
Kalian terbangun tak lama setelah azan magrib berakhir.
Sial!
Mengapa aku mimpi kejadian itu?
Karina menyalakan lampu lalu memegang kepala dengan kedua tangannya. Sadar waktu semakin berlalu, Karina turun dari ranjang dengan memegang pinggangnya. Berjalan pelan menuju kamar mandi.
Terdengar suara shower dan benturan antara air dan lantai. Karina tengah mandi, menyegarkan pikiran.
Keluar kamar mandi, Karina langsung mendirikan salat magrib.
Pukul 07.00, Karina menghela nafas lega, kini ia duduk di kursi santai dekat dengan jendela kamar. Menatap langit malam yang tampak sedikit mendung. Angin malam berhembus pelan.
"Lupakan. Itu adalah bentuk janjinya pada guru. Itu adalah kewajibannya. Terlebih aku sudah setidaknya membalas perbuatannya itu. Tidak ada hutang budi, hanya saja ia terlalu menuntut," gumam Karina.
Wajahnya yang dingin menatap tajam hamparan area markas yang luas.
"Kakak."
Karina terkejut dengan suara teriakan yang ia kenal betul, Bayu. Kamar ini kedap suara. Karina mencari sumber suara.
"Kakak di bawah!"
Karina melihat ke bawah dari jendela. Bayu melambaikan kedua tangannya. Di samping Bayu ada Syaka yang memegang toak.
"Aktifkan handphonemu Kak, atau buka pintu kamarmu!"
Karina hanya memberikan jawaban OK dari jarinya. Tanpa beranjak dari duduknya, Karina membuka kunci pintu.
Karina beranjak untuk mengambil handphone yang berada di dalam tas lalu kembali duduk. Kebiasaan memode diamkan handphone tetap melekat.
Karina sedikit mengangkat alis melihat banyaknya list panggilan tidak terjawab di jendela notifikasi.
"Lebih baik aku menghubungi Arion dulu," gumam Karina.
Hanya butuh beberapa deringan, panggilan sudah dijawab oleh Arion.
"Assalamualaikum Sayang," sapa Arion di sana.
"Waalaikumussalam, ada apa Ar?" jawab Karina.
"Kamu masih di kantor?" tanya Arion.
"Aku di markas. Kamu?"
"Aku baru saja tiba di rumah. Ada urusan penting kah di markas?" tanya Arion penasaran.
"Ya, lumayan sih," jawab Karina.
"Ya sudah. Kalau begitu aku akan menunggumu pulang, cepatlah pulang. Aku menunggu makan malam denganmu," ujar Arion.
"Sepertinya aku menginap di sini. Aku sangat malas keluar kamar."
Terdengar suara seperti tersedak di ujung sana. Kemudian terdengar suara batuk pelan. Karina sedikit mengeryit, heran.
"Baiklah. Kalau begitu aku yang akan ke sana. Aku akan membawa makan malam dari sini, apa kamu ada yang ingin aku belikan?" tanya Arion.
"Ya sudah. Hm belikan saja aku dimsum," jawab Karina.
"Kalau begitu, tunggu aku. See you Sayang. Assalamualaikum," pamit Arion.
"Hm. Waalaikumssalam, hati-hati," pesan Karina.
"Pasti," jawab Arion.
Karina tersenyum lebar, tapi terganggu begitu ada yang masuk.
"Kakak, kamu kenapa mengurung diri di dalam kamar?" tanya Bayu khawatir sembari memeluk Karina.
"Aku tidur," sahut Karina.
"Tidur? Kak itu tidak baik untuk kesehatanmu. Jangan lakukan lagi!" omel Bayu, semakin khawatir dengan Karina.
"Tidak janji," jawab Karina, sedikit acuh.
"Ckck … ambillah cuti Kak. Kamu terlalu lelah. Kasihan tubuh, otak, dan kedua keponakanku," pinta Bayu, tapi dengan nada datar.
