
Tepat pukul 17.00, Arion beserta Ridho memasuki ruang operasi. Karina, Amri, Maria, Sam, Calvin serta dua orang dari keluarga Ridho menunggu di depan ruang operasi.
Wajah mereka kecuali Karina nampak tegang dan tak sabar menunggu operasi berjalan. Lampu ruangan berwarna merah. Para member boy band yang pernah pidato di sidang PBB serta Enji dan anaknya tidak berada di sini. Satunya di rumah, dua lagi masih dalam perjalanan pulang dari sekolah.
Amri dan Maria tak hentinya berdoa mengharapkan hasil yang terbaik. Sam dan Calvin duduk seraya memainkan handphone mereka mengurasi rasa tegang.
Dua orang keluarga Ridho pun menunjukkan raut wajah cemas, sedih dan rasa bersalah yang besar. Hatinya mereka kacau balau. Belum sepenuhnya siap dengan kemungkinan yang akan terjadi setelah operasi pada Ridho. Tapi apa daya, mau tak mau mereka harus terima. Ini juga salah mereka serta keinginan Ridho.
Karina duduk diam seraya menyilangkan kedua tangan dan kakinya, lalu memejamkan matanya. Tidur? Bukan. Karina berdoa dalam hati sekaligus mematangkan rencananya nanti 8 malam.
Setengah jam berlalu. Operasi masih belum selesai. Suara notifikasi pesan di handphonenya membuat Karina membuka mata.
Aku sudah tiba di negara ini. Kapan kita beraksi? Aku sudah tidak sabar untuk itu.
Nanti malam, akan ku kirimkan lokasi kita bertemu. Ingat jangan terlambat. Jika terlambat maka aku akan meninggalkanmu dan memulainya duluan.
Karina menekan tombol send kemudian tersenyum tipis. Senyuman itu tertangkap oleh indera penglihatan Calvin, yang menggerakkan lehernya ke kanan dan kiri karena pegal. Calvin menyenggol Sam yang berada di kirinya.
Sam menaikkan satu alisnya bertanya. Calvin memberi kode Sam agar melihat Karina. Karina masih tersenyum tipis, tidak lebih tepatnya menyeringai. Tatapannya matanya tajam ke depan.
"Kakak Ipar, kau merencanakan apa?" tanya Sam penasaran dan curiga.
Karina menoleh ke arah Sam dan Calvin, mengubah raut wajahnya menjadi datar.
"Rencana apa?" tanya balik Karina.
"Kakak Ipar, kau menyeringai tadi. Pasti ada yang kau rencanakan dan itu adalah sesuatu hal yang besar dan serius pastinya," ucap Calvin.
Amri dan Maria mengalihkan tatapan mereka yang semula ke arah pintu menjadi ke arah Karina, Sam dan Calvin. Keduanya saling tatap mendengar percakapan ketiga orang itu.
"Semua orang punya rencana Sam, Calvin," sahut Karina santai.
"Iya aku tahu, tapi aku penasaran dengan rencanamu, Kak," jelas Calvin.
"Oh, rencanaku adalah mengakusisi perusahaan kalian berdua menjadi milikku, bagaimana, besar dan serius kan rencanaku?"
Karina membuat Sam dan Calvin tertegun. Mereka tak percaya dengan itu. Tapi raut wajah Karina serius. Amri dan Mariapun ikut tertegun.
Bingung dengan Karina yang mau mengambil alih perusahaan sahabat suaminya sendiri.
Ada dendam apa Karina pada Sam dan Calvin, batin mereka berdua, kompak.
"Karina? Are you seriously?" tanya Maria ragu.
"Yes. I'm seriously. Jika mereka dan keluarga mereka macam-macam dengan Lila dan Raina, maka itu akan menjadi kenyataan," balas Karina menatap dingin Sam dan Calvin.
"Kak kau lupakah janji kami padamu? Kami tak akan pernah melakukan hal itu!" tutur Sam tegas.
"Hm," gumam Karina.
Sudahlah, malas aku adu mulut dengan dua orang ini. Biarlah Lila dan Raina membangun sendiri pertahanan mereka. Gak bagus juga asal apa-apa aku latar belakangin mereka. Asalkan masih batas wajar aku diam saja. Huft, sepertinya aku terlalu otoritator.
