
"Kau berubah pikiran Nyonya Elsa. Ternyata dugaanku benar. Rasa cintamu begitu besar. Hingga besarnya bencimu masih di bawah cintamu. Cinta memang aneh dan tak bisa dimengerti dengan logika," ucap Karina datar.
"Kau salah Nona. Awalnya memang benciku di atas cintaku, namun cerita dan informasi dari pelayan setia di rumah ini membuat besar cintaku naik dan berada di atas kebencianku, Mas aku memaafkan apa yang telah kau lakukan selama ini, ternyata sekuat apapun rasa benciku, masih kuatan lagi rasa cintaku," sahut Elsa datar juga.
"Tapi sayangnya aku tak bisa memaafkan apa yang dilakukannya pada keluargaku. Jika memang begitu kau sekarang adalah musuhku." Karina tersenyum. Ia melepaskan cengkramannya pada kerah baju Reza. Reza terbatuk namun hatinya lega.
"Berarti kau memilih mati Nona," ujar Elsa bersiap menarik pelatuk. Sebelum pelatuk benar-benar ditarik, Karina dengan sigap melakukan tendangan pada Elsa hingga Elsa terjerambab ke belakang. Setengguk darah ia muntahkan. Karina mendekati Elsa yang mengusap darah pada bibirnya.
Ketiga pelayan rumah, yang awalnya bersembunyi keluar dan menodongkan senjata pada Karina. Dua pedang dan satu pistol, didapat dari mayat penjaga.
"Diam di tempatmu Nona, atau kami akan melukaimu!" pekik Bik Asi. Karina yang sudah mulai kehilangan kendali tidak peduli. Ia mengeluarkan pena lasernya. Mengubahnya menjadi pedang laser biru. Bik Asi dengan perasaan gemetar, melepas tembakan terhadap Karina.
Dor.
Ugh!
Tembakan itu tepat mengenai bahu kanan Karina. Chimmy membekap mulutnya sendiri. Ia ingin berlari menolong Karina tetapi tak ada keberanian. Seakan bukan masalah Karina mendekati Bik Asi lebih dulu. Bik Asi gemetar. Ia kehilangan kekuatannya dan luruh ke lantai melihat mata Karina. Matanya memerah haus akan darah.
Srak.
Satu kali tebasan, kepala Bik Asi pisah dari tubuhnya. Sri dan Iren membulatkan matanya mereka, sedangkan Elsa memejamkan matanya.
"Elsa, kau membuatku ingin membunuh kalian semua!" pekik Karina kencang.
Elsa dengan membuka matanya sebelah kembali menarik pelatuk dan ingin menambak Karina. Karina kembali melakukan tendangan dan mengenai pistol tersebut. Itu terlempar jauh memasuki kolong meja.
Karina melempar pandangannya ke arah Iren dan Sri.
"Letakkan pedang itu atau mati!" ucap Karina datar.
Iren dan Sri saling pandang dan menggeleng keras. Karina berdecih.
Ketiga orang itu bertarung, Karina merasakan bahu kirinya nyeri namun ia abaikan. Lebih besar lagi hasrat membunuhnya. Memanfaatkan situasi, Elsa dengan diam-diam mendekati Reza dan hendak membawa pergi.
Karena kemampuan tarung yang rendah tetapi merasa mampu, kedua orang pelayan itu meregang nyawa di tangan Karina.
Karina mengedarkan pandangannya dan menemukan Elsa yang berusaha membantu Reza berjalan, menuju pintu.
"Mochi!" panggil Karina lantang. Chimmy otomatis datang dengan wajah takut.
"Kejar dua orang itu. Ayo!" titah Karina langsung mengejar diikuti Chimmy. Karina mengambil pistolnya dan membidik Elsa.
Dor!
Satu tembakan berhasil mengenai Elsa. Elsa diam dan tumbang seketika.
"Elsa!" pekik Reza jatuh meluruh di samping mayat Elsa yang tengkurap.
"Mati!" gumam Karina. Ia dengan langkah santainya kini mendekati kedua insan yang sudah berbeda dunia itu. Reza dengan susah payah meletakkan kepala Elsa di pangkuannya. Menangis dan menangis.
