
Ketika Maria dan Karina pergi berbelanja, Amri di rumah bertugas menjaga Alia. Walaupun sudah berusia lanjut, Amri sangat telaten dalam menjaga dan mengurus Maria.
Amri dan Maria telah sepakat untuk menjaga dan mengurus anak-anak keturunan Wijaya dengan tangan mereka sendiri. Mereka tidak ingin mengulangi kelalaian mereka pada saat Arion kecil yang menyebabkan senggangnya hubungan anak dan orang tua.
Alia sudah tumbuh menjadi anak yang aktif. Kini balita perempuan itu sudah bisa tengkurap.
Di ruang tengah, kini Amri bersama dengan Alia bermain. Menambah suasana agar tidak terlalu sunyi, Amri memutar lagu yang bernuansa islami.
"Ayah, bahkan di usia setua itu kau masih bisa mendapatkan seorang anak yang cantik dan menggemaskan. Aku penasaran seandainya kau masih hidup dan Alia sudah besar, apa Alia akan canggung memanggilmu Papa? Padahal biasanya di usiamu itu Alia lebih cocok memanggilmu kakek buyut," ucap Amri mengingat kakek Bram.
Amri tersenyum saat Alia menatapnya dengan mengoceh bahasa yang sama sekali tidak ia mengerti.
"Kau mengerti apa yang aku katakan, adik kecilku?"tanya Amri, dijawab ocehan tidak jelas Alia. Amri diam sejenak, agaknya berusaha menerjemahkan. Tak lama Amri tertawa lepas.
"Aku mengerti. Seorang anak tidak akan malu mengakui orang tuanya sekalipun orang tuanya berbeda. Hanya anak-anak yang tidak tahu terima kasih dan tidak mengingat jasa orang tua mereka yang bisa melalukan hal itu. Anak baik … jika kau sudah dewasa nanti jangan terkejut dengan rupa ayahmu ya," ucap Amri.
Seolah mengerti, Alia menggerakkan bibirnya tersenyum, menunjukkan giginya yang baru tumbuh beberapa.
Ayah, kau tenang saja di sana. Anakmu ini pasti akan menjaga Alia sebaik mungkin, janji Amri dalam hati. Amri tersenyum sendu, merindukan kakek Bram.
*
*
*
Sadar akan kesibukan dan keterbatasan waktu Karina, Maria hanya berbelanja singkat. Maria hanya membeli masing-masing satu set pakaian untuk semua anggota keluarga. Mereka hanya memasuki satu butik terbaik. Dengan adanya Karina sebagai penilai, pemilihan pun cepat dilakukan.
Kini Maria dan Karina tengah berada di sebuah restoran. Di hadapan mereka terdapat dua potong cake dan dua gelas jus alpokat. Karina sibuk dengan laptop. Ia harus segera memberi perintah untuk masalah artisnya yang terkena skandal pembullyan.
Maria sembari menikmati cake memperhatikan wajah serius Karina. Maria kagum dengan kecepatan jari dan ketajaman mata Karina. Apalagi kacamata yang Karina kenakan, menambah kesan kuat seorang Presdir.
Karina meraih gelas jus dengan mata tetap pada laptop. Dahinya mengeryit tipis, Maria menduga Karina menemukan sesuatu yang tidak ia senangi.
"Apa-apaan mereka ini? Huh memang benar kata pepatah. Saat tenar dikejar, saat jatuh ditinggalkan!"geram Karina. Maria menaikkan satu alisnya.
"Dengan siapa kamu marah?"
"Ma, apa perlu aku membangun saluran penyiaran sendiri?"tanya Karina dengan wajah serius.
Maria mengerjapkan mata agak kaget.
Ternyata dengan stasiun televisi, batin Maria, mengetahui kepada siapa Karina marah.
"Itu sudah biasa, Sayang. Saat kita tengah di atas pasti banyak yang mengelilingi kita. Tapi saat kita jatuh, semua akan meninggalkan kita. Bahkan akan ada orang yang tidak tahu malu mencaci atau mengejek. Padahal sebelumnya sangat baik," sahut Maria.
