Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 351


__ADS_3

Di kamarnya, Enji tidak bisa tidur. Padahal ia masih harus istirahat total untuk pemulihan pasca koma.


Enji menatap teh hijau yang asapnya masih mengepul. Menghela nafas. Karina melarangnya minum alkohol. Dengan enggan, Enji meraih cangkir teh, meminum isinya seraya menatap keluar jendela kamar. Angin dingin menerpa wajah Enji. Bulan tertutup awan, malam kelabu seperti hati Enji. Enji tersenyum tipis.


Enak juga, batin Enji, meletakkan kembali cangkir teh.


Rintik hujan turun membentur bumi. Mata Enji berubah sendu. 


Ada rasa rindu. Ada rasa bersalah serta kecewa. Ada rasa cinta dan enggan. Ada rasa marah yang bercampur. Sungguh menyesakkan dada. 


Enji memutar badannya, menatap surat di atas meja. Enji mengambil, membuka, dan kembali membacanya. Seakan kurang puas sekali, Enji membacanya berulang kali.


Terakhir, Enji meremas surat tersebut, kemudian mengulurkan tangannya ke rintik hujan yang mulai deras. Kertas tersebut melunak, hancur dan berceceran di rerumputan. Sudah tak terbentuk dan tak bisa disatukan kembali. 


Enji tersenyum dingin. 


"Baiklah. Aku sudah memutuskannya!"


*


*


*


Tak memerlukan waktu lama, Jessica dan ayahnya telah ditemukan dan dibawa ke markas oleh bawahan Karina. Bukan hal sulit menemukan dua orang yang pernah diawasi itu.


Tanpa membuang waktu, Karina yang belum tidur sedangkan kedua anak dan suaminya sudah tidur nyenyak, melangkah keluar tanpa suara agar tidak mengganggu mereka bertiga. 


Karina melihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 01.00. Berulang kali menghela nafas menyusuri koridor menuju ruangan tempat Jessica dan Rudi berada. 


Karina sedikit merapatkan jubahnya. Tatapan Karina yang dingin mengalahkan dinginnya udara dingin dini hari. Matanya yang tajam mengerjap teratur, fokus ke depan. Karina berdecak sebal saat matanya menangkap sosok yang sudah lama tidak menampakan diri di hadapannya.


"Aku tidak ada waktu bermain denganmu!"


"Kembalilah ke tempatmu. Jika ada waktu aku akan ke sana!"


Karina melangkah ketika sosok merah itu pergi. 


"Kakak!"seru Enji yang menanti Karina di perempatan koridor. 


Karina menaikkan alisnya, wajahnya menunjukkan tanda tidak suka.


"Kau baru sadar. Bukannya istirahat malah berkeliaran! Setidaknya pakailah pakaian tebal!"ketus Karina.


"Kakak aku sudah sembuh total. Aku sehat. Membosankan terus berbaring di ranjang. Aku sudah puas berbaring di sana selama sepuluh bulan. Lagipula aku tidak bisa tidur. Memikirkan hubunganku dengan wanita itu, aku merasa aku juga harus ikut dengan Kakak bertemu dengannya. Bukankah ini adalah masalahku dengannya? Aku punya hak bukan?"ucap Enji, menunjukkan wajah memelas, menggoyangkan-goyangkan tangan kanan Karina dengan manja. 


Hah.


"Baiklah."


Karina mengangguk, menarik tangan kanannya agar tenang.


Enji langsung berseru senang, meloncat girang bak anak kecil yang mendapat permen.


"Jadi apa keputusanmu?"tanya Karina, membuka jubahnya kemudian memakaikannya pakai Enji.


Enji terkejut dan hendak menolak. Akan tetapi tatapan tajam Karina membuat Enji menurut, merapatkan jubah itu pada tubuhnya.


"Kau belum sembuh total. Udara dingin dapat memperburuk kondisimu. Hari ini ku maklumi tapi lain kali aku akan mengurungmu di kamar!"ucap Karina, perhatian.


Enji tersenyum lebar. Menyentuh kedua telinganya. Menunjukkan wajah meyakinkan.


"Aku janji, ini yang terakhir, Kakak!"


"Jadi apa keputusanmu?"


"Kakak akan tahu nanti," jawab Enji.


Karina mendengus, melangkah disusul Enji yang berjalan di sampingnya.


"Apapun keputusan yang kau ambil, aku harap sudah kau pertimbangkan dengan matang-matang. Biar bagaimanapun keputusan yang kau ambil ini menentukan masa depanmu, juga Bayu. Aku tidak ingin kau menyesal karena keputusan yang salah," ujar Karina. 

__ADS_1


"Aku merasa aku sudah pernah mengambil keputusan yang salah. Tapi kali ini, apapun yang aku putuskan, entah itu benar atau salah, aku tidak akan menyesal," jawab mantap Enji.


"Jika kau menyesal kelak, aku akan mematahkan kedua kakimu!"ancam Karina disambut dengan tatapan meyakinkan Enji.


"Jika aku menyesal kelak, jika Kakak ingin mengambil nyawaku, aku tidak akan melawan," janji Enji.


