Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 201


__ADS_3

Di meja, terlihat beberapa berkas yang diyakini sebagai surat kuasa atau apalah itu. 


"Sebelumnya saya turut berduka cita atas kepergian Tuan Bram Wijaya yang tak pernah disangka. Ya tetapi namanya ajal tak pernah terduga. Saya di sini sebagai perwakilan alm. Tuan Bram ingin menyampaikan mengenai harta benda yang beliau tinggalkan di mana Anda sebagai anak beliau mendapat setengah dari harta kekayaan beliau. Sedangkan setengahnya lagi diwariskan untuk nona Alia saat nanti Nona Alia berusia 20 tahun. Surat ini ditulis sebelum beliau liburan dan tewas di negeri orang," jelas notaris tersebut panjang lebar.


Notaris itu memberikan surat yang ia jelaskan pada Amri. Amri membacanya dengan seksama.


"Jadi saya juga mendapat bagian dari harta warisan Ayah saya?" tanya Amri memastikan.


Jujur ia kaget dengan itu dan ia juga tak pernah menyangka. Memikirkannya saja tak pernah. Sejak dia dan Maria meninggalkan rumah ini, Amri sudah tak berharap pada harta warisan. Biarlah harta itu, Ayah dan Ibunya yang menikmati.


"Benar. Itu jelas tertulis di sana. Namun, karena nona Alia masih berumur enam minggu maka untuk sementara harta warisan itu Andalah sebagai kakak kandung nona Alia yang memegangnya," jelas notaris tersebut.


Karina dan Arion diam saja dan mengikuti alur cerita. 


"Anda percaya pada saya? Ini apakah juga amanah dari Ayah namun tidak tertulis?"


Amri masih tak percaya. Maria mengusap punggung suaminya, merasa suami mau menurunkan hujan.


Notaris tersebut tersenyum dan mengangguk sembari membenarkan letak kacamatanya. 


"Tuan Bram takut jika Nyonya Nita yang memegangnya, takutnya akan disalahkan gunakan dan tidak dapat dikelola dengan baik. Beliau juga tak mau dicap atau Anda mengecap Nyonya Nita sebagai wanita gila harta. Oleh sebab itu beliau mengambil keputusan ini. Namun, ternyata mereka berdua tewas," jelasnya lagi.


Tanpa Amri sadari, air matanya meleleh membasahi pipi dan jatuh membasahi surat wasiat tersebut.


Maria menenangkan suaminya. Setelah tenang, Amri segera menandatangani surat warisan atas namanya. 


"Untuk warisan Alia, bisakah dikelola oleh putra saya?" tanya Amri.


Ia enggan memegang yang bukan haknya. Takut khilaf dan memakan harta anak yatim piatu. Padahal dia sendiri yatim piatu.


"Saya percaya pada Anda, sebab keluarga Wijaya adalah keluarga terpercaya dan terhormat. Sebagai notaris yang sudah mengambil puluhan tahun pada Tuan Bram, saya mengikut saja keputusan Anda. Lagipula saya ragu jika kalian memakan harta warisan milik orang lain?"


Notaris menaikkan satu alisnya dan melirik ke arah Karina. Karina membalasnya dengan tatapan tajam.


"Kalau begitu silahkan Anda tangani surat penyerahan kekuasaan atas nama Nona Alia dan akan dikembalikan pada Nona Alia saat berusia genap 20 tahun," ujar Notaris, mengeluarkan map berwarna biru dan menyodorkannya pada Arion.


Arion membaca poin penting sebelum menandatanganinya. Ia tak boleh terburu-buru. Setelah merasa tak ada yang janggal Arion segera menandatanginya. 


"Okay. Masalah perusahaan selesai dan sekarang itu di bawah kendali Wijaya Company. Untuk Oaska Mafia itu akan berada di bawah kendali Pedang Biru untuk jangka waktu yang telah ditetapkan, yaitu 20 tahun," ucap tegas Amri.


"Pedang Biru? Bukankah itu mafia terbesar di dunia? Apa hubungannya Oaska dengan Pedang Biru? Saya pikir Tuan yang akan mengambil alih ketua Oaska," bingung notaris.


"Saya sudah tua. Sudah saatnya beristirahat dan membantu jika ingin. Lagipula saya merasa Oaska akan lebih berkembang lagi jika di bawah kepemimpinan menantu saya. Dia Queen Pedang Biru," jawab Amri, tersenyum dan menunjuk Karina dengan bangga. 


Notaris tersenyum mengangguk mengerti. Selepas itu mereka berlima segera menuju aula kediaman Wijaya. Di mana markas dan kediaman adalah satu paket. 


Orang kepercayaan kakek Bram di Oaska Mafia segera mengumpulkan semua anggota. Setelah berkumpul Karina mengambil alih kuasa atas Oaska Mafia. 


