
Setelah makan siang, Karina dan Arion langsung pulang ke rumah untuk menyaksikan pernikahan Satya dan Riska secara online. Sebenarnya Karina ingin langsung hadir di sana, akan tetapi besok ada acara penting. Selain itu, Karina merasa kosong jika ia melihat Joya tanpa membawa obat.
Keputusan berhasil atau tidaknya akan dipatenkan setelah dua minggu penyuntikan. Sejauh ini belum ada kendala berarti dalam uji coba, semua dalam jalurnya.
Setibanya di rumah, Karina langsung mandi. Arion ikut masuk ke kamar mandi, beberapa hari tanpa Karina membuat hati Arion merindu setengah mati. Walaupun sudah bertemu, rasa rindu itu seakan tidak pernah puas. Arion ingin selalu berada di samping Karina.
Karina keluar dengan wajah kesal tapi malu. Di lehernya ada ruam merah. Belum lagi bibir sedikit bengkak. Suami mesumnya itu mencari kesempatan untuk menyentuhnya, untung saja ia hamil, kalau tidak pasti siang ini akan menjadi lebih panas lagi.
Arion keluar dengan wajah puas setelah menggoda Karina. Arion menyusul Karina ke ruang ganti. Dilihatnya Karina tengah memegang dress berwarna putih. Arion langsung menyambar dress tersebut. Karina terkejut dan menatap aneh Arion.
"Ada apa? Kembalikan dress itu," ucap Karina.
"Jangan gunakan warna putih. Nanti tamu mengira kamu pengantinnya!"ucap Arion menyimpan kembali dress tersebut.
"Aigo?! Kau cemburu? Ayolah Ar, kita menghadiri pernikahan mereka secara online. Kita bisa melihat mempelai dan tamu tapi mereka tidak bisa melihat kita. Aku tanpa busanapun mereka tidak akan tahu," omel Karina, melempar tatapan kesal pada Arion.
"Kalau kau mau tanpa busana, maka kita akan menyaksikan pernikahan mereka sambil bermain di sana, mau?"
Arion menunjuk ranjang.
"Kalau kau melakukan itu aku akan membunuhmu! Kau mau mereka lahir sebelum waktunya hah?!"seru Karina menatap marah Arion.
Arion terdiam sejenak. Bukannya takut dengan Karina, Arion malah merasa Karina menggemaskan dengan wajah marah itu. Arion tertawa, memegang kedua pundak Karina.
"Aku pria yang sangat pencemburu, Sayang. Jadi jangan buat aku cemburu ya," ujar Arion.
Karina mendengus.
"Wanita cemburu pakai kata dan hati, kalian para pria cemburu pakai fisik dan kata. Huh," gerutu Karina.
Arion terkekeh pelan. Menggoda Karina adalah kesenangan tersendiri baginya.
"Pilih dress untuk ku kenakan!"
Karina berkata dengan nada ketus dan wajah jutek.
"Baiklah. Sayang, beragam ekspresi apapun di wajahmu, tidak mengurangi kecantikanmu. Ah tidak, hanya satu ekspresi, kesedihan. Jangan pernah bersedih karena itu membuatmu tampak jelek," jawab Arion, malah kembali melemparkan ledakan.
Karina kembali mendengus. Arion tersenyum dan memilih dress yang akan Karina gunakan. Pilihan Arion jatuh pada dress berwarna kuning, berlengan sesiku dan di bawah lutut. Desain gaun tersebut model klasik.
"Ini, warna kuning cocok untuk hari ini," ujar Arion memberikan dress tersebut pada Karina.
Karina tidak langsung mengambilnya tapi menatap dress dan Arion bergantian.
Dress ini?
"Darimana kau mendapatkan dress ini?"tanya Karina menatap lekat dress kuning tersebut.
"Di lemari lah, paling belakang. Aku rasa aku tidak pernah melihatmu memakainya," jawab Arion.
Karina memang jarang memakai pakaian berwarna kuning.
Karina ingin berujar kembali tapi Arion sudah lebih dulu menyela.
"Ayo," ujar Arion lagi.
"Ah … baiklah."
Karina menerima dress tersebut. Menunggu Karina berganti pakaian, Arion memilih pakaian yang akan ia gunakan. Pilihannya jatuh pada celana hitam dan baju rajut berwarna kuning.
Arion terdiam melihat Karina yang keluar dari ruang ganti, semakin hari pesona Karina semakin besar. Arion tidak bisa berhenti jatuh cinta setiap saat pada Karina. Dress tersebut sangat cocok di tubuh Karina.
Rambut yang digerai, make up tipis natural, perhiasan yang kemarin ia berikan, membuat Karina tampil bersinar layaknya matahari, sesuai dengan warna dress yang digunakan. Senyum tipis menghiasi wajah Karina.
"Hei," panggil Karina menyenggol lengan Arion.
