
"Masalah pribadi," ujar Arion. Enji, Maria dan Amri langsung connect sedangkan yang lain bertukar pandang.
"Queen," sapa beberapa orang berseragam biru navy, datang dan memberi hormat pada Karina.
"Hm, urus mereka Lee, masalah selesai bukan?" titah Karina.
"Nee, Queen. Anda tinggal terima kabar beres," jawab Lee. Mengintruksikan orang yang dibawanya agar membawa Nara, Nira, Nana dan Nari ke mobil. Mereka mengangguk dan bergegas melaksanakan.
"Oh ya jaga markas dan semuanya di negara ini dengan baik. Aku dan keluarga akan langsung ke bandara sekembalinya dari sini," pesan Karina, Lee mengangguk patuh dan segera izin pamit.
"Hah, akhirnya selesai juga," ucap lega Karina, mendaratkan tubuhnya duduk di bawah pohon kelapa. Guratan senja mulai tergambar di langit.
"Apakah kalian langsung pulang? Tak bisakah tunda sampai besok?" tanya sedih RJ.
"Tak bisa Mas Ganteng, masih ada urusan penting yang harus kami selesaikan. Jika ada kesempatan lagi, kami akan berlibur lagi kemari atau kalian yang berlibur ke rumahku?" jawab Karina.
"Begitu ya? Kalau begitu kami pegang janjimu lagi," ucap RJ. RJ, tersipu saat Karina memanggilnya Mas Ganteng dan Arion menggenggam erat tangan Karina.
"Hah, bagaimana jika kita liburan bareng ke negara lain? Maladewa, Prancis, Bali, Yunani? Atau Kutub Utara, Mesir, Swiss atau negara mana saja?" saran Mang gembira.
"Lah? Aku setuju!" timpal Kuki dan Tata bersamaan.
"Ke Dubai saja," ucap Agus.
"Eit, ke Yordania saja," saran Chimmy.
"Kemana pun perginya nanti, jangan lupa bawa saku yang banyak serta kalian harus belajar bahasa Inggris lebih giat lagi. Masa' kalah dengan Bayu," tukas Koya, sang leader memberi himbaun.
"Hm, okey," sahut keenam member.
"Bagaimana Karina, Ar?" tanya Maria penasaran, namun wajahnya menunjukkan Karina menjawab iya.
"Ya, boleh-boleh saja sih, tapi kalian jadi bandarnya ya?" sahut Karina.
Mereka bertujuh mendengus sedangkan yang lain tertawa.
"Mari kita cari tempat makan dulu, perut Papa sudah berbunyi," ajak Amri. Yang dijawab anggukan kepala oleh yang lain.
Mereka berjalan mencari tempat makan terdekat. Pilihan mereka jatuh pada sebuah cafe yang langsung menghadap ke pantai. Cocok sekali untuk menikmati makanan dan minuman ditemani deburan ombak dan senja di ufuk barat.
Mereka memesan ruangan khusus yang kebetulan tersedia di sana. Memesan makanan sesuai selera dan langsung dilayani oleh pemilik cafe. Tentu mereka tahu siapa tamu mereka yang banyak ini. Arion numpang kamar mandi untuk bertukar pakaian.
"Kak, kau harus berterima kasih pada Bayu, sebab karena ulahnya kakak dapat membasmi mereka," celetuk Enji. Menunggu pesanan tiba. Bayu menunduk takut dan Karina menaikkan alisnya. Enji segera menceritakan apa yang terjadi tadi. Seketika koor tawa pun pecah.
Enji mendatarkan wajahnya. Ia menatap tangannya kanan dan tersenyum tipis.
"Wah, Bayu kamu tak sabar ya mau punya ibu baru?" terka Maria.
"Hehe, habisnya kasihan ayah sering lihat film." Belum sempat Bayu menyelesaikan ucapannya, mulutnya ditutup oleh sang ayah.
Ups, hampir keceplosan, batin Bayu.
"Film apa? Zi lepaskan Bayu!" tegas Karina.
"Film romantis," tukas Enji tersenyum dan melepaskan bekapannya.
"Ya ayah sering lihat film romantis di kamar dan dia selalu terbayang akan hal itu setiap tidur. Aku saja terganggu dengan suara igauannya," terang Bayu.
Bukankah itu juga film romantis? pikir Bayu.