"Aku benci kemunafikan," desis Karina dingin.
"Tapi seseorang yang benar-benar setia dan menerima kita dikala suka atau duka, dialah seseorang yang paling berharga. Kesetiaan sejati tidak ternilai, sedangkan kesetiaan sampah akan goyah dengan ancaman dan deretan nominal. Kesetiaan tidak akan goyah jika digoda, ia akan tetap pada satu, tidak ada dua dalam hidupnya," ujar Maria.
Karina menoleh ke arah Maria, tersenyum setuju. Maria membalas senyum Karina. Karina kembali fokus ke laptop.
Tak sampai tiga puluh menit, Karina melepas kacamata lalu merenggangkan jemari dan lehernya. Setelah itu Karina mematikan laptop.
"Sudah selesai?"tanya Maria.
"Sudah Ma. Karina sudah mengirim perintah kepada direktur agensi Karina. Aku tidak akan pernah membuang orang yang telah banyak menghasilkan uang untukku dan orang lain. Setiap orang punya masa lalu, baik itu buruk atau baik, semua pasti memilikinya. Kita tidak bisa merubah masa lalu, tapi kita bisa merubah masa depan dan diri menjadi lebih baik lagi. Ya walaupun begitu, hukum karma tetap berlaku. Apa yang kita tanam itu yang kita tuai. Sekarang Jonathan tengah mendapat karmanya," tutur Karina.
Maria menatap takjub Karina. Pengambilan keputusan tidak hanya memikirkan keuntungan sendiri tapi juga keuntungan dan kerugian orang lain.
"Lantas keputusan apa yang kamu ambil untuk masalah itu?"tanya Maria, penasaran dengan keputusan Karina.
Secara hanya dalam waktu singkat Karina sudah menyelesaikan masalah yang menggemparkan dunia hiburan negeri ini bahkan sampai keluar negeri. Karina meletakkan sendok kue setelah menyantapnya sekali.
Rasanya terlalu manis.
"Drama yang telah rilis, tidak akan pernah dihapus. Hanya proses syuting drama terakhir yang dibatalkan. Jonathan memang akan didepak dari agensi. Pembullyan tidak bisa ditoleransi sekalipun itu masa lalu," jawab Karina datar.
Maria mengeryit bingung. Ucapan Karina berbeda. Tadi mengatakan tidak akan membuang seseorang yang telah membuatnya untung dan keputusannya adalah mendepak Jonathan dari agensi, bukannya itu artinya sama saja dengan membuang?
"Maksudnya? Mama jadi bingung."
Maria meminta penjelasan. Karina tersenyum geli dengan wajah bingung Maria.
__ADS_1
"Perusahaanku tidak hanya bergerak di satu bidang. KS Tirta Grub hampir bergerak di semua bidang."
Karina tersenyum bangga.
"Apa pendapat Mama mengenai Jonathan?"tanya Karina.
"Pendapat mengenai Jonathan?"
Maria berpikir, mengingat kesan saat menonton drama, melihat wawancara, reality show, dan pertemuan langsung.
"Dia aktor berbakat, berdedikasi tinggi. Seni adalah bagian dari dirinya. Dikenal baik, dermawan, orang yang asyik, dan yang terpenting dia tampan," jawab Maria.
Karina terkekeh pelan saat Maria mengatakan tampan.
"Sayang semua itu ternoda oleh masa lalu," lanjut Maria, menunjukan ekspresi sedih dan kecewa, hanya sedikit.
"Mama benar. Dia aktor berbakat. Seni adalah hidupnya. Karina akan memindahkannya menjadi seorang dosen perfilman. Jika ia tidak bisa berakting lagi, maka ia bisa membuat banyak orang berakting dengan penuh penjiwaan di depan kamera," jelas Karina.