Chimmy menyusul dan turut bersedih melihat pemandangan di hadapannya kini. Ia menoleh ke arah Karina dan melihat Karina memegang bahu kanannya, terlihat meringis tertahan.
"Bawa mayat itu ke mobilku!" titah Karina datar, langsung menarik kembali kerah piyama Reza.
__ADS_1
"Tidak! Jangan pisahkan aku dengan Elsa!" ratap Reza berusaha memberontak namun tak bisa.
"Ke gerbang!" titah Karina melalui jam tangannya pada mobilnya. Ya sistemnya mobil yang satu ini memang Karina buat berbeda. Iya bisa diperintahkan datang dalam keadaan tanpa pengemudi dalam radius 100-400 meter.
Bersamaan dengan tibanya Karina di gerbang, tiba jugalah si putih di sana. Karina membuka mobil dan mengambil tali. Mengikat erat Reza yang diam dengan tatapan kosongnya. Tak ada lagi semangat hidup dalam dirinya.
Setelah itu, Karina duduk di kursi samping kursi pengemudi, membuka tempat penyimpanan obat-obatan dan membuka jaketnya.
Karina membuka lagi baju yang ia gunakan menyisakan tantopnya saja. Karina melihat luka tembakan Bik Asi. Darahnya keluar tak mau berhenti.
"Kau kemarilah. Bantu aku mengeluarkan peluru sialan ini!" ujar Karina, Chimmy mendekat dan menutup matanya melihat Karina.
"Cepat bantu aku. Bukan menutup mata, ambil pinset itu dan ambil peluru di bahuku ini," kesal Karina.
"Baiklah." Chimmy membantu Karina, mencoba mengambil peluru yang kedalamannya sekitar 2-3 cm meter itu. Untung saja penembaknya amatir, jika tidak pasti akan mengenai rusuk Karina.
"Auh," ringis Karina kala peluru berhasil diangkat. Chimmy meletakkan peluru yang diambilnya di tisu.
Karina menyuruh Chimmy membantunya mengoleskan obat-obatan yang ia butuhkan.Terakhir Karina menyuruh Chimmy membalut perban pada luka itu. Setelah semua selesai, Karina memakai kembali bajunya. Tapi tidak dengan jaketnya. Chimmy mencuci tangan dan alat yang digunakan.
"Jam berapa sekarang?" tanya Karina menyandarkan tubuhnya pada sandaran dan memejamkam matanya.
"Jam 03.30, bentar lagi pagi," jawab Chimmy.
Karina menghela nafas dalam pejaman matanya. Chimmy memilih mengambil mobilnya.
Lima menit kemudian membuka mata dan mengambil handphone mengubungi anggotanya.
"Bereskan semua kekacauan di kediaman Argantara dan taklukan Black Tiger Mafia. Pimpinannya sudah ku takluk tinggal anggotanya," titah Karina. Setelah itu Karina memilih memasukan Reza ke dalam mobil.
"Kita ke kota S. Kau ikut denganku. Ingat satu hal, jangan sampai hal ini keluar dari dirimu. Ini adalah rahasia kita. Jika sampai itu terjadi, kau akan tamat saat itu juga! Paham?" tegas Karina pada Chimmy. Mengangguk patuh. Orang mana yang mau mencari masalah dengan Karina?
Kedua mobil itu mulai melaju meninggalkan gerbang kediaman Argantara. Tak berapa lama kemudian, pasukan Karina yang berjumlah sekitar 20 orang datang dan melakukan tugas mereka.
***
Pagi telah datang. Mentari beranjak naik. Kilau kemilau cahaya pagi melingkupi bumi yang menghadap matahari. Karina bersama dengan Chimmy di belakangnya masih dalam perjalanan menuju kota S. Dengan kecepatan tinggi, keduanya mencapai kota S pukul 07.00 pagi.
Yang dituju adalah pemakaman umum di mana lokasi pemakaman keluarga Karina. Ini adalah hari Senin. Lokasi pemakaman umum masih sangat sepi. Tak ada satupun orang di sini.
