Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 219


__ADS_3

Karina melangkahkan kakinya keluar lift menuju ruangan sang suami. Awalnya ia hanya memeriksa cafe namun terbesit niat untuk melihat sang suami. 


Karina berhenti di depan pintu ruangan Arion dan mengedarkan pandangannya. Saat ia melangkah masuk di lobby tadi, satu persatu karyawan Jaya Company meninggalkan gedung. 


"Aneh," gumam Karina. Mendorong pintu dan masuk ke dalam. Ia mengeryit melihat ruangan Arion kosong, namun terlihat ada pecahan cangkir di lantai. 


Di saat bersamaan, Karina mendengar suara gaduh. Dengan segera ia mencari asal suara tersebut. Ternyata asalnya dari sebuah ruangan di balik pintu yang Karina ketahui adalah kamar pribadi Arion.


"Hahaha, akhirnya aku bisa mendapatmu Tuan Muda." 


Karina tersentak kaget dengan suara seorang pria dengan nada sensual. Disusul suara geramam marah dan tertahan. Karina membulatkan matanya dan segera membuka pintu. Alangkah kagetnya Karina melihat hal yang menakjubkan di atas ranjang. 


Posisi Arion berbaring di atas ranjang dengan kondisi telanjang dada, wajah memerah dan berkeringat dan tatapannya, antara sayu dan marah. Mulutnya disumpal oleh kain. Oh, jangan lupakan juga kedua tangan yang diikat oleh dasi yang dipegang oleh seorang pria yang tak lain adalah Novan. Posisi Novan berada di atas Arion dan satu tangannya memegang rahang Arion. Karina mengambil pena lasernya dari tas dan meletakkannya di balik badan.


"Kau!" pekik Novan kesal kesenangannya diganggu. Karina menunjukkan wajah geramnya melihat sang suami hendak dinodai. Novan berdiri, beringsut dan memakai pakaiannya, dari yang semula memakai boxer. Ia menunduk sesaat saat sadar siapa Karina. Tapi, sudah kepalang tanggung. 


Novan meruntuki kebodohannya yang tidak bisa tahan nafsu, eh salah ia sudah menahannya sejak pertama kali melihat Arion. 


Dan salah satu alasan mengapa hanya dia satu-satu sekretaris pria, selain Ferry adalah Novan yang kemayu itu punya sisi gelap yang membuatnya tega menghabisi nyawa seseorang yang berjenis kelamin pria, jika melawan posisi sekretaris di perusahaan ini.


Arion merasa tubuhnya panas dan berkumpul di satu titik. Ia butuh pelampiasan. Rasanya sangat tidak nyaman. Apalagi dengan kondisi memalukan seperti ini, haih bersiaplah untuk ejekan Karina padanya. Karina, ia butuh Karina, akan tetapi Karina harus berurusan dulu dengan pria ******** itu.


"Apa?" sarkas Karina emosi. Berjalan cepat ke arah Novan. 


"Jangan mendekat! Atau kau dan dia mati!" seru Novan tegas menodongkan senjata ke arah Karina. Senjata itu ternyata ia simpan di dalam lemari.  Karina menyeringai. Gertakan kecil baginya. 


"Kau yang akan mati sialan!" umpat Karina. Menebaskan pedang lasernya secepat kilat ke arah tangan Novan yang memegang senjata berupa pistol. Novan salah langkah, ia mengira Karina akan takut dan menyerah lalu menangis, nyatanya dia ceroboh dan tidak waspada. 


Novan membeku lalu berteriak sakit saat lengan kanannya berpisah dari tubuhnya tanpa berpamitan. Lengan kanannya menghantam putihnya lantai dengan bercak darah berhamburan.


Novan bersimpuh seketika dengan lengan kirinya memegang bahu kanannya. Darah menetes dari bekas luka yang diciptakan Karina.


"Beraninya kau menyentuh suamiku!" geram Karina, menempelkan pedang lasernya di leher Novan. Novan, jantungnya serasa copot seketika. Hanya ketakutan yang terasa. Ia bergidik. Sakit di kanan malah bertambah. 


Sekitar 30 detik kemudian, pintu terbuka dan munculnya dua orang berseragam biru. Mereka memalingkan wajah melihat kondisi Arion. 


"Bawa dia ke markas, dan jangan biarkan dia mati. Besok aku akan menghukumnya," titah Karina.


"Baik Queen," jawab mereka berdua. Dengan cepat bergerak dengan pandangan ke bawah. Novan meronta, namun tidak ada gunanya. Lebih baik jika ia menahan tenaganya untuk menahan rasa sakitnya. Tak lupa, lengan kanannya juga dibawa. 


Karina menatap sedih sang suami, keringatnya membasahi dada. Tapi, rasa jijik juga infeel, apalagi melihat bekas kecupan di dada Arion. Dada Arion terlihat naik turun. Karina segera membuka ikatan tangan dan penyumpal mulut Arion.


