
"Sayang tarianmu tadi begitu indah," bisik Arion, memeluk Karina dari belakang, memberi gigitan kecil pada telinga Karina.
"Indah?" sahut Karina, memejamkan mata menahan rasa sakit juga geli.
"Hm. Sayang aku rindu … aku ingin dirimu," ujar Arion serak, mengeratkan pelukannya serta meniup daun telinga Karina.
Karina diam. Jelas sudah apa maksud Arion.
"Apakah sudah waktunya menabur benih lagi?"tanya Karina, secepat kilat memutar posisinya dan kini berhadapan dengan Arion. Karina mengalungkan kedua tangannya pada leher Arion.
"Usia mereka sudah delapan bulan lebih, aku rasa jarak satu tahun setengah itu bagus," jawab Arion, meletakkan kedua tangan pada pundak Karina. Tersenyum lebar menatap manik mata Karina.
"Jika memang begitu … aku tak bisa menolaknya. Kita masih harus membuat lima anak lagi," kekeh Karina.
"Melahirkan selanjutnya, aku rasa lebih baik memakai cara caesar," ujar Arion, merinding mengingat saat Karina melahirkan Bintang dan Biru.
"Kenapa? Kau takut aku mengalami rasa sakit itu lagi?"
Arion mengangguk dengan wajah sendu. Karina tertawa renyah.
"Suamiku Sayang, selama aku mampu, aku akan melahirkan secara normal. Tak peduli seberapa besar rasa sakit itu … ada kehormatan tersendiri. So stop khawatir."
Karina meletakkan telunjuknya di bibir Arion, mencegah suaminya itu membantah lagi.
Arion menyingkirkan telunjuk Karina, membawa telapak tangan Karina menyentuh pipinya.
"Aku akan selalu mendukungmu," ucap Arion.
Karina tersenyum lebar.
"Baiklah. Ar bagaimana jika kita bermain dulu sebelum berhubungan? Aku merasa terlalu membosankan jika langsung buka baju, cium sana sini, lalu masuk dan keluar."
Arion mengerjapkan mata cepat dengan pipi memerah. Ucapan Karina ini terlalu terbuka.
"Permainan apa itu?" Arion memperbaiki ekspresinya, menatap Karina penasaran.
Karina melepaskan kalungan tangannya pada leher Arion, mundur beberapa langkah, kemudian duduk di bingkai jendela kamar. Satu kaki berada di bingkai dan satu lagi menggantung di udara. Rambut yang terurai berkibar terkena hembusan angin. Tatapan mata menggoda ditambah dengan telunjuk yang berada di bibir, membuat gelora Arion langsung naik hingga puncak.
"Lepaskan pakaianmu, Ar."
Nada bicara yang serak menggoda, ditambah kerlingan mata Karina.
"What? Permainan macam apa ini?"
Arion malah bertingkah malu-malu, memeluk tubuhnya sendiri dengan wajah memerah bahkan telinga juga ikut.
"Tidak bernama," jawab Karina.
"Jadi sekarang cepat lepaskan pakaianmu, my Hubby!"
Karina tersenyum, senyum mengintimidasi Arion.
Mengapa aku merasa keadaan ini terbalik?
"Sayangku ini penindasan. Seharusnya aku lah yang membuka bajumu," protes Arion.
"Oh benarkah? Kau tak mau? Baiklah."
Karina turun, melangkah dengan senyum aneh mendekati Arion. Arion mundur, terpojok saat membentur ranjang. Karina tak berhenti, tetap maju mendesak Arion. Alhasil, Arion jatuh terbaring di atas ranjang.
Karina meletakkan satu lututnya di antara paha Arion, membungkuk menaikkan dagu Arion dengan telunjuknya.
Mata Arion terpaku pada mata Karina. Perasaan yang familiar langsung Arion tangkap. Karina berniat mengambil alih dan mengendalikan permainan.
"Jika kau tak mau membukanya, maka aku yang akan membukanya!"
Krakkk!
Dalam satu tarikan, pakaian atas Arion koyak dan kini bertelanjang dada.