Suara oh keluar serentak. Tak lama makanan dan minuman pesanan mereka datang.
__ADS_1
"Eh, bukankah Anda pemilik restoran yang baru diresmikan tadi pagi? Star Blue ya?" heran salah seorang pelayan cafe, terkejut dengan Karina dan keluarga, dan Bangtan Boys telah jadi bagian dari keluarga mereka.
"Hm, ada masalah dengan itu?" sahut Karina datar.
"Ah tidak Nyonya, saya hanya heran, Anda punya restoran sendiri mengapa harus makan di sini?" tanyanya bingung.
Hm, Karina menerka bahwa pelayan kecil ini adalah anak baru dan suka blak-blakan tak mengenal tempat dan pada siapa ia bicara.
"Lalu apa masalahnya?" tanya ulang Karina.
"Jika punya dapur sendiri mengapa harus makan di dapur orang?" tanyanya lagi. Karina mengeryit tak suka.
"Bekerjalah dengan baik, dan lebih sadar lagi kau bicara dengan siapa," tegas Karina. Mulai menyantap makanannya dengan hati dongkol. Memangnya perut bisa diajak kompromi?
"Yura!" panggil lantang pemilik cafe, dia merasa was-was saat tahu dari karyawannya yang lain tentang Yura.
"Ah ya madam," sahut Yura.
"Anak baru dan anak kemarin sore. Perangainya mirip anak orang kaya yang manja, sepertinya ia selalu memberi ataupun makan di tempat kepunyaan sendiri dan baru pertama bekerja," ucap Arion.
"Tak usah hiraukan," ucap Karina.
Akhirnya mereka makan dengan tenang seraya menikmati indahnya matahari terbenam di ujung pantai. Senja perlahan berubah menjadi gelap. Suara kencang azan dari handphone Arion dan Karina membuyarkan suasana. Mereka, selain Blue Boys melihat kanan-kiri mencari tempat yang bersih untuk beribadah.
"Tanya saja pemilik cafenya," ucap Amri menyarankan. Pemilik cafe datang bersama Yura. Yura memohon maaf atas ketidaknyamanan yang ia lakukan tadi. Setelah mendapat anggukan kepala Karina, Yura undur diri.
"Baiklah Nyonya dan Tuan sekalian, kami ada sebuah ruangan yang cukup luas dan bersih, kan restoran ini berlabel halal, kebetulan saya juga mualaf," tutur pemilik cafe tersenyum.
Kalimat subhanallah terucap. Dengan cepat Karina, Arion, Amri, Maria, Bayu dan Enji menuju ruangan yang ditujukan oleh pemilik cafe. Alia Maria titipkan pada Mang, Tata dan lainnya mengerubungi Mang bermain dengan Alia.
"Uluh, imutnya. Ngomong-ngomong ada yang tahu ini anak siapa?" tanya Tata.
"Anaknya kakek dan neneknya Arion Hyung, mereka berdua tewas katanya," jelas Koya.
"Oh," sahut Tata, Chimmy, dan Kuki.
"Hebat, tua-tua masih bisa buat anak," seru Agus.
"Ya kalau takdir mau bilang apa?" tanya Mang.
***
Selepas beribadah dan berbincang sejenak lagi dengan para member Boy Band, Karina dan keluarga Wijaya bersiap menuju bandara, tentu saja diantar oleh mereka bertujuh.
"Hati-hati di penerbangan, jangan sampai pesawatmu meledak lagi," ujar RJ, memeluk Arion dan menyalami Maria dan Amri.
"Tentu," jawab Arion.
"Karina, kabari kami jika kau ada waktu," pesan Agus.
"Bukankah harusnya kalian yang mengabari kami?" tanya Enji, menaikkan alisnya.
"Eh, benar juga ya?" tanya balik Tata.
"Ya, sebelum tambah malam, kami berangkatnya," pamit Karina.
"Okey, see you next time," sahut Koya.
Karina dan keluarga menaiki tangga pesawat. Karina dan Arion melambaikan tangan mereka tanda berpisah. Tentu saja dibalas oleh Blue Boys. Blue Boys menjauh saat pintu pesawat tertutup. Mereka dengan lekat menatap kepergian pesawat sampai take off.
"Ah, ayo kita pulang, rasanya lelah sekali," ajak Chimmy.
