Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 191


__ADS_3

"Maaf Vin," ucap Raina lagi, entah berapa kata maaf yang sudah terlontar dari bibirnya.


"Ra, kamu makan dulu ya, kasihan anak dalam rahimmu," ujar Gerry, ia datang dengan membawa tiga kotak styrofoam.


Raina menggeleng, ia tak ada nafsu makan lagi setelah Calvin pingsan. Perutnya seakan-akan menjadi kenyang. Ya kenyang makan angin dan tangis.


"Raina, makan dulu, jangan egois!" tegas Angga, menatap lembut Raina.


"Benar nak. Hargai usaha suamimu walaupun ikannya tak dapat dan malah nyungsruk ke rumah sakit," timpal Santi. Raina tampak berpikir, ia menimbang. Ck, apalagi yang ditimbang, makan tinggal makan kok susah. 


"Atau aku laporkan kamu sama Karina. Bilang kamu membahayakan nyawamu sendiri dan anakku, kau mau Karina marah besar?" tambah Gerry. Membuka satu styrofoam dan mengambil tempat di samping Raina. Sedangkan dua lagi diberikan pada Angga dan Santi.


Raina menunjukkan wajahnya yang tegang dan takutnya. Ia mengangguk seketika. Lebih parah jika Karina yang turun tangan.


"Lihat itu, dia ternyata lebih takut pada Karina daripada suami dan mertuanya," gerutu Santi pelan, menunjukkan wajah kesalnya. Sedangkan Angga diam saja.


"Astaga, aku heran dengannya, apa sih yang diberi Karina padanya, memangnya Karina itu seseram apa hingga ia takut? Wanita itu terlalu otoriter! Dia bahkan masih mengekang pekerjanya yang sudah berkeluarga!" cetus Santi lagi, namun kali ini sayangnya terdengar oleh telinga Gerry. Gerry berhenti sesaat dari menyuapi Raina. Raina yang terlalu memikirkan Calvin, tak mendengar hal itu.


Calvin menoleh sekilas dengan tatapan tajamnya. Ia menahan amarah dalam dadanya. Angga yang menangkap tatapan itu, langsung saja bergidik dan menyuruh Santi agar diam tak mengomel.


"Ma, itu tak perlu dipermasalahkan! Yang penting Raina itu sehat-sehat saja. Calvin beginikan salah mama juga, coba saja mama larang dia, pasti gak begini. Sebaiknya kita tak mencari masalah dengan Karina, lihat saja ekspresi Gerry, menyeramkan seakan kita adalah mangsanya," bisik Angga. Santi mendengus dan memilih menghabiskan makanannya.


Sepertinya mulut itu harus dikasih pelajaran, batin Gerry. Lanjut menyuapi Raina. Raina dengan segala kekuatan dan rasanya mencoba untuk menelan semua makanan yang disodorkan oleh Gerry. 


Selepas menyuapi Raina, Gerry pamit untuk pulang sebab waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, ia masih ada pekerjaan yang tertunda. 


Sesampainya di mobil, Gerry mengambil handphonenya dan mengetikkan sesuatu. Setelah selesai, Gerry segera tancap gas kembali ke markas.


Santi mengambil handphone-nya saat mendengar suara notifikasi pesan. Ia mengeryit dan membeku membaca pesan tersebut.


Saya peringatkan Anda, jangan pernah berbicara buruk tentang Karina. Bagi kami Karina bukanlah wanita otoriter! Bagi kami dia adalah malaikat. Jika Anda masih saja berbicara buruk tentang Karina, maka imbalannya nyawa Anda. Ini bukan ancaman tapi peringatan! Jangan pernah menyusahkan Raina, dia masih bagian dari kami, Pedang Biru dan KS Tirta Grub. Saya kira Anda adalah orang yang cerdas. Anda pasti tahu mana jalan yang terbaik. Dan saya tegaskan kembali lagi, jangan pernah menghina, mencibir ataupun berbicara buruk dengannya, baik di depan kami maupun di belakang kami! Terima kasih.


Pesan dari Gerry sukses membuat jantung Santi berdebar. Ia menggigit bibirnya salah mengira orang. 


Pantas saja Raina patuh dan takut pada Karina ternyata dia adalah Queen mafia itu, batin Santi. Angga mengeryit melihat wajah pias Santi. 


"Ma?" panggil Angga menyenggol Santi.


"Ah ya?!" jawab Santi tergagap dan dengan nada kaget yang lantang. Membuat Raina menoleh.


