
Karina tersenyum sini mendengarnya.
"Bagaimana bisa aku diam tak ikut campur? Sedangkan gara-gara ulah kalian, nama baikku tercoreng di negara ini," gumam Karina masuk ke dalam ruangan dan menghampiri wanita tua yang ia tolong tadi.
Karina berdiri di samping brankar dengan melipat tangannya menunggu wanita tua itu siuman.
Satu menit, lima menit, hingga sepuluh menit ia tak kunjung sadar. Karina mendengus kesal.
"Cepatlah bangun," ujar Karina datar.
Ceklek. Suara pintu terbuka. Masukkan seorang perawat dengan wajah yang tak bersahabat.
"Nona, silahkan bayar biaya pengobatannya," ucapnya ketus.
Karina menaikan alisnya sebelah.
"Aku belum punya uang," jawab Karina.
"Jika tak punya uang mengapa ke rumah sakit?" kesalnya mendekati Karina dan melepaskan jarum impus wanita itu.
"Stop," seru Karina. Suster itu mengabaikannya.
"Ck … bukankah rumah sakit ini akan memberi keringanan pada rakyat miskin?" tanya Karina kesal menahan tangan suster itu.
"Itu dulu. Sekarang berbeda. Jika tak mau dilepas silahkan bayar," jawabnya datar.
"Baik! Akan ku bayar," ucap Karina. Senyum suster itu mengembang. Ia segera meninggalkan ruang rawat. Karina mengalihkan perhatian kembali pada wanita itu. Sekilas, ia melihat jari wanita itu bergerak. Perlahan matanya mulai terbuka.
"Ini di mana?" tanyanya lirik.
"Rumah sakit. Anda tadi pingsan karena dehidrasi," jawab Karina. Wanita tua itu menoleh ke arah Karina. Wajah datar dan acuh tak acuh yang ia lihat.
"Terima kasih," ujarnya pelan.
"Bukan masalah. Tapi tolong jawab pertanyaan saya,"ucap Karina. Wanita itu menatap rumit Karina. Tak lama matanya memerah seakan mau menangis dan marah.
"Mereka membunuh putri semata wayangku," aduhnya terisak. Karina mengeryit heran, belum ditanya tetapi sudah dijawab.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Karina heran.
__ADS_1
"Putriku menderita kanker hati stadium dua. Tiga hari yang lalu ia meninggal dunia," jelasnya berusaha duduk. Karina membantunya.
"Aku rasa itu bukan hal aneh. Bukankah itu merupakan penyakit serius?" ucap Karina.
"Bukan itu masalahnya. Putriku meninggal sebab kehilangan jantungnya. Putriku dibunuh di ruang operasi. Dan mereka mengatakan bahwa itu karena kegagalan operasi. Aku sudah mengadu ke manapun tapi mereka menyebarkan rumor jika aku menderita penyakit jiwa," lanjut wanita itu. Tangisannya semakin terdengar pilu.
"Aku tak punya siapapun lagi," liriknya.
Karina diam sejenak mencari kebenaran.
"Aku percaya padamu. Aku akan membantumu mendapatkan keadilan," ujar Karina menepuk pundak wanita itu pelan.
"Aku Karina. Siapa nama Anda?" tanya Karina.
"Ana," jawabnya.
"Baiklah aku akan memanggilmu Bibi. Apakah Anda sudah merasa lebih baik? Jika sudah saya akan mengantar Anda ke rumah Anda," tanya Karina ramah.
"Aku tak punya rumah. Bahkan membayar pengobatanku ini aku tak bisa," sahut Bik Ana.
"Jika begitu Anda ikut ke rumah saya saja. Dan biaya pengobatan itu masalah kecil," ajak Karina.
Setelah impus terlepas, Karina segera membantu Bik Ana turun dari brankar dan keluar dari ruang rawat menuju meja administrasi. Karina membayar biaya perawatan dengan kartu hitamnya.
***
Kini mereka sudah berada di atas motor menuju kediaman Karina. Bik Ana berpegangan erat pada Karina. Entah apa yang membuatnya percaya dengan Karina. Hatinya saat goyah ketika mengetahui kendaraan Karina.
Dua puluh menit kemudian mereka tiba di mansion. Gerbang tinggi segera membuka. Karina segera memarkirkan motornya. Bik Ana terperangah melihat mansion mewah ini. Ia menatap rumit Karina, kini rasa takut yang menghampirinya.