Maria mengangguk mengerti. Ia paham, Karina akan menjadikan Jonathan sebagai pengajar. Biarpun namanya nanti hanya tinggal kenangan sebagai aktor yang terjerat kasus, namanya akan tetap melekat di dalam diri anak didiknya kelak.
"Eh tunggu bagaimana jika ia tidak mau?"tanya Maria.
"Apa ada yang berani menolak KS Tirta Grub? Setiap bulan banyak anak kuliah yang mendaftar menjadi magang di perusahaan."
Sepertinya sifat Arion menempel pada Karina, mulai menjadi merak.
Maria mendengus senyum.
"1:1000," sahut Maria. Karina tertawa.
"Aiha sudah hampir jam makan siang. Karina ayo kita pulang," ajak Maria setelah melihat jam tangan. Karina melihat jam tangannya.
"Baiklah. Ayo."
*
*
*
"Ini sayur apa?"tanya Arion menunjuk piring berisi sayur tumisan hijau dengan tambahan jagung muda alias janten.
"Pucuk labu kuning," jawab Karina. Arion menatap Karina.
"Pucuk labu kuning? Apakah itu bisa dikonsumsi? Setahuku batangnya berbulu, daunnya juga berbulu dan kasar," tanya Arion.
"Ya dibersihkan dulu. Sama kayak rebung bambu," jawab Karina.
"Rebung bambu dimakan?" Gantian Amri yang bertanya.
"Lantas kenapa jantung pisang bisa dimakan?"
Maria yang menjawab.
"Dia bahkan bisa hidup tanpa jantung," timpal Karina.
"Hah?"
Arion dan Amri tambah bingung. Seumur-umur mereka baru tahu bahkan rebung bambu dan pucuk labu kuning dapat dikonsumsi.
"Mama juga baru tahu Pa, Ar, dari Karina," ujar Amri. Semua tatapan tertuju pada Karina.
"Di pedesaan itu hal biasa," jawab singkat Karina.
Ahh. Mereka lupa bahwa Karina bukan wanita biasa.
"Aku tidak ribet untuk kebutuhan primer. Aku bukan anak manja yang selalu ingin makan makanan mewah," tambah Karina.
"Begitu rupanya. Sudahlah, hal baru harus dicoba bukan? Ayo makan," ajak Arion.
Saat hendak makan, tiga pasang mata itu saling pandang melihat Karina yang makan dengan tangan.
"Makan seperti ini lebih enak," ujar Karina setelah sadar diperhatikan.
__ADS_1
Ketiga orang itu mengangguk, meletakkan sendok. Arion menggulung lengan kemejanya sebelum cuci tangan.
"Ini enak. Manis, renyah, tidak membuat bosan," ujar Amri memberi komentar.
"Tambah komplit pakai ikan asin peda, eh ini benarkan namanya ikan peda?"tanya Arion mengangkat ikan peda bakar itu.
"Iya."
Amri, Maria, dan Karina menjawab serempak pertanyaan Arion. Arion terkesiap sesaat tak lama tertawa. Suasana hangat terlihat jelas di ruang makan ini. Menu sederhana yang menghasilkan kebahagian luar biasa.
*
*
*
"Em … em … em … em!"
Syaka meminta agar penutup mulutnya dibuka. Aleza menutup mulut Syaka dengan kain, tak lupa tangan dan kaki Syaka juga diikat. Syaka duduk di kursi dengan mata menatap marah dokter yang menangani Bayu dan mata kesal pada Aleza.
Aleza juga terpaksa menutup mulut Syaka kerena terlalu berisik. Syaka kembali mencak-mencak marah kepada doktsr ketika sampai sorepun Bayu belum sadar.
"Anak ini emosinya mudah meledak. Jika tidak dilatih untuk tidak mudah terbawa emosi aku takut ia akan mati muda. Ia bisa terkena darah tinggi dan serangan jantung. Pembuluh darahnya juga bisa pecah karena tegang," ucap dokter itu menatap khawatir Syaka. Syaka membelalakan matanya.
