Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 120


__ADS_3

Karina dan Arion langsung menuju penthouse yang yang terletak di lantai paling atas. Pemilik mah bebas. Mau melakukan apa saja pada asetnya. Li dan Gerry satu kamar, sedangkan Satya satu kamar dengan Rian. Kamar mereka bersebelahan yang terletak satu lantai di bawah Karina.


Sedangkan para pasukan elit yang wanita semua melepas peralatan perang dan berganti menjadi pakaian kasual dan dress.


Kelima puluh wanita dengan rambut khas polisi wanita masuk berjajar menuju lobby. Para pegawai hotel segera menunjukkan lantai dan kamar mereka berada.


***


Di kediaman Wijaya, Maria dan Amri heran dengan Karina dan Arion tak kunjung turun. Sedangkan Bayu, duduk anteng menikmati sarapan paginya. Biarlah Kakak dan Kakak iparnya itu melakukan apa saja yang mereka suka. Anak kecil duduk manis saja pura-pura tak tahu, hahaha padahal Bayu paham. Padahal biasanya mereka sudah turun untuk sarapan dan memulai aktivitas.


Mereka tidak tahu bahwa anak dan menantu mereka itu tidak berada di kamar. Mereka mengira Karina dan Arion masih tidur. Maria sudah tiga kali membangunkan mereka, tentu saja tak ada yang menyahut.


Maria menghembuskan nafas kesal. Mengira bahwa Arion ataupun Karina mengaktifkan mode kedap suara pada kamar.


Maria bahkan mengerutu kesal mengira Arion mengganggu Karina sampai kelelahan. Amri berpikir positif saja. Ia berpikir bahwa Karina dan Arion begadang karena ketularan dirinya alias korban film box office. 


"Anak itu, awas saja akan ku pecel dia kalau berani mengganggu Karina," kesal Maria meremas-remas selada di piringnya.


"Sabar Ma. Nanti kalau anak kita Mama pecel kita gak punya anak lagi," ucap Amri merasa kasihan pada anak semata wayangnya.


Sudah payah dibuat dan dibesarkan masa' mau dipecel sih? Yang benar saja. Jika anaknya selusin gitu gak masalah, masih ada sebelas lagi anaknya.


Maria mendengus kesal. Ia mulai menyantap sarapannya dengan kekesalannya. Amri tersenyum simpul. Pukul 07.00 mereka selesai sarapan. Bayu segera berpamitan.


"Ma, Pa … hari ini ada tugas kelompok kesenian dan ngerjakannya di sini, boleh?" tanya Bayu. Wajahnya menunjukkan wajah jutek. Berharap Amri dan Maria melarang. Amri dan Maria berpandangan.


Ini anak minta izin tapi wajahnya terpaksa? Ada apa ini? 


Begitulah arti pandangan mereka.


"Boleh dong Bayu. Rumahnya juga luas, gak bakalan sempit karena bertambah orang, mau semua teman kamu ke sini pun tak masalah," ujar Maria memicingkan matanya sekilas.


Pasti ada udang di balik batu. Batunya buang udangnya tangkap. Hahahaha … lumayan buat bakwan, kekeh Maria dalam hati.


"Iya benar Bay. Kalau kurang lebar entar kita sewa lahan sebelah. Kakak kamu yang bayar tapi ya," timpal Amri yang membuat Bayu menatap tajam Amri.


"Hmm … bilang saja Papa yang sanggup bayarnya," kesal Bayu segera lari dengan langkah seribu menuju mobil yang akan mengantarnya ke sekolah.


Amri membulatkan matanya. Kekesalan Maria terobati dengan kekesalan suaminya. Ia tertawa tertahan.


"Dasar adik kakak sama saja. Beda pabrik kok bisa seiras yang wataknya. Heran deh," gerutu Amri.


"Sudah Pa. Ke depannya pasang hati saja. Bayu kecil-kecil pedas mulut, ntah nambah anggota keluarga lagi pasti wataknya gak jauh-jauh dari Karina. Kayaknya anaknya bakalan banyak turunan dari mamanya," ucap Maria memberi aba-aba pada Amri. Amri melirik Maria dengan berkerut dahi.


"Mama ini aneh. Kebanyakan atau biasanya, anak itu nurun bapak. Kok malah nurun emaknya," keluh Amri tak terima.


