Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 100


__ADS_3

"Owh … santai kawan. Aku hanya memperingati istriku," ujar Arion kaget seraya menaikkan tangannya. Ia merasa kini tengah berada di kandang buaya. Karina menaikkan tangannya menyuruh bawahannya menurunkan senjata.


"Ya kenapa gak boleh?" tanya Karina lagi.


"Gak bagus untuk kesehatan kamu. Apalagi rahim kamu. Kan kita janji sama papa dan mama dalam satu bulan kamu akan mengandung cucu mereka," terang Arion. Karina mendengus kesal.


"Ganti dengan coklat hangat. Bawa wine itu kembali," titah Karina pada bawahan yang memegang nampan itu.


"Baik Queen," sahutnya segera berbalik.


"Tunggu. Bawa wine itu padaku. Queenmu tidak boleh minum tapi aku boleh," tahan Arion membuat bawahan Karina menoleh dan meminta pendapat Karina. Karina mengangguk. 


Bawahan itu segera mengantar nampan di tangannya kepada Arion. Tak lupa ia juga menuangkannya. Arion meminum perlahan wine itu. Karina menyilangkan kakinya menunggu coklat hangat dan juga hasil uji rooftop bawahan lainnya.


Setengah jam kemudian, Pria berkacamata hitam itu menghadap Karina.


"Queen, saya sudah memeriksa secara keseluruhan. Hasilnya akan saya kirimkan besok pagi," terang Rangga sopan.


"Yakin kamu memeriksanya dengan benar? Apa kamu dapat melihat dengan jelas dengan kacamata hitammu itu?" tanya Karina datar.


Rangga membuka kacamatanya dan menatap Karina heran. Tak biasanya Karina meragukan kinerja bawahannya. Apalagi penyelidikannya selalu tepat mau bagaimanapun penampilannya. 


"Akan saya ulangi Queen," ucap Rangga mengalah, tak mau terkena sindiran dan amarah Karina.


Karina mengangguk dan bangkit dari kursi. 


"Aku pulang dulu," ucap Karina. Arion ikut berdiri mendengar kata 'pulang'.


"Selamat jalan Queen," ucap Rangga dan lainnya membungkuk hormat. Karina melangkahkan kakinya meninggalkan rooftop. Arion menyusul dengan cepat. Sesampainya di lantai bawah, Arion menggenggam tangan Karina dan berjalan berdampingan. Melewati pasar malam yang sepi sebab insiden yang tak mengenakkan.


Keluar dari pasar malam, Arion berhenti mendadak. Wajahnya seperti menginginkan sesuatu.


"Mengapa?" tanya Karina heran berbalik menatap Arion.


"Hmm … aku ingin strawberry," jawab Arion dengan nada yang paling rendahnya. Menatap Karina ragu dan malu.


"Oh … kalau tidak salah gak jauh dari hotel ada toko buah. Kita ke sana saja," ujar Karina tersenyum. 


 "Tapi aku mau langsung dari pohon. Aku sendiri yang memetiknya," jelas Arion pelan. Karina menautkan alis heran.


 "Ya sudah besok kita ke kebunnya," ujar Karina santai.


"Tapi aku maunya malam ini," tambah Arion yang membuat Karina memiringkan kepalanya. 


"Sekarang? Ke kebun?" tanya Karina memastikan.


"Iya," jawab singkat Arion.


"Mana ada tempat kebun strawberry wisata yang petik sendiri buka jam segini? Beli yang sudah di kebun saja ya," bujuk Karina.


"Gak. Aku gak mau yang ada di toko. Pasti ada. Tunggu sebentar," seru Arion terdengar kesal, merajuk layaknya anak kecil.


"Hmm … terserahmu saja," sahut Karina menyilangkan tangannya.


Arion menggambil handphonenya, menghubungi seseorang. 


"Apa? Tidak usaha itu lagi?" pekik Arion. Karina terlonjak kaget. 


"Ayolah kawan. Jangan bercanda," pinta Arion.

__ADS_1


"Ya sudah. Maaf menganggu liburanmu," ucap Arion. Tak lama Arion memutuskan panggilan, menatap Karina dengan wajah sedih dan memelas.


"Bagaimana?" tanya Karina basa-basi. Tentu saja Karina tahu apa jawabannya sebab terlihat jelas dari ekspresi wajah Arion.


Arion menggeleng lemah. Karina mendesah pelan.


"Aku sangat ingin strawberry. Aku ingin sekarang juga," tutur Arion berjongkok.


Nih orang kenapa ya? Kayak ibu hamil aja. Apa sih itu istilahnya? … ngidam ya? pikir Karina.