"Jika Kakak bisa, sudah Kakak lakukan Bayu. Kamu tahu sendiri bagaimana pekerjaan Kakak. Jikapun Kakak cuti kasihan para karyawan Kakak, mereka berkerja dua kali lipat," jelas Karina, memberi pengertian.
"Itukan setimpal dengan gaji yang mereka terima," ucap Bayu, bersedikap tangan di dada.
"Baiklah. Akan Kakak usahakan, hm?"
Karina tersenyum.
"Aku akan menagihnya!"
Karina mengusap rambut Bayu.
"Kau mulai akrab dengan Syaka ya?"
Karina sedikit meledek Bayu, secara sepenglihatannya tadi, Bayu dan Syaka sangat dekat, bahkan kompak memanggil dirinya.
Suatu kemajuan, mereka sendiri yang mempermudah rencanaku, batin Karina.
"Tidak juga. Dia hanya menerima hukuman dariku akibat merusak lukisanku. Dia menjadi pelayanku selama di sini, tidak apa kan?"
Tidak juga bukan berarti tidak sama sekali bukan? Bayu mengatakan hal tersebut dengan wajah jutek dan nada acuh.
"Nice!" puji Karina.
__ADS_1
Sedikit bangga, setidaknya Bayu sudah bisa membuat seseorang berada dalam kendalinya.
Bayu tersenyum bangga. Obrolan berakhir ketika Bayu merasa lapar. Ia pamit keluar setelah menanyakan apakah Karina mau makan bersamanya atau tidak. Tentu saja Jawaban Karina tidak.
Menunggu Arion, Karina bergegas menghubungi Joya.
"Akhirnya kau menelpon juga. Karina kemana saja dirimu? Tahukan kau aku sangat panik dan kesal menunggumu menjawab telponku. Aku kira terjadi hal buruk padamu."
Joya nyerocos begitu panggilan dijawab.
"Apa apa rupanya kau menelepon sebanyak itu?" tanya Karina, mengabaikan pertanyaan Joya.
"Jawab dulu pertanyaanku!"
Suara Joya meninggi.
"Aku tidur, biasa mode diam. Aku butuh ketenangan, ada apa?" jawab Karina, santai.
"Kau memang luar biasa. Sia-sia aku mengkhawatirkan orang tidur," omel Joya.
"Ada apa?" Karina kesal.
"Sabar! Mengapa kau mengirim uang sebanyak itu padaku? Uang apa ini?" tanya Joya.
Yap, memang benar. Tadi Karina memang menyuruh Aleza menarsfer sejumah uang ke rekening Joya.
"Oh itu. Itu hakmu!"
"Hakku? Dari mana?" tanya Joya, tidak mengerti.
"Hei Nona, apa kau lupa dengan Argantara Company? Apa kau sebegitu bahagianya menikah dengan Darwis hingga melupakan perusahan keluargamu?" cibir Karina.
"Argantara Company? Bukankah itu sudah berada di bawah perusahanmu? Itu bukan perusahaan keluargaku lagi."
"Ya, tapi sahammu kan masih ada," jawab Karina, mengingatkan.
"Ingat kembali kesepatakan plus - plus yang kamu lakukan dengan Darwis, sahammu masih ada 5%," jelas Karina.
Joya terdengar terdiam, tidak merespon selama beberapa saat.
"Bagaimana?"
"Ya aku sudah ingat. Tapi bisakah kau tidak mengatakan hal itu tadi? Aku malu mendengarnya."
Joya ingat betul saat ia berada dalam genggaman Darwis. Kenangan pertemuan pertama setelah tidak bertemu sekian ttahu sangat membekas.
"Mengapa malu? Terlebih dia kan sudah jadi suamimu," goda Karina.
Ia yakin wajah Joya memerah di sana.
"Ah lupakan saja. Tapi … Terima kasih telah memberikan hakku. Kamu memang pantas menjadi pemimpin," jawab Joya, memuji Karina.
