
*Warning terdapat adegan kekerasan!!!*
"Dari reaksimu sepertinya kau mengingatnya dengan jelas. Aku putri bungsunya. Kenapa kaget?" lanjut Karina.
"Kau pembohon," desis Berto tertahan. Gerry menatap puas karyanya.
"Queen silahkan Anda lanjutkan, nanti saya kembali lagi," ujar Gerry sopan dan keluar dari ruang penyiksaan. Karina hanya melambaikan tangan kanannya.
Karina melanjutkan aktivitasnya. Selesai sudah ukiran nama Sanjaya bertinta darah Berto sendiri. Kini di kedua tangannya terdapat ukiran nama Herlambang dan Sanjaya.
"Uh … jangan terlalu cepat memutuskan. Kan sudahku katakan aku putri bungsu keluarga Sanjaya namun aku disembunyikan dan diasingkan," jelas Karina.
"Sulit dipercaya. Memang. Tapi itulah kenyataan," ujar Karina mulai memotong satu-persatu jari tangan Berto.
"Akhhhhhh …." Akhirnya teriakan Berto pun bergema.
"Sakit? Baguslah," tawa Karina.
Kini semua jari tangan Berto sudah berpisah dan jatuh berserakan di lantai. Darah menetes deras. Jikalau Karina tak melanjutkan aksinya sudah dapat dipastikan Berto tewas kehabisan darah jika tak segera ditolong.
Kini Karina mulai membuka baju yang dikenakan Berto. Seulas senyum ia tunjukkan sebelum mulai menyoret-nyoret dada Berto dengan silet. Bisa dipastikan betapa sakitnya itu.
Lima belas menit kemudian, Gerry kembali masuk ke ruang penyiksaan membawa katana. Yap Gerry mengarahkan katananya menuju sel*ngkangan Berto.
Plahss ....
"Akhhhhhh … bunuh saja aku langsung!" teriak frustasi Berto.
Darah kembali mengucur deras. Seonggok daging panjang tergeletak di lantai.
"Kematian langsung sangat mudah. Lebih baik kita main-main dulu," ucap Karina menusuk-nusuk bekas ukirannya.
"Potong tangannya Gerry. Potong kedua tangan yang sudah membunuh keluarga kita," perintah Karina.
Gerry mengangkat katananya tinggi dan mengayunkannya memotong kedua tangan Berto. Darah membanjiri lantai. Bau anyir mulai tercium menambah hasrat membunuh Karina dan Gerry.
"Akhhhhh …."
Berto kembali berteriak. Satu persatu anggota tubuhnya mereka pisahkan. Dua tangan, alat vital sudah terpisah. Karina berlagak bingung. Gerry langsung bertanya. Dan jawaban Karina adalah ….
"Aku bingung bagian mana dulu yang mau aku potong? Kaki dulu apa aku congkel matanya atau ambil jantungnya dulu?" tanya Karina yang membuat Gerry menjatuhkan rahangnya.
"Ambil matanya saja dululah. Biar picek dua-dua," seru Karina girang memainkan pisau siletnya.
"Jangan! Ampuni aku. Aku mengaku salah. Bukan aku saja yang membunuh mereka. Jika kau ampuni aku, aku akan memberitahu siapa saja yang ikut dalam pembunuhan itu," teriak Berto frustasi.
"Penawaran bagus. Tapi sayang aku sudah tau semuanya," tegas Karina menjambak rambut Berton dan menahan kepalanya agar diam tak bergerak.
Berto kembali mengerang sakit. Perlahan Karina mendekatkan pisau silet ke arah bola mata Berto. Berto memejamkan matanya. Karina menggores dahi Berto memanjang menampilkan tulangnya. Darah membasahi wajah Berto. Matanya masih erat terpejam.
"Keras kepala," gerutu Karina.
Ia memerintahkan Gerry mengambil cuka dan menyiramkannya pada bekas luka yang telah mereka buat. Berto kembali menjerit kesakitan. Matanya mendelik menatap langit-langit ruang penyiksaan.
Dengan cepat Karina menusuk mata Berto dan mulai mencongkelnya.
"Ahhhhkkkkkkkggghhh …."
Suara lengking Berto yang kesakitan. Air mata darah keluar dari lubang matanya. Kini dua matanya sudah tak berfungsi.
"Hmm … matanya bagus juga. Gerry simpan ini," ujar Karina memberikan mata Berto yang ia ambil pada Gerry.