"Kau ini aneh. Buah yang selama ini kau hindari sekarang malah merajuk minta buah itu. Petik sendiri malah," komentar Karina.


Arion mengangkat pandangannya menatap Karina. Jujur dia bingung dengan dirinya sendiri. Ada dorongan yang membuatnya bersikeras untuk petik dan makan strawberry. 


"Aku pernah dengar bahwa sayangku punya perkebunan strawberry di sini, bukan? Ayo ke sana," pinta Arion penuh harap pada Karina.


"Hmm … mungkin. Aku lupa soalnya,"jawab Karina meringis.


"Huh … kau kebanyakan aset sampai jadi pelupa," gerutu Arion. 


Karina diam tak membalas, ia malah mengambil handphonenya, mengecek aset yang berada di negara ini. Senyumnya mengembang saat menemukan bahwa ia memiliki perkebunan strawberry dan perkebunan anggur. Dengan cepat Karina menghubungi markas dan menitahkan mengirim helikopter ke atas gedung Praja Hotel.


Selepas itu Karina mengulurkan tangannya ke hadapan Arion yang masih berjongkok seraya menundukkan badannya.


"Ayo kembali ke hotel. Kita ke kebun. Petik buah yang biasanya suamiku ini benci," ujar Karina.


"Benarkah?" tanya Arion penuh binar di mata. Karina mengangguk. Arion bangkit dan segera menarik tangan Karina pulang ke hotel.


"Woah … santai Arion …," pekik Karina kaget.


Arion tak mendengarkan, tak sampai sepuluh menit mereka sudah berada di rooftop Praja Hotel, tentunya dengan baju hangat dan koper di tangan mereka. 


Tak berselang lama, deru baling-baling helikopter terdengar, mendarat sempurna di landasan yang memang sudah disiapkan. Karina dan Arion segera masuk, helikopter kembali lepas landas menuju luar kota tempat perkebunan berada. Selama perjalanan, Karina tertidur dengan bahu Arion sebagai tempat bersandar.


Udara dingin langsung menyapa tubuh, walaupun sudah pakai pakaian berlapis tetap saja terasa. 


"Sayang kita sudah sampai," ucap Arion berbisik di telinga Karina. Karina membuka mata, mengerjap perlahan. Dengan cepat kesadaran Karina terkumpul dan langsung keluar di ikuti Arion.


Karina menatap datar perkebunan strawberry seluas 10 hektar miliknya itu. Terdapat tabung air besar setiap 50 meter, berurut sebagai air penyiram tanaman.


Penerangan yang cukup baik membuat mata leluasa memandangnya. Berbeda dengan Arion yang menatapnya penuh minat.


"Selamat datang kembali Nona," sambut kepala pengurus perkebunan ini di ikuti pekerja lainnya.Tempat tinggal mereka berada di belakang villa utama. Pelayan villa segera mengambil alih koper Karina dan Arion, membawa masuk ke dalam villa utama.


"Hmmm … Pak Tri tunjukkan bagian kebun mana yang sudah siap panen. Suami saya ingin memetiknya sendiri dan makan di tempat," titah Karina pada lelaki parubayah berkacamata itu.


"Baik Nona. Mari silahkan Nona, Tuan," ujar


Pak Tri tersenyum ramah. Membuat wajahnya yang sudah terdapat kerutan berseri-seri senang. Ia yakin bahwa jika Karina berkunjung ke mari maka Karina sedang dalam situasi hati yang senang.


Pak Tri segera menunjukkan jalan, Arion mengikut penuh antusias. Karina malah ia tinggal di belakang. Karina berdecak sebab. Ia menyatukan ke dua telapak tangannya, menggosoknya perlahan berusaha mengusir rasa dingin.


Sesampainnya di kebun yang sudah siap panen, Pak Tri segera mempraktekkan ara memetik strawberry yang benar, agar pohonnya tak rusak.


Arion mengikutinya perlahan, berusaha menahan air liur yang siap turun, menelan ludah membayangkan buah kecil berwarna merah itu berada dalam mulutnya dan melewati kerongkongannya.


"Silahkan dicuci dulu Tuan," ujar Pak Tri menyodorkan satu baskos kecil air setelah Arion memetik buah itu. Arion mengangguk, memasukkan buah ke dalam air dan mencuci.


Arion mengibas-ngibaskan air yang masih menempel setelah dicuci dan mulai menggigitnya perlahan.

__ADS_1


Kreyes.


Rasa asam bercampur manis yang sangat pas di lidah di tambah buahnya yang sangat renyah membuat Arion merem-melek.


"Bagaimana? Sudah puas?" tanya Karina.


Arion menggeleng. Sibuk memetik buah strawberry yang lain.


