Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 102


__ADS_3

"Heh? Pantas mendapatkannya? Kau itu pelupa atau bodoh?" tanya sarkas Raina tak sanggup mengontrol emosi. Calvin refleks duduk tegak.


"Bukankah kalian dulu yang mencari masalah dengan Nonaku? Kalian yang pencemburu dengan keberhasilan Pedang Biru? Kalian duluan yang membantai Pedang Biru. Membunuh maha guru? Kau lupa kah? Wajarkan Nona membalas dendam? Orang yang sangat ia hormati tewas di tangan kalian? Lalu … setelah kebenaran ini terungkap, dendam kalian masih membara sedangkan Nona memutuskan untuk berdamai, dengan kalian dan hatinya sendiri," ucap Raina tinggi.


"Sadarlah Calvin. Sadarlah Black Diamond! Perdamaian itu indah. Tak pernahkan kau melihat kesungguhan dan ketulusan Nona untuk berdamai? Andai saja masih ada dendam, sangat mudah baginya menghancurkan kalian sekali lagi. Bukan hanya mafia, mungkin saja perusahaan kalian akan ia ledakkan. Ditambah lagi kasus perselingkuhan Tuan Muda Wijaya dengan Nona Argantara, pasti kalian sudah habis saat itu jika Nona masih menyimpam dendam!" tambah Raina yang membuat Calvin semakin terdiam. Mencerna satu persatu perkataan Raina.


"Tak bisa menjawab? Sekarang pilihannya adalah batalkan dendam atau batalkan pernikahan," tegas Raina memberi ultimatum. Lalu bangkit dan bersiap pulang tanpa bersama Calvin. Calvin sontak menahannya.


"Batal menikah? Apa Karina melarangmu menikah denganku?" tanya Calvin tak suka.


"Tidak ada. Malahan Nona memerintahkan dan meminta kami agar tak terlibat dalam masalah balas dendam ini. Tapi, walaupun begitu, prinsip adalah prinsip, kami tak akan meninggalkan prinsip musuh Nona adalah musuh kami, sekalipun Nona yang memintanya," terang Raina melepaskan pegangan tangan Calvin dan pergi meninggalkan Calvin yang terdiam.


"Ra … jangan pergi," pinta lirik Calvin langsung mengejar Raina, sayang Raina sudah pergi dengan taksi. Ingin mengejar namun perkataan Raina terngiang di kepalanya. Kepalanya terasa sangat berat dan mau pecah.


Calvin menghampiri mobilnya. 


"Sial! Mengapa aku tak rela saat Raina mengatakan batal menikah?" kesal Calvin menendang ban mobil. Ia meringis saat kakinya sakit. Dengan cepat ia masuk mobil dan pulang menuju kediaman Alantas.


"Eh? Tuan Alantas, Anda belum membayar pesanan!" teriak manager restoran.


Flashback Off.


Calvin menghela nafas kesal. Berjam-jam ia bergulat dengan pemikirannya, sampai keputusan ingin berdamai dengan Karina pun ia dapatkan.


"Hmm … memang damai itu indah," gumam Calvin mematikan rokok dan bergegas tidur.


***


Suara kokok ayam jantan yang hidup bebas di halaman villa terdengar saling bersahutan. Suara anak ayam dan ayam betina pun tak mau ketinggalan.


Saling mengisi pagi yang ceria. Mengais tanah mencari makanan. Pak Tri terlihat sedang menyiram bunga di taman villa yang rutin setiap tiga hari sekali.


Di kamar, Arion menggeliat pelan. Membuka mata perlahan. Melirik jam dinding yang berdetak di kesunyian, udara pagi yang dingin dan sejuk terasa walaupun sudah memakai penghangat ruangan.


Arion meraba sampingnya, tak menemukan Karina. Teringat kejadian tadi malam.


Sontak Arion turun dan berdiri tegak. 


"Karina Sayang, ayo kita periksa ke dokter," teriaknya keluar kamar.


"Kamu jangan teriak-teriak. Memang di sini kebun tapi bukan hutan."


Terdengar sahutan Karina dari arah ruang tengah. Arion bergegas kesana dengan tampilan acak-acakan khas bangun tidur dan kaki ayamnya. Bahkan mencuci muka saja tidak.


"Eh?" kaget Arion saat melihat Karina tengah duduk di sofa dengan dua orang wanita berbaju putih khas dokter di samping. Satu dokter memeriksa Karina. Pak Tri melempar senyum ramah padanya. Teringat kembali Mbak di atas pohon membuatnya bergidik.


Arion segera mendekat dan duduk di samping Karina.


"Kamu kok gak bilang sih mau periksa?" tanya Arion berbisik.


