
"Rasanya … em … begitu nikmat. Ia sudah lama tak bermain dengan kekasihnya," jawab Darwis dengan sedikit rona merah di wajahnya.
"Lalu? Apa cuma itu saja?" tanya Karina dengan nada mendesak. Ingin menggali lebih jauh.
"Hmm … itunya … ahhh … Queen apakah tak ada pertanyaan lain?" tanya Darwis frustasi. Bagaimana tidak? Pergulatan dengan Joya terngiang di kepalanya.
"Tidak. Itu pertanyaanku!" jawab Karina tegas.
"Anda pasti sudah mengetahuinya Queen. Saya malu menjawabnya. Itu agak sensitif dan pribadi," ucap Darwis berusaha agar Karina tak mendesaknya lagi.
"Sensitif? Apa kau pikir aku tak tahu apapun tentang dirimu? Luar dalam aku tahu persis. Milikmu itu lebih kecil dari milik Li!" ucap Karina menyindir yang membuat Li dan Darwis membelalakan mata mereka shock.
Hal paling mereka jaga dan rahasiakan, Queennya mengetahuinya. Bahkan tak segan mengatakannya. Darwis melirik Li yang gemetar. Wajahnya merah padam menahan malu. Li melirik Karina dan Darwis bergantian. Dengan secepat kilat ia lari keluar dari ruang kerja Karina.
Karina malah terkekeh senang. Ia menatap Darwis yang masih terdiam dengan menaik turunkan alisnya.
"Hehehe … baiklah. Aku tak akan membahasnya lagi. Aku ada tugas untukmu," ujar Karina dengan senyum misteriusnya.
Darwis menatap Karina penuh tanda tanya.
"Rumah tanggaku mau diganggu oh tidak! Mau dihancurkan oleh wanita ular itu. Dia menjebak suamiku. Aku yakin kau pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya kan?" tanya Karina. Darwis mengangguk.
"Aku mau dia hamil. Tapi bukan anak Arion! Aku serahkan tugas ini padamu!" perintah Karina tegas.
"Ah? Apa? Hamil di luar nikah maksudnya Queen?" tanya Darwis membelalakan matanya. Karina terkekeh lagi.
"Heh? Bukankah tujuanmu itu waktu bersama Joya? Dia hamil anakmu dan kau bisa mengikatnya di sisimu bukan? Aku juga tahu, bahwa yang dibeli Joya di apotik itu bukanlah obat pencegah kehamilan melainkan malah untuk menyuburkannya," ujar Karina menyindir Darwis lagi. Dan sindirannya itu tepat mengenai Darwis. Bulir-bulir keringat keluar dari pelipisnya.
"Anda tahu hal ini juga?" tanya Darwis semakin gugup.
"Sudah ku katakan aku tahu dirimu luar- dalam," jawab Karina.
"Mendekatlah sedikit. Akan ku beritahu rencana untuk memulai tugasmu!" titah Karina.
Darwis mendekat pada Karina. Karina segera memberitahu garis besar dan sedikit sub-bab rencananya.
***
Sementara Karina dan Darwis tengah membahas rencana untuk Joya, Arion mondar-mandir di depan ruangan Karina. Semua mata menatap heran dirinya.
Namun, Arion mengabaikannya. Pintu ruangan diketuk namun tak ada jawaban, dipanggil tak ada sahutan. Ini adalah jam makan siang, tentu saja cafe ramai akan pengunjung.
Siska and the genk pun hanya bisa memberitahukan titah Karina akan tidak ada yang boleh masuk atau mengganggu dirinya tanpa izin. Selebihnya mereka sibuk melayani pelanggan.
Didi menunduk takut memepet dinding. Sesekali ia melirik Arion yang menunjukkan wajah cemas.
"Bagaimana bisa dirimu di luar? Kan aku perintahkan dirimu selalu berada di sisi istriku?" ucap Arion menatap tajam Didi.
"Ma-maafkan saya Tuan muda. Saya lalai. Nyonya tidak mengizinkan saya masuk," jawab Didi. Seketika ia merasa lututnya lemas.
Arion berhenti dari mondar-mandirnya. Ia terdiam. Tak lama ia menghela nafas kasar.
"Sudahlah. Ini bukan murni salahmu. Istriku bukan wanita pada umumnya," ucap Arion datar.
Ia mengambil handphone dan mencoba menghubungi Karina sekali lagi, but sama seperti yang lalu, handphone Karina tidak aktif.
Arion mengumpat kesal. Dengan langkah gusar ia menghampiri Siska yang sibuk meracik aneka minuman pesanan pelanggan, mulai dari aneka variasi kopi sampai aneka jus, tak jarang ada yang meminta minuman beralkohol. Di dekatnya ada Ferry yang menatapnya serius dengan seulas senyum.
__ADS_1
Nyonya kemana dirimu? Apa kau mau melihat diriku digantung? Nyonya cepatlah buka pintunya. Tuan muda siap meledak menghancurkan cafemu jika kau tetap tak menjawab. Nyonya aku mohon bantulah sopir perdanamu ini …, ratap Didi dalam hati.
"Dimana istriku??" tanya Arion pada Siska. Siska melirik Arion. Tangannya sibuk meracik. Ferry menoleh ke arah Arion. Hanya menoleh tak berniat ikut campur.
"Kan saya sudah mengatakan bahwa Bos ada di dalam namun tak ada yang boleh masuk tanpa seizinnya," jawab Siska datar.
