
Sam menghirup nafas dalam-dalam. Ia menatap kesal Calvin.
"Habis makan apa loe Vin?? Bau banget tangan loe!!" tanya gerutu Sam.
"Hehehehehe ... gue tadi makan jengkol plus petai ditambah ikan asin. Kalau gak percaya nih coba cium nafas gue …," jawab Calvin dengan santai dan pedenya menghembuskan nafasnya ke arah Sam dan Ferry. Sontak Ferry dan Sam langsung menjauh dari Calvin seraya menutup hidung mereka.
"Benarkah?? Apa kalian takut dengan dia??" tanya Karina melirik Arion. Arion tetap diam menghabiskan makan siangnya.
"Iya Kakak ipar, kami sudah makan," jawab Calvin. Karina mencium bau tak sedap setelah Calvin berbicara.
"Apa kau tak sikat gigi?" sinis Karina. Calvin hanya terkekeh.
"Belum Kakak ipar. Kalau begitu aku pergi dulu ya Kakak ipar. Masih banyak pekerjaan," ucap pamit Calvin segera keluar dari ruangan Arion.
"Apa kalian akan tetap di sini juga??" tanya Karina halus dengan maksud mengusir Sam dan Ferry dari ruangan Arion. Arion kini sudah menyelesaikan makan siangnya. Ia menatap harap Sam dan Ferry agar tetap berada di ruangan Ini.
Sam dan Ferry saling berpandangan ragu. Di satu sisi mereka takut dengan Arion dan di sisi lain mereka lebih takut dengan tatapan tajam Karina yang terasa menusuk tulang tanpa disadari. Terlebih lagi mereka ingat akan ucapan Karina yang akan membuat Arion jadi soto.
Akhirnya mereka memilih meninggalkan Arion.
"Ah ... iya Kakak ipar aku juga masih banyak pekerjaan di kantor. Kalau begitu aku pergi dulu ya," pamit Sam langsung kabur dari ruangan Arion.
"Dan kau?" tanya Karina pada Ferry.
"Emm ... aku juga akan pergi untuk makan siang Nyonya muda. Inikan jam makan siang," ujar Ferry langsung keluar juga dari ruangan Arion.
Arion hanya bisa meratap dalam hati.
Punya sahabat sama sekretaris kayak kampret gue, ratap Arion dalam hati.
Karina memalingkan wajahnya menatap Arion. Tak lupa senyuman manis di bibir Karina yang membuat bulu kuduk Arion berdiri walaupun dia tak tahu apa yang menyebabkan dia mempunyai rasa takut bila berada di depan Karina.
"Saatnya menghukum suami yang kepergok selingkuh di kantor," ucap Karina menatap Arion yang mulai berkeringat dingin.
"Lan ... tas apa yang akan kau lakukan pada suamimu ini?" tanya Arion takut-takut.
"Apa ya? Hmm ... tunggu sebentar ya," jawab Karina yang berlagak sedang memikirkan sesuatu yang amat penting.
Tak lama terdengar telepon kantor yang berada di meja kerja Arion berbunyi. Arion hendak bangkit menjawab telepon itu namun segera dihentikan Karina.
"Biar aku saja," ujar Karina berdiri menuju meja kantor. Arion kembali duduk. Karina mengangkat telepon kantor yang berbunyi itu.
"Ya?" ucap Karina dingin.
"Ah ... Nyomya muda, saya Rita resepsionis di lobby. Nyonya ada kiriman untuk Anda," ujar Rita dari seberang telepon.
"Apakah dari Tirta Fashion??" tanya Karina.
"Benar Nyonya muda," jawab Rita.
"Baiklah. Kau antarkan itu ke ruangan CEO," tegas Karina menutup telepon.
Arion menatap Karina menanyakan siapa yang menelpon
"Resepsionismu," jawab Karina.
"Memangnya siapa tamu yang akan datang?" tanya Arion penasaran. Pasalnya hari ini ia tak ada janji temu dengan relasi bisnisnya.
__ADS_1
"Hukumanmu," jawab Karina acuh tak acuh.
"Hukuman?" beo Arion. Ia sudah berfikir yang tidak-tidak. Ia mengingat ucapan Karina jika dirinya selingkuh dan membayangkan adik kecilnya disunat lagi.
