ucap Kia dengan lembut.


" Mama tidak lapar nak, mama cuma ingin ikut dengan papa kalian, kenapa papa kalian meninggal kan mama, mama tidak punya siapa siapa lagi" ucap mama Dewi dengan tangisan nya.

__ADS_1


" Mama masih punya kita Ma, ada aku, ada Pandu, ada Kia dan mas Bima, dan ada cucu cucu mama, mama tidak sendiri Ma" ucap Anita memeluk mama nya dari samping kiri, sementara Kia berada di sisi sebalah kanan mama Dewi.


Mama Dewi hanya diam saja, tidak ada kata kata yang keluar dari mulut mama Dewi.


Kia mengelus punggung tangan mama Dewi dengan lembut.


" Apa mama sayang sama papa?" tanya Kia dan langsung di jawab anggukan oleh Pandu.


" Dulu waktu ibu meninggal kan Kia, Kia merasa kalau hidup Kia hanya separuh saja bisa untuk bersemangat, tapi karna Ayah bilang kalau ibu pasti sedih melihat Kia terus bersedih seperti itu terus" ucap Kia yang masih di dengar dengan baik oleh Mama Dewi dan Anita.


" Perlahan Kia kembali bersemangat berkat dukungan dan kata kata dari ayah, tapi saat ayah yang meninggal kan Kia, Kia malah merasa dunia sudah tidak bersahabat buat Kia, tidak ada siapa siapa lagi saat itu, dan Kia kembali menginggat kata kata ayah kalau kita sedih berlarut larut, maka orang yang pergi meninggal kan kita juga tidak bahagia di atas sana" lanjut Kia dan spontan membuat mama Dewi menoleh kan kepala nya ke arah Kia.


Kia tersenyum kemudian memeluk mama Dewi dengan begitu sayang.


" Sampai ahkir nya Kia sadar kalau Kia masih punya keluarga yang sangat sama Kia, yang perduli dengan Kia, walau saat itu belum ada rasa cinta yang tumbuh antara Kia dan mas Pandu, tapi Kia bersyukur kalau Kia sudah mempunyai keluarga baru yang begitu menyanyangi Kia" ucap Kia menatap mama Dewi.


" Mama sayang kan sama kami semua?" tanya Kia dengan tatapan lembut nya.


Mama Dewi langsung mengangguk kan kepala nya, Kia dan Anita langsung memeluk mama mereka yang berada di tengah tengah mereka.


" Kia yakin mama dan papa jodoh dunia dan ahkirat, yang penting mama tidak lupa untuk mendoa kan papa selalu" sambung Kia yang di jawab anggukan kepala oleh Mama Dewi.


" Sekarang mama makan ya, Kia sulangi" ucap Kia yang langsung di jawab anggukan oleh mama Dewi.


Anita yang mendengar semua kata kata dari Kia hanya bisa merasa kagum, Kia begitu sabar memberi kan semangat pada mama nya.


Pandu benar benar beruntung mendapat kan istri seperti Kia, Kia memang wanita yang cantik luar dalam, aku juga sangat beruntung mempunyai adik ipar seperti diri nya, batin Anita yang sedang menatap Kia saat menyulangi mama nya makan.

__ADS_1


Dan di depan pintu ruangan mama Dewi, Pandu yang ingin masuk ke dalam, tidak jadi karena mendengar istri nya memberi kan semangat untuk mama nya, dari yang mama nya terus menangis, kini mama nya mau makan karena kata kata Kia, Pandu begitu bersyukur mendapat kan istri seperti Kia.


Dengan perlahan Pandu membuka pintu dan terlihat lah tiga wanita kesayangan nya di dalam yang juga melihat ke arah nya.


Pandu tersenyum sedikit saat melangkah kan kaki nya masuk ke dalam.


Mama Dewi kembali menangis saat melihat putra nya masuk dengan memakai pakaian serba hitam.


" Bagaimana dengan pemakaman papa Mas" tanya Kia.


" Lancar sayang, tidak ada masalah" ucap Pandu yang sudah berdiri di samping istri nya.


" Alhamdulillah" ucap Kia dan Anita bersamaan.


" Ma..." panggil Pandu yang langsung memeluk mama nya.


" Mama harus kuat, Pandu yakin mama pasti berjalan seperti dulu lagi, tadi Pandu sudah bicara sama Ricki, kalau mama juga besok sudah bisa pulang, kita rawat kalan saja, nanti akan ada dokter terapy yang datang ke rumah, dan melatih mama untuk bisa jalan kembali" ucap Pandu yang langsung mendapat anggukan kepala oleh mama Dewi.


" Anita dan Kia pasti bantu mama kok, mama gak usah khawatir ya" ucap Anita yang membuat senyuma. mengembang di bibir mama Dewi walau pun air mata keluar dari mata nya.


Alhamdulillah ya Allah, engkau memang mengambil suami ku secepat ini, tapi aku harus tidak boleh sedih berlarut larut, karena masih ada anak anak ku dan juga menantu menantu ku yang begitu sayang pada ku, batin mama Dewi yang mendapat pelukan dari anak dan mantu nya.


" Mas sebaik nya maa pulang dulu dan ganti baju, baju mas basah, Kia gak mau kalau Mas sampai masuk angin" ucap Kia.


" Tadi mas sudah suruh kak Bima untuk membawa kan baju mas sayang,mungkin sebentar lagi kaka Bima sudah sampai ke rumah sakit lagi" ucap Pandu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2