
Lila dan Gerry berjalan bersama sembari bersenandung ria. Mereka baru saja kembali dari masjid markas yang letaknya terpisah dari bangunan utama. Wajah mereka tetap ceria seperti biasa. Seakan tidak ada beban di pundak. Langkah Gerry terhenti di pintu kamarnya.
"Hati-hati Lil," ujar Gerry mengingatkan.
"Apaan sih? Cuma beda sedikit saja kok," sahut Lila dengan senyum manis menampakkan giginya.
"Namanya musibah siapa yang tahu, atau aku antar saja?" tawar Gerry. Lila menggeleng.
"Tidak perlu. Masuklah," tolak halus Lila. Gerry menghela nafas dan mengangguk. Lila melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
Ceklek!
Pintu ia buka lebar sampai menyentuh dinding. Lila menyalakan lampu kamar.
Betapa terkejutnya ia melihat ranjang yang diisi dua insan. Satu pria dan satu wanita. Kalau yang wanita, Lila tahu, dia adalah Sasha, sedangkan sosok pria yang tangannya memeluk pinggang Sasha dan tampak nyenyak tidur, Lila merasa familiar dengan punggung pria itu. Lila mendekat perlahan dan melihat wajah pria itu. Mata Lila membulat sempurna.
"Sam!" pekik Lila, pekikannya menggema di kamar. Membuat Sasha sontak membuka mata. Sam mengerjapkan matanya dan mengangkat tangannya dari pinggang Sasha.
"Ada apa, Sayang?" tanya serak Sam. Sasha terperajat, dengan segera ia duduk dan menoleh ke sampingnya. Matanya terbelalak melihat Sam yang mengucek mata.
Pandangan Sasha beralih ke Lila. Wajah Lila merah padam karena marah, dadanya terlihat naik turun. Tangan Lila mengepal, seakan bersiap menghajar Sam. Otak Sasha seketika mencerna apa yang terjadi.
"Kak, ini tidak seperti yang kamu kira. Aku tidak ada apa-apa dengan suami kakak. Aku tidak tahu kapan suami kakak masuk ke kamar ini. Aku kira itu kakak. Kak Lil, jangan salah paham ya," jelas Sasha cepat, bangkit dan mendekati Lila.
Mata Sam membuka sempurna mendengar suara wanita lain. Ia menoleh ke ranjang tempat Sasha tidur tadi, jelas kosong. Sam menoleh ke samping berlawanan lagi.
Pertama Sam melihat Sasha dengan wajah panik.
Ada petir kecil seakan menyambar diri Sam. Tatapan Sam lalu terkunci pada mata dan wajah marah Lila.
Jeder!
Lagi-lagi petir seakan menyambar dirinya.
Mati aku! Dua kali Lila memergokiku!cetus Sam dalam hati.
"Sayang, aku … aku tidak ada apa-apa dengan Sasha. Aku kira itu kamu, malah mata aku sudah minus lagi, langsung tidur deh aku," jelas Sam yang dihadiahi tamparan di wajah. Sam memegang pipinya yang panas dan sakit bersamaan. Belum lagi telinganya yang berdengung dan kepalanya yang terasa pusing.
Sasha membekap mulutnya sendiri. Dengar suara tamparannya saja ngilu, apalagi rasanya. Satu hal dari Lila, tamparan Lila terkenal paling sakit di KS Tirta Grub, paling ringan bibir robek akibatnya.
Sasha meringis dan segera izin keluar. Lila melirik kepergian Sasha sembari mengebaskan tangannya yang terasa kebas, panas, dan juga gemetar. Lila menatap datar Sam.
"Ternyata kamu memang buaya. Kemarin si medusa itu, sekarang kamu tidur dengan adik sekantor aku. Kamu ini maunya apa sih?! Kemarin sore ngumumin pernikahan dengan Dayana, malamnya malah tidur dengan wanita lain. Murahan, enggak ada bedanya sama kupu-kupu malam!"kecam Lila dengan nada dinginnya yang menusuk. Sam menggelengkan kepalanya seraya menetralisi rasa pusing.
__ADS_1
"Lil, ini salah paham. Aku bersumpah demi apapun, ini ketidaksengajaan. Kak Li mengatakan bahwa kamu berada di kamar 130, makanya aku berani tidur di ranjang yang sama karena aku yakin itu memang kamu, aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa seranjang sama Sasha. Sayang, percayalah. Aku tidak pernah berselingkuh. Sampai mati dan demi apapun, aku setia sama kamu," jelas Sam susah payah, sebab bibirnya terasa perih. Lila menatap sinis Sam. Sam menurunkan kedua kakinya menginjak lantai. Kedua tangannya meraih tangan Lila dan membawanya menyentuh dadanya.
