
Seminggu telah berlalu. Sebelum matahari terbit, Aleza bersama dengan tim yang diutus, sudah terbang menuju Maroko. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 12 jam, tentu saja dengan pesawat pribadi. Jika menggunakan pesawat komersial, bisa memakan waktu yang lebih lama karena transit di bandara juga kecepatan yang berbeda.
Aleza dan tim tiba di bandara tujuan sekitar pukul 22.00 waktu Maroko. Emir ditemani Rayan secara pribadi menjemput Aleza dan tim. Dengan mengunakan mobil jeep mereka berkendara menuju kediaman klan Anfa.
Aleza menatap datar bangunan di hadapannya ini. Ini adalah kediaman klan Anfa. Aleza mengira kediaman ini masih mengunakan arsitektur yang kuno. Tapi nyatanya ini perpaduan klasik dan modern yang membuat kediaman terasa hidup dan elegan. Memasuki kediaman, suasana islami semakin terasa.
Zallij atau mosaik yang terbuat dari keramik menghiasi sepanjang dinding kediaman. Warna yang digunakan adalah warna cerah yang kontras dengan lantai berpola dengan pola geometris.
Aleza sedikit melengkungkan senyum, pencahayaan ruangan yang redup dan temaram membuat nuansa yang lembut. Ia kira pencahayaan masih menggunakan banyak lilin. Lilin memang masih digunakan, hanya saja sebagai tambahan. Lampu gantung dengan penutup kaca mosaik dengan warna cerah menghiasi langit-langit kediaman.
Di beberapa sudut ada ruangan terbuka yang biasa disebut Riad. Riad ini dianggap sebagai jantung kediaman karena merupakan area yang paling menenangkan juga segar. Sofa santai dengan tanaman hijau juga kolam yang diisi dengan ikan koi, dekorasi kolam sangat menyejukkan mata.
Dan tentu saja bingkai foto yang sangat kental dengan unsur islami. Aleza melemparkan tubuhnya di atas ranjang. Sepertinya ini sudah disiapkan untuknya. Tidak terlalu besar ataupun kecil. Kamar yang didominasi warna coklat sungguh membuat pikiran Aleza tenang. Aleza menghela nafas pelan, matanya mulai terpejam dan akhirnya tertidur pulas.
Keesokan paginya, Aleza terganggu dengan suara berisik ketukan pintu. Matanya terbuka kesal, menggerutu sebal dan membuka pintu kasar. Emir terdiam melihat wajah bangun tidur Aleza, rambut berantakan dengan kotoran mata yang masih menempel.
"Ada apa?" Tatapan kesal. Emir memalingkan wajahnya, telinganya terlihat memerah.
"Sudah pagi. Lekaskah mandi lalu sarapan, setelah itu kita meninjau lokasi," ucap Emir. Aleza menyipitkan matanya.
"Jam berapa sekarang?"tanya Aleza, menguap sekali.
"Jam 08.00," jawab Emir.
"Jam delapan?" Mata Aleza membuat. Teringat jika di kotanya sana ini sudah pukul 14.00 siang.
"Gila! Mengapa tak dari tadi kau bangunkan aku! Dasar mesum sialan!"
Aleza menutup pintu kasar. Emir mengerjap pelan, menggeleng pelan kemudian melangkah pergi. Aleza masih membenci dirinya, tapi Emir tidak akan menyerah!
Tapi wajahnya tadi sangat imut, batin Aleza.
***
Emir tertegun melihat Aleza yang hadir di ruang makan. Aleza tampil sangat cantik dengan kaftan berwarna biru. Mata Biru Aleza menyorot tajam meja makan. Osman mendengus sebal, Rayan ikut takjub dengan penampilan Aleza.
"Jaga matamu!"ketus Emir, tidak suka melihat Rayan yang terus menatap Aleza.
"M-maaf." Rayan segera memalingkan wajah.
"Leza duduklah," ucap Emir, tersenyum lembut pada Aleza.
"Kita tidak dekat. Panggil aku nona!"ucap Aleza.
"Jaga sikap Anda di sini, Nona!"tegur Osman.
"Tergantung sikap kalian padaku!"sahut Aleza. Osman menggerutu kesal.
Selesai sarapan, Emir, Rayan, Aleza serta tim meninjau lokasi. Karena jarak yang tidak terlalu jauh, mereka menggunakan unta sebagai kendaraan. Aleza sedikit merasa aneh kala menaiki unta.
Tiba di lokasi, sudah ada orang-orang Emir yang sibuk menarik pembatas untuk pembangunan nanti. Rambut Aleza yang berwarna coklat berkibar diterpa angin. Lagi-lagi Emir tersipu melihat Aleza. Aleza yang berkacak pinggang mengamati sekitar lalu menoleh ke arah Emir.
"Hei Pangeran, coba kau ukur kedalaman sungai ini!"ucap Aleza.
