
Tiba-tiba saja tubuh pria tua itu jatuh luruh ke lantai dan tampak tak sadarkan diri.
"Obat bius pada robot," gumam Nita datar.
Memang benar, Karina menambahkan obat bius pada mulut nyamuk yang berbentuk seperti jarum itu. Robot itu tadi hinggap di leher pria itu dan menyuntikkan obat bius. Tak mau ambil pusing sebab sudah dapat menerka apa yang terjadi, Arion segera menyelamatkan Nita. Mencari kunci gembok yang merantai Nita pada pakaian pria itu. Setelah dapat, Arion segera membuka gembok dan melepaskan rantai yang memenjara Nita.
Nita menundukkan wajahnya, rambutnya ia biarkan berantakan menutupi sebagian wajahnya. Menunduk agar Arion tak melihat luka pada bibirnya.
Tapi hal itu tak mungkin. Arion mengeram kesal melihat ruam-ruam kemerahan hampir mendekati warna biru di sekujur lengan Nita. Arion menggelengkan kepalanya melihat kondisi Nita. Semoga saja perkiraannya itu salah, jika tidak, Arion tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi.
"Ikat pria itu dengan rantai ini!" titah Arion pada kedelapan orang itu. Dua orang maju dan menjalankan perintah. Bagi mereka, tentu saja Arion adalah pimpinan kedua di Pedang Biru setelah Karina.
Beberapa saat kemudian, terdengar deru mesin mobil di luar. Arion memalingkan wajahnya ke arah pintu, Karina, Amri dan kakek Bram melangkahkan kaki mereka masuk. Wajah kakek Bram terlihat senang.
Dengan berlari ia mendekati istrinya. Berlutut di hadapan Nita yang masih menunduk dan memeluknya. Menumpahkan rasa senang dan sedihnya bersamaan. Setelah puas, kakek Bram melepas pelukannya.
"Nita," panggil kakek Bram, merapikan rambut Nita yang menutupi wajah.
Nita diam tak bergeming. Tatapannya tetap ke bawah. Tak ada keberanian menatap kakek Bram dan lainnya walaupun ia sudah bebas.
Kakek Bram was-was, takut yang tidak diinginkan terjadi pada Nita. Ia mengusap bibir Nita yang terluka. Wajahnya mengeras namun berusaha ia lembutkan agar Nita tak semakin takut ataupun trauma.
"Hei lihat Mas, sudah tak apa, kamu sudah selamat," ujar kakek Bram lembut. Nita menggeleng pelan.
Aku selamat, tetapi harga diriku tidak! batin Nita, ingin berteriak mengatakannya namun tertahan, tak ada nyali untuk itu.
"Nita?" panggil kakek Bram lagi, kali ini mengguncang bahu Nita pelan. Tetap saja Nita diam membisu. Hanya lirikan mata nanar yang ia berikan.
Amri memandang Karina dan Arion bergantian. Arion menggeleng sedangkan Karina menunjukkan raut wajah emosinya.
Melihat Karina yang emosi, Arion langsung menyuruh dua orang anggota untuk membawa Nita ke rumah sakit terdekat agar mendapat perawatan.
Kediaman Nita, membuat kakek Bram bingung, apalagi tak ada sepatah katapun yang terucap. Dengan hati tak tenang, kakek Bram memilih membiarkan Nita pergi bersama dua orang Karina. Dengan dipapah dua orang itu, langkah Nita masih saja gontai.
"Ayah kau mengenalnya?" tanya Amri menyadarkan kakek Bram yang melamun melihat kepergian Nita. Kakek Bram terkesiap dan menatap Amri. Ia kemudian mengalihkan tatapannya ke arah pria itu yang masih tak sadarkan dirinya.
Karina berada di depan pria itu dengan memegang sebuah pisau lipat, bergagang biru dan bilah pisaunya menyilaukan mata diterpa cahaya yang menerobos masuk ke ruangan ini.
Arion tak berani melarang Karina, Arion tahu jika emosi Karina tak terlampiaskan, akan berdampak buruk bagi diri Karina sendiri serta dua janin dalam rahimnya.
Kakek Bram dengan langkah cepat menghampiri Karina dan pria itu. Ia berhenti di samping Karina.
"Aku tak mengenalnya," ucap kakek Bram menatap Amri.
