
Pukul 07. 30, Karina dan Arion sudah selesai sarapan dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Arion berangkat duluan. Karina tidak absen dalam mencium telapak tangan Arion. Begitupun Arion, tak pernah absen mencium kening dan menyapa kedua anaknya. Karina melambaikan tangannya saat mobil Arion melaju meninggalalkan kediamannya.
"Anak itu belum bangun?" tanya Karina datar menatap Bik Mirna. Bik Mirna menggeleng.
"Saat saya ke kamarnya tadi, saya lihat dia masih tertidur dan terlihat damai, saya tidak tega membangunkannya, Nona," terang Bik Mirna. Karina terlihat mendengus.
"Ya sudah, saya berangkat ke perusahaan sekarang. Kalau dia bangun, layani dengan baik, bagaimanapun dia tamu. Dan sepertinya hari ini saya pulang cepat," titah Karina.
Bik Mirna mengangguk paham dan menunduk hormat saat Karina memasuki mobil. Setelah Pak Anton menutupkan pintu, Pak Anton segera menuju kemudi dan melajukan mobil menuju KS Tirta Grub.
Selepas mobil Karina hilang dari pandangan Bik Mirna, Bik Mirna segera masuk dan melakukan pekerjaannya. Tak lupa, sekali lagi ia mengecek kamar yang ditempati oleh Syaka. Terlihat, Syaka masih nyenyak tidur dengan memeluk guling.
*
*
*
Lain halnya dengan yang terjadi di apartemen Enji. Penghuni apartemen itu masih nyenyak tidur sambil berpelukan. Padahal ini bukan hari libur. Alarm yang membangunkan sejak subuh tadi pun terlihat teronggok di dekat dinding.
Suhu kamar yang dingin dan selimut yang menghangatkan, membuat mereka semakin nyenyak. Bayu yang biasanya bangun jam 4 pagi pun ikut terlena di dalamnya. Apalagi kegiatan melelahkan di hari libur kemarin.
Pukul 08.00 lewat sedikitlah, barulah Bayu dengan mata yang masih tertutup mengerang lalu tanpa membuka mata melepaskan tangan sang ayah yang berada di pinggangnya. Bayu lalu duduk dan menguap. Tak lama, Bayu membuka mata dan menguceknya. Wajahnya kusut dan meraih kacamatanya. Ia lantas melihat jam dinding. Matanya membulat.
"Astaga?! Aku sangat terlambat! Ayah bangun!"
Bayu mengguncang keras tubuh sang ayah. Enji menggumam dan membalikkan badan membelakangi Enji.
"Ayah bangun! Aku terlambat ke sekolah! Ayah!"
Bayu tak kenal menyerah. Mata Enji membuka lebar saat mendengar kata terlambat.
Dengan segera ia duduk dan melihat jam dinding.
"What the?" Enji membuang selimut asal dan menuju kamar mandi, meninggalkan Bayu yang melongo tak percaya.
Sadar, Bayu ikut turun ranjang dan mengetuk pintu.
"Aduh Bayu, nanti dulu, ayah terlambat meeting!"csahut Enji dari dalam.
"Mandi bareng Yah!" balas Bayu. Terdengar suara pintu dibuka. Bayu segera masuk. Mandi cepat ala mandi burungpun dilakukan.
Berpakaian secara kilat dan terkesan masih acak-acakan, tanpa sarapan dan hanya segelas air mineral yang masuk lambung, mereka segera berlari menuju parkiran di mana motor Enji berada. Tanpa peringatan, Enji memacu kendaraannya kencang menuju sekolah Bayu.
Bayu dan Enji saling pandang dengan wajah tidak percaya, sialan! Ini sejarah terlambat yang Bayu dan Enji alami. Gerbang tinggi berwarna hitam itu tertutup rapat. Enji dengan menarik nafas menekan bel memanggil penjaga gerbang. Penjaga gerbang datang menghampiri mereka dengan wajah galaknya.
Ia memelintir kumisnya sembari menatap tajam Bayu dan Enji. Dengan hati berdebar layaknya jatuh cinta, keduanya meminta agar gerbang dibukakan.
"Pak, tolonglah Pak, saya ada ujian jam 10.00 nanti. Masa bapak tega membiarkan nilai saya kosong, padahal saya bisa mendapatkan nilai sempurna," rengek Bayu.
