
Tepat pukul 08.00 Karina, Arion dan Ferry serta Bayu sudah take off dari bandara kota A menuju menuju negara Y, negara mereka. Karena tak sempat sarapan, mereka sarapan pesawat.
Seusai sarapan, Ferry langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya, sedangkan Arion tiduran di paha Karina. Awalnya Karina marah dan menyuruh Arion menyingkirkan kepalanya di pahanya, namun Arion tak menghiraukannya. Karina menghela nafas kesal. Bayu asyik dengan laptopnya.
Tanpa sadar,Karina mengelus rambut Arion dengan lembut. Arion menarik sudut bibirnya ke atas.
"Mulai perhatian ya?" tanya Arion memejamkan matanya.
"Hmmm …," singkat Karina.
***
Pukul sebelas, pesawat pribadi Arion landing di bandara negara A. Berhubung ini hari minggu, so setelah turun dari pesawat Ferry langsung pamit pulang.
Karina dan Arion yang memegang tangan Bayu langsung menuju mobil dan melajukannya pulang ke apartemen. Di tengah perjalanan handphone Arion berbunyi.
So look me in eyes
Tell me what you see
Perfect paradise
I wish ....
Arion segera menepikan mobil dan mengangkat panggilan telepon yang berasal dari papanya.
"Halo Pa?"jawab Arion.
"Halo Arion. Kamu sudah mendaratkan? Papa ada kabar penting!" ucap Amri cemas.
Arion mengerutkan dahinya dan menatap Karina. Karina menaikkan satu alisnya.
"Kabar apa Pa?" tanya Arion serius.
"Papa gak bisa jelasin di telepon. Lebih baik kamu dan Karina segera ke rumah Papa," ujar Amri.
"Baik Pa," jawab Arion memutuskan panggilan.
"Ada apa?" tanya Karina.
"Papa nyuruh kita ke rumah Papa sama Mama," jawab Arion.
"Kamu gak papa kan?" tanya Arion lagi.
"Hmm …," jawab Karina.
Arion kembali melajukan mobilnya menuju rumah Amri dan Maria. Sesampainya di kediaman Wijaya, mereka disambut oleh kepala pelayan.
"Selamat datang Tuan Muda, Nyonya Muda," sambutnya.
"Kurang satu lagi," ucap Arion. Kepala pelayan itu heran.
"Maksudnya Tuan?" tanyanya.
"Ah sudahlah. Lain kali ingat anak kecil ini sebagai Tuan Muda Kecil di rumah ini," jelas Arion menunjuk Bayu yang berada di belakang Karina. Perlahan Bayu keluar dan melambaikan tangannya.
"Hai Paman," sapa Bayu.
"Ah … maaf Tuan, Nyonya Muda saya tak melihatnya. Selamat datang Tuan Muda Kecil," sesalnya. Bayu mengangguk.
"Di mana Mama dan Papa?"tanya Arion.
"Mereka ada di ruang keluarga Tuan, mereka sudah menunggu Anda dan Nyonya," jelasnya.
Arion mengangguk dan segera menuju ruang keluarga diikuti Karina dan Bayu.
"Assalamualaikum Ma, Pa," ujar Arion menyalami Maria dan Amri diikuti Karina dan Bayu.
Maria dan Bayu heran dengan adanya Bayu. Mereka menatap Ario meminta penjelasan.
"Adik angkat Karina Ma," jawab Arion langsung duduk di sofa.
"Benarkah?" tanya Maria pada Karina.
Karina mengangguk dan ikut duduk di samping Arion, Bayu duduk di tengah mereka. Maria mengangguk paham.
"Jadi ada masalah apa Papa sama Mama nyuruh Ar dan Karina pulang?" tanya Arion to the point.
Amri menghela nafas. Ia agaknya seperti menahan emosi. Karina menatap heran papa mertuanya itu. Feeling-nya berasumsi pasti adalah kaitannya dengan Nita.
"Kakekmu," jawab Amri.
"Kakek kenapa? Bukannya ia tinggal di rumah Karina?" heran Arion.
"Kakekmu itu jatuh hati sama pelayan rumah Karina. Dan dua hari yang lalu, Kakekmu pulang kemari dan memberitahukan bahwa ia akan mempersunting Nita sebagai istrinya," ucap Amri.