"Sayang?!"pekik Arion langsung dibungkam dengan ciuman Karina.
Karina melepas ciumannya sebelum Arion merasa cukup. Arion mendesah pelan, menatap harap Karina yang kini tersenyum smirk.
Karina beranjak, berdiri dan melangkah menuju lemari. Arion duduk, menatap punggung Karina dengan tanda tanya.
Menaikkan alis melihat Karina yang mendekatinya dengan tiga buah kain berbeda warna.
Dalam sekali dorongan, Arion kembali terbaring. Karina merangkak naik dan kini duduk di dada Arion, membawa kedua tangan Arion ke atas kepala Arion.
Arion memejamkan mata, antara nikmat juga tersiksa. Membuka mata ketika merasa kedua tangannya diikat.
"Permainan dimulai, Ar," ucap Karina serak.
"Permainan apa ini? Apa kau akan mencambukku?"
"Nikmati saja," jawab Karina.
Karina kembali beranjak turun, menyentuh bagian bawah Arion kemudian naik membelai dada. Arion mengerang nikmat.
"Karina ini permainan apa hukuman? Jangan membuatku tersiksa," ucap Arion disertai dengan desahan.
"Sudah ku katakan. Nikmati saja."
Dalam tiga kali tarikan, Arion kini hanya mengenakan pakaian dalam. Mata Karina menyipit melihat sesuatu yang menyembul di antara pangkal paha Arion.
__ADS_1
"Sayang, ternyata kau sangat mudah dirangsang ya," kekeh Karina, meraih salah satu kain.
"Karina kau menyiksaku."
"Cup-cup. Ini bukan siksaan melainkan pemanasan," ralat Karina, mengikat kaki Arion.
Matilah aku, batin Arion merinding.
"Bagaimana jika membuat pemanasan ini lebih menarik?"
Karina tersenyum menggoda. Arion menelan ludah kasar. Apa lagi yang akan Karina lakukan?
Karina melangkah menjauh, menuju lemari. Arion berusaha duduk, menatap kaki dan tangannya yang terikat kuat. Mata Arion membulat saat melihat Karina memegang lingerie berwarna merah.
"Sayang kau mau menggunakan baju itu?"
Arion terkejut saat Karina mengangguk.
Astaga! Setan mana yang merasuki Karina? Darimana asalnya dia mau menggunakan pakaian itu? pikir Arion, semakin gelisah menunggu Karina keluar dari kamar mandi.
Mata Arion terpaku pada Karina saat Karina keluar dengan pakaian yang nyaris transparan, berjalan dengan berlenggak - lenggok memancing Arion.
Sial! runtuk Arion.
Ini jelas-jelas sebuah penyiksaan! Bagaimana bisa Karina melakukan hal ini?
"Ar kau mengatakan tarianku tadi bagus. Lalu bagaimana dengan tarian kali ini?"
"Sayang jangan katakan kau mau menari erotis!"
"Sayangnya itu benar!"sahut Karina, mulai menggerakkan tubuhnya, meliuk ke kanan dan kini.
Arion menggeleng keras melihat tarian serta wajah menggoda Karina. Karina menari tepat di hadapannya. Gejolak birahi sudah berada di puncak namun tak bisa Arion salurkan.
Arion berontak, berusaha melepaskan ikatan pada tangannya. Sayangnya semakin berontak ikatan itu terasa semakin erat.
Simpul apa ini?pikir Arion.
Memilih memejamkan mata dan kembali menjatuhkan diri ke ranjang. Sayangnya Karina tidak membiarkan Arion menenangkan diri.
Karina naik ke ranjang, membelai lembut pipi Arion, meraba turun menjelajahi lekuk tubuh Arion.
"Sayang jangan seperti wanita …."
Belum selesai sudah Karina hentikan dengan ciuman.
"Malam ini … aku yang memimpin," bisik Karina.