"Ada apa ini?" tanya seseorang dari belakang penjaga gerbang.
"Ada yang terlambat, Pak."
Penjaga gerbang berbalik dan memberi hormat pada orang itu yang merupakan kepala sekolah.
"Siapa?" tanya Kepala sekolah.
__ADS_1
"Pak Usman," seru Bayu dengan mata memelas.
"Bayu?" Kepala sekolah tampak terkejut. Bayu yang merupakan murid teladan, kini terlambat jauh sekali. Ia kemudian memijat kening lalu menyuruh penjaga membuka gerbang.
"Terima kasih Pak," ucap Bayu dan Enji bersamaan.
"Ikut saya ke kantor," titah Pak Usman.
Enji menahan Bayu sebentar.
"Yu, anak tidak bisa menemanimu, ayah harus ke kantor, ada meeting penting!"ucap sesal Enji.
Bayu mendengus namun menurut. Ia mencium telapak tangan Enji dan berjalan cepat menyusul Pak Usman. Sedangkan Enji, bergegas menaiki motornya dan melaju meninggalkan gerbang sekolah Bayu menuju perusahaannya.
Setibanya di kantor Pak Usman, Bayu dengan santainya duduk di kursi dan menaikkan pandangannya menatap Pak Usman.
"Mengapa kamu bisa seterlambat ini?" Nada datar Pak Usman membuat Bayu menunduk.
"Terlambat bangun akibat kelelahan Pak," jawab Bayu pelan.
Pak Usman menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Ayahmu juga?" selidik Pak Usman. Bayu mengangguk.
"Kalau begitu, hukumanmu bersihkan kamar mandi lalu lapor kemari jika sudah selesai, baru kamu boleh masuk."
Bayu melihat jam tangannya. Tiga puluh menit lagi pukul 10.00, dengan segera Bayu melaksanakan hukumannya. Tasnya ia tinggal di kantor kepala sekolah.
Bayu menggerutu kesal pada sang ayah. Mereka kembali dari markas pukul 10.00, belum sang ayah yang menonton hal dewasa yang membuatnya sulit menutup mata dan akhirnya mengintip sang Ayah yang serius nonton, dan akhirnya ia tidur di atas jam 00.00.
Lima menit lagi sebelum jam 10.00 pas, Bayu sudah kembali dengan wajah basah. Ia melapor pada Pak Usman. Setelah Pak Usman mengatakan ia boleh kembali, secepat kilat Bayu meraih tasnya dan berlari menuju ruang kelasnya.
"Selamat pagi menjelang siang Bu," sapa Bayu menundukkan kepalanya hormat.
"Pagi, Bayu kamu terlambat?" terka Guru itu.
Bayu menggeleng.
"Saya dipanggil ke ruangan Kepsek begitu saya tiba di sekolah dan baru selesai. Maaf tidak mengikuti pelajaran ibu hari ini.
Dahi Guru mengerut, dan mencoba percaya. Senyum Bayu yang manis dan manik mata yang memancarkan ketegasan, membuat Guru tersebut tersenyum. Ia segera berjalan keluar setelah mempersilahkan Bayu untuk duduk.
"Dasar pesilat lidah!" cetus anak perempuan dengan rambut panjang sebahu. Ia melirik sinis ke arah Bayu. Bayu hanya menanggapinya santai. Semenit kemudian, guru matematika datang dan segera memulai ujian.
*
*
*
Amri dan beberapa orang yang ikut dengannya tiba di pinggiran hutan yang dimaksud oleh Rian sewaktu di pesawat. Mereka lantas segera melakukan penyisiran, bukan perkara mudah mencari makam dengan hanya petunjuk tanda batu bulat di atas. Setiap Batu yang mereka dapati dan periksa dengan seksama. Mencari ukiran nama yang tertera di sana.
Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu, sekarang matahari berada di area panas-panasnya. Jam makan siangpun tiba. Namun, belum ada hasil yang didapat. Jelas, yang mereka susuri masih sekitar 400 ratusan meter.
Amri menghela nafas dan menyeka keringatnya. Dua orangnya menggelar tikar dan menyajikan bekal makan siang yang dibawakan oleh Maria untuk mereka. Mereka makan siang dengan tenang di bawah dinginnya pepohonan dan sejuknya anginnya yang lewat.
