Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 94_Ajakan Damai_


__ADS_3

Pagi yang indah menyambut Arion. Ia agak tersentak kaget saat membuka mata, tak menyangka Karina telah kembali dan kini tidur di sampingnya.


Memang ia sudah biasa akan hal itu, pergi tanpa memberi tahu mau kemana eh tau-tau waktu buka mata, wajah Karina sudah terpampang di depan mata.


Perlahan wajah Arion berubah jadi datar. Entah setan mana yang merasukinya, Arion perlahan mengarahkan kedua tangannya ke leher Karina. Berniat mencekik Karina yang masih lelap tertidur.


Karina yang merasakan pergerakan, membuka matanya perlahan. Mata Karina membulat melihat Arion ingin mencekiknya. Dengan cepat Karina menahan kedua tangan Arion. Posisi Arion berada di samping Karina. Emosi Arion tak terkendali.


"Apa yang kau lakukan? Kau mau membunuh istrimu sendiri?" tanya Karina kesal.


Arion diam tak menjawab. Tetapi tangannya masih berusaha mencekik Karina. Geram, Karina menjedukkan kepalanya keras ke kepala Arion. 


Sangking kuatnya Arion pingsan seketika. Karina melepaskan tangan Arion dan bersedikap tangan. Menatap Arion kesal.


"Ck. Pagi-pagi bukannya disambut atau morning kiss gitu malah mau bunuh aku. Kau masih jauh untuk itu," kesal Karina seraya mengelus kepalanya.


Ia merasa sedikit pusing. Karina lantas bangkit dari ranjang dan berjalan santai masuk ke kamar mandi. Tiga puluh menit kemudian Karina selesai mandi. Ia berdecak sebab melihat Arion tak kunjung sadar.


"Apa terlalu kuat tadi ya? Nih suamiku pingsan atau kelewatan pingsan?" gumam Karina seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Selepas itu, Karina mendekati  meja di samping ranjang, menarik laci paling atas dan mengambil sebuah botol kecil berwarna putih.


Karina membuka tutupnya, Aroma mint langsung menyeruak masuk, membuat perasaan menjadi lebih tenang. Karina mengoleskan isinya pada pelipis dan mendekatkannya di hidung Arion. Mata Arion mulai bergerak, mengerjap perlahan. 


"Karina?" gumamnya saat matanya membuka sempurna. Arion bangkit dan bersandar pada kepalanya ranjang, menatap Karina yang berkacak pingggang.


"Apa? Mau lanjut nyekik aku?" sahut Karina ketus.


"Nyekik? Aku nyekik kamu? Bagaimana bisa?" tanya Arion bingung. Karina mengerutkan dahinya. Menatap selidik Arion. Arion memegang kepalanya pusing.


Ia memejamkan matanya. Kilatan ingatan akan kejadian bangun pagi mulai muncul. Arion membuka matanya dan menatap Karina dengan senyum canggung. Karina tersenyum kecut. 


"Maaf. Aku gelap mata lagi," sesal Arion.


Mengapa aku gegabah? batin Arion kesal.


"Oh. Lagi-lagi gelap mata. Sekalian aja tutup mata selamanya," sarkas Karina tajam membuat Arion tertegun. Hatinya menggerutu kesal.


"Kamu mau aku mati?" tanya Arion tak suka.


"Dulu. Sekarang aku mau kamu tetap hidup dan bersama denganku sampai menutup mata selamanya. Tapi aku salah. Kau malah mau membunuhku lebih dulu," jawab Karina tersenyum kecut.


Hati Arion terasa ngilu mendengar itu. Arion menghela nafas pelan menetralkan perasaannya.


"Hmm …," gumam Arion turun ranjang dan masuk ke kamar mandi.


Karina menaikkan bahunya tak paham. Karina lantas membuka walk in closet, mencari pakaian yang cocok untuk konferensi persnya pukul 10.00 hari ini. Pilihan Karina jatuh pada longdress biru muda.


Karina segera berganti pakaian dan duduk di depan cermin. 


Ceklek. Arion membuka pintu kamar mandi. Pakaiannya belum berganti dan dia belum mandi, hanya mencuci wajah dan menggosok gigi. Melihat Karina yang bersiap menyisir rambut, membuat Arion menghampirinya.


