
Karina mengambil secarik kertas dan memberikannya pada Arion. Arion menerima dan membacanya.
"Tanda tangani itu," ucap Karina menyodorkan pena.
"Mengapa harus pakai surat perjanjian segala?" tanya Arion setelah selesai membacanya. Rupanya kertas itu adalah surat perjanjian yang berisi tiga syarat yang diajukan Karina serta dilengkapi 'Apabila pihak kedua (Arion Wijaya) melanggar perjanjian yang sudah ditetapkan maka pihak kedua (Arion Wijaya) harus membayar denda berupa saham perusahaan Jaya Company sebesar 5%. Jika pihak pertama (Karina) melanggar perjanjian yang sudah ditetapkan maka pihak pertama (Karina) tidak akan membayar denda sepeser pun.'
"Dan mengapa hanya aku saja yang mendapat konsekuensi?" tanya Arion lagi.
"Bisa saja kan kau tak menepati syarat yang ku berikan. Jadi untuk mengantisipasi kemungkinan kau akan melanggar jadi kita buat saja surat perjanjian berbadan hukum," tegas Karina.
"Dan untuk pertanyaan yang kedua. Ku rasa kau tahu jawabannya. Aku kan tak punya apa-apa. Cafe aku sebenarnya juga milik Li dan Gerry. Lagipula kan aku sudah menyerahkan hidupku untuk pernikahan ini. Kau kan sudah aku perbolehkan berhubungan dengan Joya," jawab Karina.
Arion mengerutkan dahinya berpikir keras. Ia menimbang dan mengingat kemungkinan yang akan terjadi ke depannya.
"Baik. Akan aku tandatangani!" ucap Arion menandatangi surat perjanjian ini.
"Lantas kapan kita akan pindah dari sini?" tanya Arion mengembalikan pena dan surat perjanjian pada Karina.
"Hmm … hari ini juga! Kau pasti punya tempat tinggal lain kan selain di sini?" tanya Karina menaikkan salah satu alisnya.
"Apakah tidak terlalu cepat? Sebenarnya aku memang ada apartemen di kawasan XX," jawab Arion.
"Tidak. Lebih cepat lebih baik," tegas Karina.
***
Setelah selesai sarapan pagi. Arion dan Karina mengutarakan niat mereka untuk tinggal terpisah dari Maria dan Amri. Amri yang baru kembali dari rumah Karina heran dan terkejut. Begitu juga dengan Maria.
Awalnya Maria dan Amri tak mengizinkan. Namun dengan berbagai alasan dan juga bujuk rayu dari Arion mereka pun luluh.
"Lantas kalian mau tinggal di mana?" tanya Amri.
"Arion kan punya apartemen di kawasan XX. Lokasinya juga dekat sama kantor," jawab Arion.
"Hmm … ya sudah. Kapan kalian akan pindah?" tanya Amri lagi.
"Hari ini juga," jawab Arion dan Karina bersamaan.
Mendengar jawaban kompak mereka membuat Amri dan Maria tersenyum.
"Wah … kalian sudah tidak sabaran bermesraan tanpa ada kami. Mama doain kalian cepat dapat baby," ucap Maria. Karina dan Arion hanya saling berpandangan kemudian mengangguk.
Akting yang bagus, ucap Arion dalam hati.
Idihh … siapa yang mau punya baby dari kucing jantan kecil ini, batin Karina tersenyum.
"Ya sudah Mama sama Papa setuju. Lagipula jika kami terus melarang memangnya kalian akan menurut?" kekeh Amri.
Setelah mendapat persetujuan, Karina dan Arion langsung naik ke kamar mereka dan mengambil koper berisi pakaian dan juga barang-barang yang mereka anggap penting untuk dibawa.
***
"Hati-hati Sayang. Sering-seringlah kalian berkunjung kemari. Mama tunggu kabar baiknya," ujar Maria pada Arion dan Karina saat keduanya hendak memasuki mobil.
"Iya Ma," jawab singkat Arion. Karina hanya mengangguk paham.