Penampilan Berto sungguh menyeramkan. Darah mengucur deras dari setiap luka yang mereka buat.
"Karya yang sangat indah. Namun ada yang kurang," gumam Karina menyentuh dagunya.
"Ah ya jantungnya masih ada. Dia masih bernafas," seru Karina cepat.
"Gerry berikan katanamu. Aku mau mengambil jantungnya untuk makan sarapan pagi Miu," ucap Karina mengulurkan tangannya. Gerry memberikan katananya tanpa rasa takut.
Karina kemudian membelah dada Berto untuk mengambil jantungnya. Darah menyiprat ke wajahnya. Karina menggerakkan lidahnya menjilat darah yang menempel di bibirnya.
"Darahmu lumayan,"puji Karina.
Kini Berto sudah tinggal menunggu ajalnya. Jantungnya sudah berada di tangan Karina.
"Ihh … masih bernafas? Gerry langsung saja potong kaki dan lehernya," perintah Karina.
Dengan senang hati, Gerry melakukannya. Hembusan nafas terakhir sudah Berto hembuskan. Nyawanya melayang dengan kondisi tubuh yang terpisah.
Karina tersenyum tidak puas. Hasrat membunuhnya masih bergejolak.
__ADS_1
"Kirim setiap anggota tubuh yang terpotong ke setiap negara yang mengincarnya. Jika kurang, mutilasi saja badannya atau ambil organnya. Kan masih ada hati, paru-paru dan juga usus," perintah Karina keluar dari ruang penyiksaan dengan jantung di tangan kirinya.
Gerry mengangguk patuh. Ia mulai menghitung potongan tubuh Berto. Sepasang kaki tangan, kepala, alat vital, dan tubuh dengan jantung yang sudah diambil.
Jika dijumlahkan hanya 7 potongan tubuh. Dengan malas, Gerry mengambil katananya dan mulai memotong-motong tubuh Berto serta memisahkan organ-organ dalamnya.
Sedangkan Karina, ia berjalan ke ruang penyiksaan di mana Albert berada. Albert masih dalam keadaan pingsan.
Tidak seperti Berto yang disiram air dingin untuk membangunkannya, Karina malah mengambil tang dan mencopot paksa satu persatu kuku kaki Albert.
"Ahhkkkk ... sakittttt ... apa ini?" teriak Albert langsung sadar dan meronta. Kuku kaki bagian kanan sudah lepas semua.
"Sakit?" tanya Karina memperlihatkan kuku ibu jari kaki kanan Albert yang Karina copot paksa ke atas.
Mata Albert membulat. Ia melihat kakinya. Hilang sudah semua kuku kaki menyisakan darah yang keluar dari kuku kakinya.
"Siapa dirimu? Apa masalahmu denganku?" bentak Albert murka. Ia kembali meronta.
"Siapa aku? Dendam masa lalu," jawab Karina meletakkan tang dan mengambil bor baut. Bukan untuk memasukkan baut tetapi melubangi telapak tangan Albert.
"Tunggu. Tanganmu mau dipaku atau aku lubangi?" tanya Karina. Albert menggeleng. Bagaimana bisa itu disebut pilihan.
"Atau dua-duanya? Tangan kanan dipaku, tangan kiri dibor? Sepertinya ini solusi yang terbaik," seru Karina meletakkan bor dan mengambil paku berukuran 5 inci serta palu. Karina menancapkan ujung paku di telapak tangan kanan Albert sebelum dipukul masuk.
"Akkkhhhggggg … sakit bit*h!!" jerit Albert saat paku menembus telapak tangannya, seketika darah merah langsung mengalir.
"Kau berisik sekali. Tapi aku suka itu. Sekarang satu telapak tangan lagi," umpat Karina kesal langsung mengambil bor dan melubangi telapak tangan kiri Albert.
Darah langsung menyembur keluar. Pegangan kursi tempat Albert duduk sudah penuh dengan bercak darah malah mengalir sampai ke lantai. Lagi-lagi jeritan Albert terdengar begitu menyakitkan dan tersiksa.
Namun bagi Karina itu adalah lagu yang semakin menaikkan adrenalin sampai titik teratas.
"Teriak! Teriak lah sampai kau tak bisa bersuara lagi. Sekarang di sini aku ratunya. Dan kau mangsanya," tawa Karina kembali mengambil siletnya.
