Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 367


__ADS_3

"KARINA!"


Joya terbangun dari tidurnya. Duduk di tepi ranjang sembari memegang kepala yang terasa pusing. Gibran yang tertidur, terbangun dan langsung menangis akibat teriakan Joya. Darwis muncul dari pintu dengan wajah khawatir. 


"Gibran? Maafkan Mama Sayang." Joya langsung menimang Gibran, menenangkan sang putra. Darwis mendekat, duduk di samping Joya. Wajah Darwis terlihat menyembunyikan sesuatu. 


Setelah Gibran tenang dan kembali tidur, Joya mengajak Darwis keluar kamar. Di luar, wajah Rian dan Satya tampak sangat tertekan.


"Darwis firasatku buruk akan Karina. Katakan apa yang terjadi padanya. Kalian pasti tahu kan?"


"Joya…."


"Jangan menyembunyikan apapun. Wajah kalian terlihat tegang. Pasti terjadi sesuatu yang buruk. Katakan saja!"ucap Joya tegas.


Darwis menghela nafas kasar.


"Karina kecelakaan. Pesawatnya meledak di atas samudra," ucap Darwis. Mata Joya terbelalak, menutup mulutnya tak percaya. Menggeleng keras.


"La-lalu bagaimana dengan Karina? Dia selamat kan?" Darwis menggeleng pelan.


"Tim sudah diturunkan untuk mencari mereka. Li dan Gerry ikut di dalamnya. Kami juga akan pergi mencari. Joya kita akan mendarat di bandara terdekat. Kalian kembalilah duluan ke mansion. Aku, Rian, dan Satya akan menyusul Li dan Gerry," ujar Darwis.


"Darwis, kalian harus membawa Karina dengan selamat! Karina harus ditemukan dengan selamat! Aku akan membantu dari mansion!"jawab Joya. Darwis mengangguk pelan. Keduanya berpelukan. Air mata khawatir Joya titikkan. 


"Darwis Karina harus selamat. Dia adalah satu-satunya keluarga kandungku yang tersisa," lirik Joya.


"Pasti. Kami akan menemukan dan membawa Joya dengan selamat. Aku berjanji!"ucap Darwis, menatap Rian dan Satya yang juga menatapnya dengan binar semangat dan keyakinan mereka akan berhasil membawa Karina pulang dengan selamat.


*


*


*


Arion mengangkat pandangannya dari laptop, melihat ke arah ketiga anaknya yang tengah diasuh oleh Amri dan Maria. Enji juga mengangkat pandangannya dari laptop, menyentuh dadanya menoleh ke arah Arion yang kini menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. 


"Hatiku gelisah dengan Kakak," ucap Enji.


Arion tidak menjawab. Lebih memilih mengeluarkan handphone, menelpon Karina. Tapi semuanya sia-sia. Nomor Karina tidak aktif. 


Arion melemparkan handphone asal ketika ketiga anaknya menangis hebat, Amri dan Maria bahkan tak bisa menangani. Enji ikut berdiri. Arion menimang Bintang sedangkan Enji meminang Biru. Bima ditimang oleh Maria. 


Pikiran Arion tetap tertuju pada Karina. Hatinya kian tak tenang. Semakin gelisah dari waktu ke waktu. Sembari memenangkan Bintang, Arion kembali mencari handphonenya. Jika memang Karina dalam bahaya pasti bawahannya tahu.


Saat membuka handphone, ada pesan suara yang masuk atas nama nomor Karina, nomor jam tangannya. Arion segera membuka pesan tersebut.


"Kak nyalakan loudspeaker-nya," pinta Enji.

__ADS_1


Terdengar suara gemuruh, juga suara panik. Enji langsung mendekat pada Arion. Tangis Bintang, Biru, dan Bima mereda saat mendengar suara Karina. Suara yang tenang di tengah kepanikan. 


Sepertinya aku kalah darimu. Seharusnya aku mendengarkanmu untuk tidak pergi. Firasatmu benar. Pesawatku tersambar petir dan tak ada tempat pendaratan. Tapi aku tak menyesal. Ar … apapun yang terjadi padaku, aku tetap akan memenuhi janjiku. Aku akan kembali dengan selamat! Selama aku pergi, jagalah dengan baik anak-anak kita. Juga ingatlah semua janjimu padaku. Ah jangan berantakan lemari pakaian kita. Jangan salah menakar susu untuk anak-anak. Jangan salahkan dirimu atas kejadian buruk yang menimpaku ini. Jadilah Ayah yang baik untuk mereka selama aku pergi. Jangan lupa juga dengan daftar yang telah aku buat untuk anak-anak. Sampai jumpa, Ar.


Pesan suara berakhir. Air mata Enji luruh tanpa diminta. Amri dan Maria masih terdiam dengan tatapan nanar. Mereka merasa ini mimpi. 