"Ra, Mama janji gak bakalan cibir ataupun mengeluh dan setara tentang Karina. Kamu jangan laporin omongan Mama yang kasar sama dianya, nanti Mama bisa …." Santi menggerakkan tangannya menyiratkan kehilangan nyawa.


Raina menyipit, kemudian mengangguk.


"Mama kesabet?" tanya Angga heran.


"Iya, Mama dapat hidayah tadi supaya berhenti ghibahi orang, gak ada manfaatnya. Baik kagak dosa iya, Mama gak berani," jawab Santi.


Raina tersenyum miring.


Hidayah? Palingan juga peringatan dari kak Gerry. Pasti Mama sudah tahu siapa Nona sebenarnya. Ck, batin Raina.


"Karina itu mafia Pa, Pedang Biru," bisik Santi. Mulut Angga membulat dan menatap Santi tak percaya. Tapi wajah serius Santi membuat percaya.


"Syukurlah kita gak cari masalah dengannya," gumam Angga.


***


Karina, Arion dan Enji serta Maria dan Alia tiba di mansion selepas magrib. Di mansion, di ruang tengah mansion yang lebar, sudah terdapat jenazah kakek Bram yang dibaringkan di dalam keranda dan ditutupi serta berselimutkan warna hijau. Tak ada hiasan tambahan di atasnya. 

__ADS_1


Sedangkan untuk jenazah Marwan telah dimakamkan duluan. Letak pemakaman Pedang Biru tak jauh dari mansion. Hanya berjarak sekitar 300 meteran. 


Alia sementara dirawat di klinik markas, lengkap dengan penjagaan ketat. Untung saja peralatan di klinik memandai jadi tak terlalu mengkhawatirkan.


"Bawa jenazahnya dan letakkan di samping jenazah yang di dalam," titah Arion. Peti jenazah Nita segera dibawa masuk. Amri menatap datar peti tersebut.


Maria segera memeluk Amri dan memberi semangat dan dukungan.


"Apa tanah makamnya sudah siap? Kita makamkan mereka malam ini juga," tanya Karina pada Lee.


Untuk keluarga Lin, mereka telah resmi menjadi bagian dari KS Tirta Grub bidang furniture dan properti dan kini telah berpindah tempat tinggal di kawasan apartemen yang merupakan atas nama Karina khusus karyawan.


"Sudah Queen, dua lubang sudah selesai, tinggal ditanam saja," jawab Lee.


"Hm, kalau begitu segera sholatkan mereka dan segera kita bawa ke pemakaman. Aku lihat untuk penerangan sudah oke, segera laksanakan," titah Karina.


"Kalau gitu aku siap-siap dulu," ujar Arion. 


"Aku juga," timpal Enji. Bayu terlihat diam saja duduk. Ia tak mau menyumpel atau membuat ribut.


"Ya, aku juga akan bersiap, Ma, Karina sama Ar ke kamar sebentar ya," ujar Karina.


"Oke," sahut Maria.


Enji ke kamar diikuti oleh Bayu. Bayu menanyakan beberapa pertanyaan yang mengusik hatinya. 


"Mama juga siap-siap," ujar Amri mengusap air matanya.


Maria mengangguk.


"Iya Pa, Papa jangan sedih lagi ya, ini semua sidah takdir. Yang penting keluarga kita sudah menyatu walaupun hanya sesaat. Ya Pa," ujar Maria. Amri tersenyum dan mengangguk.


Sesampainya di kamar, Arion langsung mandi sedangkan Karina membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia memejamkan matanya, bukan tidur yang memejamkan matanya.


Haih, aku gagal jadi pemimpin. Nita mengapa kau bunuh diri sih? Di hadapanku lagi? Semoga saja kedepannya tak ada lagi kejadian seperti ini. Sekali lagi, ini liburan yang buruk, batin Karina. Membuka mata kala mendengar suara air dari kamar mandi berhenti. Karina bangkit dan segera nyelonong masuk saat Arion keluar.


****


Seusai disholatkan, kedua jenazah segera dibawa ke pemakaman dengan digotong. Amri, Enji, Arion dan Li tentu saja ambil bagian. 


Jalanan menuju pemakaman tidaklah gelap melainkan terang bendera. Hawa diri lalu lalang. Hembusan angin membuat bulu kuduk orang tak berani ataupun tak terbiasa meremang dan berdiri.


Setiba di pemakaman, dua lubang sudah digali bersampingan. Arion, Amri, Enji dan Lee memakamkan jenazah kakek Bram. Berikut dengan Nita. 