Rayan dan orang-orang Emir terkejut mendengar ucapan Aleza.
"Nona kami sudah mengukurnya. Kedalaman sungai ini satu meter," ucap Rayan.
"Oh. Hanya satu meter bagaimana bisa dibuat saluran pipa?"
"Tanah pasir ini tidak mudah longsor kan?"
"Tidak. Ini tanah tandus, memangnya kenapa?"tanya Emir.
"Kenapa apanya? Tentu saja untuk memasukkan alat berat memperdalam sungai ini," jawab Aleza.
"Memperdalam?"
__ADS_1
"Di hilir sungai ada yang menggunakan air?"
"Tentu saja!"jawab Rayan.
"Tugas mendapatkan persetujuan pengguna terdekat air sungai ini aku serahkan pada kalian berdua! Jika sudah, besok atau lusa sungai ini akan dikeruk!"ucap Aleza.
"Atas dasar apa?" Rayan tidak setuju.
"Aku adalah ketua pembangunan!"jawab Aleza, meninggalkan area kembali naik ke unta miliknya.
"Eh?" Tanpa sengaja topi yang Aleza gunakan terbang dibawa angin. Aleza menyipitkan mata, silau dengan terik cahaya. Emir bertindak cepat, naik ke untanya dan kini berdampingan dengan Aleza.
Emir melepas sorban yang ia kenakan, memakainya pada Aleza. Aleza menolak, memegang tangan Emir langsung menghempaskannya. Aleza menatap marah Emir.
"Stt cuaca sangat terik. Aku takut saat kau pulang nanti wajahmu seperti pisang salai. Lagipula aku tidak rela wajahmu dilihat pria lain!" Aleza terpaksa menerima, menjaga kulitnya agar tidak hitam. Setelah Emir selesai memakaikan sorban, Aleza segera menarik tali kekang, melaju meninggalkan Emir yang tersenyum penuh arti.
*
*
*
Aleza menarik nafas panjang, menikmati suasana Riad yang menenangkan. Kakinya berada di dalam kolam, ikan-ikan kecil mengelilingi kakinya. Geli Aleza rasakan saat ikan-ikan tersebut menggigit kulitnya, memakan sel kulit mati.
"Leza … aku sudah selesai," ujar Emir, langsung duduk di samping Aleza.
"Panggil aku Nona!"ketus Aleza, bangkit dan duduk di sofa. Emir hendak ikut berpindah.
"Tetap di tempatmu atau aku akan menendangmu!"
"Baik-baik. Leza pembangunan sudah bisa dimulai besok. Aku sudah mendapatkan persetujuan terkait. Berkas persetujuannya ada di ruang kerjaku," jelas Emir.
"Secepat ini?" Aleza terkejut. Ini baru tiga jam dari perintahnya tadi.
"Tentu saja. Aku ini cukup berpengaruh. Lagipula kita tidak membendung mati aliran sungai," jawab Emir.
Masih keras, batin Emir.
*
*
*
Keesokan harinya, sungai mulai diperdalam, panjang 50 meter dengan kedalaman tiga meter. Dalam satu hari, pengerukan selesai. Di hari ketiga bendungan mulai dibangun. Alat berat, salah satunya crane mulai bekerja. Pondasi bangunan dikukuhkan. Satu demi satu batu mulai disusun dan disatukan.
Dengan keefektifan kerja, dalam waktu seminggu bendungan telah rampung. Pembangunan selanjutnya adalah pembangunan saluran bawah tanah. Pipa-pipa berukuran besar sudah tersusun di dekat area pembangunan. Sebagian pekerja membangun saluran air dalam tanah sebagian lagi membangun kolam sebagai tempat penampungan.
Hubungan Emir dan Aleza juga masih stuck di tempat. Hati Aleza masih sangat keras, sukar untuk Emir taklukan. Aleza masih menutup rapat pintu hatinya.
*
*
*
Akhirnya pembangunan telah selesai. Unta dan kuda juga sudah masuk di kandang peternakan. Tumbuhan di green house juga sudah mulai tumbuh. Kebun kaktus penuh dengan kaktus yang tumbuh subur.
Besok Aleza akan pulang. Seratus hari setelah hari kedatangannya. Malam ini, Aleza menghabiskan waktu menatap langit yang cerah, namun tidak ada bintang apalagi bulan.
Segelas anggur susu kurma menemani Aleza, duduk tenang di Riad. Pikiran Aleza yang tenang seketika terganggu saat Emir duduk di sampingnya. Aleza hendak pergi, Emir menahan lengannya.
"Temani aku sebentar," pinta Emir dengan wajah sendu. Aleza tidak menjawab, menarik tangannya dan kembali duduk, kembali fokus melihat langit.
"Leza … apakah kau sungguh-sungguh tidak menyukaiku barang sedikit?" Emir menatap sendu Aleza, tatapannya sungguh berharap.