Nafas Arion terengah-engah, Karina curiga. Arion langsung memeluknya dan berbisik di telinganya. Karina, bulu kuduknya meremang, jantungnya berdebar kencang.


"Aku merasa panas, aku butuh kamu untuk mendinginkan diri ini," ucap Arion parau.


"Kau dibius?" Yang dijawab langsung dengan mendorong Karina berbaring di ranjang. Karina meringis pelan, dan diberi hadiah ciuman. Karina tidak dapat menahan.


Pergulatan saat senja datang pun tidak terelakkan. Suasana ruangan yang dingin, menjadi panas. Suara erang kenikmatan berkumpul di sana. Permainan Arion, lumayan kasar dari biasanya sebab mengedepankan nafsu birahi. 


"Ar, pelan sedikit, aku sedang mengandung!" pekik Karina. 

__ADS_1


Arion tidak menjawab dan dengan teratur menurunkan kekuatannya.


Dua jam berlalu, Karina yang kelelahan tertidur dan Arion membersihkan apa yang ia keluarkan. Ia menatap kasihan sang istri. Untung saja tidak ada darah yang keluar, jika ada maka gawatlah.


Arion menutup tubuh polos Karina dengan selimut lalu menghubungi seseorang. Memerintahkan untuk mengantarkan pakaian untuk Karina sebab pakaian yang Karina gunakan rusak ia sobek. Heh, gairah sudah berada di ubun-ubun.


Arion lalu segera membersihkan tubuhnya. Langit sudah gelap, bulan menampakkan dirinya malu-malu dan angin berhembus pelan. 


Satu jam kemudian, Karina membuka mata dan merasakan tubuhnya pegal-pegal. Karina mengerjap beberapa kali, saat netralnya bertemu cahaya. Ia mendapati Arion tengah duduk dan menatap dirinya tersenyum dari sofa tunggal di sudut kamar.


"Kau kasar sekali!" ketus Karina, duduk dengan melilit selimut sampai atas dada.


"Maaf," ucap sesal Arion. Beranjak mendekati Karina dan memberikan ciuman di kening.


"Uh, bantu aku ke kamar mandi, putus sudah pinggangku ini," pinta Karina dengan nada sedih. Arion menggulung kemejanya sampai sesiku dan dengan sigap menggendong sang istri dan membawanya ke kamar mandi.


"Jangan bangun lagi." Karina mendelik kesal saat ada pergerakan dari bawah. Arion tertawa dan mengisi air bath up dan menambahkan wewangian.


"Kau begitu menggoda, hingga dia tidak bisa diam," sahut Arion. Karina berdecak sebal. Melihat dadanya yang penuh dengan kecupan. Arion membantu sang istri mandi, sekalian mandi wajibnya. 


Tak lupa membantu Karina memakai pakaian dan menyisir rambut panjangnya yang basah. 


"Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau dibius dan mau main dengan gay itu?" tanya Karina serius, sesaat ia lupa apa yang membuatnya begini. Arion diam sejenak lalu menarik nafas panjang.


"Kau pasti mengira kopi yang pecah di lantai dekat mejaku adalah penyebabnya," terka Arion. Dan Karina mengangguk. Arion menggeleng.


"Kau salah. Aku dibius dengan parfum," jelas Arion. Karina mengeryit dan menatap bingung Arion.


Flashback sesaat.


Arion merasa matanya mengantuk. Mengucek mata dan melihat jam. Waktu menunjukkan pukul 17.05. Padahal pekerjaannya masih banyak di atas meja. Arion segera memanggil Novan untuk membuatkannya kopi. Tentu saja Novan dengan segera bergerak dengan senyuman aneh di wajahnya. Gedung yang sudah berkurang penghuninya, membuatnya berencana menjalankan apa yang selama bekerja disini menjadi kenyataan. 


Kini di tangannya membawa nampan dengan segelas kopi panas di atasnya. Sebelum masuk, ia menyemprotkan parfum ke pakaiannya. Itu adalah parfum perangsang. Cukup gunakan sedikit, maka akan langsung bereaksi. Sayangnya, parfum ini hanya tahan selama beberapa menit saja, maka Novan harus segera bertindak.


Dengan memasang senyum lebar dan jalan dengan kemayu, Novan memberikan kopi pada Arion. Arion sedikit mengeryit dengan aroma wangi yang ia dapati. Menatap curiga Novan yang memasang senyum seringai. Seketika, Arion menjatuhkan cangkir kopi yang sudah ia pegang. Ia menutup hidungnya, namun terlambat. Ia menatap geram Novan. 


"Sialan kau!" Arion mencengkram kerah baju Novan. Matanya memancarkan kemarahan. Hawa panas menerpa dirinya. Gejolak ingin berhubungan membara dengan deru nafas yang memburu. 


"Kau sangat tampan Tuan Muda," ujar Noval dengan nada sensual menyentuh dada Arion. 