"Rasakanlah detak jantungku masih sama seperti pertama kali aku bertemu denganmu. Tidak memudar, percayalah, aku mohon," ujar Sam memelas, tanpa ia sadari, Sam meneteskan air mata dan terisak dengan wajah dan tangan Lila bersentuhan.
Lila, tatapan sinisnya berubah menjadi tatapan bersalah. Rasa dingin air mata Sam menyentuh kulit tangan Lila. Lila memajukan langkahnya lalu menghela nafas.
"Maafkan aku, jangan menangis, aku mohon," pinta Lila, menarik satu tangannya dan mengusap air mata Sam. Mata Lila kini memanas dan berkaca-kaca. Sam yang menunduk, menatap dalam Lila.
"Akulah yang harus meminta maaf. Aku ini lamban dan tidak bejus. Aku sudah dapat kebenarannya sejak dua hari lalu, tapi aku tidak berani membawa kebenaran padamu. Saat aku tahu di mana dirimu, aku malah salah orang. Lil, aku mohon pukulan diriku, pukul aku untuk melampiaskan kesedihan dan kekecewaanmu."
Lila menggelengkan kepalanya. Air matanya kini tumpah. Lila mengarahkan telunjuknya ke bibir Sam. Sam berdiri, Lila mengikuti perubahan Sam.
"Pukul aku Lil, aku akan merasa lega jika kamu memukulku," pinta Sam lagi. Menarik tangan Lila yang jarinya menyentuh bibirnya lalu dengan kasar mengontrol tangan itu untuk memukuli wajahnya sendiri. Lila menatap itu dengan hati meringis. Tangannya saja kembali kebas, apalagi wajah Sam. Lebamnya sudah bertambah. Lila tidak tahan.
"Stop! Stop! Ini juga bukan salah kamu," teriak Lila menarik kedua tangannya, lalu menabrakkan diri ke pelukan Sam. Sam tertegun dan mengerjap. Sam kini mendengar Lila terisak di pelukanya. Tangan Lila memeluk erat dirinya. Sam langsung saja membalas pelukan Lila. Menumpahkan rasa rindu di hati yang menggebu.
Sam dengan mata yang sembab, mencium pucuk rambut Lila. Setelah puas menangis dan melepas rindu, Lila melepas pelukannya. Sam lalu memegang kedua pipi Lila dan menatap lekat manik mata Lila.
"Kamu percaya denganku kan?" tanya Sam. Lila mengangguk pelan dan tersenyum. Sam tersenyum lebar dan menghela nafas lega.
Sam lalu menggerakkan jematinya menghapus air mata Lila yang masih meleleh.
"Jangan nangis dong. Bengkak tuh muka. Jelek, malah ingusan lagi. Keluar masuk," ejek Sam mencubit gemas hidung Lila. Lila mengeryit dan menunjukkan wajah kesalnya. Segera ia menepis tangan Sam.
Sam meringis saat pipinya terasa sakit. Lila datar, tidak berniat membantu. Sam segera kembali duduk.
"Sayang, jangan pernah membandingan dirimu dengan dia maupun wanita lain. Mau wajah dan pemampilan kamu sejelek apapun, bagiku kamu sangat cantik. Andaikan wajahmu bengkak seperti pig, kamu tetap cantik kok di mata aku."
Sam malah membuat Lila semakin kesal. Tangan Lila sudah terangkat hendak kembali memukul Sam. Sam menutup matanya dengan wajah takut.
Lila mengurungkan niatnya dan mengepalkan tangannya kesal. Sam membuka matanya. Ia menatap Lila bertanya. Lila hanya mendengus.
"Sayang, bagiku wajah cantik hanyalah pemanis sebagai nilai tambah. Yang utama adalah hatinya. Dari sekian banyak hati, hatiku berlabuh padamu, selamanya tidak akan terganti."
Lila acuh dan melangkah menuju sebuah rak dekat pintu. Lila membuka laci kedua dan mengambil kotak putih dengan lambang kesehatan di atasnya.
Tanpa banyak bicara, Lila membuka kotak itu dan mengambil kapas lalu mencelupkannya ke cairan antibiotik. Lila menggunakan satu tangannya memegang wajah Sam dan satu tangan lagi menyapukan antibiotik ke memar Sam.
Sam menatap lekat wajah Lila, walaupun tidak berbicara, tersirat rasa khawatir di mata Lila.
Rasa dingin menjalar di pipi Sam ditambah tiupan dari Lila, rasanya menjadi nyaman.
Setelah mengoleskan antibiotik, Lila mengambil botol berisi krim warna putih, aroma mint menembus penciuman Sam. Rasa nafas menjadi segar. Lila dengan perlahan mengoleskan krim itu pada pipinya, juga bibirnya.