"Sayang, kita kencan saja yuk," ajak Arion memeluk Karina.
__ADS_1
"Ish kau ini, kita kan baru saja date," keluh Karina.
"Nanti malam bagaimana? Pasar malam?"tawar Arion.
Mendengar kata pasar malam, mata Karina langsung berbinar.
"Setuju!"
*
*
*
Pernikahan Satya dan Riska berlangsung di gereja yang sama tempat pernikahan Gerry dan Mira beberapa waktu yang lalu. Dari keluarga Adiguna mengundang keluarga dan petinggi negara dan militer. Maklum, Tuan Adiguna kan seorang jenderal besar.
Dari pihak Satya sendiri, yang pasti adalah Rian, Darwis, Joya, perusahaan KS Tirta Grub, Pedang Biru, Jaya Company, dan Kasino Heart of Queen selain ketiga tuan mudanya.
Gereja dihias sedemikian rupa untuk pernikahan ini. Tamu undangan sudah memenuhi tempat duduk. Satya sudah berdiri di altar menunggu pengantinnya datang.
Rian duduk di barisan pertama bersama dengan Intan, Rena, dan suami serta anak mereka, baby Reksa.
Darwis yang awalnya memutuskan untuk menyaksikan pernikahan Satya dan Riska secara online, kini duduk di samping Rian dengan Joya di sebelahnya. Apa lagi kalau bukan Joya yang meminta? Joya ingin menghadiri langsung acara pernikahan ini. Walaupun sudah dibujuk, Joya kekeh pada permintaannya.
Rian tampil gagah dengan balutan jas berwarna coklat susu yang senada dengan celana dan kemejanya. Rambut dengan poni samping sedikit bergelombang membuat Satya terkesan cute.
Mata emerald Satya lekat menatap pintu masuk ketika sepasang kaki masuk didampingi oleh seorang pria tua. Gaun coklat susu yang digunakan seorang kaki berbalut hak tinggi berwarna putih itu menyeret di lantai. Bucket bunga mawar dipegang erat di dada.
Senyum terukir di wajah Satya. Pengantinnya telah datang. Riska berjalan menuju altar didampingi oleh Tuan Adiguna.
Perasaan gugup, takut, dan bahagia menyatu dalam hati Riska. Pandangannya menunduk mengetahui Satya terus menatap dirinya. Sebentar lagi ia akan melepas masa lajang dengan pria yang penuh dewasa darinya. Menjadi seorang istri dari salah seorang pria yang berpengaruh di negeri ini.
Tamu undangan terkagum dengan kecantikan putri bungsu Tuan Adiguna. Bahkan para daun muda yang seusia dengan Riska atau lebih tua beberapa tahu terkesiap dengan mempelai wanitanya. Para orang tua yang memiliki putra yang seusia dengan Riska menyayangkan ketidakberuntungan mereka.
Satya mengulurkan tangannya pada Riska. Dengan perasaan gugup Riska menerima ukuran tangan Satya.
Satya dan Riska saling berpegangan tangan. Mereka akan segera mengucapkan janji suci pernikahan di hadapan Tuhan, Pendeta, dan seluruh tamu undangan.
"Tuan Satya William Anderson, apakah Anda bersedia menjadikan Nona Ariska Keyra Pratama sebagai istri sah Anda? Baik dalam keadaan kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, setia menemaninya, dan senantiasa mencintainya sampai akhir hayat?"tanya Pendeta pada Satya.
"Aku bersedia," jawab Satya mantap.
Riska yang semula menunduk mengangkat pandangan, matanya bertemu dengan mata emerald yang beberapa hari belakang ini menghantui hatinya. Perasaan bahagia begitu besar ketika Satya menjawab "aku bersedia".
Ekspresi terkejut samar tertera di wajah Tuan Adiguna dan Intan. Mereka saling tatap memastikan.
Pendeta beralih menatap Riska.
"Nona Ariska Keyra Pratama, apakah Anda bersedia menjadikan Tuan Satya William Anderson sebagai suami sah Anda? Baik dalam keadaan kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, setia menemaninya, dan senantiasa mencintainya sampai akhir hayat?"tanya Pendeta.
Riska tidak langsung menjawab. Riska mencari sesuatu lebih dulu di mata Satya. Satya menaikkan satu alisnya bertanya.
"Aku bersedia," jawab Riska mantap setelah menemukan apa yang ia cari.
Berikutnya adalah tukar cincin. Satya memasangkan cincin di jari manis Riska begitu juga sebaliknya.
"Sekarang, Tuan Satya ciumlah istri Anda," ujar Pendeta tersenyum.
Ekspresi Satya berubah menjadi canggung, begitu juga dengan Riska. Keduanya salah tingkah. Satya menoleh ke tamu undangan yang menantikan ciuman mereka. Satya menatap Rian, Darwis, dan Joya yang bertepuk tangan memberi semangat pada Satya. Satya malah memegang lehernya.