"Hm … sudah sepantasnya. Sudah selesai kan?"
"Ya."
"Ya sudah. Aku tutup," ujar Karina.
"Okey."
Panggilan diakhiri. Karina menaikkan bahu acuh. Ia kembali menikmati pemandangan malam markas.
Joya lega dengan penjelasan Karina. Jujur ia cemas dengan sejumlah uang yang masuk ke rekening pribadinya. Berulang kali ia mencoba menghubungi Karina, sayang selalu tidak dijawab.
Darwis yang pusing dengan Joya yang gelisah, menyarankan agar Joya menghubungi Arion atau siapapun yang dekat dengan Karina.
Menanggapi tentang Arion, Joya menolak keras. Bukan hanya gengsi tapi juga tidak mau membuat harimau tidur terbangun dan mengamuk.
Dari sekretaris, dijawab Karina tidak berada di kantor dan terakhir menuju markas.
Darwis menghubungi Gerry, Gerry tidak tahu sebab berada di luar markas. Menghubungi Li baru mendapat jawaban, biarpun begitu belum bisa menenangkan Joya.
Li disuruh mendatangi kamar Karina. Tidak ada hasil, kan Karina tidur, kamar juga kedap suara.
"Tenanglah, dia berada di kamarnya. Saat ia melihat handphone pasti ia akan menelpon balik. Jangan cemas, tenanglah," pinta Darwis yang pusing.
"Hmhp. Baiklah."
"Bagaimana?" tanya Darwis yang mendapati wajah Joya menunjukkan kelegaan.
"Ternyata keuntungan saham milikku," jawab Joya.
"Benarkah?" Joya mengangguk.
Darwis tersenyum, merentangkan tangan meminta Joya memeluknya. Dengan senang hati Joya memeluk Darwis.
"Aku bisa belanja tanpa menghabiskan uangmu," ujar Joya.
Darwis terkekeh.
"Pakailah uangku untuk belanja, simpan uangmu untuk masa depan," ucap Darwis.
"Nanti kau mengomel, selera belanjaku tinggi loh."
"Aku tahu Sweetheart, gunakan saja uangku, okey?"
"Baiklah kalau kau memaksa."
Joya menghadiahkan sebuah kecupan di bibir Darwis.
"Jangan menggoda," lirik Darwis.
__ADS_1
"Hehehe."
Ferry berjalan duluan meninggalkan Siska yang masih berada di depan pintu cafe. Sekretaris Arion itu agaknya masih kesal dan kecewa dengan reaksi Siska tadi. Siska sendiri, merasa diacuhkan, ia juga merasa bersalah.
Tapi mengapa harus bersikap seperti itu? Aku kan belum mengatakan sesuatu yang berartikan penolakan? Aku kan hanya kaget. Huh dasar pria, hanya menerima pemikirannya sendiri. Terkadang pria lebih merepotkan dari wanita, gerutu Siska dalam hati, menatap kesal punggung Ferry.
Tiba di samping mobil, Siska yang semenjak menikah, biasa dibukakan pintu oleh Ferry, saat bersama dengan Ferry, menunggu Ferry membukakan pintu untuknya.
Padahal Ferry sendiri sudah masuk ke dalam. Kesal membuat Ferry lupa kebiasaannya.
Ck, lihat saja kau kira aku tidak bisa bertingkah kesal?
Siska tetap menunggu.
Mengapa dia tidak kunjung masuk? Mau pulang sendiri kah? pikir Ferry.
Ia membuka kaca jendela.
"Ada apa lagi? Mengapa kau tidak masuk? Mau pulang sendiri?" tanya kesal Ferry.
Siska melirik dan mendengus sebal.
Kok dia ikutan kesal?
"Kalau aku mau pulang sendiri untuk apa kau menungguku? Untuk apa aku memintaku menungguku? Kesal boleh, pikun jangan!" ketus Siska.
Ferry terhenyak dengan nada ketus Siska.
Apa Siska kesal dengan kekesalanku?