Para anggota Oaska Mafia tak keberatan dengan hal itu. Sebab masih terdapat hubungan darah dan merasa mereka akan lebih berkembang jika bergabung dengan Pedang Biru.


Karina tersenyum tipis, melempar tatapan tajam ke arah barisan pada anggota Oaska Mafia yang berdiri tegak.


Karina mengeluarkan pisau hadiah Arion dari balik tubuhnya dan melemparnya ke arah salah seorang anggota. 


Senjata itu tepat mengenai jantung anggota itu dan tumbang seketika. Hal itu mengundang tanda tanya dari semua orang.


"Dia penyusup! Tak ada lambang segitiga bermuda balik daun telinganya. Selain itu tatapan matanya waspada dan gelisah. Ia mata-mata yang sudah menjadi rekan kalian!" ucap dingin Karina. Ia kemudian mengedarkan pandangannya lagi.


Karina sudah menyelidiki semua tentang Oaska Mafia. Di balik daun telinga para anggota terdapat lambang segitiga bermuda yang mengurung ombak dan ukurannya sangat kecil dan hanya diketahui oleh ketua dan orang kepercayaan ketua. 


Hah?


Para anggota memeriksa telinga kanan sesama rekannya dan ucapan Karina memang benar. Hal itu tak pernah mereka tahu. 


Karina menangkap sinyal musuh. Belum sempat Karina menarik pistolnya, Arion dan Amri telah bertindak duluan.

__ADS_1


Empat orang yang berdiri paling belakang, tewas seketika dengan mata terbuka. 


"Kerja bagus," puji Karina, menyimpan kembali pistolnya.


"Tentu," jawab Amri dan Arion senang dan meniup ujung pistol mereka.


"Papa tetap kece pakai pistol," puji Maria. 


"Hehe, umur boleh lanjut, jiwa muda tetap membara," sahut Amri.


"Queen, pisau Anda," ujar Amir, orang kepercayaan kakek Bram.


Karina mengambil pisaunya yang telah bersih dari noda darah sembari melirik Amir tajam.


Amir merasa ia tengah berada di kawanan singa dan dia adalah seekor rusa. Santapan yang lezat.


"Jangan macam-macam! Pilih nyawamu ataupun mengorbankan nyawamu demi orang yang tak peduli dengan nyawamu?" tanya Karina dingin, dengan gerakan cepat meletakkan pisau di leher Amir.


"Apa? Apa maksud Anda Queen?" tanya Amir tergagap.


"Pilih!" tegas Karina.


Amir berpikir, ia termenung. Karina bosan dan melemparkannya setelah memberi goresan kecil di lehernya. Dua anggota menahan tubuh Amir agar tidak menghamtam kerasnya lantai aula.


"Dengarkan aku! Sekarang kalian adalah bagian dari Pedang Biru. Nama kalian tetaplah Oaska Mafia! Namun, untuk keanggotaan, akan ku seleksi kembali. Aku melakukan hal tadi bukan tanpa alasan! Mereka."


Karina menunjuk lima mayat yang dijejerkan rapi di salah satu sisi aula.


"Adalah musuh yang menyamar sebagai anggota. Wajar saja kalian jalan ditempat. Dan dia adalah salah satu dari mereka. Dia adalah anggota dari musuh kalian. Selalu memberikan informasi penting terhadap majikannya dan membuat kalian selalu ketinggalan langkah. Dan aku akan melakukan seleksi ketat pada kalian untuk menentukan kelas keanggotaan!" ucap Karina tegas.


Para anggora Oaska Mafia berlutut satu kaki dan menggangguk. Mereka mengucap janji pada Karina. Mereka menggores jari telunjuk mereka dan mencoretkan darah yang keluar ke kening mereka.


"Janji kalian adalah tanggung jawab kalian. Jika kalian tepati, kalian sendiri yang akan mendapat imbalan dan balasan, jika kalian berkhianat, nyawa kalian taruhannya!"


"Baik, Queen! Kami mengerti!" sahut Oaska Mafia.


Karina segera membubarkan barisan. Tinggallah Amir yang masih duduk di lantai dan menunduk. Arion mendekati Karina dan menggenggam tangannya erat.


"Bagaimana?" tanya Arion datar.


Amir mengangkat pandangannya.


"Saya memilih untuk nyawa saya sendiri," jawab Amir, tegas dan percaya diri.


Karina tersenyum.


"Pilihan yang tepat!" ujar Karina.


"Sekarang tugasmu adalah mengantar kelima mayat ini ke markas Pedang Biru. Katakan pada mereka, berikan mayat ini pada kucing-kucing peliharaanku. Jangan lupa potong kecil sesuai dengan besar mulut mereka," perintah Karina, mengeluarkan sebuah cincin berwarna biru dengan ukiran mawar biru dan memberikannya pada Amir.