Kedua lubang segera ditutup. Tak ada lagi isak tangis. Mereka sudah ikhlas dan rela dengan kepergian kedua orang itu. Seusai berdoa, mereka segera kembali ke mansion.


"Selamat jalan, Ayah dan Ibu Nita," gumam Amri pelan.


Setibanya di mansion, tanpa basa-basi, Karina langsung menuju kamar dan tidur.


Arion meraih handphone-nya yang sedang mengisi daya di atas meja rias. Melepas charger dari handphone dan mengaktifkan handphonenya.


Setelah aktif, terlihat banyak sekali notifikasi dari Sam, baik dalam bentuk pesan, panggilan maupun chat. 


Arion melihat jam dinding kamar. Waktu menunjukkan pukul 21.00 waktu Korea Selatan. Arion segera menelpon balik Sam.


"Assalamualiakum Sam, ada apa loe hubungi gue sebanyak itu?" tanya Arion to the point.


"Waalaikumsalam Ar, yang ada hal penting. Lagian loe kan sahabat, ck dan saudara gue, masa' butuh alasan untuk nelpon loe? Hm kayaknya loe sudah pindah kewarganegaraan ya? Lama amat loe di sana," sahut Sam, jawab dengan jawaban melenceng.

__ADS_1


"Ck, to the point saja, gue lelah mau tidur. Keluarga gue habis berduka," ujar Arion, ia berjalan dan duduk di sofa.


"Hah? Berduka? Siapa yang mengalami hal buruk? Kok loe gak ngabarin gue? Eh kok samaan sama Calvin sih?" tanya Sam.


"Lah si Calvin kenapa?" tanya Arion.


"Tuh si Calvin pingsan di sungai gara-gara Raina ngidam gabus kuah kuning," jawab Sam.


"Astaga?! Memang wanita hamil itu ada saja tingkahnya. Terus kondisinya kayak mana? Sudah sadar?" tanya Arion, khawatir.


"Tadi waktu gue jenguk dia, masih gak sadar," ucap Sam.


"Palingan juga dua hari dua malam," sambung Arion.


"Kalau loe, siapa yang meninggal atau apa?" tanya Sam.


"Kakek gue sama nenek muda gue, baru selesai saja dikebumikan, maafnya gue gak ngasih tahu loe, soalnya tadi baterai gue lowbet dan gue gak kepikiran tentang itu," ujar Arion dengan nada sesal.


"Innalillahi wainnaillahi rojiun, turut berduka cita ya Ar, keluarga Anggara menyampaikan bela sungkawa yang sebesar-besarnya," ujar Sam.


"Gak papa kok Ar, gue paham," tambah Sam lagi.


"By de way, gue pulang besok," ucap Arion.


"Okey, gue tutupnya, loe istirahat gih," ujar Sam.


"Hm, Assalamualaikum," jawab Arion.


"Waalaikumsalam," balas Sam.


Arion menghela nafas dan menyimpan kembali handphone-nya. 


"Cepat sadar loe Vin, kasihan istrimu," gumam Arion. Kemudian membaringkan tubuhnya menyusul Karina ke alam mimpi.


Guling itu lagi, ck, batin Arion sebal dengan guling yang dipeluk Karina.


***


"Hyung kamu ada kabar dari Karina? Seharian dia gak ada kabar. Ck dia pasti happy-happy gak ngajak kita," tanya Tata pada para Hyungnya saat mereka tengah berkumpul di asrama mereka.


"Gak ada," jawab RJ, berikut dengan jawaban yang sama oleh para member lain.


"Tapi kalau dia happy-happy bareng keluarganya ya gak heran sih, dia kan kemari buat bisnis dan liburan," ucap Koya.


"Sudahlah, ayo tidur. Besok kita perform di acara pembukaan restoran itu," ujar Agus.


"Hm, baiklah. Besok setelah perform kita harus jalan-jalan bersamanya, setidaknya ke taman atau pantai atau apapun itu," ujar Tata.


"Bagaimana jika ke rumah kita?" saran Kuki.


"Bagaimana jika ke mall?" tambah RJ, mas ganteng.


"Ke matahari saja," saran Mang.


"Ke perpustakan negara saja, banyak ilmu di sana," ucap Koya.


"Ah, kita ke rumahku saja," ucap Tata girang.


"Ngapain?" tanya Chimmy.

__ADS_1


"Tidur!" Bukan Tata yang menjawab melainkan Agus. Agus berdiri dan menuju kamar duluan.


"Terserah Karina saja, kita mah ngikut saja," putus RJ. Sebagai adik, kelima member mengangguk dan patuh pada Hyung tertua mereka.


__ADS_2