"Biar aku saja," ujar Arion langsung merebut sisir dan mulai menyisir rambut Karina.


"Eh? Tidak perlu," cegah Karina namun Arion tak menggubris.

__ADS_1


"Jadi apa keputusanmu? Empat hari kau pergi. Aku bahkan tak tahu kemana dirimu pergi," tanya Arion pelan melirik wajah Karina yang tampak seduh dari cermin.


"Aku pergi ke kota K. Melihat pembangunan kapal pesiar. Dan keputusanku adalah aku … aku memutuskan berdamai dengan masa lalu. Mengihklaskan kematian guru dan memulai kehidupan baru yang lebih baik dari sebelumnya. Aku sadar guru tak akan tenang jika dendam akan hal itu masih mengakar di hatiku. Bagaimana denganmu Arion?" jawab Karina tenang. Arion menatap rumit Karina.


Dia bisa melakukan itu? Tapi aku tak bisa, batin Arion.


"Aku … em … aku tak tahu," ujar Arion jujur. Jujur saja ia masih dilema akan rencananya.


"Kau pasti masih sulit berdamai bukan. Apalagi aku ikut menghancurkan mafiamu. Tapi kau tenang saja. Aku akan membantumu membangun kembali mafia itu. Dan aku sarankan bahwa kalian bergabung saja dengan kami. Pedang Biru akan menerima kalian dengan tangan terbuka," ucap Karina berusaha  meyakinkan Arion. Arion kembali berpikir. Hatinya bertambah tak karuan.


"Bagaimana dengan bawahanmu? Apa mereka sama sepertimu?" tanya Arion lagi.


"Aku pimpinannya. Dan jika aku katakan A maka itu adalah A," tegas Karina. Karina melirik wajah Arion.


Mencoba menebak apa yang Arion pikirkan. Dahi berkerut, mata menyipit menandakan Arion berpikir keras.


"Sudahlah. Lebih baik kau diskusikan saja dengan Calvin dan Sam," saran Karina memegang tangan Arion yang masih menyisir rambutnya. Mengambi sisir dari tangan Arion dan meletaknya di meja. Karina memutar tubuhnya dan mendongak menatap Arion yang tak fokus.


"Apa kau tak bekerja?" tanya Karina yang membuat Arion tersentak kaget.


"Ah ya. Aku mandi dulu," jawab Arion tergagap dan langsung ngibrit ke kamar mandi. Karina menarik senyum kecil.


Akan aku ikuti dulu jalan permainanmu, Black Diamond, batin Karina seraya mengoleskan satu persatu make up di wajahnya.


Membuat riasan sabagai mana biasanya. Terkesan natural namun elegan dan tegas.


***


Pukul 07. 00 Karina dan Arion melangkahkan kaki mereka menuruni tangga menuju ruang makan untuk sarapan bersama.


"Kamu kapan kembali Sayang?" tanya Maria lembut.


"Tadi malam Ma. Sekitar jam sebelasan," jawab Karina ramah. Melayani Arion sarapan.


"Bukankah lebih baik kamu kembali pagi hari? Bahaya tengah malam kamu kembali. Tingkat kejahatan di kota semakin tinggi," ucap Amri menasehati Karina.


Mafia kelas kakap jumpa penjahat kelas teri Fix mereka akan jadi penyek renyah, batin Arion seraya melirik Karina yang menunjukkan wajah tenang dan santai.


"Maaf Pa. Karina rindu kalian," ucap Karina pelan. Dahi Amri mengerut. 


Tak biasanya anak ini mengalah, batin Amri.


"Mama ngerti Karina. Tapi lain kali jangan diulangi. Oh ya kamu mengapa lama sekali di rumah kamu? Apa segitu rindunya kamu dengan rumah itu?" tanya Maria.


"Hmm … bisa dibilang begitu Ma. Tapi walaupun begitu aku lebih nyaman tinggal di sini. Di sana aku hanya sendiri berteman sepi. Hanya ada para pelayan di rumah. Sedangkan di sini, aku tak sendiri, bisa merasakan pelukan seorang ibu, perlindungan seorang ayah dan cinta seorang suami," terang Karina.


Maria dan Amri tersenyum semakin cerah. Hati mereka berbunga-bunga. Berbeda dengan Arion yang terdiam sepi bergulat dengan pemikirannya. Suara Amri yang memimpin doa makan menyadarkannya. Mereka sarapan dengan hening setelah obrolan pagi.