Karina terkekeh.


"Anak kecil, kebanyakan janji juga tidak bagus loh. Aku akan menagih janjimu di akhirat kelak jika kau mengingkari janji yang telah kau ucapkan!"


"Kakak mengapa membawa akhirat seakan ada yang hendak segera pergi," keluh Enji, hatinya menjadi gundah.


Enji menghentikan langkahnya, Karina otomatis ikut berhenti.


"Kapan kematian menjemput, tidak ada yang tahu, Zi. Yang paling dekat dengan kita di dunia ini setelah Sang Pencipta dan orang-orang yang kita sayangi dan cintai adalah kematian, malaikat maut."


"Kakak? Kau berkata seakan kau akan pergi dan tak kembali. Jikapun ada yang harus pergi lebih dulu harusnya adalah suami Kakak. Dia kan lebih tua, kalau tidak Mama atau Papa Wijaya. Kakak aku mohon jangan bahas kematian."


Enji menggenggam kedua tangan Karina. Karina mendelik kesal pada Enji.


"Kau menyumpahi mereka mati lebih dulu? Betapa kejamnya kau ini. Sudah ku katakan maut tidak mengenal apapun! Hah … lagipula aku sering bertaruh nyawa tapi tetap hidup sampai sekarang. Merasakan kebahagiaan yang biasa dirasakan oleh manusia pada umumnya. Jikapun maut datang menjemput, aku tidak akan melawan," tutur Karina.


"No! Kakak harus melawannya!"


Enji berteriak tidak terima. Langsung memeluk Karina dengan mata yang memerah. Karina terdiam. Ia juga tidak tahu mengapa ia begitu dalam membahas maut dengan Enji. Apakah ini naluri seseorang yang akan pergi meninggalkan dunia fana?


Karina menggeleng pelan.


" Kita akan hidup bahagia sampai rambut memutih, bersama dengan anak, cucu, mungkin juga cicit kita!"ucap Enji mengetatkan pelukannya.


"Baiklah. Sudah jangan menangis. Kau sangat mirip dengan anak kecil sekarang, Zi," ucap Karina, menenangkan Enji seraya mengusap membalas pelukan Enji.


"Ku mohon jangan bahas maut lagi Kak," pinta Enji.


"Hm. Baiklah."


Karina mengatakannya dengan nada lembut tapi raut wajahnya menerawang jauh. 


*


*


*


Kini Enji dan Karina tiba di depan pintu ruangan tempat Jessica dan Rudi dikurung. Penjaga membukakan pintu untuk Queen-nya. Karina masuk diikuti oleh Enji.


Di dalam keduanya mendapati Jessica dan Rudi duduk terikat di kursi dengan mata tertutup, terlihat sangat mengantuk tapi tak bisa tidur. Keduanya refleks menegakkan kepala dengan dahi berkerut waspada ketika mendengar langkah mendekat.


"Siapa? Siapa kalian?"


Rudi bersuara, berusaha menemukan arah langkah. 


"Apa tidak ada pertanyaan lain? Aku sudah lama muak dengan pertanyaan itu," kesal Karina.


"Kau? Apa kau …."


"Nona Karina! Mengapa kau menculik kami?"pekik Jessica yang langsung mengenali suara Karina.


"Why? Tentu saja untuk meminta pertanggungjawaban!"sahut Karina dingin.


"Pertanggungjawaban apa? Apa salahku pada Anda?"seru Jessica yang merasa rusak pernah melakukan kesalahan apapun pada Karina.


"Aku menyetujui surat pengunduran diri itu karena kau mampu membayar penalti. Akan tetapi kau malah kabur setelah mengacaukan perusahaan adikku. Mengundurkan diri setelah berkhianat. Kau pergi dengan terhormat ya Jessica. Ah aku lupa, apa pekerjaanmu sekarang? Bagaimana rasanya di blacklist oleh KS Tirta Group?"


Jessica terdiam. Rudi tampak terkejut.


"Jessi apa itu benar? Jadi ini alasan kau mengajak Ayah meninggalkan kota ini?"


"Ayah … aku … aku …."


"Ayah kecewa padamu, Jessi!"potong Rudi, menghembuskan nafas kasar. 

__ADS_1


Ia tampak lemah mendapati  memiliki seorang anak yang berkhianat.


"Ternyata sifat prajurit masih ada pada diri Anda, Tuan Rudi!"


Enji bersuara, membuat kedua orang itu membeku. Keringat dingin mulai keluar dari Jessica. Tuan Rudi sendiri kini semakin menunduk.


"Kau salah, Zi. Sifat itu baru muncul kembali setelah sekian lama hilang, benarkan Tuan?"ungkap Karina, dengan senyum mengejek yang tidak dapat dilihat oleh keduanya.


"Ah benar. Aku mengingatnya," sahut Enji.


Enji ikut tersenyum, menatap Jessica yang menunduk. 


Enji penasaran dengan mata yang ditutup itu, menyuruh penjaga untuk membuka penutup mata Jessica.


"Tu … tuan?!"


Jessica gemetar melihat Enji.