"Baik, Queen," jawab Amir.


"Ingat! Jangan macam-macam! Cincin itu bisa mendeteksi perbuatanmu dan terhubung langsung padaku! Tunjukkan cincin itu pada penjaga gerbang maka kau akan diterima masuk!" pesan Karina, memberi peringatan.


Amir mengangguk dan segera pamit mengerjakan tugas perdananya di bawah kekuasaan baru.


"Akhirnya selesai juga," ucap lega Amri.


Menatap Maria dan Alia dengan wajah penuh kelegaan. Sedangkan Karina dan Arion berpelukan. Mereka lantas segera berpamitan dan menuju motor mereka. Kembali ke mansion Karina.


Setibanya di mansion mereka mereka langsung merebahkan tubuh di empuknya sofa ruang tengah. 


"Eh, Bik, Enji dan Bayu ke mana ya?" tanya Karina pada Bik Intan. 


"Mereka katanya tadi pergi jalan-jalan Non," jawab Bik Intan.

__ADS_1


Karina mengangguk. Bik Uci datang dengan membawa senampan minuman dan kue tradisional.


Maria ke dapur untuk membuat susu untuk Alia. Alia ia berikan dulu pada Amri. Amri dengan gemas menoel-noel pipi chubby Alia.


Alia tertawa khas bayi. Arion merapat dan ikut bermain dengan Alia. Karina memperhatikannya lekat.


Dengan keponakan saja sayang. Apalagi dengan anak sendiri. Nak kamu tumbuh yang sehat dan baik di dalam rahim Mama ya, batin Karina mengusap perutnya. 


Karina tersentak kaget saat usapannya mendapat respon dari dalam. Karina membinarkan matanya dan menatap Arion.


"Ar, mereka respon usapan aku," ucap Karina.


Arion membulatkan matanya dan duduk di samping Karina.


"Benarkah?"


Arion ikut mengusap lembut Karina. Arion mengangguk. Namun, setelah beberapa lama Arion mengusap perut Karina, ia tak mendapat respon dari kedua anaknya.


Karina tertawa melihat wajah cemburu Arion. Sedangkan Amri terkekeh melihat itu.


"Anak papa twins, kalian pilih kasih ya sama Papa? Padahal Papa yang sering usap kalian, kok cuma Mama sih yang direspon?" keluh Arion, tetap mengusap lembut perut Karina.


"Karena Papa selalu jahili Mama," sahut Karina dengan nada anak kecil.


Arion mengangkat pandangannya dan menatap Karina heran dan tidak setuju. 


"Yang ada Mama yang selalu jahili Papa," bantah Arion.


 Baru saja mereka mau adu mulut lagi, sudah dipotong duluan oleh Maria yang datang dengan sebotol susu berwarna putih. 


"Ada apa ini? Kok suara kedengaran sampai dapur?" tanya selidik Maria.


"Cucu kita tadi respon usapan Karina, tapi giliran Arion gak direspon Ma," jawab Amri, memberikan Alia pada Maria agar diberi minum susu dari dot.


"Oh, jadi ceritanya kamu cemburu Ar?" terka Maria.


Dan dijawab anggukan kepala Karina.


Maria terkekeh dengan itu.


"Eh Yang, kamu belum kasih tahu masalah Darwis tadi," ujar Karina, mengingat pembicaraan pagi tadi.


Karina mengubah wajahnya menjadi sendu. Ia menarik nafas panjang dan menatap wajah Arion yang penasaran ditambah alis terangkat Amri dan Maria.


"Ini mengenai Joya, adik sepupuku," ujar Karina.


"Joya? Kenapa dia? Bukankah dia sudah happy bersama suaminya?" heran Maria.


"Hm, Glioma cerebri. Joya terkena penyakit itu," jawab Karina.


"Innaillahi, kasihan sekali dia," ucap Amri dan Maria terkejut dan prihatin.


Sedangkan Arion terdiam.


"Bukankah dia sedang hamil? Pasti berat rasanya. Kasihan juga Darwias. Hm semoga mereka diberi ketabahan," ucap Arion setelah diamnya diakhiri.


"Ya, begitulah. Takdir tak ada yang tahu," sahut Karina.


"Kalau begitu sekalian saja kita menjenguknya. Biar bagaimanapun dia adalah keluarga Wijaya. Sepupumu Karina," ucap Amri.


Amri mengira Karina masih memiliki dendam pada Joya karena masalah di masa lalu.


"Bagaimana Ar?" tanya Karina.


"Boleh, sekalian jalan," jawab Arion.

__ADS_1


__ADS_2