Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 262


__ADS_3

Jessica tiba di rumah pukul 19.00. Mobil ia parkir di depan gang, tidak khawatir mobil dicuri sebab ada pengamannya sendiri. Jessica mengeryit heran mendapati lampu teras yang menyala. Biasanya kan tidak menyala sebelum ia pulang. Ditilik kaca jendela ternyata bersih. Jessica semakin merasa aneh saat melihat keadaan di dalam rumah yang bersih dan wangi. 


Tidak ada botol minuman berserakan, tidak ada lagi aroma minuman yang biasanya sangat menyengat dan ia tidak mendapati sang ayah yang biasanya tidur di sofa. Jessica menepuk pipinya lalu mengedarkan tatapannya. 


Apakah aku salah rumah? batin Jesica. 


"Eh, anak ayah sudah pulang?" Rudi muncul dari arah dapur dengan apron dan sutil. Wajah Rudi tampak lebih segar setelah berberes.


"Ayah sakit?"tanya Jesica  yang merasa sangat terkejut.


"Ayah sudah sembuh." Astaga mimpi apa semalam dirinya, nada bicara ayahnya sangat lembut dan tenang. Tidak emosi dan marah-marah seperti biasa.


Apa alkohol bisa menyembuhkan pemabuk?tanya Jesica dalam hati, wajahnya masih tidak menunjukkan ketidakpercayaan. 


"Ayo lekas bersiap, ayah sudah membuat makan malam," ajak Rudi.


"Ayah masak?" Jessica sungguh tidak percaya. Kini ia melongo.


"Tentu," jawab Rudi. Jessica diam mencerna apa saja yang dapati saat ini. Saat asyik berkutat dengan tebakkannya sendiri, Jesica dikagetkan dengan pelukan keras sang ayah.


"Astaga! Tempe gorengnya!"pekik Rudi bergegas ke dapur dengan wajah panik. Jessica menajamkan penciumannya, ada bau gosong. Jessica segera menyusul ayahnya. 


Dilihatnya dari daun pintu sang ayah yang gelagapan mengangkat tempe goreng yang warnanya sudah hitam dengan wangi angus yang khas. Wajah Rudi tampak tidak percaya, dibolak-balikkan tempe gosong itu, agaknya dilihat apakah bisa dimakan atau tidak. 


"Gosong Nak, bagaimana ini? Masa' kita harus makan nasi doang? Mending ada kecapnya," aduh Rudi menatap nanar Jesica. 


Jessica yang awalnya hanya memperhatikan kini mendekati sang ayah. Jessica melihat tempe gosong itu lalu menggelengkan kepalanya pelan seraya tersenyum geli. 


"Apa ayah yang memasak ini?"tanya Jesica. Rudi diam sejenak, tak lama ia berseru dan berjalan mendekati meja makan. Membuat tutup sangi, Jesica membulatkan matanya melihat beberapa lauk yang tersedia di atas meja.


"Ayah ingat, tadi sebelum goreng tempe, ayah goreng ayam dan ikan duluan, lumayanlah kuning keemasan, enggak gosong," ujar Rudi dengan ringannya. 


"Ayah ini bukan kuning keemasan, ini kuning kegosongan, haih seharusnya ayah letakkan saja bahan mentahnya tadi di kulkas, biar besok Jecisa yang masak, kalau gini kan sayang, terbuang percuma yah," ucap Jesica memeriksa lauk di atas meja. Rudi menunduk sedih dengan mata berkaca-kaca.


"Ayah cuma ingin buat kamu senang Nak, kamu kan habis kerja, pulang malam, pasti lapar. Makanya Ayah inisiatif masak makan malam, ternyata kemampuan ayah memasak masih buruk, maaf ya Nak," ujar Rudi lirik. 


Jessica menghembuskan nafas pelan lalu tersenyum dan menyentuh pundak sang ayah, awalnya ia takut dengan perubahan Rudi, berbagai pikiran negatif pun hinggap di pemikirannya.


 Akan tetapi semua itu ditepis dengan wajah tulus Rudi, Jesica sebagai anak pasti tidak akan bisa menolak ayahnya. Rasanya seperti kembali belasan tahun silam sebelum ibunya melahirkan adiknya.


"Ayah ini pelupa ya? Kan Jesica selalu bawa makanan setiap pulang," tutut Jesica. Rudi menatap Jesica kemudian menepuk dahinya sendiri. Ia lalu tertawa geli. 


"Hm, ayah boleh aku bertanya?"tanya Jesica ragu.

__ADS_1


"Tanyakan saja."


"Penyebab ayah berubah apa ya? Dan dari mana Ayah punya uang sebanyak ini, kan Jesica selalu ngasih uang yang jumlahnya kurang dari semua yang ayah beli. Terus lampu depan juga ayah ganti kan? Dari mana ayah punya uang? Ayah kan enggak kerja, apa Ayah melakukan kejahatan?" 