Selepas sarapan, Arion langsung pamit ke kantor. Karina pun tak mau ketinggalan.


"Tumben kamu pakai gaun ini? Kamu ada acara, Sayang?" tanya Maria pada Karina saat Karina mencium tangannya.


"Iya Ma. Mau kasih Mama dan Papa serta seluruh kota kejutan," jawab Karina.


"Kejutan? Seluruh kota? Memangnya apa? Kamu mau buat makan gratis di cafe kamu? Kalau gitu Mama sama Papa akan bersiap menghadirinya," ucap Amri berbinar.

__ADS_1


"Kalau Karina kasih tau bukan kejutan dong?" sahut Karina tersenyum manis.


"Okelah. Papa tunggu kejutannya. Papa sama Mama akan pasang jantung lebih kuat," ujar Amri seloroh. Karina terkekeh pelan dan segera menyusul Arion yang lebih dulu keluar.


"Kejutan apa?" tanya Arion saat melihat Karina keluar dari kediaman.


"Apa kamu tidak tahu?" tanya balik Karina menekan tombol membuka kunci pengaman mobil putih favoritnya.


Belum sempat Arion menjawab, Terdengar dering handphone Arion menandakan ada notifikasi. Arion segera membacanya. Alisnya menyatu.


"Kamu mau konferensi pers?" tanya Arion.


Karina mengangguk. Arion berpaling dan segera masuk mobil. Perlahan mobil Arion meninggalkan kediaman Wijaya. Sedangkan Karina bersiap masuk ke dalam mobilnya.


"Nyonya, akhirnya Anda kembali. Anda pergi kemana? Mengapa tak mengajar saya."


Suara lantang itu membuat Karina terhenti masuk mobil. Ia kenal betul suara itu. Siapa lagi kalau buka Didi. 


Karina menoleh ke sumber suara.


"Nyonya Anda mau kemana? Saya antar ya. Saya kan sopir khusus Anda. Serba bisa lagi," ucap Didi percaya diri.


"Tak perlu. Aku sendiri saja. Lagian kau tak bisa membawa mobilku ini," tolak Karina halus.


"Anda tenang saja. Mau kendaraan apapun saya bisa bawa. Pesawat ruang angkasa pun jika Nyonya memintanya akan saya jalankan," kekeh Didi. Karina menghela nafas kasar. 


"Masuklah! Duduk di sampingku," titah Karina segera masuk mobil. Didi membeku namun tetap menurut.


"Lebih baik saya saja yang membawanya Nyonya," ujar Didi.


Wajah dan sidik jari dikenali. Seluruh sistem aktif. Mobil siap melaju.


Suara jelas bergema di dalam mobil. Didi menatap Karina bingung.


"Jangan bingung. Kan sudah ku katakan bahwa kau tak bisa membawanya. Selain ini, knop pintu juga dilengkapi dengan sandi hologram," jelas Karina menjawab kebingungan Didi. Didi mengangguk paham.


Pantas saja Nyonya tidak memperbolehkan siapapun membawanya, batin Didi.


"Tapi ini bisa dibawa oleh orang yang aku kehendaki. Itu pun harus ada tanda pengenal khusus. Contohnya Pak Anton," tambah Karina.


Karina melirik Didi yang tampak canggung duduk di sampingnya. Apalagi dengan posisi Karinalah yang menyetir.


Didi melirik Karina heran, ia baru sadar bahwa jalan yang mereka lalui bukan mengarah ke cafe. Tak tahu mau kemana sebenarnya nyonyanya ini. Karina menarik senyum tipis lalu memutar lagu memecah keheningan.


"Em … Nyonya kita hendak ke mana?" tanya Didi pelan.


"KS Tirta Grub," jawab Karina santai.


"Hah? Anda mau menghadiri konferensi pers siapa sebenarnya presdir perusahaan itu?" respon Didi.


"Seperti bukan," sahut Karina. Didi lagi-lagi mengerutkan dahinya.


"Bukan? Lantas?" tanya Didi lagi.


"Kau akan tahu setelah kita sampai di sana," jawab Karina menatap fokus jalanan. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang melewati gedung-gedung tinggi perkotaan.

__ADS_1


__ADS_2