*
__ADS_1
*
*
Di kediaman Karina, Syaka baru keluar dari kamar dan menuruni tangga. Ia mengedarkan pandangannya dan masih merasa asing dengan rumah Karina. Di bawah, Syaka tidak menemukan seorangpun. Syaka mengerutkan dahinya heran.
"Kemana mereka semua? Apa kakak itu keluar ya?"
Syaka melangkahkan kakinya keluar rumah. Di luar, ia disuguhi pemandangan hijau. Matanya menyipit saat cahaya matahari menyapanya.
"Eh? Sudah bangun Nak?" Syaka menoleh ke belakang. Bik Mirna menghampirinya.
Syaka mengangguk cepat. Bik Mirna merangkul Syaka dan mengajaknya masuk.
"Hm, Bik … kakak itu kemana ya? Sepi sekali rumah," tanya Syaka canggung. Saat mereka di ruang tengah.
"Oh, Nona dan Tuan kan bekerja. Sedangkan para pelayan lain, ya menyelesaikan tugas mereka, Nak. Kenapa hem?" tanya balik Bik Mirna. Syaka menunduk tidak enak. Ia di rumah orang malah berlaku tidak sopan, itulah menurutnya.
Bik Mirna tersenyum lembut dan menepuk bahu Syaka.
"Saya merasa tidak enak pada mereka dan juga sama Bibi. Saya tamu malah baru bangun di jam segini," ucap sesal Syaka.
"Tidak perlu merasa tidak enak. Memang Bibi tidak tega membangunkanmu. Nona juga berpesan begitu. Pasti kamu mimpi indah sebab Bibi lihat kamu tersenyum saat tidur," ucap Bik Mirna.
"Eh? Benarkah?" Syaka tampak terkesiap. Bik Mirna mengangguk.
"Saya, saya mimpi bertemu dan menghabiskan waktu bersama Ayah dan Ibu," lanjut Syaka.
"Ya sudah, kamu lapar?" tanya Bik Mirna. Syaka hendak menggeleng, namun suara perutnya lebih cepat menyahut. Syaka memegang tengkuknya malu dan canggung.
Perut memang tidak bisa berbohong! batin Syaka. Bik Mirna tertawa renyah dan segera mengajak Syaka ke dapur.
"Duduklah dan makanlah!" ujar Bik Mirna menyuruh Syaka. Syaka menggeret salah satu kursi dan duduk. Matanya berbinar melihat makanan di meja yang ia nilai sesuai porsinya, tidak berlebihan.
Air liurnya seakan jatuh, dengan segera ia membalikkan piring, menyendok nasi hangat dan mengambil lauk dan pauk. Sayur bening dengan ikan baronang goreng dilengkapi dengan sambalnya. Uh, makan siang yang lezat.
Saat hendak makan dengan semangat, tiba-tiba saja Syaka menarik tangannya dari atas piring dan menatap Bik Mirna.
"Gak ada kerupuk?" tanya Syaka.
Bik Mirna menggeleng cepat.
"Kalau begitu saya tidak bisa makan," tambah Syaka.
"Mengapa? Kamu biasa makan pakai kerupuk ya?" Syaka mengangguk. Teringat pesan Karina untuk melayani Syaka dengan baik, Bik Mirna melangkah keluar dan memanggil pelayan pria yang sedang membereskan taman.
"Saya," ucap pelayan itu memenuhi panggilan.
"Kamu pergi ke market, beli kerupuk tenggiri, satu sudah digoreng dan satu lagi belum. Ini uangnya, sisanya buat kamu," suruh Bik Mirna. Pelayan itu mengangguk cepat dan segera menuju motor yang terparkir di bagasi.
Tak sampai sepuluh menitan, pelayan itu kembali dengan membawa dua plastik putih dan segera memberikannya pada Bik Mirna.
"Saya beli ini ya," ujarnya mengambil sereal berserta susu yang ia beli dari kembalian beli kerupuk.
Bik Mirna mengangguk dan segera kembali ke meja makan. Terlihat, Syaka yang menunggu tidak sabar.
"Ini, makanlah." Bik Mirna menyodorkan satu bungkus kerupuk yang sudah digoreng pada Syaka. Syaka berbinar dan segera membukanya. Kini, suara kerupuk yang pecah di mulut terdengar jelas.
__ADS_1
Syaka makan dengan lahap dan menghabiskan makanan di atas meja. Ia bersendawa pelan dan memegang perutnya yang kekeyangan.