Lidah menjelajahi rongga mulut Arion sedangkan tangan bergerak bebas menyusuri lekuk tubuh Arion. Arion mengerang tertahan saat tangan Karina masuk ke dalam celananya. Yang tegang semakin tegang. Keringat membanjiri Arion. Nafas memburu saat Karina melepaskan ciumannya.
"Aku menggoda suamiku sendiri, ada yang salah?"
Arion menggeleng.
"Aku menyerah. Lakukan sesukamu Sayang. Aku milikmu," ucap pasrah Arion. Karina menyeringai.
"Kau memang milikku!"
Dalam sekali tarikan, Arion sudah telanjang total tanpa busana apapun.
"Mengapa aku merasa si kecil ini agak lebih besar ya?"
"Agak? Sayang itu memang besar. Kau sendiri yang tidak memperhatikannya. Atau kau sudah melupakannya?"
"Ah aku agak lupa. Tapi sekarang aku ingat. Sepertinya obat itu berfungsi dengan baik," tawa Karina.
"Obat? Maksudmu?"
"Kau milikku. Aku bebas melakukan apa saja padamu. Sekarang saatnya kita penasaran, yang lebih serius."
"Tapi nggak ada efek sampingnya kan?"
"Aku meraciknya sendiri."
"Aku percaya. Sekarang lakukan apa yang ingin kau lakukan."
"Alright!"
*
*
*
Waktu menunjukkan pukul 07.00 waktu Maldives. Semua orang berkumpul di ruang makan untuk sarapan, ah ada yang kurang. Karina dan Arion belum muncul. Li, Gerry, Elina, dan Mira saling lirik dengan telinga yang memerah samar.
"Tak biasanya mereka belum turun," heran Amri, sarapan sudah tersaji tapi belum ada yang menyentuhnya. Tuan rumah belum hadir mereka juga tak berani mendahului.
"Mungkin ngurusin baby triplet mereka dulu," ujar Enji yang tak ambil pusing.
"Tapi cucu triplet Mama lagi main di taman sama pelayan. Mereka belum keluar kamar," bantah Maria langsung.
"Mungkin saja mereka kelelahan," ujar Enji lagi.
"Tak perlu heran. Liburan ini juga bulan madu. Terlebih kebanyakan dari kita sudah berpasangan. Suasana di sini cocok untuk itu," ucap Li.
__ADS_1
"Li kau merona?" Mata tajam Darwis menangkap semburat merah tipis Li.
"Tidak. Aku kepanasan," elak Li.
"Perasaan cuaca dingin deh. AC juga nyala. Panasnya dari lingkungan atau dari dalam dirimu?"selidik Darwis.
"Aihs! Kau ini!"gerutu Li pelan.
"Hahahaha … kau lucu sekali Li," tawa Darwis, disusul dengan tawa Satya dan Rian.
"Menyebalkan!"ketus Li.
"Mengapa ramai sekali?"
Sontak semua tatapan di ruang makan tertuju pada sumber suara. Karina dan Arion melangkah berdampingan mendekati mereka dengan senyum mengembang, ah hanya Karina berbeda dengan Arion yang senyumnya sedikit kaku. Mata Amri dan Maria menyipit melihat gaya berpakaian Arion. Udara di sini memang sejuk tapi apakah harus memakai syal?
"Ar kamu demam?"
Li dan Elina saling lirik, begitu juga dengan Gerry dan Mira.
Mungkin saja, arti lirikan mereka.
"Demam? Beneran Ar?" Maria menatap cemas Arion menggeleng pelan.
"Cuma panas doang Ma. Bentar lagi juga sembuh," sahut Arion, mengambil tempat duduk setelah menarikkan kursi untuk Karina.
"Gimana ceritanya bisa demam? Apa kemarin kelelahan main bola?"
Sam menatap Arion heran. Arion berdehem.
"Sakit kan kan bisa ditebak kapan datangnya. Lagian cuma demam kecil. Sudah tak perlu cemas, ayo sarapan," ujar Arion meyakinkan. Yang lain percaya tapi tidak dengan Li, Elina, Mira, dan Gerry. Mereka mencuri pandang kepada Karina dan Arion. Sialnya gerak-gerik mereka tertangkap oleh mata Darwis.