Sontak saja Arion terlojak kaget. Karina tersenyum tipis mendengarnya.
"Kakek? Mau nikah lagi?" seru Arion.
"Terus masalahnya di mana Pa?" tanya Arion lagi.
"Masalahnya Papa dan Kakekmu bertengkar. Dan Kakekmu pergi dari sini tanpa pamit. Dari CCTV, Kakekmu pergi sekitar jam dua malam," jelas Amri.
Arion menggelengkan kepalanya pusing dengan tingkah laku kakek satu-satunya itu. Arion menoleh ke arah Karin
"Apa kamu tahu akan hal ini?" tanya Arion. Karina mengangguk dan menyuruh Bayu pergi bermain bersama pelayan yang standby di dekat mereka.
__ADS_1
Selepas kepergian Bayu, Karina menatap wajah mereka satu persatu.
"Aku hanya tahu, bahwa dua hari yang lalu Nita menghubungiku meminta restuku menikah dengan kakek Bram. Untuk masalah itu aku tak menghalanginya, namun keputusan akhirku adalah hari ini," jelas Karina datar.
"Jadi kau merestui mereka? Karina kamu sadarkan atas perbedaan umur mereka?" tanya Amri serius.
Maria hanya menyimak tak berani berkata. Ia hanya berusaha menenangkan suaminya ini.
"Umur bukan halangan. Aku tak punya hak menghalanginya," jawab Karina.
"Apa Papa sudah melacak keberadaan Kakek?" tanya Arion.
"Kakek sudah melacaknya, namun seakan ada yang menghalangi," jawab Amri.
Tiba-tiba handphone Karina berbunyi ada panggilan masuk dari Pak Anton.
"Ya?" jawab Karina.
"Nona. Gawat! Nita tidak ada di rumah!" ucap Pak Anton.
"Lantas kemana dia?" tanya Karina menatap Arion.
"Nona, Nita meninggalkan rumah dua hari yang lalu pada malam hari. Dan sampai saat ini belum kembali. Kami sudah berusaha melacaknya, Nona kami tak dapat menemukannya," jelas Pak Anton.
Karina menahan amarahnya.
Sial*n dia berani membangkang perintahku. Nita kau mencari masalah denganku! geram Karina dalam hati.
"Lacak terus di mana keberadaannya. Saya akan kembali ke rumah hari ini," tegas Karina langsung menutup panggilannya.
Arion, Amri dan Maria menatap Karina yang menunjukkan wajah kesalnya.
"Nita juga pergi dari rumah di malam yang sama dengan kakek Bram," ujar Karina.
Brakkk ....
Amri memukul meja dengan keras. Emosi mulai tak terkontrol.
"Pelayan si*lan! Tak tahu malu! Aku ingin membunuhnya," geram Amri. Maria masih bungkam dan menenangkan suaminya.
"Andai saja kau tak mengenalkan pelayan itu pada kakek dan menyetujui dia tinggal di rumahmu pasti ini tidak akan terjadi!" marah Amri menunjuk Karina. Wajah Karina merah padam dituduh begitu.
Brakk ....
Karina menendang meja hingga terguling. Arion tersentak dan berusaha menenangkan Karina.
"Maksud Anda ini salah saya hah?" geram Karina. Ia sudah tak bisa mengontrol emosinya.
"Iya. Kamu juga ikut andil dalam masalah ini," seru Amri.
"Aku tak peduli. Jika dia mencari masalah denganku jangan salahkan aku jika aku membalasnya. Dan dengarkan aku, aku tak pernah menyuruh Nita menggoda kakek Bram. Walaupun dia belum menikah bukan berarti dia murahan," tegas Karina melepaskan tangan Arion dari pundaknya.
"Tetap saja," ucap Amri tak mau kalah.
Karina menghela nafas meredakan emosinya. Karina merasa dirinya terlalu implusif. Padahal menurutnya ini masalah sepele.
"Tuan Amri Wijaya! Saya tegaskan sekali lagi. Saya masih menghormati dan menghargai Anda sebagai ayah dari suami saya. Soal hubungan kakek Bram yang jatuh hati pada Nita itu tidak ada hubungannya dengan saya. Jadi saya minta Anda menahan dan meredam emosi Anda. Kita bicara dengan kepala dingin,",ucap Karina datar. Amri terdiam sejenak. Karina sudah tak memanggilnya papa melainkan Tuan dan Anda.
