
Berita kecelakaan keluarga Dayana menjadi trending di beberapa stasiun televisi. Dapat dipastikan kondisi korban menderita luka bakar sekujur tubuh, atau gosong. Pratama Company tidak menyangka mantan pemilik perusahaan ini tewas mengenaskan.
Terutama Joko, ia sangat shock dan langsung on the way ke lokasi kejadian. Sulitnya medan membuat lamanya evakuasi, belum lagi harus mengevakusi kendaraan yang terlibat kecelakaan akibat kecelakaan tunggal itu. Deru sirine ambulace sangat berisik di telinga, mobil itu hilir mudik membawa korban yang terluka untuk mendapat penanganan medis. Petugas kepolisian lalu lintas, mengatur lalu lintas agar kemacetan segera teratasi.
Joko tiba di lokasi. Joko memaksa masuk ke lokasi yang dipasang garis polisi. Beberapa petugas menahannya, namun Joko memberontak. Kekuatannya seakan bertambah. Setelah menjelaskan dengan nada tinggi, Joko mendapat izi . Wajah Joko tidak karuan begitu melihat bangkai mobil dari kejauhan. Seketika ia berlutut dan menatap sedih hal itu.
"Tuan!" teriak Joko memanggil Tuan Pratama. Panggilannya dijawab oleh kepulan asap yang masih ada.
"Tuan, kita baru saja bertemu dan berbincang. Anda mengatakan Anda ingin hidup tenang di desa, mengapa Anda malah pergi ke alam baka? Mengapa Anda dan keluarga pergi dengan cara seperti ini? Mengapa?! Hiks … hiks … hiks, kembalilah Tuan, kembalilah!" teriak Joko yang tidak menerima kepergian Dayana dan keluarga. Salah seorang polisi memegang pundak Joko yang bergetar karena kesedihan.
"Tuan, kami mohon agar menjauh dari sini, kami akan segera mengevakuasi korban, mohon jangan menghalangi jalan kami," pintanya sopan. Joko menunduk dan mengangguk lemah, dengan dipapah petugas itu, ia kembali ke mobilnya.
Joko duduk di mobilnya seraya menenggak air minum. Perasaan tidak sabar menunggu jenazah diangkat. Dengan memejamkan matanya, Joko menunggu evakuasi itu selesai.
*
*
*
Lila, Sam, Hamdan, dan Rasti menatap datar layar televisi. Bukan hal mengejutkan bagi mereka mendengar berita kecelakaan Dayana dan keluarga. Seolah itu sudah biasa. Kalau Sam, ia sudah tahu alasan di balik kecelakaan itu, pasti campur tangan sahabatnya.
Hamdan dan Rasti, melipat tangan di ada paha. Prinsip mereka, mereka akan puluhan kali berteman dan berlaku baik jika orang lain berlaku baik. Akan tetapi, mereka akan menjadi kejam dan sadis jika ada yang mengganggu kedamaian keluarga mereka. Hamdam, ia marah pada Sam, sebab mengira Sam yang akan menghancurkan kedamaian keluarga Anggara.
Bagi Lila, ia sudah kebal. Karina selalu melakukan lebih parah dari yang Calvin lakukan.
"Huah, aku mengantuk. Pa, Ma, Sam aku ke kamar dulu ya," ujar Lila dengan mata ngantuknya.
"Baiklah, ayo aku temani, aku juga lelah," sahut Sam, berdiri dan mengulurkan tangannya pada Lila. Lila menerimanya dengan tersenyum. Keduanya lantas segera menuju kamar mereka.
"Syukurlah semua kembali damai Pa, rasanya nyaman sekali kembali ke rumah. Beberapa hari di luar kota rasanya tidak nyaman," ujar Rasti bersandar pada pundak Hamdam. Hamdan tersenyum dan mengusap rambut Rasti.
"Hm, tempat yang paling indah, sesuasa yang paling hangat adalah keluarga," ujar Hamdan.
"Mama enggak sabar nunggu Lila lahiran. Pasti akan sangat menyenangkan jika rumah ini kembali ramai dengan suara bayi. Mama jadi kangen masa-masa kecil Sam. Mama ingat sekali saat Papa mengajari Sam berjalan dan Mama mengajarinya berbicara. Senangnya bisa mendengar kata pertama yang ia ucapkan adalah Mama. Uhhh, Mama enggak sabar nimang cucu," oceh Rasti dengan wajah berseri. Matanya terpejam dengan senyum lebar.
"Papa juga tidak sabar Ma. Papa ingin bermain dengannya. Tidak peduli anak cewek atau cowok, semua sama saja bagi Papa," timpal Hamdan. Rasti mengangguk menyetujui. Rasti kemudian meraih remote dan mengganti siaran dengan sinetron.
__ADS_1
"Membosankan," ucap Rasti saat mendapat tatapan kesal dari Hamdan.
"Hm," gumam Hamdan disusul dengan dengusan.
*
*
*
Saat semua tengah sibuk dengan berita kecelakaan keluarga Pratama dan klarifikasi mengenai Sam dan Dayana, Karina, Arion, Bayu dan Enji malah asyik jalan-jalan di tepi pantai.
Tangan Arion dan Karina bergandengan erat. Enji menatap datar itu, dalam hati berteriak ingin meminta pasangan. Tiba-tiba, ada sebuah telapak tangan kecil yang memegang telapak tangannya. Enji menoleh ke arah pegangan tangan itu dan melihat siapa pelakunya.
"Ayah tidak sendiri, ada aku," ujar Bayu lembut disertai dengan senyuman manisnya. Hati Enji menghangat dan segera mengangguk mantap.