__ADS_1
Rasa dingin terasa kembali, disusul dengan rasa hangat yang terasa sangat nyaman. Hangatnya sampai ke bagian dalam, bahkan sampai tulang. Setelah selesai mengoleskan krim, Lila kembali menyimpan kotak kesehatan.
"Bagaimana? Sudah baikkan?" tanya Lila dengan nada penasarannya. Sam yang memejamkam mata merasakan sensasi tarik-menarik di wajahnya hanya mengangguk.
"Akan hilang dalam lima menit." Lila duduk di samping Sam dan menatap wajah suaminya itu.
5 menit kemudian Sam membuka mata dan memegang pipinya. Rasa sakit akibat tamparan Lilla sudah hilang dan bekas memar juga hilang
"Amazing!" serunya takjub. Sam lalu menatap wajah Lila. Tangannya memegang tangan Lila. Sam lalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan kebenaran apa yang ia dapatkan. Lila mendengarkandengan seksama. Setelah Sam selesai bercerita, giliran Lila yang juga ikut menjelaskan. Sam membulatkan matanya mendengar penuturan Lila.
Sebelum kedatangan Sam, sebenarnya Lila dan Sasha berada satu kamar. Lila memang meminta Sasha untuk menemaninya. Akan tetapi, mata Lila tidak mau diajak kompromi. Hendak membangunkan Sasha, Lila tidak tega.
Akhirnya Lila memutuskan untuk keluar sendiri. Dengan membawa mantel yang hangat, Lila menuju taman. Di dinginnya malam, Lila menatap langit. Bintang dan bulan masih setia menyinari kegelapan. Jenuh di taman, Lila kembali beranjak dan berakhir di pendopo. Lila memutuskan tidur di pendopo, kebetulan di sana juga disediakan bantal dan selimut, jadi tidak akan repot.
" jadi kamu sudah tahu kebenarannya?" tanya Sam. Lila mengangguk.
"Mengapa tak memberitahuku?" protes Sam.
"Kau tahu betapa gilanya aku saat kau tak berada di sampingku? Mengapa kamu tega melakukan itu Lila? Mengapa kamu membuat masalah tambah berlarut-larut? Mengapa kamu tidak menjelaskannya padaku?" tanya Sam bertubi-tubi. Lila menundukkan wajahnya.
"Maaf," ucap lirik Lira. Sam menatap Lila tajam.
"Apa tujuanmu?" tanya Sam penasaran, pasti ada alasan Lila melakukan itu.
"Tentu saja membuat medusa itu merasa terbang, lalu aku akan menghempaskannya ke jurang turun lapisan. Andaikan kamu tidak kunjung mendapati kebenarannya, aku berencana untuk memainkan drama. Aku akan pura-pura minta cerai darikamu dengan bukti selingkuh yang aku buat sendiri. Lalu aku akan membuat dia seolah-olah hamil anakmu, dia akan menuntutmu, Mama dan Papa tak ada pilihan selain menikahkanmu dengannya dan saat kalian hendak ijab, aku akan datang dan membongkar kebusukkannya. Dia akan tamat, kita akan selamat, keren kan? Sayang tidak terlaksana," terang Lila menceritakan rencana yang tidak terealisasinya. Sam menjatuhkan rahangnya tak percaya dengan rencana Lila.
Sam bahkan bergidik membayangkan hal itu terjadi. Sumpah, satu-satunya yang terlintas di pikiran Sam, apabila rencana Lila terencana, ia lebih memilih loncat dari jurang.
"Syukurlah hal itu tidak terjadi," ucap lega Sam.
"Hm," gumam Lila terdengar kecewa.
"Oh iya, yang bungkam media sama bantu kamu siapa?" tanya Lila penasaran.
"Maybe, bantuan orang belakang," jawab Sam. Lila mengangguk mengerti.
"Ya membantumu, Karina kan?" terka Sam.
"Ya," sahut Lila.
"Aku akan kabar gembira lainnya apa itu aku menahan medusa itu untukmu, bukankah kau ingin menjadikannya mainan?" Lila menyeringai.
"Tapi sebelum itu kita harus pulang ke rumah dulu. Kita harus menjelaskan pada Papa dan Mama mengenai kesalahpahaman yang terjadi. Kalau tidak aku akan mendapat bogem mentah dari Papa dan tendangan maut dari Mama. Kau tidak mau kan suamimu yang tampan di sini terbaring sekarat di rumah sakit?" papar Sam serius.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, kalau begitu ayo kita kembali," sahut Lila cepat. Sam tersenyum dan mengajak Lila untuk pulang. Lila menurut. Saat membuka pintu, Sam dan Lila dikejutkan dengan sesuatu.