Chimmy membuka ikatan pada Reza dan merangkulnya mengikuti Karina.
"Buka matamu Paman. Lihatlah pusaran keluargaku ini!"
Karina menyentuh pundak Reza. Perlahan Reza membuka matanya. Di depannya terlihat 4 pusaran berbeda nama.
Chimmy membantu Reza duduk di dekat pusaran David. Reza menatap penuh penyesalan. Bibirnya menutup rapat.
Karina tersenyum puas dengan itu. Chimmy malah menatapnya sedih. Saat menghapus air matanya, handphone Chimmy berbunyi. Ia melihat siapa yang memanggilnya.
"Leader Hyung?" gumam Chimmy.
"Siapa?" tanya Karina menoleh ke arah Chimmy.
__ADS_1
"RM hyung, aduh aku harus jawab apa?" bingung Chimmy.
"Biar aku yang menjawab," ujar Karina. Chimmy memberikan handphonenya pada Karina.
"Halo," jawab Karina.
"Loh? Kok handphonenya ada padamu Karina?" tanya heran Koya.
"Dia pergi denganku ke kota S," jawab Karina.
"Oh … mengapa kalian tak memberitahuku dan Kuki?" tanya Koya lagi.
"Kalian nyenyak sekali tidurnya. Tak tega aku membangunkannya. Lagipula kami pergi satu jam sebelum subuh," jelas Karina.
"Baiklah. Kalian hati-hatinya," ucap Koya.
"Hm, katakan pada Arion jika sudah sadar nanti, aku akan kembali sebelum jam makan siang habis," ucap Karina.
"Oke," sahut Koya. Panggilan berakhir.
Karina mengembalikan handphone pada Jimin.
"Kakak, kakak ipar, keponakan twinsku, maafkan saya. Maafkan atas kesalahan saya pada kalian semua," tangis Reza.
Tak berapa lama, Reza kehilangan kesadaran dan kepalanya jatuh di atas makam David.
Karina mengecek nadi Reza. Ia menghembuskan nafas kasar.
"Ia telah tiada. Dari denyut nadinya tadi sewaktu ku periksa, ia menderita kanker paru-paru stadium akhir. Tetapi tak pernah ia tampilkan di depan umum," ucap Karina memejamkan matanya.
Chimmy berjongkok dan membantu Karina memberdirikan Reza yang telah tiada. Chimmy lantas merangkulnya seorang diri.
"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Chimmy.
"Mengirim kedua mayat ini ke kamar mereka. Sekarang urusanku tinggal dengan putri mereka. Apakah dia menerima kejadian ini atau tidak," jawab Karina.
***
"Bawa mayat kedua orang ini, letakkan sebaik mungkin posisinya di dalam kamarnya. Lalu letakkan semua berkas ini, ini akan membuatku terbebas dari masalah ini," titah Karina pada bawahannya setelah tiba di markas Pedang Biru kota S.
"Baik Queen!" sahut anggota yang disuruh oleh Karina.
"Ayo sarapan dulu," ajak Karina pada Chimmy.
Chimmy mengangguk dan segera mengikut Karina ke ruang makan. Pelayan segera menyiapkan sarapan untuk Ketua dan tamunya ini. Mereka makan dengan tenang walaupun sesekali Chimmy melirik Karina yang makan dengan lahap.
Lima belas menit kemudian, sarapan mereka habis. Karina mengelap bibirnya dengan tisu.
"Ada yang mau kau tanyakan, Chim?" tanya Karina.
"Eh?" kaget Chimmy.
"Em … sebenarnya apa yang barusan terjadi. Aku masih heran dan bingung," tanya Chimmy. Karina tersenyum dan menceritakan apa yang terjadi dengan jelas dan detail.
__ADS_1
"Jadi kau baru saja membunuh Pamanmu dan bibimu?" Chimmy seakan tak percaya.
"Sudahlah. Ayo kita kembali. Jangan dipikirkan," tegas Karina mengajak Chimmy kembali ke kota C setelah mobil keduanya dibersihkan.