Arion apalagi. Ia masih membeku menatap layar handphone. Tatapan matanya nanar, matanya memerah, tak percaya dengan apa yang terjadi pada Karina. Bintang, Biru, dan Bima kembali menangis, lebih hebat dari sebelumnya. Telinga Arion seakan tuli, Arion diam membisu. Semua pikirannya tertuju pada keadaan Karina. Amri langsung mengambil alih Bintang saat melihat Arion yang hendak luruh. Arion bersimpuh di pantai. Wajahnya kacau dengan air mata yang menetes. Kesedihan menyelimuti pesawat.


"Tidak! Tidak mungkin! Karina berjanji akan pulang dengan selamat. Ini pasti prank. Aku tidak percaya!"


Arion kembali meraih handphone, menghubungi Li untuk memastikan. 


"Li katakan apa yang terjadi pada istriku?!"


"Ar kau tak perlu sedih. Kami pasti akan menemukan Karina dan membawanya pulang dengan selamat!"


Arion langsung membanting handphonenya. Menyuruh pilot untuk mendarat di bandara terdekat. Enji yang kini duduk lemas mengangkat pandangannya. 


"Kakak pasti selamat. Pasti selamat. Aku akan mencari Kakak. Dia pasti menunggu di suatu tempat!"gumam Enji.


 Mata Enji berkilat tajam, menunjukkan keyakinan yang besar. Enji mendudukan Biru di sampingnya, membiarkan anak itu menangis. Enji mengambil laptop, melacak keberadaan terakhir Karina. Juga menghubungi Li agar memberi titik di mana mereka akan bertemu. Prioritas mereka sekarang bukanlah bersedih melainkan menemukan Karina. 


"Pa … Karina pasti akan pulang kan? Dengan selamat?"


"Papa yakin. Menantu kita menantu hebat. Sekarang kita hanya bisa berdoa untuk keselamatan Karina dan menjaga cucu - cucu kita. Hingga saat ia pulang nanti, ia tidak akan memarahi kita."


Maria mengangguk pelan, mengusap dahi Bima yang berkeringat. Biru, anak itu sudah berhenti menangis, kini diam dengan sorot mata dingin yang menyimpan kesedihan. Bintang masih menangis. Suhu badannya mulai memanas. 


"Ma Bintang sepertinya demam," ucap Arion cemas.


Maria segera memanggil dokter yang sengaja disuruh Karina ikut dengan mereka. Bintang segera ditangani oleh dokter.


"Mama, Papa, dan anak-anak tetap kembali ke rumah. Arion akan mencari Karina," ucap Arion, menatap Amri dan Maria.


"Aku ikut Kak!"


"Ti…."


"Kau tak bisa melarangku!"


"Baiklah."


Setelah mengecup dahi ketiga anaknya, Arion melangkah keluar dari pesawat diikuti oleh Enji yang menggendong tasnya. Amri dan Maria menatap kepergian mereka dari pintu pesawat. 


Karina kamu harus selamat.


*

__ADS_1


*


*


Tim penyelamat menyisir titik terakhir pesawat Karina jatuh. Lokasi yang berada di atas samudra hindia membuat pencarian sangat sulit. Air yang terlihat tenang namun nyatanya berarus kencang membuat pencarian terasa sangat berat. Belum lagi gelombang tinggi yang datang tiba-tiba, menambah tingkat kesulitan. Pencarian menurunkan tim terbaik, mencari dari permukaan, udara, dan bawah samudra. 


Para tim bergerak cepat. Tak peduli dengan medan yang penting mereka bisa menemukan pimpinan mereka. Hari mereka boleh sedih tapi harapan mereka tidak boleh mati. Menyerah paling anti dalam hidup mereka. 


Tiga hari telah berlalu. Karina tetap tidak ditemukan. Hanya puing-puing pesawat yang ditemukan terombang-ambing dengan jarak yang sangat jauh dari titik utama. Arion semakin frustasi, begitu juga dengan yang lain. Pesawatnya sampai hancur tak berbentuk, lantas bagaimana dengan Karina? 


Jikapun sempat terjun tapi pendaratannya di air dengan segala bahaya yang tak terduga, hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan Karina. Tapi mereka tetap yakin bahwa Karina selamat dan keajaiban itu ada. 


Dua minggu  berlalu. Hasil yang sama, nihil. Hanya ada beberapa parasut yang sudah tak robek parah yang diduga parasut yang digunakan oleh Karina dan awak pesawat saat terjun. Cuaca buruk juga menambah tingkat kesulitan dan kecepatan. 


Rasanya mustahil, tapi pesan Karina membuat mereka tetap mencari. Kala malam tiba, kapal pesiar yang diturunkan sebagai tempat beristirahat terasa sangat sepi dan dingin di tengah samudra malam. Cahaya bulan tampak kelabu, mewakili keadaan hati para penghuni kapal. 


Li menyendiri, menatap rembulan ditemani sebotol wine. Menenggak sekali, menyeka bibir, tersenyum kecut. Sorot matanya terlihat jelas memancarkan kesedihan, putus asa, tak percaya, dan secercah harapan. 


Helaan nafasnya berat. Beban kesedihan di hati begitu berat. Baru beberapa hari yang lalu mereka tertawa bersama kini mereka berduka bersama. Rasanya baru kemarin mereka melepaskan beban kini beban yang mereka pikul puluhan kali lipat. 