"Ye, anak kita nurun kakeknya. Sebelum kenal Karina, selama dia belum menutup mata kerjanya marah terus. Sudah sempurna di mata orang belum sempurna di mata dia. Sampai disematkan julukan gunung api lagi," balas Maria bersedekap tangan.


"Lagian juga Karina lebih mendomanasi daripada anak kita. Mama yakin anaknya mirip Karina," tambah Maria dengan penuh keyakinan. Membuat Amri mengerucutkan bibirnya.


"Terserah Mama deh. Mau mirip siapa kek yang penting darah daging Arion dan pastinya cucu kandungku. Em … gak sabar nimang cucu," putus Amri yang kali ini disetujui Maria.


Mereka kemudian beranjak dari meja makan, Amri bersiap menuju kantor menggantikan Arion dan Maria menemani suaminya. Daripada kesepian di rumah lebih baik nempel kayak lem sama Amri.


Biarlah Arion dan Karina masih di bawah hangatnya selimut padahal matahari sudah beranjak naik.


***

__ADS_1


Lain rumah lain kejadian dan aktivitas. Di kediaman Anggara, Sam mati-matian menolak untuk dilulur. Ya tradisi bagi calon pengantin lelaki sebelum menikah. Harus luluran dulu sebelum jadi manten, biar kinclong dan mulus katanya.


"Gak Ma. Sam gak mau luluran. Lila saja sana suruh. Aku laki-laki masa luluran. Malah kuning lagi warnanya," tolak Sam, kini dia berada di pinggir balkon.


Dengan Hamdan dan Rasti berpandangan dengan wajah datar mereka. Tak ada rasa khawatir jika Sam nekat.


"Calon istrimu itu gila kerja. Mana ada waktu buat beginian. Mama yakin dia pasti tengah berkutat dengan berkas kesayangannya itu.  Lagian yang harus luluran kan kamu. Papamu saja dulu luluran. Coba lihat kulitmu itu, dekil pasti banyak dakinya. Mana ada keturunan Anggara yang dekil kayak kamu. Lila saja yang gila kerja kulitnya putih kayak mutiara," ucap Rasti santai namun menusuk hati Sam.


Sam tersedak ludahnya sendiri mendengar itu.


Sam mengelap bibirnya dengan punggung tangan dan meneliti penampilan serta warna kulitnya. Mamanya yang ngomong blak-blakan ini terkadang adalah kebenaran.


Iya. Kulit gue kok kusam ya? Apa gue harus luluran ya? Tapi warnanya itu loh, jijik gue, batin Sam melamun.


Mumpung Sam melamun, Hamdan dan Rasti bergerak maju dalam hening dan menangkap Sam.


"Ah … tolong saya diculik!" pekik Sam ngelantur. Gagal fokus. 


"Diculik? Iya kamu Mama culik buat luluran. Lagian bandel banget dibilangin," sahut Rasti.


Mereka kemudian menyeret Sam yang meraung belum setuju. Sam meronta dan ada saja ulahnya saat diseret ke lantai bawah.


Tapi pada akhirnya ia berakhir di permadani berwarna merah di ruang keluarga yang telah dibereskan dengan tangan dan kaki diikat serta mulut disumpal kain. Bajunya dilepas dan hanya menyisahkan celana boxer dan itu semua dilakukan oleh orang tuanya. 


"Emm …."


Sam meronta lagi dengan menggeliat ke sana ke mari seperti cacing kepanasan saat hendak diluluri. 


Hamdan atas perintah Rasti merekam kelakuan Sam untuk dikirim pada Lila. Aneh memang, tetapi inilah keluarga Anggara.


"Menurutlah anak Mama tampan. Lihat ke kamera dan tersenyumlah. Sapa calon istrimu. Kalau tidak akan Mama suruh Lila yang melulurimu sendiri," ujar Rasti tanpa rasa bersalah dan iba. Sam membulatkan matanya. 


"Emm …."


Sam menggelengkan kepalanya dan menatap Rasti memelas. 


Jangan Ma. Malu Sam, itulah arti gelengan Sam. Rasti tersenyum penuh kemenangan.


Perlahan, inci demi inci tubuhnya kini berbalut lulur berwarna kuning cerah. Hanya menyisahkan mata, rambut serta apa yang ada di balik celananya. Sam mengerjapkan matanya perlahan. Rasti dan Hamdan duduk bersantai di sofa dan mengawasi Sam.


"Ma, buka saja deh mulut Sam. Kasihan," ujar Handam.