Pak Tri tersenyum ketika melihat Karina berdecak sebal. 


Akhirnya ada yang mampu membuat wajah ini kesal akibat hal kecil, batin Pak Tri yang baru tahu berita pernikahan Karina.


"Pak buang saja air itu. Buat jadi tempat untuk buah yang suami saya petik," ujar Karina setelah melihat jam tangan. Pak Tri mengangguk. Bersiap sedia menerima buah yang Karina petik. 


Lima menit kemudian, baskom itu penuh, mereka segera meninggalkan kebun kembali ke villa utama.


Arion lekas menuju dapur dengan bantuan pelayan sebagai GPS. Karina menuju ruang perapian, menghangatkan tubuhnya dengan hangatnya api kayu bakar. 


Tak lama Arion kembali dari dapur dan  membawa buah utuh dan dua gelas jus strawberry. Karina melirik Arion.


"Kamu ngidam kah?" tanya Karina yang membuat Arion tersedak kaget. Menatap Karina ngeri dan rumit.


"Apa laki-laki bisa hamil? Kecuali jika istrinya yang hamil dan suaminya yang ngidam," sahut Arion sekenanya.


Karina dan Arion membulatkan mata mereka bersamaan.


"Jangan-jangan …,"ucap Arion.


"Aku hamil??" sambung Karina.


"Bisa jadi," ujar Arion dengan lagak berpikirnya.


"Sayang apa kau merasa ada yang berbeda dengan dirimu? Apa siklus bulanannya sudah datang? Apa kamu sering mual atau apalah itu??" tanya Arion beruntun seraya bersimpuh di depan Karina. Strawberry yang ia mati-matian dapatkan tak lagi menarik perhatian.


"Kalau yang pertama sama ketiga sih gak terasa, bahkan sama sekali gak pernah. Kalau yang kedua seharusnya minggu depan baru jadwalku. Soalnya aku malam pertama sama kamu sehabis tamu aku pergi. Pergi pagi masuk malam. Tapi memang aku agak ngerasa mudah lelah gitu," jelas Karina memegang tangan Arion.


"Kalau begitu … ayo kita periksa ke rumah sakit," seru Arion bahagia.


"Besok sajalah. Aku ngantuk," tolak Karina enggan sebab matanya sudah ngantuk berat. Wajah saja waktu menunjukkan pukul 00.30 dini hari. Biasanya mereka sudah berada di awang-awang buai mimpi.


"Ayolah … aku penasaran," bujuk Arion.


"Ar … aku ngantuk. Lelah, sudah mau di bunuh terus langsung terbang ke mari, aku lelah Ar. Besok saja ya," rengek Karina.


Arion diam, menatap wajah Karina yang lelah, hatinya di liputi rasa bersalah. 


"Baiklah. Kalau begitu ayo kita tidur," ujar Arion langsung mengangkat tubuh Karina dalam gendongannya dan berjalan menuju kamar, tentu saja dengan petunjuk dari Karina.


Ceklek.


Karina membuka pintu, kamar berwarna biru langsung menyambut. Semuanya serba biru, dari ranjang, lemari, meja dan  sofa. Arion meletakkan perlahan tubuh Karina di atas ranjang dan duduk di sampingnya.


Karina memejamkan mata mulai tertidur, apalagi dengan usapan lembut di kepalanya semakin membuatnya terlelap.


Merasa Karina sudah benar-benar pulas, Arion berdiri menuju jendela. Menatap ke luar dengan tatapan datar. Kedua tangan berada di kantong. 


"Jika benar Karina hamil maka bulan madu yang rencananya menjadi bulan madu berdarah akan aku ubah menjadi bulan madu yang paling bahagia. Semoga saja benar-benar ada anakku di sana," gumam Arion menarik senyum tipis memandang bulan purnama dari balik jendela.


"Tapi … jika memang tak terjadi maka akan ku buat sepulangnya dari sini dia hamil. Huhu … perlu usaha keras menghadirkan Arion junior. Oh Tuhan … mengapa terkadang pasangan yang sah dan halal sulit, lama sekali mendapat anak sedangkan cinta satu malam alias hubungan hanya satu malam berbuah janin? Padahal kan itu tak di harapkan oleh dua insan yang melakukannya," pikir Arion mengulum senyum.

__ADS_1


Hatinya bulat bertekad menimbun rasa benci dengan cinta. Melupakan masa lalu dan membangun masa depan yang lebih cerah bersama Karina. 


Kelegaan dirasakan Arion saat mengiklaskan peristiwa lalu, yang mana dialah yang memulai itu. Menerima tawaran Karina bergabung dengan Pedang Biru.


__ADS_2