"Bilang kok. Tapi kamu gak bisa bangun," sahut Karina.


Arion mendesah pelan. Lagi-lagi Karina berada selangkah darinya. Tak berselang lama, Karina selesai diperiksa.


"Bagaimana?" tanya Arion penasaran.


"Begini Tuan, berdasarkan pemeriksaan saya, Nona positif hamil," jawab dokter tersenyum senang. Pewaris kerajaan bisnis dan mafia Karina akhirnya hadir di rahim Karina. Sontak Karina dan Arion saling berpandangan dan serentak menatap tak percaya dokter.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya mereka bersamaan.


"Benar Tuan. Jika tidak salah usianya sekitar dua minggu. Masih kecil tapi sudah terdeteksi. Untuk lebih lengkapnya, Anda dan Nona bisa memeriksakannya di dokter kandungan," jelas dokter.


Bruk. Tanpa aba-aba Arion langsung memeluk Karina erat. Air mata haru keluar dari matanya. Karina membalas pelukan itu erat. Dua dokter itu dan Pak Tri yang tak mau jadi nyamuk bergegas tanpa suara meninggalkan ruang tengah.


"Aku jadi Papa," lirik Arion melepas pelukan dan mencium kening Karina.


"Aku jadi ibu. Harapan kita tercapai," timpal Karina memeluk Arion lagi. Udara dingin tak lagi jadi masalah. Mereka berpelukan sangat erat. Karina dan Arion tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada sang maha pencipta. Usaha keras akhirnya membuahkan hasil. 


"Gak. Kamu gak boleh meluk dia. Dia suamiku," seru Karina entah pada siapa. Arion menatap Karina bingung lagi.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Arion penasaran.


Karina tak menggubris pertanyaan Arion dan menatap tajam salah satu jendela villa.


"Kalau kamu gak mau sendiri, sana cari pacar. Kan banyak di sana. Jangan ganggu suamiku," sungut Karina kesal.


Apa Karina bicara sama Mbak Kunti ya? batin Arion bergidik ngeri.


"Iya. Kamu saya bolehkan," ucap Karina datar.


"Baiklah. Jika ada yang cocok akan ku buatkan pesta pernikahan yang megah untukmu. Sebagai hadiah pengabdianmu menjaga villa dan perkebunan ini," ujar Karina serius.


"Ya sudah sana kamu," usir Karina melambaikan tangannya. 


"Sayang kamu bicara sama Mbak di atas pohon itu ya?" tanya Arion berbisik.


"Iya. Tadi dia ingin memelukmu, ya aku laranglah. Terus dia bilang dia kedinginan sendiri gak ada yang menemani dan terakhir dia bilang mau cari pacar terus minta aku buat pesta meriah untuknya," cerita Karina mendengus kesal.


"Kamu bisa bicara dan melihat mereka?" tanya Arion lagi. Karina mengangguk.


"Jika sama aku rupanya cantik, rambutnya yang panjang lurus ke bawah, wajahnya pucat, bajunya putih pas di tubuh, terus perangainya juga baik. Tapi kalau sama orang yang tidak ia kenal lama atau orang jahat yang penampilannya sangat menyeramkan. Lebih seram dari yang di film horor," terang Karina santai.


"Sayang, kamu … luar biasa," kagum Arion menaikkan kedua jempol tangannya. Karina tersenyum manis.


Tak lama terdengar suara pelayan bagian dapur yang menyatakan bahwa sarapan sudah siap di meja makan. Karina dan Arion segera menuju ke ruang makan dengan Arion yang menggendong Karina. 


"Sayang aku bisa jalan sendiri," keluh Karina.


"Kamu gak boleh lelah. Anak kita masih terlalu kecil dan muda. Baru terbentuk," jawab Arion. Sesampainya di meja makan, Arion menurunkan Karina di kursi, mengambilkan sarapan di meja dan menyuapi Karina.


Karina mengangguk patuh. Menyantap suap demi suapan Arion. Selepas sarapan, Pak Tri menghampiri mereka. Melaporkan ada yang ingin bertemu dengan Karina.


"Siapa Pak?" tanya Karina.


"Bawahan Anda Nona. Kalau tidak salah namanya Rangga," ujar Pak Tri.


Karina mangut-mangut dan menitahkan agar Rangga segera masuk. Dengan gaya wibawanya, Rangga masuk dengan kacamata hitamnya. Menunduk hormat pada Karina seraya menyodorkan berkas hasil penyelidikan.


"Queen, mereka masih dendam masalah itu kah?" tanya Rangga serius. Karina menatap Rangga datar.


"Mungkin. Tapi kan sudah ku beri konpensasi seharusnya kan selesai," jelas Karina.