__ADS_1
"Lantas mengapa dia mengganggu kakek? Ck, lama sekali dia pingsan," tanya Arion penasaran.
"Dia akan bangun setelah pisau ini menancap di tangannya!" desis Karina geram, segera mengangkat tangannya dan menancapkan pisau itu di telapak tangan pria itu, Amri dan kakek Bram tak sempat mencegahnya. Kini pisau itu menancap di tangan pria itu, Karina melepaskan genggamannya dari gagang pisau.
Karina tersenyum miring, melihat tubuh pria itu yang mulai bereaksi. Kelopak matanya bergerak tak beraturan dan terbuka lebar seketika. Ia meringis merasakan sakit dan perih dan ngilu pada telapak tangan kanannya.
"Siapa? Siapa yang berani melukaiku?" bentak pria itu marah, berusaha melepaskan tangannya dari pisau itu.
"Aku!" jawab Karina yang kini duduk di kursi tempat pria itu duduk sebelumnya.
"Dasar sialan!" geram pria itu.
Plak!
Bruk!
Brakk!
Tamparan dan tendangan kakek Bram hadiahkan pada pria itu. Membuat kursi dan dirinya membentur dinding gudang dengan keras.
"Kau yang sialan!" geram kakek Bram. Tiga pria itu menatap pria itu dengan tatapan tajam, seakan mencabik dan menguliti pria itu hidup-hidup.
Pria itu membeku sejenak, tak lama ia tertawa keras. Rasa sakit di tangan dan di tubuhnya seakan hilang dan lenyap. Karina menatap datar hal itu. Ia lebih memilih diam dan menetralkan emosinya yang telah tersalurkan.
Kakek Bram membunuh anaknya sendiri? Bukankah anak kakek Bram cuma Amri seorang? Atau kakek Bram punya anak dengan wanita lain. Kalau Alia, kan semua tahu, lagian Alia masih hidupm Siapa yang dimaksud oleh pria itu? Amri dan Arion menatap kakek Bram meminta penjelasan.
"Aku? Membunuh anakku sendiri? Jangan mengada-ada! Aku hanya punya dua anak! Amri dan Alia, kau pasti orang kehilangan akal!" tegas kakek Bram.
"Ya, aku memang gila, gila karena kehilangan kakak dan keponakan hingga membuat diriku bertahun-tahun berada di rumah sakit jiwa, tapi aku bukan orang yang suka mengada-ada, aku serius dan kau adalah pembunuh mereka!"balas pria itu, tak kalah tegas.
"Ayah? Kau menghianati Ibu sebelum ibu meninggal?" tanya Amri, berusaha tetap tenang walaupun hati membara.
Kakek Bram diam membisu dan mengingat masa lalunya. Dia memilih duduk di lantai dan mengingat. Arion membiarkan ketiga orang itu dan memilih menghampiri Karina, menarik kursi dan duduk di samping Karina. Sedangkan Amri menyandarkan tubuhnya pada dinding gedung dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Yang? Apa pikiran kita sama tentang apa yang terjadi pada Nita?" tanya Arion, berbisik.
"Ku rasa, kau menerka apa yang terjadi?" tanya Karna balik.
"Kehilangan kehormatan!" jawab Arion, mendesis kesal dan geram.
"Ya, itu yang hilang, aku berharap Nita sanggup dan berpikir jauh, sebab pada prinsip wanita Pedang Biru, kehilangan kehormatan jika bukan pada mahram, tiada adalah jalan mereka tenang," ucap Karina.
"Aku harap juga begitu," ucap Arion menatap Amri dan kakek Bram. Kakek Bram masih saja duduk dan memegang kepalanya berusaha mengingat. Sayangnya sekeras apapun ia mengingat sekarang, tak pernah ia merasa melakukan apa yang dituduhkan pria itu padanya.
__ADS_1
"Aku tegaskan sekali lagi, aku tak tahu siapa dirimu, dan aku tak pernah membunuh kakakmu dan lebih tak mungkin lagi membunuh anakku sendiri!" tegas kakek Bram berdiri. Ia melihat Karina dan Arion dan mengisyaratkan agar mereka mendekat. Karina dan Arion menurut.
Amri menatap tajam pria itu. Dengan cepat beberapa pukulan ia hadiahkan untuk pria itu.