Dokter sialan! Beraninya kau menyumpahiku mati?! Sebelum aku mati, kau yang akan mati! Awas saja kau. Akan ku pukul kau sampai mati.
Syaka menatap sengit dokter tersebut.
"Sepertinya ia ingin membunuhku. Tatapan matanya sangat bermusuhan."
Dokter itu menatap Aleza mengadu. Aleza memutar bola mata malas.
"Hentikan Revan. Kau sudah dewasa dan berpendidikan. Seharusnya kau juga memberikan kepastian mengenai kondisi Bayu. Ingat dia itu …." Ucapan Aleza dipotong oleh dokter muda bernama Revan itu.
"Aku tahu Leza. Dia dan yang di sebelah adalah adik dan keponakan Queen. Tapi aku juga tidak tahu kapan mereka akan sadar. Aku hanya bisa memberikan analisis. Kau juga tahu kan tidak ada hukum yang mengatakan bahwa setiap analisis adalah benar?"sahut Revan memberikan pembelaan terhadap dirinya sendiri.
Dasar dokter batu! Kau seharusnya lebih serius menangani mereka! Ingin aku memukul wajahnya lagi. Dia sendiri tenangnya minta ampun seperti laut tanpa ombak. Ah aku lupa yang diam itu terkadang lebih menakutkan, batin Syaka.
Ia mulai berhenti berusaha melepaskan diri. Iris mata dokter Revan menangkap hal itu. Senyum tipis pria 25 tahun itu membuat Syaka sedikit merinding.
"Kau rajanya seribu alasan. Hentikan semua candaanmu. Katakan kondisi Bayu yang sebenarnya!"titah Aleza.
"Ya. Akhirnya kau bertanya juga. Kondisi pasti Bayu dapat dipastikan ketika ia sadar," jawab dokter Revan, tidak memuaskan Aleza.
"Katakan dengan jelas atau aku akan menghubungi Queen!"ancam Aleza.
"Huh kau tidak asyik membawa-bawa Queen. Baiklah, aku akan katakan," jawab dokter Revan.
"Walaupun terlihat tidak ada luka dalam, tapi aku takut ada pendarahan di kepalanya. Ada benda keras yang menghantam kepala Bayu. Aku juga takut itu berpengaruh pada penglihatan dan pendengaran. Makanya aku bisa memastikan kondisinya setelah sadar," jelas dokter Revan.
"Separah itu?" Aleza tidak menyangka. Dokter Revan mengangguk.
"Mengapa?"tanya Aleza.
"Aku juga menjaga kesehatan Queen. Orang hamil tidak boleh menerima banyak tekanan," jawab dokter Revan. Aleza menghembuskan nafas pelan. Syaka masih membeku dengan ucapan dokter Revan.
"Itu skenario terburuknya, berharaplah bahwa semua iri tidak terjadi," tambah dokter Revan.
"Jika dalam tiga jam Bayu tidak juga sadar, kami akan melakukan tindakan," ucap dokter Revan tegas.
Aleza mengangguk. Dokter Revan pamit meninggalkan ruangan. Syaka menatap Aleza memelas ingin dilepaskan.
"Berjanjilah dulu kau agar menjaga emosimu," ujar Aleza. Syaka langsung mengangguk.
"Janji seorang pria adalah harga diri seorang pria. Jangan nodai harga dirimu sendiri." Syaka mengangguk.
Aleza melepaskan penutup mulut, serta ikatan Syaka. Syaka mengusap pergelangan tangan yang merah.
"Kak, kapan mereka akan sadar? Apakah aku akan belajar tanpa rekan?" Syaka bertanya sendu pada Aleza.
"Aku tidak tahu Syaka. Berdoalah agar Bayu akan sadar dalam waktu tiga jam," jawab Aleza. Syaka mengangguk, berjalan gontai keluar ruangan.
"Bangunlah. Bukalah matamu!"gumam Aleza.
__ADS_1