Jessica sekarang butuh penjelasan, wajah Rudi tampak tenang saja tidak tersinggung dengan ucapan Jesica.


Baru saja Rudi mau menjawab, perutnya dan Jesica sama-sama berbunyi keras minta diisi. Jessica meringis malu dan Rudi tertawa lepas.


"Lebih baik kita makan dulu, kita isi dulu lambung yang tidak pernah kenyang ini baru ayah ceritakan apa penyebab ayah seperti ini," tukas Rudi yang segera disetujui Jesica. 


Jessica kembali ke ruang tengah dan mengambil bungkusan yang ia letakkan di atas meja, isinya adalah dua paket makan malam traktiran Duda Bosnya sekaligus Calon Masa Depannya, alias Enji. Mengingat Enji, Jesica tersenyum sendiri. Masih teringat jelas di memorinya bentuk tubuh bagian atas Enji, kalau bagian bawah masih separuh, dari lutut sampai telapak kaki. Tinggal bagian keramat Enji saja yang belum dilihat.


Astaga mikir apa aku ini? Ayolah Jes, cepat atau lambat kau juga akan melihatnya, bebas lagi tanpa terhalang apapun, racau Jesica dalam hati.


"Nak kamu sakit atau mabuk? Wajahmu memerah," tegur Rudi dengan wajah khawatir. Jessica terkesiap lalu tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Enggak papa kok Yah, cuma ingat sesuatu yang memalukan saja," jawab Jesica. Rudi ber-oh-ria. Rudi membantu Jesica menyiapkan nasi di piring, memang sudah tugas Rudi untuk menanak nasi setiap hari, oleh sebab itu Jesica hanya membawa pulang lauk pauk saja.


"Wah ini baru ayam goreng," pekik Rudi senang, Jesica menatap itu heran, terhitung seminggu dua kali ia membawa pulang lauk ayam, ayahnya seperti tidak pernah makan, apakah rasa makan saat mabuk dan sadar itu berbeda?


Keduanya segera makan malam dengan tenang. Lima belas menit kemudian, semua makanan di atas meja lenyap ditelan mereka. Setelah minum, Rudi baru menceritakan penyebab ia berubah.


"Tadi saat ayah tidur, terus mimpi, kau tahu ayah mimpi apa?" Tentu saja Jesica menggeleng, memangnya dia peramal atau ahli tafsir mimpi apa?


"Nah ayah lihat begitu, terus tiba-tiba ada yang datangi ayah, wajahnya enggak bisa ayah lihat, penuh cahaya. Pakaiannya serba putih, dan aura yang dibawanya penuh keanggunan dan kemuliaan. Dia mengatakan pada ayah, bahwa apa yang ayah lihat saat itu adalah azab bagi pemabuk, ayah berteriak tidak percaya lalu terbangun, begitu bangun, ada yang ketuk pintu, satu wanita dan satu pria, mereka menawarkan ayah pilihan, uang dan perubahan …." 


Rudi menceritakan semua yang terjadi padanya secara lengkap. Jessica sekarang penasaran siapa pria dan wanita itu. 


Jessica tersadar dari lamunannya saat Rudi mengatakan sesuatu yang membuatnya tersedak.


"Ayah bilang apa tadi?"


"Ayah bilang, besok kita ke rumah sakit, ayah ingin menjenguk ibumu. Ayah rindu Nak, ayah ingin memperbaiki kesalahan Ayah. Ayah ingin meminta maaf pada ibumu. Ayah juga ingin mengunjungi makam adikmu. Nak, maafkan kesalahan Ayah selama ini ya, ayah gagal menjadi kepala keluarga yang baik. Malah ayah yang membawa kalian pada kehancuran," tutur Rudi, tergugu dengan air mata yang menetes. 


Jessica dapat merasakan kesungguhan Rudi, Jesica ikut menangis dan mengangguk memaafkan sang ayah. Jessica beringsut dari kursinya, mendekati sang ayah, keduanya lantas berpelukan haru. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak berpelukan. 


Nyaman, hangat, ada ketenangan tersendiri saat berada di pelukan cinta pertamanya itu. Rudi memeluk erat anak tunggalnya itu dengan terisak, meruntuki kebodohannya menyalahkan keluarga.


Malam itu, dunia kelam Jesica perlahan terang benderang. Cahaya yang lama padam kini mulai menyala satu persatu. Kedinginan dan kesuraman kini berganti dengan kehangatan serta cahaya harapan yang membumbung tinggi. Beban Jesica rasanya terangkat sebahagian. Hatinya jauh terasa sangat baik. 


Siapapun mereka, aku sangat berterima kasih. Aku akan membalas budi ini saat aku bertemu dengan kalian. Rasanya tidak sabar menunggu sebulan lagi, Thank God. Aku sangat bahagia dan bersyukur, ucap Karina dalam hati.