Perlahan mobil yang dikemudikan Arion meninggalkan mansion keluarga Wijaya. Selama di perjalanan Arion dan Karina fokus pada pikiran masing-masing.
Tidak ada pembicaraan sama sekali. Hanya lagu berjudul "Play" milik Alan Walker lah yang menemani perjalanan mereka.
We used to hide under the covers
Serenade each other
With careless melodies
Something buried deep inside us
__ADS_1
The major and the minor
We're like piano keys
You played for me
You played for me Oh, oh*
You played for me
Karina mendengarkan lagu sembari memejamkan matanya. Sesekali ia menyenandungkan lirik lagunya. Arion yang sedang mengemudi melirik sekilas Karina.
"Apa kau suka lagu ini?" tanya Arion pelan.
"Hmmm …," jawab singkat Karina tanpa membuka matanya.
"Kau pasti sangat menyukai piano kan? Aku bisa bermain piano. Kalau kau mau aku bisa memainkannya untukmu sama seperti Enji," cerocos Arion promosi melihat ke depan. Hati kecilnya berteriak untuk mendapatkan hati istrinya yang dingin ini.
Karina membuka matanya dan menatap Arion datar.
"Kalau begitu lebih baik kau jadi penyanyi saja di cafeku," ucap Karina memejamkan matanya kembali.
"...." Arion langsung diam.
Perjalanan menuju apartemen memerlukan waktu sekitar 45 menit. 20 menit kemudian mereka tiba di parkiran bawah tanah apartemen. Arion langsung menuju apartemannya diikuti Karina.
Ceklek ....
Suara pintu apartemen dibuka oleh Arion.
"Di mana kamarku?" tanya Karina to the point.
"Di sini hanya ada satu kamar. Jadi kita akan satu kamar. Lagipula kan kita suami istri. Walaupun kita tak saling mencintai apa salahnya kita menjadi sahabat?" ujar Arion tersenyum. Karina mendengus kesal.
"Mana kamarnya?" tanya Karina kesal.
Arion menyusun barang bawaannya di walk in closet.
"Aku berangkat ke kantor dulu. Oh ya aku lupa di kulkas tak ada apa-apa alias kosong. Jadi bisakah kau berbelanja?" tanya Arion.
"Hmm …," jawab Karina duduk di sofa.
"Oke. Aku berangkat," pamit Arion keluar dari kamar menuju perusahaan.
Selepas kepergian Arion, Karina melirik jam tangannya. Waktu menunjukkan jam 09.30. Karina bangkit mendekati kopernya dan menyusun bawaannya di walk in closet.
Dua puluh menit kemudian Karina keluar dari kamar menuju dapur. Di sana ia mencari air minum namun tak menemukannya. Karina kembali mendengus kesal.
Rasa hausnya semakin terasa. Karina dengan cepat keluar dari apartemen. Di bawah ia mencari minimarket dan membeli air mineral.
"Lega …," gumam Karina memegang tenggorokannya. Karina melihat-lihat area tempat di mana apartemen berada.
"Hmm … lokasi yang strategis. Aku harus dapatkan kawasan apartemen ini," ucap Karina mantap.
Karina mengeluarkan handphonenya dan menelpon seseorang.
"Pak tolong ambilkan mobil saya di mansion keluarga Wijaya. Saya tunggu tiga puluh menit dari sekarang di depan minimarket kawasan apartemen XX," ucap Karina.
"Baik Nona. Tapi kuncinya di mana ya Nona?" tanya Pak Anton.
"Tanya saja sama mertua saya. Sebelum saya pergi saya sudah menitipkannya," jawab Karina.
"Baik Nona," ujar Pak Anton.
Karina mengakhiri panggilan dan duduk di salah satu kursi di depan minimarket.
***
__ADS_1
Di sebuah rumah mewah. Di ruang tamu terdapat seorang wanita muda tengah duduk di sofa dan menonton televisi. Wajahnya tampak masam. Kulit kacang berserakan di lantai.
Bukan hanya itu, banyak juga bungkus kemasan cemilan di sana sini. Melihat cemilan di tangannya sudah habis wanita itu bangkit dan mencari cemilan lain di kulkas.