Sadar akan kondisinya yang terkena obat, Arion segera menghempaskan Novan dan berniat keluar dari ruangannya. Setidaknya ia bisa menahannya sampai cafe. 


Hap.


Ada yang menangkap tangannya dan memegangnya erat. Arion memberontak, akan tetapi tenaga seakan berkurang perlahan.


"Ini juga ada obat pelemah tenaga Tuan Muda, percuma kau berontak. Biarpun aku kemayu, kau masih berada dalam cengkramanku sekarang," ucap Novan, menarik Arion dalam pelukannya. 


"Cih! Memangnya kenapa? Dasar gay sialan!" umpat Arion, mendorong Novan dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, Novan diam ditempat dan malah menariknya masuk ke kamar.


Sialan ini ternyata kuat juga. Biarpun kemayu tapi sekarang kondisiku lemah, aku harus bagaimana? batin Arion. Wajahnya memerah dengan keringat yang mulai muncul.

__ADS_1


"Wah, kau sangat menggoda Tuan," ucap Novan setelah mendorong Arion ke ranjang. Arion berusaha duduk dan melakukan perlawanan. Sia-sia, dia tidak berdaya kini. Kedua tangannya dipegang oleh Novan. Novan melepas dasinya dan mengikat tangan Arion.


"Jangan berani kau menyentuhku! Hidupmu tidak akan tenang setelah ini!" hardik Arion saat ia kembali dilemparkan ke ranjang.


Novan menyeringai dan melepas pakaiannya menyisahkan celana boxer gambar hello kitty. Ternyata dibalik kekemayuannya, otot perutnya oke juga. 


"Kau berisik Tuan Muda," kesal Novan, mendekati Arion dan menyumpal mulutnya.


Bagaimana ini? Aku tidak berdaya, tenagaku hilang. Gelora malah semakin membara, apa aku akan ternodai oleh ******** ini? racau Arion dalam hati, memejamkan mata saat Novan mengoyak kemejanya dan kini ia telanjang dada.


Aih, rasakan ini. 


"Ah, sialan!" pekik Novan keras saat kaki Arion menendang kuat benda berharganya. Ia berjongkok dan memegang kesayangnya. Sakit, sungguh terlalu. 


Arion tersenyum, dan berusaha berdiri dengan kondisi tangan yang terikat. Baru selangkah ia jalan, ada yang menahannya lagi. 


Novan dengan wajah kesakitan, menahan Arion.


"Jangan harap bisa kabur, Tuan Muda," ujar Novan. 


Sekali lagi, Arion terbaring di ranjang. Novan dengan susah payah menaiki Arion. 


"Jika aku tidak bisa memasukimu, maka kamu yang akan memasukiku, Babe," bisik parau Novan. Arion mau muntah seketika. Tapi, semakin panas. Arion memberikan tatapan tajamnya. Novan semakin berani. Baginya Arion adalah kucing yang hendak ia taklukkan.


Novan memegang rahang Arion dengan kaki menahan kaki Arion agar tidak berontak. Arion mengumpat kesal dalam hati saat bibir Novan menyentuh dadanya. Rasanya nyaman di tubuh, namun sangat menjijikan di dalam hati. Novan semakin buas mencium dada Arion. Ia tersenyum cerah saat Arion memejamkan mata dan mendesah tertahan.


Untungnya penyelamatnya datang, Karina membuka pintu kamar dengan wajah datar dan berangsur menjadi geram.


*


*


*


"Kau bisesksual?" 


Arion tersedak ludahnya sendiri dengan pertanyaan Karina. Ia menggeleng cepat. 


"Aku hanya milikmu, dan aku hanya mau kamu! Sampai nafas dan detak jantungku yang terakhir, hanya kamu lah yang akan ku sentuh. Mengenai tadi, kamu jangan infeel denganku ya?" ucap serius Arion.


Karina menghela nafas dan menarik kerah baju Arion. Arion heran dengan Karina yang membuka kancing kemeja atasnya dan membukanya lebar.


"Baguslah, sudah tidak ada," gumam Karina.


"Kita pulang?" ajak Arion.


"Hm," jawab Karina. Keduanya melangkah keluar kamar, Arion membawa beberapa dokumen untuk dibawa pulang. Setibanya di parkiran, mereka mendapati sopir mereka tengah bermain kartu disinari oleh lampu mobil dan ditemani oleh kopi. Sangking seriusnya, mereka tidak menyadari kehadiran Arion dan Karina. Arion batuk menyuratkan kehadiran mereka.


"Eh, Tuan, Nona," ucap Pak Anton dan sopir Arion kaget.


"Ayo pulang," ujar Arion. Keduanya mengangguk dan segera membereskan permainan kartu mereka. Membukakan pintu untuk sang majikan. Karina masuk mobilnya dan Arion masuk ke mobilnya. Pukul 21.00 lewat sedikit, kedua mobil itu meninggalkan gedung pusat Jaya Company.

__ADS_1


__ADS_2