Arion yang tak mengerti pembicaraan Rangga dan Karina memilih menyingkir dan pamit keluar. Awalnya Karina mencegahnya, sebab tak mau menimbulkan kata Arion ada orang asing di Pedang Biru.


Tetapi Arion kekeh ingin keluar bukan karena itu, melainkan ingin memetik strawberry lagi. Akhirnya Karina tak mencegahnya lagi.

__ADS_1


Arion segera melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak perkebunan, kanan dan kiri berisi jajaran polibag pohon strawberry. Arion mengambil handphonenya, bermaksud menghubungi Calvin melanjutkan pembicaraan tadi malam.


"Halo Vin. Kamu mau mengatakan apa tadi malam?" tanya Arion saat panggilannya dijawab.


"Kita video call saja. Sekalian sama Sam, dia juga mau mengatakan sesuatu pada kita," sahut Calvin.


"Oke," ujar Arion.


Akhirnya mereka bertiga melakukan video call. Terlihat Sam dan Calvin dengan mata panda mereka. Sama seperti Calvin, Sam juga diberikan ultimatum oleh Lila.


Hanya Ariolah yang hatinya dan wajahnya membuncah bahagia. 


"Gue memutuskan untuk membatalkan rencana balas dendam terhadap kakak ipar. Gue cinta sama Raina. Gue gak mau pernikahan kita batal. Dendam ini juga kita yang mulai, mari kita akhiri!" ujar Calvin tegas. Membuat hati Arion semakin senang.


"Gue juga Ar, gue juga membatalkan rencana ini," timpal Sam.


"Mengapa? Apa Lila juga sama seperti Raina?" tanya Arion penasaran.


"Itu poin pertama, poin kedua, Lila akan ngaduin gue ke Mama sama Papa kalau gue itu mafia. Bisa ditendang gue dari kartu keluarga," jelas Sam.


"Kalau kamu bagaimana Ar?" tanya Calvin.


"Gue bakal jadi Papa, otomatis dendam dihapuskan. Ternyata rasa benci gue yang meluap kepada Pedang Biru dapat ditekan oleh cinta gue dan Karina," jawab Arion.


"Eh? Bakal jadi Papa? Kakak ipar hamil maksudnya?" tanya Calvin menyipitkan matanya. Ario n mengangguk.


"Wih … selamat Ar. Gue juga bakalan jadi uncle," pekik Sam gembira.


"Thanks Sam," sahut Arion.


"Eh? Tunggu … kamu bulan madunya di mana?" tanya Sam.


"Oh ini di perkebunan Karina," jawab Arion. Arion menceritakan apa yang ia alami selama bulan madu, Di akhir percakapan, Sam dan Calvin memutuskan menyusul Arion dan Karina.


Tentunya dengan pasangan masing-masing. Seusai video call dengan kedua sahabatnya, Arion menghubungi orang tuanya. Mengabarkan kabar bahagia ini. Jangan ditanya lagi respons Amri dan Maria, pastinya sangat bahagia.


Maria tak hentinya mengucap syukur, sedangkan Amri mewanti-wanti Arion. Mereka juga memutuskan menyusul Arion dan Karina bersama dengan Bayu.


Setelah percakapan berakhir, Arion mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Ia tercekat kaget saat melihat Karina dengan tangan disilang di dada dan bersandar pada pohon pinus. Menatapnya dengan senyuman termanis.


"Sayang?" panggil Arion seraya menghampiri Karina.


"Ya," sahut Karina.


"Kamu kok di sini? Urusan kamu dengan dia sudah selesai?" tanya Arion.


"Ya. Gak lama kok. Cuma lima menit saja," ujar Karina.


"Oh ya. Aku senang kamu hilangkan dendam dan benci dari hatimu. So sekarang kita rekan bukan? Rekan hidup dan rekan bisnis?" tanya Karina menaikan satu alisnya. Arion tertawa kecil. Beruntung saja Karina sabar menunggu, jika tidak mungkin saja ia telah tinggal nama. 


"Tentu sweetheart," jawab Arion memegang pundak Karina lalu memeluknya. Karina membalas pelukan itu. 


Semilir angin kencang yang menerbangkan dedaunan kering terasa sejenak. Membuat mereka semakin mengeratkan pelukan. 


"Jangan ganggu. Pergi saja cari pacar sana," ucap pelan Karina namun masih terdengar oleh Arion.


Arion yang pernah mendengar Karina berbicara seperti itu mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Sayang apakah Mbak itu di sini?" tanya Arion berbisik.


"Ya. Tapi dia sudah pergi cari kekasih," jawab Karina yang membuat Arion bernafas lega. Sesaat kemudian mereka kembali ke dalam villa. 


__ADS_2