Rasti menatap Sam. Sam segera menganggukkan kepalanya. 


"Ya sudah deh. Lagian sudah dilulur kok," sahut Rasti.


Hamdan melambaikan tangannya menyuruh pelayan yang setia di belakang mereka membuka sumpalan mulut Sam. Sam segera menghirup nafas banyak-banyak, pengap rasanya.


Lah kok ada yang janggal ya?


"Pa gimana sudah dilihat sama Lila?" tanya Rasti antusias.


"Sudah Ma. Sudah centang dua berwarna biru," jawab Hamdan seraya menunjukkan buktinya.


"What? Papa kirim video Sam luluran Sam Lila?" pekik Sam.


"Iya," jawab Hamdan santai.

__ADS_1


"Papa!!" teriak Sam kesal, membuat semua yang berada di dekatnya menutup gendang telinga mereka.


"Balik sumpal saja deh mulutnya Ma. Berisik banget," kesal Handam.


"Iya," jawab Rasti setuju menatap kesal Sam.


"Eh?" kaget Sam.


Alhasil mulutnya kembali disumpal. Sam hanya bisa mengatakan. Em.


***


"Busyet … apaan yang dikirim sama camer gue?" seru Lila saat menonton video yang dikirim Handam.


"Apaan sih Lil? Lihat hantu loe di situ?" kesal Raina yang sedang fokus-fokusnya pada tugasnya.


"Nih, apa ini calon laki gue? Kok kuning gitu sih? Apa Sam albino atau apa? Tapi kalau albino kan kulitnya putih pucat kayak mayat. Ini kok kuning kayak itu," tanya Lila menunjukkan video itu pada Raina. Raina menyipitkan matanya dan tak lama tergelak tawa.


"Sam lucu banget. Bay the way … bokap sama nyokapnya bar-bar banget sih? Anaknya digituin," ucap Raina terpingkal.


Otaknya yang banyak duri landaknya kini kembali mulus dan licin bak kulit ular piton.


Lila menonton sekali lagi video itu. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Karena tadi sedang gak mood lihat beginian, makanya jadi Lila cuma lihat sekilas. Dan kini ia mulai melihatnya dengan serius.


"Iya Ra. Loe benar. Kocak juga yak calon mertua gue," timpal Lila terkekeh.


"Eh … calon mertua loe gak bar-bar juga kan?" tanya Lila yang membuat Raina terdiam.


"Ku harap tidak," harap Raina.


Setelah mengobrol sejenak, mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda beberapa saat.


***


Di kediaman Alantas, Angga pusing dengan ulah Santi. Anak mereka kini tengah berlatih melafalkan ijab qabul dengan lancar bersama kakek dan neneknya di teras rumah. 


"Ma untuk apa jamu kuat? Mama gak yakin sama kekuatan anak kita?" tanya Angga seraya mengusap kasar wajahnya.


Santi yang masih asyik memilah bahan untuk membuat jamu atas dasar intruksi salah seorang pelayan yang orang tuanya berprofesi sebagai penjual jamu tradisional.


"Lagian basi juga Mama buat sekarang," tambah Angga.


"Mama kan cuma mempersiapkan bahannya, besok baru mama buat. Lagian ini juga untuk kebahagiaan anak kita," sahut Santi santai tanpa beban.


"Biar gitu buka pabrik kesempatan hasil produksinya cepat jadi," tambah Santi.


Angga menghela nafas kasar.


"Ma jadi atau tidaknya itu atas izin yang kuasa. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Bukan jamu kuat yang buat langsung jackpot," ucap Angga.


"Iya Mama tahu itu. Tapi inikah salah satu bentuk usaha. Sudah deh papa bawel banget," kesal Santi.


"Lagian kan bisa pakai obat perangsang, ngapain capek-capek buat jamu," imbuh Angga.


"Yak ah Pa. Jamu itu lebih baik daripada obat perangsang. Mama gak mau buat anak kita ada yang salah nanti karena obat perangsang," ketus Santi.


Kini bahan membuat jamu sudah selesai, ia menyuruh pelayan mengasingkannya.

__ADS_1


"Terserah Mama deh. Papa ngikut saja," pasrah Angga.  


Papa harap kau sabar dengan ulah Mamamu besok, Vin, harap Angga dalam hati seraya mengalihkan pandangannya menatap arah depan. Di mana Calvin serta orang tuanya berada.


__ADS_2