Ferry mulai sedikit mengerti.
Ia menghembuskan nafas kasar dan segera keluar dari mobil. Dengan cepat membukakan pintu untuk Siska.
"Silahkan nyonya Nurwahyu," ujar Ferry dengan senyum yang ia paksakan.
Siska tersenyum lebar dan segera masuk.
"Terima kasih Suamiku," sahut Siska.
Ferry segera menutup pintu lalu segera masuk ke kursi kemudi.
Suasana hening saat mobil melaju meninggalkan cafe. Biasanya mereka akan bercengkrama, menceritakan kisah hari ini, harapan, rencana di masa depan dan lain sebagainya.
Akan tetapi kini, sangking heningnya, hanya deru kendaraan dan juga deru suara AC yang terdengar.
Sejujurnya, keduanya sama-sama tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Tapi rasa kesal dan juga sedikit gengsi, membuat mereka enggan membuka suara.
Keduanya, bergelayut dengan dunia pemikiran mereka sendiri.
Tidak! Tidak bisa seperti ini. Keadaan ini dapat membuat hubungan kami merenggang beneran. Ferry tidak salah, ia hanya menyatakan keinginannya. Hanya saja ia salah padam dengan reaksiku tadi. Aku harus segera mengakhirinya. Lupakan gengsi dan siapa yang salah. Tapi … suamiku ini terlalu gengsi menanyakan jawabanku, pikir Siska, kedua tangannya bersentuhan, sedikit gugup.
Ferry melirik. Bibirnya tetap bungkam.
Sungguh tidak nyaman saling diam seperti ini. Hanya karena keinginanku, hubungan kami menjadi dingin dan canggung. Ayolah Ferry, katakan sesuatu yang membuat Siska kembali riang.
Jika seandainya Siska menolak untuk hamil dalam waktu dekat, tidak masalah. Tidak selamanya ia akan menolak. Aku akan berusaha keras agar ia mau hamil. Tapi jika diingat kembali, aku kan selalu keluar di dalam, Siska juga enggak mengonsumsi pil penuda kehamilan, jadi ini hanya pikiranku semata, pikir Ferry.
Ia menarik nafas pelan, mengumpulkan keberanian.
"Sayang," panggil Ferry pelan.
Siska langsung menoleh.
"Hm," jawab Siska datar.
"Tidak peduli apa jawabannya aku akan menerimanya dengan lapang dada," ucap Ferry.
"Maksudnya?"
"Aku menagih jawabanmu atas pernyataanku tadi," jawab Ferry.
"Jawabanku?"
Ferry mengangguk.
Pada akhirnya ia menyerah untuk diam. Baiklah suamiku sayang, kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan.
"Tentu saja iya, wanita mana yang sudah menikah yang tidak menginginkan kehamilan? Kamu tadi hanya menyimpulkan sendiri reaksi kagetku … auhhhhh apa ini?"
Ferry, sangking merasa senangnya, menepikan mobil dan menginjak rem mendadak. Siska bahkan sampai terantuk.
"Benarkan? Katakan sekali lagi!" pinta Ferry dengan mata berbinar.
"Aku sangat menantikan diriku hamil anak kita, aku tidak sabar melihatmu menggendong seorang anak," jawab Siska.
"Katakan lagi!"
"Aku sangat bersedia untuk hamil Sayang," ucap Siska lagi.
Grep!
Dalam sekali gerakan, bibir Ferry sudah berada di bibir Siska. Mencium Siska dengan perasaan yang sangat bahagia.
Kedua insan itu berciuman ditemani dengan kerlip lampu dan suara kendaraan yang lalu lalang.
"Terima kasih," ucap Ferry.
Siska tersenyum lembut.
Sekali lagi, bibir mereka kembali menyatu.
__ADS_1
Hati Ferry sangat bahagia, berbunga-bunga. Sekarang tinggal usaha untuk menghadirkan segumpal daging di dalam rahim Siska.