"Kau baru saja mengakusisi perusahaan AKA bukan?" tanya Amri. Karina menoleh ke arah Amri dan mengangguk.
"Cepat juga Papa mendapat informasinya. Padahal baru terjadi lima belas menit yang lalu. Lintas negara lagi," puji Karina tersenyum. Amri ikut tersenyum, bangga dengan Karina yang memujinya.
Setengah jam kemudian lagi, lampu merah menjadi lampu hijau, operasi telah selesai. Tak lama, pintu operasi terbuka, dokter keluar seraya membuka maskernya. Ia tersenyum ke arah keluarga Arion yang telah berada di hadapannya.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Amri langsung bertanya.
"Syukur Alhamdullilah. Operasinya berjalan dengan baik. Kita tinggal menunggu hasilnya saja. Saat ini Tuan Arion masih belum sadar akibat pengaruh biusnya. Kemungkinan besok pagi baru sadar," jelas Sang Dokter, sekaligus menjawab pertanyaan yang masih ada di benak keluarga Arion.
Amri, Maria, Sam, Calvin dan Karina tentunya mengucap syukur.
"Lantas bagaimana kondisi keluarga kami?" tanya cemas salah seorang anggota keluarga Ridho, dia adalah kakak pertama Ridho bernama Marcel dan satu lagi adalah Ayah Ridho bernama Raka.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Karina melihat wajah dokter yang muram.
"Kondisinya menurun drastis paska operasi. Kanker darahnya memincu hal itu, tapi kami akan berusaha melakukan yang terbaik," jawab Dokter tersenyum tersenyum walaupun berat rasanya.
"Lakukan yang terbaik. Kami mohon selamatkan dia," pinta Raka. Sang dokter mengangguk.
"Pasti akan kami lakukan yang terbaik," sahut dokter. Tak lama, brangkar yang membawa Arion keluar dari ruang operasi, dipindahkan menuju ruang rawat Arion sebelumnya.
Amri dan Maria langsung mengikut, Sam dan Calvin ikut menunggu bersama Karina dan dua orang itu di depan ruang operasi.
__ADS_1
"Dokter darurat. Detak jantung pasien melemah!" pekik salah seorang suster.
Tanpa basa-basi sang dokter langsung berbalik dan masuk ke dalam ruang operasi lagi. Marcel dan Raka menghembuskan nafas kasar dan melihat apa yang terjadi melalui pintu kaca transparan berbentuk persegi dengan ukuran 8x8 cm.
Karina menghela nafas dan ikut merasa sedih. Sepertinya kemungkinan terburuk dari hal ini adalah kematian.
Terlihat dokter mencoba mengembalikan lagi detak jantung Ridho. Setelah beberapa saat berusaha, sang dokter menghela nafas pelan dan tersenyum kecut.
Dokter meletakkan alat pacu jantung dan menarik kain putih menutupi wajah Ridho.
"Innalillahi wainnaillahi rajiun, sepertinya Yang Kuasa lebih sayang padanya. Penderitaannya di dunia telah berakhir, semoga kau tenang di sana setelah keinginan terakhirmu tercapai," gumam dokter.
Raka yang melihat itu langsung luruh ke lantai. Anak yang dulu ia tidak pernah akui, dan baru dua tahun ini ia akui telah meninggalkannya untuk selamanya.
Marcel pun berusaha menguatkan sang ayah, di mana dia sendiri juga sedih dan merasa bersalah. Adik yang selalu ia bully nyatanya adalah orang yang bisa mengangkat derajat mereka kini menutup mata untuk selamanya.
Sam dan Calvin saling pandang, mereka memejamkan matanya mereka ikut bersedih. Tak lama pintu kembali terbuka, sang dokter menghela nafas melihat pemandangan di hadapannya.
Hatinya sebagai dokter yang hanya menangani saja sedih, apalagi keluarga. Kematian adalah momok terburuk bagi keluarga dan ahli medis tentunya.
Jika bisa, ia ingin semua yang ia rawat dan tangani sembuh dan sehat. Tapi itu tak mungkin, mereka bukanlah Tuhan, mereka hanya seorang insan yang berusaha untuk menyembuhkan, tetapi berhasil tidaknya itu di tangan Tuhan.