"Oh ya aku ada hadiah untukmu," seru Karina mengambil jantung yang sedari tadi ia letakkan di meja. Namun, Albert tak menyadarinya.
Mata Albert kembali terbelalak. Jantung manusia? Jantung siapa ini? Siapa wanita ini? Begitulah pertanyaan yang ada di benak Albert.
"Jantung temanmu, Berto Aleksus," ucap Karina meletakkan jantung itu di pangkuan Albert.
"Apa? Kau membunuhnya? Kurang ajar! Ku bunuh kau!!!" teriak marah Albert meronta berusaha melepaskan rantai yang mengikat kedua tangannya serta paku yang menancap di tangannya.
"Memangnya kenapa? Dia pantas kok. Hmm … kau kenal dengan David Tirta Sanjaya?" tanya Karina mendekatkan wajahnya pada Albert.
"Kepala polisi bod*h itu?" seru Albert tanpa wajah bersalah.
"Bod*h? Kau yang bod*h," bentak Karina kembali menorehkan luka di tangan kanan Albert dengan pisau siletnya.
"Hehehehe … polisi bod*h itu bahkan tak bisa melindungi keluarganya!" kekeh Albert tanpa rasa takut.
Hilang semua rasa sakit yang ia rasakan. Ia malah menatap remeh Karina.
"Kau siapa? Mengapa kau begitu peduli dengan keluarga bod*h itu?" tanya Albert memiringkan kepalanya.
"Aku? Karina Stephanson Tirta Sanjaya. Putri bungsu keluarga Tirta Sanjaya," jawab Karina menyilangkan tangannya.
"Mustahil. Bagaimana bisa? Sedangkan putri bungsu mereka yang sudah aku bunuh dengan dua tangan ini. Hehehehe bahkan aku sempat menikmati tubuh moleknya yang masih perawan itu sebentar. Padahal aku masih ingin lebih lama menggagahinya namun apa daya aku harus berbagi," ucap Albert tersenyum lebar menceritakan hal itu.
"Kalian menggilir kakak perempuanku?" desis Karina menatap tajam Albert. Albert mengangguk mengiyakan.
Plak ....
Plak ....
Plak ....
Tiga tamparan keras Karina hadiahkan pada wajah Albert. Albret tertawa sinis.
"Bahkan Nyonya Sanjaya, Rita Sanjaya pun aku gagahi. Tubuhnya tak kalah nikmat dengan putrinya. Jika kau memang putri bungsu mereka lepaskan aku, lalu aku akan menggagahimu sama seperti aku menggagahi kakak dan ibumu. Maka perempuan keluarga Tirta Sanjaya akan menjadi jal*ngku," ucap Albert Karina tersenyum mendengarnya.
"Benarkah Tuan?" bisik Karina di telinga kanan Albert. Tangannya terarah menyentuh kejantanan Albert yang masih dibalut kain.
"Hehehehe … tentu saja kau akan jadi kesayanganku," ujar Albert menahan desahan. Karina tersenyum devil.
"Gerry …," panggil Karina.
Tak lama Gerry masuk dengan membawa satu kotak berukuran sedang berisi aneka hewan berbisa. Di dalamnya ada lipan, kalajengking dan juga ular hijau yang berbisa tinggi.
"Lepas semua pakaiannya. Lalu tempelkan hewan-hewan ini di bagian paha dan adik kecilnya itu," perintah Karina. Gerry dengan senang hati melakukannya.
Albert meronta saat celananya dibuka paksa oleh Gerry.
__ADS_1
Karina mengaktifkan earphonenya menghubungi Li.
"Saya Queen," jawab Li.
"Bawa serum terbaruku. Ada di rak no 5 yang berwarna merah muda," perintah Karina.
"Si Queen," jawab Li.
Krakk ....
"Ahhhh … ternyata kau suka seperti ini jal*ng," umpat Albert saat celana digunting oleh Gerry.
Kini ia sudah tak memakai sehelai benangpun. Satu-persatu hewan yang dibawanya tadi langsung ia tempelkan di bagian mana yang Karina perintahkan tadi.
Tak lama, Li datang dan membawa apa yang diminta oleh Karina. Wajahnya memerah melihat Albert yang telanjang bulat. Cairan merah muda Karina berikan pada Gerry.
"Minumkan itu!" perintah Karina datar. Ia duduk di kursi yang ada di sudut ruangan bersiap menikmati pertunjukkan bagus.
"Emmm …."