**Tok ....
Tok ....
Tok** ....
Terdengar pintu ruangan Arion diketuk dari luar.
"Masuk!" perintah Arion.
Rita masuk ke dalam ruangan Arion dengan membawa paperbag berwarna biru.
"Nyonya muda ini kiriman Anda," ucap Rita tersenyum menyerahkan paperbag itu pada Karina. Karina dengan ramah mengambilnya.
"Terima kasih, Rita," ujar Karina.
"Saya permisi kembali ke lobby
Tuan muda dan Nyonya muda," pamit Rita meninggalkan ruangan Arion.
Apa yang akan dilakukan olehnya?? Mengapa paperbag itu membuatku merinding? batin Arion.
Ingin rasanya ia lari dari sana dan berlari ke pelukan Joya yang sangat ia rindukan. Namun apa daya ia tak punya kekuatan untuk melakukan itu.
"Ini untukmu," ujar Karina menyerahkan paperbag itu pad Arion. Arion menerimanya ragu.
"Apa ini?" tanya Arion melihat isi paperbag. Ternyata isinya adalah pakaian cheerleader berwarna merah muda lengkap dengan wig dan juga sepatunya.
"Maksudmu aku memakai ini sama seperti aku pakai gaun pengantin seperti dulu?" tanya ragu Arion.
"Hmm …," jawab singkat Karina yang dengan santainya membuka laptop Arion dan juga berkas-berkas di atas meja.
"Tidak …," teriak Arion menolaknya.
"Why? Itu bagus loh! Aku yang pilih lagi," ucap Karina santai.
"Mau taruh di mana harga diri aku Karina??!!" ujar Arion menahan emosi karena selalu disuruh memakai gaun atau apapun yang berhubungan dengan wanita.
"Ya di mukalah. Masa di lutut sih?" jawab Karina santai.
"Bagaimana?"
"Tidak. Aku tak mau memakainya. Lebih baik aku keluar saja," jawab Arion meletakkan paperbag itu dan berjalan menuju pintu.
"Baikah jika kau tak mau. Aku tinggal mengirim video mesummu dengan kekasih masa lalumu di kantor tepat setelah dua hari pernikahan digelar, ditambah saat istri sah berkunjung dan memergokinya sendiri kepada media," ujar Karina santai memainkan handphonenya. Langkah Arion terhenti. Namun ia tak berbalik.
"Aku yakin reaksi publik akan wah ... mungkin juga kau akan kehilangan beberapa relasi bisnis atau juga bisa saham Jaya Company menurun,"ujar Karina santai namun mematikan.
Arion tetap diam dan tak berbalik. Karina melanjutkan ucapannya.
"Padahal jika kau menurutinya aku mau membantumu mendapatkan proyek kerja sama dengan KS Tirta Grub. Tapi kau menolaknya padahal kau yang salah," ucap Karina yang langsung membuat Arion berbalik.
"Apa yang kau katakan? Apa aku tak salah dengar?" tanya Arion.
__ADS_1
"Hmmm ... tapi kau menolaknya. Hatiku sakit. Sudahlah aku akan pulang dan mengambil koperku lalu kembali ke rumahku sendiri. Dan kau bersiaplah menerima surat gugatan cerai dariku," ucap sedih Karina bangkit dari kursi dan berjalan mendekati pintu di belakang Arion.
"Tunggu!!! Bagaimana caramu melakukannya?" tanya Arion mencekal tangan Karina.
"Apa kau lupa sahabatku adalah asisten dan juga sekretaris pribadi presdir perusahaan itu?" tanya balik Karina memalingkan wajahnya menatap Arion dan melepaskan cekalan Arion.
Ya bisalah. Kan itu perusahaan milikku! sinis Karina.
Di satu sisi Arion bahagia bahwa Karina mengatakan akan menggugat cerai dirinya. Jika itu terjadi maka ia bisa kembali berhubungan dengan kekasih masa lalunya yang telah kembali. Namun di sisi lain ia bimbang akan tawaran Karina dan juga ancamannya. Jika Karina benar-benar akan menggugat cerai dirinya dan mengekspos masalah tadi ke publik maka akibatnya akan lebih banyak kepada Arion sebagai tergugat. Arion menghela nafas panjang.