"Ciuman? Apakah boleh nanti saja? Di sini terlalu terbuka," ujar Satya dengan mata meminta.
Pendeta tersebut menggeleng.
"Ciuman adalah bentuk kasih dan cinta Anda kepada istri Anda. Ini sudah bagian dari pernikahan," jawab Pendeta.
__ADS_1
"Ciumlah! Ciumlah! Ciumlah!"
Para tamu undangan malah menyemangati Satya sembari bertepuk tangan.
Aduh mengapa aku jadi gugup?batin Satya menunduk.
Satya terkejut saat ada yang memegang lehernya berikut dengan bibirnya yang ditempeli sesuatu yang kenyal. Satya melebarkan matanya mendapati Riska yang menciumnya lebih dulu. Satya masih dalam waktu keterkejutan. Kedua tangan Riska mengalung sempurna pada leher Satya. Mira berjinjit agar bisa mencapai bibir Satya.
Satya saja terkejut apalagi tamu undangan.
"Pa anak kita kok agresif ya?"tutur Intan merasa sedikit malu.
"Maklum Ma. Darah mudanya bergejolak tinggi. Sudahlah, yang penting mereka ciuman," sahut Tuan Adiguna.
Kini Satya mulai membalas ciuman Riska. Satu tangan memeluk pinggang dan satu tangan lagi memegang pipi Riska. Satya memperdalam ciuman tersebut. Mata Riska terbuka sebentar, matanya menunjukkan ekspresi bahagia yang besar.
Second kiss bersama orang yang sama. Mereka malah berciuman cukup lama padahal tadi malu-malu. Para tamu saling tatap mendapati ciuman belum juga selesai.
Para tamu akhirnya batuk kode agar kedua insan itu selesai berciuman. Rian, Darwis dan Joya tertawa melihat tingkah Satya.
Akhirnya setelah puas, Satya mengakhiri ciuman tersebut. Bibir keduanya basah. Riska menatap Satya sejenak kemudian menunduk dalam. Merasa malu dengan inisiatifnya.
"Aku mencintaimu," ucap Satya mantap mencium dahi Riska.
Riska kaget dengan ucapan mendadak Satya.
"Aku mencintaimu juga, Kak," balas Riska.
Pengantin baru itu lantas berpelukan. Mereka tersenyum lebar menatap para tamu yang tersenyum menatap mereka.
Aku berjanji akan menepati janji pernikahan yang aku ucapkan. Kau adalah satu-satunya wanita dalam hidupku. Kau adalah belahan jiwaku. Kau adalah milikku, Ariska Keyra Pratama.
Hari ini aku sudah resmi menjadi pendamping hidupmu, Kak. Hari ini dunia tidak hanya mengenalku sebagai putri bungsu jenderal Adiguna, tetapi juga sebagai istri dari Satya William Anderson. Hari ini ku serahkan hatiku padamu.
"Aku mohon, jagalah hatiku baik-baik. Aku mohon cintai aku selamanya," bisik Riska.
"Aku akan melakukannya. Kamu juga jagalah hatimu untukku selamanya," balas Satya.
*
*
*
Selesai pemberkatan dan pengucapan janji suci di gereja, kedua mempelai digiring menuju tempat resepsi. Kedua belah pihak sepakat untuk tidak merahasiakan pernikahan mereka.
Satya dan Mira telah bertukar pakaian. Satya yang tampan menggunakan apapun, di acara resepsi ini menggunakan setelan putih dengan dahi mulus sempurna. Riska memakai gaun dengan warna yang sama.
Pedang pora, resepsi khas kemiliteran.
Riska dan Mira berjalan perlahan di bawah acungan pedang. Senyum lebar terpatri indah di bibir mereka. Taburan bunga menyertai mereka.
Pelaminan yang didominasi campuran warna biru dan putih terlihat begitu indah dan mewah. Kini Satya dan Riska sudah berada di pelaminan. Kilatan lampu flash menjepret mereka seakan tidak pernah selesai.
Kali ini tamu undangan lebih banyak. Jika di pernikahan tadi hanya petingginya saja makan ini bebas. Pihak sekolah tempat Riska menuntut ilmu juga diundang ke acara resepsi ini. Teman-teman Riksa juga diundang.
"Kau suka?"tanya Satya.
Riska mengangguk.
"Apakah kau siap untuk malam ini?"
Riska membeku, menatap kik-kuk Satya.
"Kakak kan sudah janji tidak akan melakukan 'itu'," tagih Riska tergagap.
"Aku berubah pikiran. Kau tahu apa alasannya? Ciumanmu tadi," ujar Satya.
__ADS_1
Riska terdiam dengan sorot mata menyesal telah mengambil inisiatif lebih dulu.
Satya malah tertawa kencang di dalam hati. Menjahili Riska adalah satu dari kesenangannya.