Bukan satu, ia langsung mengambil 5 cemilan dengan varian yang berbeda. Ia kembali menuju ruang tamu. Dari arah pintu masuk muncul seorang pria paruh baya
"Princess Papi pulang Sayang. Kamu di mana?" teriak Pria itu.
Wanita itu menjatuhkan cemilan di tangannya.
"Papi?!!" ucap kaget wanita itu. Pria parubaya itu merentangkan tangannya. Wajahnya tersenyum cerah. Wanita itu berlari ke arahnya.
Brukk ....
Wanita itu memeluk erat pria parubaya itu.
"Papi kenapa baru pulang?? Joya kangen banget sama Papi," ucap wanita itu atau lebih tepatnya Joya.
"Papi banyak pekerjaan Sayang. Kamukan tahu Papi ini Leader dari mafia kita," jelas pria paruh baya atau Reza Argantara. Leader dari Black Tiger Mafia yang notabenya adalah paman dari Karina.
Reza melepaskan pelukannya. Ia memegang wajah Joya. Ia mengamati wajah putri semata wayangnya itu.
"Ayo kita duduk," ajak Reza.
Joya mengangguk. Di ruang tamu Reza menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kulit kacang dan bungkus cemilan di mana-mana. Joya malah nyelonong duduk.
"Bi … Bibi … Bibi Asi …," panggil Reza pada salah satu asisten rumah tangga mereka.
Dari arah belakang Bik Asi datang dengan tergopoh-gopoh. Ia dengan cepat menghadap tuan besarnya.
"Sa-saya Tuan besar," jawab Bik Asi gugup melihat wajah garang majikannya.
"Bersihkan ruang tamu ini segera," perintah Reza.
"Baik. Baik Tuan," jawab Bik Asi.
Bik Asi langsung ke belakang untuk mengambil alat-alat yang diperlukan. Reza mengajak Joya ke ruang keluarga. Joya hanya mengikuti.
"Kamu kenapa? Kok dari Papi pulang tadi wajah cantiknya ditekuk sih?" tanya Reza perhatian mengelus rambut Joya.
"Hmm … gak ada Pa," jawab Joya tersenyum manis.
"Kamu jangan bohong. Papi paling tau kamu. Kalo kamu ada masalah pasti kamu nonton tv, makan cemilan bungkusnya di sana-sini dan plus wajahnya ditekuk seperti ini. Jadi ayo cerita sama Papi," ucap Reza mempraktikan wajah Joya kalau sedang galau.
Ekspresi wajah Joya langsung berubah. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Reza.
"Arion Pa," ucap Joya sedih.
"Hmm … kenapa rupanya dia? Setahu Papi selama setahun ini kamu kan melakukan pelatihan tertutup. Baru dua minggu kemarin kamu keluar. Jadi apa masalahnya?" tanya Reza yang juga tidak mengetahui pernikahan Arion dan Karina karena sibuk di luar negeri.
"Dia selingkuh Papi. Dia gak setia nunggu aku kembali. Dia … sudah menikah Papi," aduh Joya menangis.
"Apa?? Berani sekali dia!!!" geram Reza mengepalkan tangannya.
"Dengan siapa dia menikah??" tanya Reza.
"Wanita pemilik cafe. Namanya Karina," jawab Joya.
"Karina? Sudah-sudah anak Papi kan kuat. Masa gara-gara seorang pria kamu jadi begini? Mana anak Papi yang sanggup mengalahkan dua puluh orang ahli beladiri tanpa senjata?" hibur Reza.
"Tapi Pa … Joya masih cinta sama Arion. Joya mau Arion balik sama Joya. Dua minggu ini Joya dilarang terus untuk bertemu Arion sama sekretarisnya," terang Joya menghapus air matanya.
"Kalau begitu kita harus singkirkan dulu istrinya itu," ujar Reza tersenyum yang dibalas tatapan heran Joya.
"Maksudnya kita bunuh wanita itu?" tanya Joya memastikan. Reza mengangguk menampilkan wajah seram. Joya ikut tersenyum devil.
***
__ADS_1