"Non …," ucap pak Anto. Karina memberikan kunci motor dan mengajak Bik Ana masuk. Dengan langkah was-was Bik Ana mengikuti Karina.
"Selamat datang Bik. Kita tadi sangat cepat berkenalan. Saya Karina pemilik rumah sakit Tirta Hospital," ujar Karina segera sampai di ruang tamu. Ketakutan Bik Ana semakin menjadi.
"Apa mau Anda?" tanya Bik Ana gemetar.
"Tenanglah Bik. Saya bukan orang jahat. Saya juga sedang menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Maafkan atas kelalaian saya yang tak bisa mengawasi dan mengontrol bawahan saya. Tapi saya tekankan saya tidak terlibat. Saya berjanji akan mengupas tuntas masalah ini," terang Karina.
Perlahan Bik Ana melunak. Ia mengangguk kepalanya percaya. Karina tersenyum lebar. Ia segera memerintahkan Bik Uci menunjukkan kamar untuk bik Ana beristirahat.
__ADS_1
Bik Ana mengikut pada Bik Uci sedangkan Karina pergi menuju ruang belajar yang berada di dalam perpustakaan. Karina menatap datar pintu lebar perpustakaan. Perlahan ia membukanya dan melangkahkan kakinya masuk.
Ratusan ribu buku langsung menyambutnya. Setiap buku digolongkan pada jenisnya, di dalamnya ada buku mengenai politik, hukum, bisnis, diplomasi, novel, agama, dan lain sebagainya. Untuk novel diletakkan berdasarkan nama penulisnya. Karina segera menuju meja belajar yang telah lama ia tinggalkan.
Ruangan ini bersih ada sedikitpun debu yang menempel. Karina segera memainkan komputer di hadapannya mencari siapa saja dokter yang bekerja di rumah sakitnya di negara B.
Setelah dapat, tak mau ambil pusing Karina memprint semuanya. Karina menatap satu persatu wajah dokter yang sudah ia print.
"Haih lebih baik nanti malam saja tanyakan," gumam Karina. Matanya menyapu rak-rak buku di sekelilingnya. Matanya terhenti pada rak novel dengan nama penulis Tere Liye.
Karina segera berdiri dan menghampirinya.
"Bulan, Matahari, Hujan?" gumam Karina. Tangannya terarah mengambil novel berjudul Hujan dan segera kembali duduk. Karina mulai membaca satu demi satu halaman. Karina tenggelam dalam membaca novel dengan tokoh utama Lail dan Esok itu. Hingga pada saat-saat lembar terakhir mata Karina berbinar.
"Mobil terbang? Tanpa supir dan bisa berbicara?" seru Karina takjub.
Mata Karina semakin berbinar dengan berbagai teknologi yang sangat maju dalam novel hujan.
"Hmm … aku dapat ide. Aku akan membuat mobil terbang seperti ini. Soke Bahtera kau sangat cerdas dan menginspirasiku. Akan ku buat apa yang kau buat," ucap Karina mantap menutup novel. Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga jam saja ia membacanya hingga akhir.
Waktu menunjukkan pukul 18.30, Karina segera keluar dan menuju kamarnya, tak lupa hasil print nya ia bawa. Sesampainya di kamar Karina langsung menyegarkan tubuhnya.
Pukul 19.30, Karina menaiki lift menuju lantai bawah. Sesampainya di lantai dasar, Karina menatap heran Bik Ana yang ikut membantu menyiapkan makan malam.
"Non …," sapa Bik Ana.
karina mengganggu dan menuju meja makan.
"Kemarilah Bik, di antara dokter ini siapa yang menangani operasi putrimu?" tanya Karina menyerahkan beberapa kertas. Bik Ana menerimanya dan menunjukkan dua dokter yang dimaksud.
"Dokter Rizal dan Dokter Andi," gumam Karina.
Selesai itu, Bik Ana kembali membantu Bik Uci, sedangkan Karina menghubungi Aleza untuk datang ke kediamannya. Tak butuh waktu lama, Aleza datang dengan wajah datarnya.
"Saya Queen," ucap Aleza.
"Bawa orang ini kemari. Malam ini juga sekaligus semua data yang berhubungan dengannya. Aku malas mencarinya," perintah Karina menyodorkan foto Andi.
Aleza meringis pelan dalam hati, ia segera menerima dan permisi menjalankan tugas. Karina menonaktifkan handphonenya agar tak ada yang mengganggu malam ini.
__ADS_1
***