*

__ADS_1


*


*


Arion memasuki rumah dengan langkah ringannya. Diedarkan pandangannya di lantai satu. Karina sama sekali tidak ada di sini. Tas kerjanya dibawa oleh pelayan ke ruang kerja, jas ia berikan pada pelayan untuk dicuci besok. Bik Mirna datang membawa segelas air mineral. Arion segera meminumnya hingga tandas.


Tak lupa menanyakan keberadaan Karina dan sudah pasti jawabannya di kamar. Arion memutuskan langsung makan malam sebelum ke kamar. Ia langkah kan kaki menuju kamar mandi, membasuh wajah, tangan, dan kaki lalu lekas menuju meja makan. 


Arion tercengang dengan sajian yang disajikan. Terlebih setelah mendengar penjelasan Bik Mirna selaku juru masaknya. Memang Arion pencinta makanan pedas, tapi tidak semua menggunakan cabai Carolina Reaper juga dong. Cabai dengan tingkat kepedasan 2.2 juta SHU itu ia angkat tangan, cabai rawit biasa saja sudah cukup.


Bisa jebol lambungnya menyantap ini. Terlebih pesan gila Karina yang menyuruhnya menghabiskan semua ini. Terhitung ada empat menu, dan semua serba pedas. Dari mana Karina mendapatkan ide ini yang notabenya adalah cara untuk menyiksanya. 


Suasana hati Arion yang sedang tidak full happy serta kondisi fisik yang lelah dan terasa menurun membuat Arion enggan menyantap makan malam yang disajikan. Andainya ia sakit nanti, akan banyak hal yang tertunda. Kali ini Arion tidak mau menuruti pesan Karina. Cinta boleh, tapi menjerumuskan diri dalam hal bodoh itu jangan. Arion bertanya-tanya hal aneh apa lagi yang terjadi pada Karina. Istri kutubnya itu sering bermain teka-teki sendiri.


Arion menyuruh Bik Mirna memberikan makanan ini untuk para pelayan. Bik Mirna tidak membantah, kali ini ia tidak menyelesaikan tuntas tugas yang Karina berikan, untuk kebaikan bersama. 


"Lalu Tuan makan apa? Saya buatkan makanan sederhana saja yang Tuan, lambung Anda tidak boleh kosong," ujar Bik Mirna.


"Saya masak sendiri saja Bik." Bik Mirna mengangguk. Arion segera ke dapur. Lengan kemeja ia gulung sesibuk. Arion  lalu membuka  kulkas mengambil telur, seledri, daun bawang, dan sosis. Setelah itu Arion meracang bawang dan cabai, berikut seledri dan daun bawang.


Sosis dipotong menjadi bagian yang lebih kecil. Setelah itu, Arion campur semua bahan ditambah dengan garam dan sedikit micin. Waktu menggoreng hanya butuh hitungan menit. 


Menu sederhana telur dadar pun Arion jadi. Lengkap dengan kecap dan saus sambal, Arion menikmati makan malamnya dengan tenang. Kenyang lambung terisi, Arion bergegas menuju kamar. Bik Mirna membereskan peralatan dapur yang kotor. Wanita itu menatap tampak gelisah, Pak Anton mendekati Bik Mirna.


"Ibu takut Tuan Arion diapa-apain sama Nona, Pak. Nona tidak pandang bulu," ujar Bik Mirna. 


"Besok malam yang penting bagi Nona, bagaimana mungkin Nona membuat masalah. Sudahlah, kita cukup mengawasi dari jauh. Lebih baik kita istirahat. Mari kita kembali ke paviliun," ajak Pak Anton. Dengan masih gelisah, Bik Mirna menurut.


*


*


*


Tengah malam, Karina terbangun dari tidurnya. Dilihatnya sang suami tidur nyenyak dengan tangan menggenggam tangannya. Karina tersenyum tipis melihatnya. Karina lalu melepas dengan pelan tautan jemarinya dan Arion kemudian beringsut turun ranjang. 


Ditariknya laci nakas paling bawah dengan perlahan. Karina mengambil sesuatu dari sana lalu berjalan menuju balkon kamar. Karina merasakan dinginnya angin malam menyapa dirinya. Karina tidak peduli. Ia menengadakan wajahnya menatap langit malam. Kedua tangan bertumpu pada pagar pembatas.


Karina menatap datar kerlip bintang di langit. Wajahnya datar, tetapi mata tidak bisa berbohong. Karina menatap langit dengan penuh kerinduan. Matanya berkaca-kaca dan beberapa tetes kristal cair turun.


Karina menutup mata , hatinya sangat sedih bercampur haru. Kerinduan sangat mendominasi.  Cukup lama Karina berada di balkon, wajahnya saja sampai terasa sangat dingin. Karina membuka mata dan menatap apa yang ia ambil tadi dari laci. Sebuah kalung dengan liontin yang dapat diisi foto. 


"I miss you," lirik Karina. Dikecupnya foto dalam liontin itu lalu kembali masuk ke dalam kamar. Karina kembali tidur, dengan hati yang sudah sedikit tenang.

__ADS_1


__ADS_2