Li memejamkan matanya, air matanya menetes. Tak lama pria gagah itu menangis pilu. Li menggigit bibirnya agar tak menarik perhatian, ia menyendiri di lantai teratas. Angin dingin menemani tangisan Li.


 Kenangan bersama Karina baik suka atau duka silih berganti menghampiri Li. Tawa, senyum, canda, marah, emosi, dan beragam ekspresi Karina terekam jelas padanya. Kehilangan Karina bak kehilangan separuh jiwanya. Ya separuh jiwa Li adalah Karina, dan separuh lainnya adalah Elina dan Ali. 


"Mengapa menangis sendiri? Mau menunjukkan pada Karina jika kau yang paling sedih hah?" Li mengangkat kepalanya dari lutut. Menatap Gerry, Rian, Satya, dan Darwis dengan mata sembab. Yang berbicara tadi adalah Gerry , dengan nada sinis. 


Li tak menghapus air matanya. Keempat pria itu mengambil tempat duduk di samping kanan dan kiri Li. Mereka juga membawa wine masing-masing. Menenggaknya, sama-sama tersenyum nanar. 


"Ini sudah empat belas hari tapi belum ada kepastian akan kondisi Karina. Hatiku berkata Karina pasti selamat tapi realita yang kita dapati sebaliknya. Samudra ini begitu berbahaya dari segala aspek."


Gerry mengawali pembicaraan, kembali menenggak winenya.


"Aku yakin keajaiban itu ada. Kita tak tahu apa saja yang menjadi rahasia ilahi. Sekalipun Karina pergi, Karina akan tetap hidup di dalam hatiku. Malaikat kita akan tetap abadi. Dia tak akan pernah mati. Samudra ini hanyalah bagian kecil dari bahaya dunia. Ini bukan tandingan Karina!"tutur Darwis, meletakkan winenya. Menarik lutut dan menyangga dagu dengan lututnya, menatap lurus ke depan dimana yang kegelapan lah yang terlihat.


"Aku setuju. Kita akan tetap mencari tapi tak melupakan tanggung jawab kita. Kita harus menjaga hasil kerja keras Karina. Hingga saat ia kembali nanti ia tak akan mengeluhkan kita saat ditinggal," sahut Rian.


"Kita cari hingga seratus hari ke depan, sebar juga ke pesisir samudra. Jika dalam seratus hari juga belum ada kepastian, kota luaskan pencarian ke daratan. Tim terbaik kita akan turun, mencari segala penjuru," saran Satya.


"Kita akan tetap mencari tanpa meninggalkan tanggung jawab kita. Pedang Biru kalian berdualah yang bertanggung jawab sedangkan KS Tirta Grub adalah tanggung jawab Raina, Lila, Sasha juga Aleza. Aku setuju dengan Rian. Kerja keras Karina tidak boleh runtuh karena tragedi ini. Kesedihan kita memang besar tapi tanggung jawab kita lebih besar!"ucap Darwis.


"Bacot kalian bertiga! Jangan bohongi hati kalian! Jangan tutupi kesedihan kalian! Kita satu tubuh, aku bisa merasakan kesedihan kalian lebih besar dariku. Menangislah. Mari menangis bersama." Mata Li berkaca-kaca dan hujanpun kembali turun. Gerry yang awalnya menggigit bibir tak sanggup menahannya, Gerry ikut menangis. Darwis, Satya, dan Rian, mereka juga terpengaruh. Kelima pria itu menangis pilu, bahkan saat hujan turun mereka tak bergeming. Mereka bahkan bersyukur, mereka bebas berteriak dan menangis di tengah hujan deras. 


"KARINA KAMI MOHON KEMBALILAH! KAMI MERINDUKANMU. SANGAT-SANGAT MERINDUKANMU. KARINA PULANGLAH. KAMI MENANTIMU, KAMI SANGAT KEHILANGAN. JANGAN PERGI, JANGAN SEKARANG. KAMI BELUM RELA DAN TAK AKAN PERNAH RELA! PULANGLAH. SEMUA MENANTIMU. JANGAN PERGI, KARINA!"teriak Darwis.


"KARINA PULANGLAH!"teriak Li, Gerry, Rian, dan Satya.


"Kakak pulanglah. Kembalilah!"gumam lirik Enji yang menatap lima pria itu dari belakang. Enji lantas berbalik, masuk ke dalam ruangan tertutup. Dalam kondisi yang basah kunyup, Enji menuju kamarnya, berganti pakaian kemudian melemparkan tubuhnya di ranjang.

__ADS_1


Kakak Zizi sangat merindukanmu. Di mana kamu sekarang Kak? Apakah kamu selamat atau tidak? 


Enji memejamkan mata. Aliran air mata tak lama turun membasahi pipi Enji. Pria itu lantas tertawa mengingat momen bahagia dan berakhir dengan menangis. Bahunya bergetar, tangisnya mereda saat mimpi mengajaknya meninggalkan kesedihan dan beban hatinya.


__ADS_2