"Baiklah aku akan menerima hukumanku ini sebab aku yang salah," ujar Arion yang membuat Karina menampilkan senyum devilnya.
Biarlah aku melakukannya. Asalkan bisa berhasil menjalin kerja sama perusahaan terbesar itu maka masa depan Jaya Company akan seperti namanya, Jaya. Lagipula aku kan masih bisa berhubungan dengan Joya di belakang Karina. Berakit-rakit ke hulu. Berenang-renang ketepian, batin licik Arion.
Hmm ... dasar bod*h!! Tikusnya sudah mulai masuk perangkap. Tinggal menunggu waktu yang pas untuk menangkapnya, batin Karina tak kalah licik.
"Baiklah. Cepat sana kamu ganti pakaian kamu. Jangan lupa pakai wig dan sepatunya juga ya," ucap Karina berbalik dan duduk di sofa. Arion kembali memantapkan hatinya.
Demi perusahaan dan juga Joya, semangatnya dalam hati.
Perlahan Arion kembali mengambil paperbag yang ia letakkan tadi dan berjalan menuju kamar mandi untuk bertukar pakaian.
Karina dengan santainya memainkan handphonenya. Ia terlihat seperti melakukan sesuatu.
*Terima pengajuan kontrak kerja sama dari Jaya Company. Dalam 30 menit aku mau sudah ada pertemuan pertama dengan presdir Jaya Grub di kantornya.*
Karina mengirim pesan kepada Raina. Tak lama terdengar suara pesan di balas.
*Baik Nona. Tapi bolehkan saya tahu mengapa mendadak sekali?*
*Alasannya besok akan aku jelaskan. Laksanakan saja perintahku ini!* jawab Karina membalas pesan Raina.
*Baik Nona," jawab Raina membalas pesan Karina.
Suruh siapa selingkuh di waktu aku datang. Mau selingkuh jauh-jauh dong jangan di kantor!! Apalagi kau selingkuh dengan sepupuku, batin sinis Karina.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka menampilkan Arion yang memakai rok cheerleader berwarna merah muda di atas lutut dan juga bajunya yang tak memiliki lengan yang hanya sebatas pusar. Tak lupa wig dan juga sepatu berwarna merah muda ikut ambil bagian. Bisa dibayangkan kah?
Jangan lupakan juga kaki panjang Arion yang terbuka yang ditumbuhi bulu kaki serta otot-otot perutnya yang menonjol dari balik baju yang dipakainya.
"Hmm ... seperti ada yang kurang!" komentar Karina menilai penampilan Arion dari atas sampai bawah.
"Apa lagi??!!" tanya Arion mulai kembali kesal.
"Sebentar ya lebih baik kau duduk dulu di sini," ujar Karina menepuk sofa di sampingnya. Arion menurutinya. Wajahnya ditekuk masam.
Karina mencari sesuatu di tas yang selalu ia bawa. Ia mengeluarkan alat make up. Karina mengambil blush on dan mengarahkannya ke arah pipi Arion namun dicekal kembali oleh Arion.
"Apa ini??" tanya waspada Arion.
"Untuk menambah kecantikanmu Sayang. Sudahlah lepaskan tanganmu biar aku meriasmu dari cheerleader yang cantik dan juga seksi. Sekarang ayo pejamkan matamu," ujar Karina lembut pada Arion. Anehnya Arion tak menolak dan langsung menurut.
Karina tersenyum lebar. Ia mulai merias Arion. Satu persatu alat make up diaplikasikan pada wajah Arion hingga pada akhirnya selesai setelah tiga menit merias kilat.
Maka jadilah wajah Arion yang gimana gitu dengan pipi yang merah merona, alis yang tebal namun tak beraturan dan jangan lupakan bibirnya yang merah merona karena listip yang dipakaikan oleh Karina.
"Selesai," ujar Karina. Arion membuka matanya perlahan. Karina sudah siap sedia kaca di depan wajah Arion.
__ADS_1
"Wahh ... hantu ... hantu ... lari Karina ada hantu …," seru kaget Arion menjauhkan wajahnya dari kaca. Ia sangat histeris melihat wajahnya sendiri.