Albert menutup mulutnya rapat tak mau meminum serum merah muda yang Gerry sodorkan. Kesal Gerry menekan telapak tangan kanan Albert yang terpaku. Sontak saja Albert langsung membuka mulutnya berteriak.
"Ahhhhggg …," teriaknya.
Gerry langsung meminumkan serum di tangannya selagi mulut Albert terbuka lebar.
"Hehehe … ambil popcorn. Kita nonton film biru live," perintah Karina.
Li dengan sigap melaksanakannya. Film biru di sini bukan dimainkan oleh dua orang atau lebih melainkan satu orang. Serum yang diminumkan Gerry adalah serum yang dapat mengakibatkan halusinasi tinggi akan bercinta.
Di mana orang yang meminumnya akan bergerak seolah-olah ia sedang bercinta. Suara desahan tertahan, kejantanannya semakin membesar.
"Emm … lanjut Sayang …," racaunya.
Gerry malah merekam Albert dengan kamera handphonenya. Li kembali dengan membawa tiga cup popcorn serta 3 botol wine.
"Queen izin bertanya. Dia sedang membayangkan bercinta dengan siapa?" tanya Li penasaran.
"Dengan semua wanita yang pernah ia gagahi," jawab Karina menengguk winenya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 subuh. Sudah lebih dari satu jam, Albert mendesah, mengumpat, mengerang serta bergerak layaknya sedang bercinta. Bahkan ia sudah lupa akan hewan beracun yang siap menggigitnya.
Karina masih setia menonton. Sedangkan Li dan Gerry mulai tertidur bersandar pada dinding. Yang uniknya, tangan Gerry masih tegak merekam Albelt walaupun sekarang ia tertidur.
Mata Karina mulai berat. Dengan langkah gontai ia keluar dari ruang penyiksaan menuju kamarnya di markas Pedang Biru. Butuh waktu sekitar 3 jam agar efek serumnya menghilang.
***
Suasana markas sudah ramai. Karina terbangun dengan ras kantuk yang masih mendera sebab ia baru tidur selama 2 jam setelah begadang semalaman.
Karina mengedip-ngedipkan matanya berusaha mengusir kantuk. Tak lama ia kembali melangkahkan kakinya ke ruang penyiksaan.
Ternyata Li dan Gerry sudah dalam posisi berdiri dan berpelukan. Bahkan bibir mereka hampir bersentuhan. Gerry masih saja memegang handphonenya.
Karina mengambil handphone Gerry dan menyimpan video yang terekam. Ide jahil terlintas di kepalanya. Seketika Karina mengambil handphonenya dan memotret Li dan Gerry.
"Hehehe buat poster di kamar mereka. Kan cantik," kekeh Karina.
Karina memalingkan wajahnya menatap Albert yang tertidur. Cairan putih berceceran di lantai. Pahanya penuh dengan bekas gigitan hewan-hewan yang ditempelkan.
Dengan santainya, Karina menyiram Albery dengan sisa wine yang tidak habis diminum oleh Li dan Gerry.
"Hah? Apa ? Apa yang terjadi?" tanya gagap Albert yang terbangun.
"Auh …," ringisnya saat rasa nyeri akibat gigitan hewan terasa.
"Sudah puas kan bercintanya? Sekarang saatnya aku yang bermain," ujar Karina menyeringai. Bulu kuduk Albert berdiri spontan. Tubuhnya terasa dingin.
Karina mengambil pisau kesayangannya dan mulai menggores-gores tangan Albert.
"K-A-R-I-N-A," eja Karina mengukir namanya. Albert kembali meringis. Matanya menatap Karina memohon ampun.
"Sakit? Tapi lebih sakit lagi penderitaanku selama ini," desis Karina. Kini tangannya beralih pada dada bidang Albert.
"Dada yang indah," puji Karina.
"Tapi lebih indah lagi jika ada nama ibu dan kakakku di sana."
Senyum devil Karina mulai mengukir nama Rita dan Syila di dada Albert. Cairan merah langsung keluar dan mengalir. Albert berteriak kesakitan. Li dan Gerry terbangun.
"Ahhhhh …," teriak mereka bersamaan. Serentak mereka langsung menjauh.
__ADS_1
"Apa yang loe lakuin sama gue? Loe gay?" tanya Li memeluk tubuhnya sendiri.
"Ih … siapa yang gay? Loe kali!" sungut Gerry tak terima.