"Pa … ayolah jangan marah. Karina itu menantu kita,",bujuk Maria. Amri menatap istrinya dan mengangguk.
"Pa lebih baik kita lacak kembali Kakek dan Nita," saran Arion.
"Lacak kemana lagi? Papa sudah kerahkan orang-orang terbaik kita namun tetap saja kosong," ucap Amri putus asa.
"Anda terlalu cepat menyerah. Karena kakek Bram pergi dengan orang saya maka saya akan ikut andil dalam mencari mereka," ujar Karina menyilangkan tangannya.
"Oke," ucap Amri pergi meninggalkan ruang keluarga entah kemana. Maria menatap seduh kepergian suaminya.
"Mama …," panggil Arion.
"Ya Sayang?" jawab Maria menoleh ke arah Arion dan Karina.
"Kalian tidak lapar?" tanya Maria kembali. Wajar saja Maria bertanya begitu sebab waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Karina dan Arion menggeleng. Mereka sudah makan sebelum turun dari pesawat
"Bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa Papa begitu marah? Bukannya Papa selalu tak peduli kakek melakukan apapun?",tanya Arion bertubi.
Ia kenal betul watak ayahnya ini. Selepas kepergian neneknya, mereka sudah tak pernah lagi berkunjung ke kediaman kakek Bram di negara B. Bahkan untuk menelpon sekedar bertanya kabar pun tak pernah.
"Mama kurang tahu Sayang. Mungkin papamu masih kecewa dengan apa yang dilakukan Kakek pada Nenek dulu," jawab Maria. Karina menyimak. Tanpa disadari oleh Maria dan Arion, Karina menyeringai sesaat. Entah apa yang ada di pikirannya.
"Mungkin itu iya," ujar Arion.
"Ah ya kalian menginap kan? Mama kangen sama menantu Mama ini," tanya Maria.
Arion menoleh ke arah Karina meminta persetujuan. Karina berpikir sejenak. Tak lama ia menganggu menyetujui.
"Iya Ma," jawab Karina.
Senyum Maria mengembang. Karina segera memanggil Bayu. Bayu datang dengan senyuman manis. Maria jadi gemas melihatnya. Ia segera menghampiri Bayu dan menggendongnya.
"Uh … kamu berat sekali," keluh Maria kembali menurunkan Bayu.
"Ya kenapa tante asal gendong saja?" tanya Bayu dengan wajah tanpa dosa.
Karina tersenyum melihatnya.
"Ma ini Bayu. Tadi kan belum sempat kenalan," ucap Karina.
__ADS_1
"Bayu? Namamu indah," puji Maria. Bayu tersenyum tipis.
Astaga, walaupun adik angkat tetapi sifatnya mirip dengan Karina, batin Maria.
Bayu duduk di sebelah Karina. Maria segera menyuruh salah seorang pelayan mempersiapkan kamar untuk Bayu.
"Awalnya mama kita dia anak adopsi kalian. Kalian kapan kasih Mama cucu? Perut istrimu sudah berisi belum?" ujar Maria.
Arion tersedak saat meminum jus yang tersedia di meja. Karina menguap malas mendengarnya.
Gak ada pertanyaan lain apa? batin Karina.
"Ma secepatnya Arion akan kasih Mama cucu. Doain Arion supaya usaha Arion segera berbuah," jawab Arion tersenyum canggung.
Gimana mau berisi Ma? Dipegang saja aku sudah kena tabok, batin Arion meringis.
"Ma Karina ke kamar dulu ya," ujar Karina.
"Ya sudah," jawab Maria.
Karina langsung berdiri dan menuju kamar Arion. Bayu mengekor di belakangnya. Arion menatap seduh punggung Karina yang mulai menghilang. Maria heran dengan itu.
"Kalian ada masalah?" tanya Maria heran.
Bukankah mereka habis honeymoon? batin Maria.
Arion menggeleng lemah dan menyandarkan bahunya ke pundak Maria.
"Terus?" tanya Maria lagi. Ia lebih heran lagi dengan tingkah Arion. Tak biasanya dia begini.
"Karina gak cinta sama Ar Ma …," aduh Arion. Maria tersenyum kecil mendengarnya.