__ADS_1
Para member setuju dan segera menuju mobil dan kembali menuju markas mereka alias asrama.
***
"Kak aku tidur ya," ujar Enji, menguap lebar.
"Ayah tutup mulutmu biar gak masuk lalat, eh setan maksudnya," tegur Bayu.
"Memang di pesawat ada lalat sama setan?" tanya Enji menyipitkan matanya.
"Mana tahu ada kan?" balas Bayu.
"Sudah, mengapa kalian ribut saja? Anak dan Ayah debat saja kerjanya? Sudah sana kalau mau tidur, gak ada yang ngelarang kok," tukas Amri, jengah dengan perdebatan Enji dan Bayu. Sedangkan Arion dan Karina malah diam saja dan menonton.
Enji dan Bayu berjalan menuju kamar yang tersedia.
"Karina kita langsung pulang kah?" tanya Maria.
"Tentu gak dong Ma, kita ke negara kakek dulu. Nyelesain masalah perusahan dan mafianya," jelas Karina.
"Papa ambil alih saja perusahaan dan mafia kakek? Bukankah memang seharusnya Ayah yang mewarisinya," ucap Arion. Amri menggeleng.
"Kalian saja yang mengelolanya. Bukankah sudah dilimpahkan pada kalian? Mama dan Papa sudah sepakat bahwa kami tidak mengambil itu. Kami mau pensiun saja dan menikmati hari tua tanpa beban pekerjaan," tutur Amri.
"Iya Ar, Karina, kalian saja yang kelola, nanti jika Alia sudah cukup dewasa, baru kita serahkan padanya, kami ingin fokus merawat Alia yang adik serasa anak ini," imbuh Maria menatap lembut Alia. Alia menunjukkan semua manisnya.
"Oh, baiklah Ma, Pa, kalau begitu, perusahaan Arion yang kelola dan mafia, Karina yang ambil alih, setuju?" ujar Arion.
"Hm, boleh," sahut Karina.
"Terserah kalian mau kelola yang mana, asalkan amanah," tegas Amri. Arion dan Karina mengangguk.
Karina lantas mengambil laptopnya dan memeriksa laporan yang dikirimkan oleh para bawahannya. Begitupun dengan Arion, mulai bekerja seraya menunggu waktu pendaratan di negara B.
Karina tersenyum tipis membaca laporan dari Lee bahwa keempat wanita tadi telah diurus dan telah dimakamkan. Sedangkan harta atas nama kepemilikan mereka masuk ke kas Pedang Biru sebagai harta rampasan perang atau duel.
Karina tambah tersenyum membaca pesan dari agen rahasia yang mengatakan bahwa musuhnya yaitu bintang berkobra telah berhasil dilacak dan kini dalam pengejaran serta beberapa anggota telah tertangkap. Di antaranya adalah pelaku yang membuat Arion kecelakaan.
Getar handphone Karina membuat Karina meraih handphonenya.
"Darwis? Tumben dia nelpon aku?" gumam Karina.
"Angkat saja Yang," ujar Arion. Karina segera menjawabnya.
"Ada apa?" tanya Karina datar.
"Karina, aku sedih sekali," aduh Darwis, dengan nada lirik.
"Ada apa rupanya? Bicara yang jelas, atau satu jam lagi kau menelponku, aku lagi di pesawat," ujar Karina langsung mematikan panggilan.
"Ganggu saja!" gerutu Karina.
***
Darwis menghela nafas kasar. Ia mau marah pada Karina namun tak bisa. Darwis kini berada di rooftop rumah sakit, setelah Joya tertidur, berteman dengan udara dingin dan penerangan yang remang-remang.
Rian dan Satya masih dalam perjalanan dinas bisnis. Awalnya ia menghubungi Karina untuk curhat, tapi di saat yang tidak tepat.
"Ah, mengapa harus dia? Mengapa tak aku saja?" Ucapan itu lagi, Darwis mengesah dan mengangkat pandangannya menatap langit yang kosong.
Tapi apapun itu, harus aku dan Joya jalani dengan baik dan sekuat tenaga. Tak ada kata tidak, kami pasti bisa. Kalau begitu satu jam lagi aku akan menelpon Karina. Lebih baik aku kembali ke ruangan Joya saja, pikir Darwis, menuruni tangga dan kembali ke ruangan Joya.
__ADS_1