"Kalian berempat ngapain lirik-lirik Karina sama Arion?"
Sontak keempat orang itu salah tingkah dan segera mengelak.
"Nggak. Nggak ada apa-apa kok. Cuma heran saja sama Karina. Suaminya sakit kok malah senyum-senyum," kilah Li, melirik Karina meminta dukungan.
"Sudah minum obat apalagi yang perlu dikhawatirkan? Kalau lebih parah bukankah aku seorang dokter? Dan aku rasa kalian dari tadi memang melirik kami dengan senyum aneh seperti orang dungu."
Berdecak pelan. Keempat orang itu memutar bola mata malas. Cari perkara berdebat dengan Karina.
"Baiklah. Kami salah. Aku sudah lapar bolehkah kita sarapan sekarang?"
Li tersenyum lebar pada Karina.
"Baiklah. Kau pimpin doanya," putus Karina.
Arion menghela nafas lega. Alasan utama ia menggunakan syal tentu saja menutup jejak kepemilikan di bagian lehernya. Tadi malam Karina benar-benar memimpin dan lebih sangat bergairah daripada yang lalu-lalu. Bahkan rengekannya untuk berhenti tidak ditanggapi. Alhasil Arion hanya bisa pasrah dan malah ketiduran. Saat bangun mendapati leher, dada, dan perutnya penuh dengan bekas-bekas gigitan dan ruam-ruam berwarna merah yang mulai membiru.
Selesai sarapan, Karina membebaskan Li dan lainnya untuk mencari aktivitas sendiri-sendiri. Kecuali Li, Elina, Mira, dan Gerry yang lain segera bubar.
"Karina lain kali kalau gabung seperti ini bisakah kalian gunakan peredam suara?"ujar Elina pelan.
"Peredam suara? Maksudmu?"
"Itu … suara desahan kalian tadi malam sangat mengganggu kami," ujar Mira mewakili.
"Maksudnya …?!"
Arion membulatkan mata, memalingkan wajahnya. Rasa panas menjalar di pipinya, sedangkan Karina menanggapi santai, menggoyangkan gelas jusnya.
"Mengapa rupanya? Jika kalian terganggu bukanlah kalian bisa melakukan hal yang sama?"
"Bukan begitu. Tapi itu kan terlalu tidak sopan. Untung kami jika yang lain?"jelas Li.
"Memangnya kenapa jika yang lain? Dan siapa yang berani masuk ke wilayahku tanpa izin? Lagipula Sam pernah melihat kalian berdua, tak buka mulut tuh dia."
"Wow. Benarkah Li?" Mata Gerry menilik penasaran.
"Dia juga pernah melihatmu tidur maskeran malah mengimbau tentang Mira lagi. Ku rasa dia punya foto aibmu."
Gerry tertegun. Melirik Mira yang menatapnya tak percaya.
"Dari … dari mana kau tahu?"seru Li, Elina, dan Gerry.
"Kalian berada di wilayahku tentu saja aku tahu apa yang terjadi di dalamnya. Jadi lebih baik kalian tutup mulut jika tidak…."
"Kami mengerti!"jawab mereka serentak, lekas meninggalkan ruang makan. Karina terkekeh pelan.
"Ayolah Ar. Itu cuma tanda kecil mengapa malu seperti itu?"
"Jika kamu memangnya tak malu?"
"Semua pasangan punya cara untuk mendapatkan kepuasan. Jika agresif adalah kepuasan mengapa harus malu? Terlebih sudah halal. Bukti sementara di tubuh malu bukti permanen malah bangga. Huh dasar!"
Arion memilih tidak menjawab. Arion lebih memilih membuka kamera dan melihat apakah bekasnya sudah memudar atau belum.
"Eh sudah hilang?"
"Tentu saja. Itu akan hilang dalam waktu satu jam. Aku bertindak juga memikirkan akibatnya. Lebih baik kita menemui anak-anak kita."
"Hm."
__ADS_1