"Tidak. Urusanku di sini sudah selesai, besok aku akan pulang. Kelak jangan pernah ganggu aku lagi," ucap Aleza.
__ADS_1
Deg.
Hati Emri hancur. Biarpun ini penolakan kesekian kalinya, rasa sakitnya lebih dari yang sebelumya.
"Apakah itu benar?"
"Apa aku terlihat bercanda, Pangeran?" Aleza memberikan sorot mata tajamnya. Emir menggeleng pelan. Tidak ada keraguan apalagi kebohongan. Jawaban yang cepat lagi lugas.
"Baiklah. Sepertinya ini malam terakhir kita bersama. Setelah ini aku tidak akan menganggumu lagi. Aku menyerah, Leza. Aku menyerah," ucap Emir. Aleza mengeryit heran, tadi siang Emir masih sangat bersemangat mengapa malam ini terlihat sedih dan putus asa?
Keduanya beradu pandang. Aleza menangkap ketidakrelaan, keputusasaan, serta tekanan. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Baguslah." Aleza tak ingin ambil pusing. Setelah ini ia akan putus hubungan dengan Emir.
"T-tidakkah kau merasa sakit?"
"Untuk apa? Aku tidak ada perasaan padamu."
"Ini juga bukan keinginanku. Ini ultimatum dari Ayah. Aku tetap tidak bisa menaklukan hatimu, dan besok aku akan melamar gadis lain untuk menjadi isteriku," ujar Emir.
Deg.
Ada setitik rasa sakit di hati Aleza.
"Oh ternyata kau pangeran yang berdedikasi tinggi," sahut Aleza.
"Ini pertama kalinya kau memujiku langsung. Aku sangat bahagia." Mata Emir berkaca-kaca. Aleza melirik sekilas.
"Aku sangat percaya diri bisa menaklukkan hatimu. Tapi cintaku bertepuk sebelah tangan. Leza terima kasih karena kau sudah sabar menghadapi sikapku selama ini. Kenangan manis kita akan selalu aku simpan."
Aleza menoleh dengan wajah datar.
"Kau hanya mencintai orang yang salah," ucap Aleza.
"Kau tetaplah cinta pertamaku. Tidak akan ku lupa sampai kapanpun. Semoga kau mendapatkan pria yang lebih baik."
"Maaf juga besok aku tidak bisa mengantarmu ke bandara. Aku pergi, masih banyak yang harus dipersiapkan. Jangan terlalu lama di luar, lekaslah masuk," lanjut Emir. Emir berdiri, melangkah pergi tanpa menunggu jawaban Aleza. Baru tiga langkah, Emir berhenti, berbalik dengan cepat dan mendekati Aleza.
Grep.
Cup.
Emir mencium bibir Aleza. Aleza masih membeku, matanya terpejam rapat. Merasa tak mendapat penolakan, Emir memperdalam ciumannya. Meski tak mendapat balasan, Emir tetap bahagia. Aleza hampir kehabisan nafas, saat itulah Emir melepas ciuman. Segera bangkit dan lari pergi. Aleza membuka matanya, menatap sendu kolam.
Ciuman tadi adalah bentuk permintaan maaf dariku. Maaf Emir, aku tidak bisa membalas perasaanmu. Masa laluku sangat kelam. Aku juga takut dengan cinta. Maaf. Sungguh maaf.
"Semoga kau menemukan wanita yang baik untukmu."
Aleza memejamkan mata, butir kristal jatuh ke pangkuaannya. Aleza menangis tanpa suara. Menunduk dalam menahan gejolak hatinya. Tangis Aleza terhenti saat handphonenya berdering.
"Queen?" Segera Aleza mengangkat panggilan tersebut.
"Saya Queen."
"Besok kau akan pulang, bagaimana hubunganmu dengan Emir?" Aleza diam sebentar kemudian menjelaskannya.
"Aleza apa kau benar-benar yakin? Jangan jadikan masa lalumu sebagai penghalang kebahagianmu."
"Dia itu Pangeran, Queen. Aku hanya wanita kotor, bagaimana mungkin ia bersedia!"
"Benar tidaknya, kau akan tahu setelah memberitahunya. Aleza jangan terlalu keras pada hatimu. Aku tahu kau trauma akan cinta, tapi sampai kapan? Tanyakan pada hatimu, apa kau benar-benar tidak mencintainya atau sangat mencintainya?"
Aleza diam.
"Apa-apa masih ada kesempatan?" Karina tertawa.
"Ingat pepatah kita, sebelum janur kuning melengkung, masih bisa menikung. Ia hanya akan melamar, masih banyak kesempatan," jawab Karina.
__ADS_1
"Saatnya kau yang berjuang Aleza! Semangat!" Panggilan terputus. Aleza lantas meninggalkan Riad, berjalan gontai menuju kamarnya. Perasaannya sungguh campur aduk. Aleza dilema.