"Kami telah berusaha sebaik mungkin. Namun, Tuhan berkehendak lain. Sekali lagi mohon maaf, kami turut berduka cita," terang dokter, membungkukkan badannya.
Raka dan Marcel berusaha tegar. Mereka harus ikhlas sebab itu adalah pesan dari Ridho.
"Apakah kami bisa langsung membawa pulang jenazahnya Dok?" tanya Marcel.
"Tentu," jawab Dokter.
"Boleh kami melihat jenazahnya Dokter?" tanya Raka. Dahi sang dokter mengerut. Ia mengangguk pelan. Raka disusul Marcel segera masuk.
Aneh, kalau korona baru gak boleh. Tapi inikan dunia novel. Korona mah dihapuskan dan dihilangkan dari dunia ini. Hm semoga pandemi ini cepat berlalu. Kasihan Author, pusing dengan tugas daring yang menumpuk, batin dokter. Pamit undur diri pada Karina, Sam dan Calvin.
"Kalian pergilah duluan ke sana, aku akan menunggu mereka. Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Karina pada keduanya.
Sam dan Calvin mengangguk dan segera beranjak. Karina mendudukkan kembali tubuhnya di bangku koridor. Lagi-lagi Karina menghela nafas.
Lima belas menit kemudian Raka dan Marcel keluar, mata mereka sembab, hidung mereka memerah. Karina langsung bangkit dan menghampiri mereka.
"Terima kasih untuk segala, maaf telah membuatmu kehilangan nyawa," ujar Karina membungkuk kecil memberi penghormatan terakhir.
Setelah itu, Karina menutup kembali wajah Ridho. Jenazah segera dibawa untuk proses pemulangan kepada anggota keluarga.
"Tuan-Tuan, sekali lagi saya mohon maaf, atas hal ini kalian kehilangan anggota keluarga kalian," ucap Karina.
Kedua orang itu mengangguk.
"Ini sudah takdir Nona, kasih sayang Tuhan lebih besar daripada kasih sayang kami padanya. Cukup sudah ia menderita," sahut Marcel.
"Aku lega dia bisa merealisasikan keinginannya. Aku bangga ia pergi dengan beban yang telah ia lepaskan, kami merasa terhormat, sebab ia berjasa pada keluarga Anda," timpal Raka mengusap air mata yang masih menetes.
Karina tersenyum. Sebenarnya ia juga bukan sekedar memberi ungkapan bela sungkawa. Tetapi juga sedikit kompensasi, Karina tahu, itu tak akan bisa menggantikan sosok anak dan saudara, akan tetapi setidaknya bisa membuatnya tak terlalu berhutang jika Ridho memberikannya secara cuma-cuma. Itu harta yang berharga, bukan hal yang sembarangan.
***
"Papa sama Mama pamit pulang ya," ujar Amri. Waktu menunjukkan pukul 21.00.
Ruangan ini kini berisi Arion yang masih belum sadarkan diri, Karina, Amri, Maria, serta Koya dan Kuki. Ya kedua member itu memang sengaja ke rumah sakit. Sedangkan lima lagi, Enji dan Bayu tetap tinggal di rumah.
"Lah gak nginap saja Ma, Pa?" tanya Karina heran. Biasanya kan mereka gak mau pulang walaupun disuruh pulang.
"Besok Papa ada meeting sama klien pukul 06.00, Rin. Jadi sepertinya agak repot jika Mama sama Papa nginap di sini," jelas Amri.
"Lah cepat benar meeting-nya. Mau meeting apa jogging Pa?" lakar Karina.
"Ye seperti kamu tidak tahu saja. Jangan pura-pura gak tahu deh Karina, masa' pembisnis besar tidak tahu hal begituan," keluh Amri. Karina terkekeh.
"Jangan lupa besok melayat di sana, setelah sebelum zuhur pukul 11.00 sepertinya acara pemakamannya," ucap Karina mengingatkan.
"Iya, setelah meeting, Papa dan Mama akan on the way ke sana. Kamu tenang saja," jawab Amri.
"Ya sudah deh. Mama sama Papa hati-hati di jalan. Jangan ngebut, jangan meleng, jangan tatap-tatapan. Jangan …." Karina nyerocos dan segera ditahan oleh Maria.