"Thanks, Nak," ujar Enji, menghentikan langkahnya, otomatis langkah Bayu juga terhenti. Enji lalu mensejajarkan wajahnya dengan wajah Bayu.
"Kamu adalah harta paling berharga Ayah. Ayah akan selalu melindungimu, Nak." Enji mendaratkan ciuman di kening Bayu. Bayu memeluk Enji.
"Ayah juga harta yang paling berharga dalam hidup Bayu," balas Bayu.
"Saat ke pantai, kita selalu meninggalkan jejak kaki, akan tetapi jejak itu akan menghilang karena deburan ombak. Kau tahu, sesuatu yang pernah kita buat dengan susah payah suatu hari pasti akan menemukan titik jenuh dan lemahnya," tutur Karina pada Arion. Karina menghentikan langkahnya dan menatap jauh ke arah pantai. Arion memegang pundak Karina.
"Apa aku harus membuat jejak kakimu abadi tidak akan terhapus oleh ombak, Sayang?" tanya Arion serius. Karina menggeleng.
"Jejak bisa dihapus, tapi tidak dengan ingatan dan kenangan. Semua itu akan abadi dalam hidup kita," ujar Karina memalingkan wajahnya kembali ke arah pantai. Arion mengeryit.
"Aku tidak setuju. Jejak kita tidak akan pernah terhapus oleh waktu. Jejak kita akan menjadi sejarah. Sayang ingatlah, kita mengukir sejarah kita sendiri. Kita yang menulisnya di dalam jalan hidup kita," ucap Arion, ikut menatap ke arah pantai. Karina tersenyum tipis.
Tangannya merogoh kantong bajunya dan menguatkan sesuatu mirip sebuah pasir, berwarna putih mengkilap, sekilas kita akan mengiranya sebagai berlian.
"Ini adalah chip yang telah dipadatkan. Aku curiga Scorpion bekerjasama dengan mereka. Sebab, hanya ada beberapa saja yang menggunakan chip seperti ini. Mungkin hanya dua orang, aku dan pak tua kalajengking sialan itu," jelas Karina.
"Jika benar begitu, kita harus memperketat keamanan kita Sayang, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk," ujar Arion.
"Itulah yang aku pikirkan. Rencananya hari ini, aku dan Enji akan memperkokoh sistem keamanan rumah dan markas. Kita harus segera kembali ke rumah," sahut Karina, menimang chip pasir itu.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita pulang," balas Arion. Kedua lalu memutar langkah membelakangi pantai. Dengan santai, Karina melempar pasir itu. Tatapan santai Karina dan Arion berubah menjadi geli melihat Enji yang dikerjai oleh Bayu.
Bagaimana tidak, entah sejak kapan Enji membuat lubang pasir dan memendam diri di sana. Bayu malah menancapkan ranting-ranting pohon yang mau berdaun di sekeliling Enji. Malah mirip sebuah jembakan untuk menangkap sesuatu.
"Ayah, ini adalah cara menangkap buaya. Aku tinggal menambahkan umpannya," ucap Bayu dengan santainya. Enji membulatkan matanya, niatnya mau bersantai kok malah mau dijadikan umpan buaya.
"Anak kurang asam! Tega sekali kamu membuat ayahmu jadi umpan. Awas kau, akan ku beri pelajaran kamu!" pekik Enji kesal, matanya menatap tajam Bayu. Bayu mengendikkan bahunya dan menjulurkan lidahnya.
"Buaya air asin, mari datang. Makan malam sudah datang," teriak Bayu sembarang. Enji langsung berusaha keluar dari lubang pasirnya dan langsung mengejar Bayu yang sudah lari duluan.
Karina dan Arion menikmati drama anak dan ayah itu dengan gelengan kepalanya. Jengah, Karina bersiul dan memanggil keduanya mendekat. Enji yang sudah menangkap Bayu dan sedang memukul bokongnya, segera mendekat. Enji membawa Bayu dengan memegang kerah baju Bayu.
"Kita pulang. Kita ada pekerjaan penting mengenai sistem keamanan," ujar Karina.
"Okey," sahut Enji.
"Ya, mainnya selesai," keluh Bayu nampak kecewa.
Enji menjitak kepala Bayu.
"Kau belum menyerah untuk menjadikanku umpan?" tanya datar Enji.
"Iya," jawab cepat Bayu. Bayu membulatkan matanya sendiri, ia melirik Ayahnya yang sudah memerah kesal. Bayu mendelik sakit saat bokongnya kembali dipukul.
"Berhenti atau kalian berdua akan jadi santapan buaya!" lerai tegas Arion.
"Jangan dong!" jawab Bayu dan Enji bersamaan.
"Lagian mana ada di pantai berpengunjung begini buaya, yang ada buaya darat," lanjut Arion lagi, mengajak Karina untuk ke mobil.
Bayu merasakan punggungnya dingin, tanpa berbalik, dengan jurus lari seribu ia kabur dan masuk ke mobil Karina. Mengunci pintu dan tidak membiarkan Enji masuk. Akhirnya dengan hati dongkol, Enji mengendarai motornya di belakang mobil Karina.
*
*
*
__ADS_1
Mira dan Riska bersiap ke bandara menjemputnya Tuan dan Nyonya Adiguna. Dengan pakaian kasual, mereka memasuki mobil tipe alphard itu. Mobil meluncur bebas di jalan menuju bandara. 45 menit kemudian, mereka tiba di bandara.
Riska dan Mira menunggu sembari memainkan gawai canggih mereka. Mira, tatapannya pada gawai di tangan, akan tetapi pikirannya melayang terbang meninggalkan raganya. Mira melamun. Sedangkan Riska, mengatasi kebosanan dengan membuka aplikasi instagram dan berselancar ria di aplikasi itu.