"Cinta bisa tumbuh karena biasa. Memangnya kamu cinta sama dia? Bukankah seminggu yang lalu kamu lepasin proyek di negara K demi mantan kekasihmu itu?" tanya Maria.
"Itu beda Ma. Itu sebelum Arion yakin bahwa Arion jatuh hati pada Karina," bela Arion.
"Jadi sekarang kamu sudah jatuh cinta sama dia?" tanya Maria lagi.
"Iya Ma," jawab singkat Arion.
"Jika begitu Mama dukung kamu 1000% mengejar cinta Istrimu," ujar Maria memberi semangat. Arion mengangguk menyetujui.
***
Di kamar Arion, Bayu langsung tidur di ranjang. Sedangkan Karina berdiri di dekat jendela menyibak gorden yang menutupi cahaya. Tak lama Karina berbalik dan menghampiri ranjang.
Ia duduk dan mengambil laptopnya. Karina berniat melacak Nita. Pertama, Karina melacaknya menggunakan nomor handphone baik nomor Nita maupun kakek Bram.
Namun, Karina tak dapat menemukannya. Cara pertama tak bisa akhirnya Karina melacak menggunakan dari chips yang di tanam di lengan pada saat sumpah setia menjadi anggota Pedang Biru Mafia.
Chips itu ditanam bersamaan dengan lambang Pedang Biru Mafia di telinga kanan anggota. Ada banyak yang tak mengetahui soal itu, hanya para tangan Karina lah yang tahu.
"Dapat. Kau tak bisa bersembunyi dariku, Nita!" seru Karina setelah menemukan keberadaan Nita. Karina segera menghubungi tangan kanannya selain Gerry,Li dan Sasha.
"Saya Queen," jawabnya.
"Bawa Nita kembali ke markas yang kau pimpin. Dia berada di negara B tepat kota C kediaman Bram Wijaya. Jika dia tak mau dengan cara baik-baik seret dia!" perintah Karina.
"Baik Queen," jawabnya. Karina mengakhiri panggilan.
Selepas itu, Karina memijat pelan pelipisnya. Ia bingung apa yang akan ia lakukan pada Nita.
Niatnya untuk membebaskan Nita dari sumpah dan janji setelah kepulangan dari negara A ia urungkan karena tindakan Nita yang melanggar ucapannya.
"Nita-Nita … kau menguji kesabaranku," kesal Karina.
Karina kembali menyimpan laptopnya dan keluar dari kamar dengan memakai tas selempangnya. Ia ingin mengajak Bayu namun wajah Bayu yang masih pulas tertidur mengurungkan niatnya.
Ia berniat mengunjungi cafenya, sudah waktunya kunjungan. Karina mengunjungi cafe setiap awal bulan.
"Ma, Ar, aku pamit ke cafe ya …," pamit Karina setelah tiba di ruang keluarga. Posisi Arion masih bersandar pada pundak Maria. Arion segera duduk tegak.
"Aku antar ya …," ujar Arion.
"Ya sudah," jawab Karina.
Arion segera berpamitan pada Maria diikuti Karina. Seusai berpamitan mereka ke segera keluar menuju mobil pergi ke Cool Cafe.
Maria memandang kepergian sampai punggung Arion dan Karina hilang dari pandangannya. Maria teringat pada suaminya.
Maria segera beranjak dan mencari Amri di sekitar rumah. Dan benar saja. Amri duduk termenung di bangku taman memandang warna-warni bunga serta hijaunya dedaunan. Maria segera menghampirinya.
"Pa …,",panggil Maria. Amri menoleh.
"Ma … papa kelewatan tadi ya sama menantu kita?" tanya Amri. Maria duduk di samping Amri.
"Menurut Mama iya. Papa masih belum bisa mengontrol emosi Papa. Tapi akan lebih gawat lagi jika Karina tadi meledak," jawab Maria berusaha menghibur.
"Jadi kalau Papa yang meledak gak gawat gitu?" tanya Amri menyentuh pipi Maria.
"Gawat juga sih. Tapi lebih gawat Karina lagi. Seandainya Papa tadi meledak tinggal dipadami sama kedinginan menantu kita," seloroh Maria.
Amri tersenyum kecil. Kali ini ia tak berniat melampiaskan kekesalannya pada Maria.
"Mama bisa ada-ada saja," tawa Amri.
***
__ADS_1