"Pukulan ini tak cukup untuk fitnah dan omong kosongmu!" hardik Amri menunjuk pria itu. Pria itu tertunduk, hanya sebentar. Ia meresapi rasa pukulan Amri padanya. Jika boleh jujur, ia tak merasakan sakit apapun, hanya sebuah kibasan angin yang ia rasakan.
"Sudahlah, salah kita juga mengintrogasinya. Sudah jelas ia mengaku gila, malah kita tanyain, ya jawabannya ngawur," ujar Karina.
"Benar juga, kita yang gila dan bodoh percaya dengan orang ini," timpal Amri.
"Kita ke rumah sakit saja, menyusul menantu, Alia dan Nita," ujar kakek Bram yang diangguki ketiga orang lainnya.
"Kalian bawa orang ini ke markas dan beri hukuman atas kejahatannya ini!" titah Arion. Sisa anggota Karina yang masih berada bersama mereka mengangguk dan segera melakukan perintah Arion.
Karina, Arion, kakek Bram dan Amri kemudian melangkahkan kaki mereka keluar. Baru saja beberapa langkah, langkah mereka terhenti mendengar suara tawa yang keras. Mereka berbalik dan menatap rumit pria itu yang kini berdiri dan dipegang oleh dua orang.
Rantai di tubuhnya sudah dilepas, hanya tangannya dan kakinya saja yang diikat oleh tali.
"Kenapa kau tertawa hah? Senang karena kau akan segera menjemput ajal?" ketus Karina.
"Hahaha? Bukan aku yang akan menjemput ajal Nona, tapi pria tua itu yang akan mati di tanganku!" sahut pria itu. Satu anggota Karina maju dan hendak menutup mulut pria itu agar diam. Namun, terhenti karena kode tangan Karina.
"Bisa jelaskan maksudmu apa?" tanya kakek Bram, ingin memperjelas masalahnya.
"Andini Rahmawati! Kau ingat nama itu?" tanya pria itu, mengangkat pandangannya dan menatap tajam kakek Bram yang berada beberapa meter darinya.
"Andini Rahmawati?" beo kakek Bram. Ada rasa yang aneh pada tubuh dan hatinya. Anehnya ia tak pernah ingat ataupun merasa berurusan dengan nama wanita itu. Ia hanya pernah menikah dua kali, yaitu pada istri pertamanya dan Nita. Atau mungkin kakek Bram pernah lupa ingatan dan sampai setua ini ia masih amnesia?
"Andini Rahmawati? Ayah kau mengenalnya?" tanya Amri serius. Karina dan Arion menatap pria itu. Karina fokus menganalisis ekspresi pria itu.
"Tidak! Aku tak pernah ingat itu!" tegas kakek Bram.
"Andini Rahmawati. Panti asuhan Sakura, 52 tahun lalu, kau menikahinya, namun keluargamu menolaknya. Kau marah dan keluar dari rumah itu. Kalian menikah tanpa restu! Sekitar dua bulan berikutnya kau mengalami kecelakaan mobil yang parah, kau dilarikan ke rumah sakit. Keluargamu tahu akan hal itu, segera membawamu pergi dari rumah sakit itu. Melarang kakakku untuk bertemu denganmu lagi. Kakakku menangis, meminta restu dan izin agar tak dipisahkan dari dirimu, namun keluargamu tak menggubris. Waktu itu kakakku telah hamil dan akhirnya ia sendirian dalam masa itu! Aku sangat mengingat kejadian itu!" ujar pria itu, dengan nada campuran. Marah, emosi, sedih bercampur aduk.
Jantung kakek Bram berdebar kencang. Ia mengerutkan keningnya, berpikir keras. Mira Rahmawati? Panti asuhan Sakura? Hilang ingatan? Menikah? Berarti ia sudah menikah dengan Maira sebelum menikah dengan ibunya Amri?
Butuh waktu lama untuknya, apalagi mengingat kejadian puluhan tahun lalu, 50 tahun bukan waktu yang singkat. Ditambah kakek Bram yang dikatakan hilang ingatan oleh pria itu.
Waktu terus berjalan, Karina menguap bosan menunggu hasil ingatan kakek Bram. Ia sendiri kini kembali duduk.
"Hei kau!" Karina menunjuk pria itu.
Pria itu menoleh ke arah Karina. Karina tersenyum tipis.
__ADS_1