"Namamu Jessica bukan? Kau adalah karyawan, asisten, juga kekasih kontrakku. Tidak terlalu menyakitkan bahwa kau menghianatiku dan perusahaan. Hanya saja aku paling benci penghianatan," ucap datar Enji.


Jessica menatapnya dengan tatapan campur aduk.


"Mengapa? Mengapa baru sekarang kalian membahas ini? Bukankah kalian bisa mencariku setelah aku lari? Mengapa harus menunggu selama ini?"tanya Jessica, memberanikan diri dengan nada datar.


"Why again? Tentu saja karena ada yang lebih berhak menghukummu daripada Aku," jawab Karina, menatap Enji.


"Kematian ibumu haruskah menyalahkan diriku? Ketidakmampuanmu haruskah aku yang menanggungnya? Kita hanya kekasih kontrak, aku juga punya keluarga, tidak bisa setiap saat saat dibutuhkan datang padamu. Rasa ini barulah seumur jagung, haruskah aku mendahulukanmu daripada anakku? Ku kira kau akan setia dan menanti aku kembali, ternyata itu hanyalah perkiraanku," ucap Enji.


"Tapi … tapi Tuan mengatakan akan selalu ada untukku," bantah Jessica.


"Dalam kondisi apa? Jika aku terluka di luar sana lalu tak sadarkan diri berbulan-bulan atau bertahun-tahun apakah selalu ada untukmu? Jangan naif Nona. Hubungan kita terhitung baru satu bulan, juga masih dibatasi kontrak, apakah harus sepercaya itu? Aku tidak menyalahkanmu atas kepercayaan itu, kita hanya dua orang berbeda yang dipaksa untuk bersama," papar Enji.


"Tak sadarkan diri? Maksud Anda selama ini Anda?"


"Ya aku koma. Kau tahu apa penyebabnya? Rasa khawatirku padamu menyebabkan anakku marah dan diculik!"sela Enji.


"Mengapa harus marah padaku atas kematian ibumu? Maut sudah ditentukan, jika sudah waktunya usaha apapun hanya sia-sia. Jujur aku tidak mengingat apapun tentangmu. Tapi setelah membaca semua informasi tentang kita aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Nona Jessica, aku melepasmu dari hubungan kontrak ini. Perbedaan di antara kita sangatlah besar. Aku tidak bisa hidup dengan seseorang yang menyalahkan orang lain atas ketidakmampuannya!"


Mata Jessica membulat sempurna. Ingin membantah tali lidahnya keluh. Rasa penyesalan kini datang padanya. Hanya bisa menitikkan air mata mewakili perasaannya.


Karina tersenyum tipis melihat Enji yang mengeluarkan sebuah kertas dari bajunya kemudian merobek kertas tersebut. Jessica menunduk, menatap robekan kertas yang berserakan di lantai.


"Tu-tuan apakah Anda benar-benar melupakan saya?"


"Hm. Aku lupa semua tentangmu. Jika suatu saat ingatan itu kembali, aku juga tidak akan menyesali keputusan ini," sahut Enji.


"Pergilah sejauh mungkin. Jangan pernah menampakkan diri di hadapanku. Kita sudah selesai. Kelak jikapun waktu mempertemukan kita lagi anggap saja tidak pernah bertemu dan berhubungan. Semoga hidupmu bahagia."


Seusai itu, Enji berbalik dan keluar dari ruangan ini. Karina mendengus senyum menatap Jessica yang tampak sangat menyesal.


"Sudah ku ingatkan untuk tidak bermain-main dengan kami tapi apa yang kau lakukan? Ini adalah hasil dari perbuatanmu sendiri."


"Nona, bukankah seharusnya Anda mengatakan pada saya jika Tuan Enji koma? Andalah yang menyebabkan kesalahpahaman ini terjadi!"


Karina menaikkan alisnya. 


"Salahku?"


"Awalnya aku ingin memberitahumu akan tetapi kai juga ditimpa musibah. Aku tidak ingin menambah kesedihan itu. Aku juga ingin melihat bagaimana sikapmu terhadap masalah ini. Aku juga sudah memperingatimu tapi kau sendiri yang tidak mendengarkan itu. Sejak awal, aku memang ragu mengenai hubunganmu dan Enji. Tapi aku bukan seperti yang lain yang melakukan segala cara agar kalian berpisah. Aku mendukung kalian. Bahkan orang tua kami juga. Kami menerimamu tapi kau tidak mengingat hal itu. Apakah keluargaku yang memperlakukan dirimu dengan buruk?"


Karina menaikkan dagu Jessica yang kini menunduk.


"Enji sudah berharap kamu hidup dengan bahagia setelah ini. Pengawal!"


"Bawa mereka pergi. Sejauh mungkin!"


Mata Jessica kembali ditutup. Hidup bahagia? Penyesalan ini terlalu dalam, apakah ia mampu mengatasinya? Jessica tak mampu menerima ini. Kepalanya terasa sangat pusing dan akhirnya tidak sadarkan diri. 


Karina kembali mendengus, berbalik melangkah keluar.


"Akhirnya ini selesai juga," gumam Karina.

__ADS_1


__ADS_2