"Kamu tak perlu risau. Kami akan berusaha. Demi kebaikan kami dan dirimu," sahut Maria.
__ADS_1
Karina tersenyum cengengesan. Tak lupa cium tangan dan menjawab salam untuk Amri dan Maria. Setelah itu Karina mengalihkan tatapannya pada Koya dan Kuki yang melihatnya dengan cemilan di tangan.
Karina mendengus.
"Apa kalian tidak muak memakan itu? Apa perut kalian tidak pernah penuh? Setiap duduk pasti makan," kesal Karina.
"Lalu tumben kalian diam kayak patung. Biasanya langsung nyambar," tambah Karina heran, mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal.
Koya meletakkan bungkus cemilannya, bukan kerena gak mau makan lagi tetapi isinya sudah habis.
"Namanya juga hobi, perut mah perut karet. Ini mah gak buat kenyang, palingan kenyang lima menit doang, habis itu lapar lagi," jawab Kuki.
"Kami diam karena kami tidak mau tidak sopan terhadap orang tua. Gak bagus kami nyambar atau nyela ucapan orang yang lebih tua dari kami. Lebih baik duduk diam, tunggu ditanya baru deh kami ngomong," tambah Koya.
Karina mangut-mangut.
"Kapan Arion hyung akan sadar dan dapat melihat kembali?" tanya Kuki.
"Kemungkinan sadar besok dan perbannya akan dibuka tiga hari setelahnya," jawab Karina.
"Lama sekali, aku bosan," heran Koya.
"Hello guys, I'm comeback!" seru Chimmy datang dari pintu seorang diri.
Karina dan dua lainnya menoleh sekilas dan acuh. Chimmy duduk di samping Koya.
"Ngapain loe kemari?" tanya Karina.
"Kangen," ujar Chimmy
"Yang lain?" tanya Koya.
"Rumah, tepar semua orang itu melihat piranha yang naik ke halaman," jawab Mas Ganteng.
"Kok bisa? Padahal sudah aku lapisin sama kaca. Bagaimana bisa kebanjiran kolamnya? Atau ada yang nyentuh atau nekan tombol mekanisme kolam?" selidik Karina menatap Koya.
"Kok aku? Aku gak ada ngapa-ngapain!"tegas Koya.
"Tapi kalian gak papa kan?"tanya Kuki.
"Ya kami gak papa, aman," jawab Chimmy. Karina, Koya dan Kuki menghela nafas.
"Mau mabar?" tanya Karina menunjukkan handphone-nya.
"Kau kecanduan game online ya?" tanya Koya.
"Mabar apaan? Mobile legend, Free Fire atau PUBG atau yang lain?" tanya semangat Kuki.
"Aku tak ikut. Aku mau tidur," ucap Chimmy membuka ranjang portabel. Tiga orang itu acuh tak peduli.
"Mabar cacing, kuy," ajak Karina membuka aplikasi game cacingnya.
Koya dan Kuki saling tatap. Dan menatap Karina bingung.
"Jangan bercanda! Yang serius dong," keluh Kuki.
"Iya-iya. Game terserah deh. Yang penting action. Tapi gue gak mau PUBG, okey," ucap Karina.
"Hm, ini saja deh," ujar Koya.
"Aku gak ada game itu. Bentar ku instal dulu," ucap Kuki.
"Cepetan!" seru Koya dan Karina.
"Iya. Sabar deh!" balas Kuki
Setelah game terinstal, Kuki segera melakukan hal yang perlu dipenuhi agar game-nya lancar dan nyaman dimainkan. Tak berapa lama, akhirnya mereka mulai mabar.
Tak terasa sudah pukul 23.30. Karena ngantuk berat akhirnya mereka dengan cepat menyelesaikan permainan. Sampai selesai ya agar tak menimbulkan pelanggaran atau apapun itu.
Lima belas menit kemudian akhirnya selesai juga game-nya.
"Victory, ah tidur enak," gumam Kuki, mematikan data dan tidur di sofa. Koya melakukan hal yang sama. Karina menyimpan handphone-nya dan menatap bergantian Kuki, Koya, Chimmy dan Arion.
Karina lantas berdiri dan keluar dari ruangan Arion.
__ADS_1