"Lalu mengapa ia tak menjawab panggilanku? Handphonenya juga tak aktif!" tanya Arion lagi.
"Mana saya tahu Tuan muda. Mungkin saja Bos tidur dan handphonenya dinonaktif kan," jawab Siska sekenanya. Ia juga tak tahu apa yang sedang Bosnya lakukan saat ini.
"Mana kunci cadangan? Aku ingin masuk," ucap Arion.
"Tidak ada. Pintu itu akan terbuka dengan sensor suara yang hanya merespon bos. Tak ada yang bisa masuk tanpa dirinya!" ucap Siska. Racikannya sudah siap dan menyuruh rekannya mengantarkannya ke meja pesanan.
"What??" pekik Arion shock. Ferry ikut terperajat.
Sayangku Karina? Kau sungguh luar biasa. Semuanya kau privasikan dengan teknologi. Rumah, cafe, bahkan kamarku pun juga. Untung saja aku tak tinggal di rumahmu. Bisa jadi gila aku nanti! Kejutan apa lagi selanjutnya? batin Arion dengan hati penuh tanda tanya.
Arion mendaratkan bobot tubuhnya di kursi depan bartender. Meletakkan kedua tangannya di kepala. Frustasi akan kelakuan Karina.
Bersamaan dengan itu, hatinya juga berdebar-debar seakan-akan terjadi sesuatu yang mengubah hidupnya.
"Lebih baik kita tunggu saja Bos keluar. Saya yakin Bos tak melakukan hal yang membahayakan dirinya sendiri," saran Siska.
Siska? Apa yang kau katakan? Bahkan di mana dia sekarang aku tak tah, celetuk Siska dalam hati.
"Oke. Berikan aku Affogato," ujar Arion. Arion butuh yang pahit namun manis.
Siska mengangguk dan segera membuatnya. Tak lupa cake tiramisu juga dihidangkan.
Affogato merupakan jenis minuman kopi yang mencampurkan espresso yang kuat dan pahit dengan es krim vanilla yang nikmat.
Arion masih di tempat. Tak ada niat beranjak dan kembali ke kantor sebelum bertemu Karina. Didi masih tegak berdiri di dekat ruangan Karina.
Ceklek.
Terdengar suara pintu terbuka. Didi menoleh. Senyumnya terbit. Itu Karina. Keluar dengan wajah dinginnya dengan tetap duduk di kursi roda. Didi segera menghambur dan bersimpuh di hadapan Karina.
"Nyonya akhirnya Anda keluar. Saya sangat khawatir. Tuan, Nyonya sudah keluar," ucap Didi lega. Ia memegang tangan Karina.
Seandainya bisa, pasti akan ada ekor yang keluar dari belakang Didi. Menggoyang-goyangkannya senang. Arion menoleh, ia segera menghampiri mereka.
"Lepaskan. Kau siapa?" ucap Karina dingin menarik tangannya.
Didi tersentak. Ia menarik tangannya dan berdiri dengan wajah tak percaya. Ia semakin heran melihat wajah dingin tak tersentuh Karina.
"Nyonya? Saya Didi. Sopir Anda," ujar Didi. Karina melirik Didi dingin.
"Sayang … akhirnya kamu keluar. Aku khawatir sekali. Kamu kenapa?" ujar Arion memegang pundak Karina.
Karina diam tak menjawab. Ia menatap dingin nan tajam Arion. Arion tentu saja heran dan bingung. Tatapan yang sudah lama tak Karina perlihatkan padanya kini kembali.
"Sayang?" panggil Arion menaikkan sedikit nada bicaranya.
"Tidur," jawab Karina dingin.
"Tidur? Kamu gak dengarkah aku panggil dari tadi?" tanya Arion.
__ADS_1
"Gak. Kedap suara," jawab Karina singkat.
"Didi, ayo kita pergi," titah Karina.
Tak ada niatnya bermanja pada Arion. Didi melirik Arion yang masih terdiam dan membeku. Menatap Karina dengan sejuta tanya namun tak ada yang keluar satu pun.
"Ayo Didi! Kau takut dengannya? Takut dipecat hah? Kau tenang saja! Jika dia memecatmu aku akan mempekerjakanmu secara pribadi dengan bayaran dua kali lipat!" kesal Karina.
Arion mengangguk mengiyakan saja. Didi segera beranjak ke belakang Karina mendorong kursi roda Karina keluar cafe menuju mobil.
"Aku tunggu kejujuranmu!" ucap Karina dingin tanpa menoleh ke arah Arion. Arion terhenyak. Kejujuran?
"Kejujuran apa? Apa ini adalah penyebab Karina badmood bahkan lebih parah?" gumam Arion.
Ingatannya menggali, seketika matanya membulat dan refleks mengejar Karina. Sayang, Karina sudah pergi dari parkiran menuju arah tak jalan kembali ke rumah. Arion resah. Ia tak tahu kemana Karina mau pergi.
Dia sudah mengetahuinya kah? Bagaimana caraku menjelaskannya? Aku bahkan tak berani mengingatnya, batin Arion merana.
Ia memutuskan kembali ke kantor. Baru satu langkah, ada yang menahannya.
"Anda mengkhianati Bos kami?" tanya Siska dingin.
Aura dingin merasuk dan membuat Arion merinding. Ia berbalik. Menatap datar Siska and the geng yang menatap dingin dirinya. Tak mau masalah lebih rumit, Arion hanya menjawab sekenanya.
"Ini cuma salah paham," ujarnya segera berlalu.
"Awas saja jika ia. Akan ku bumi hanguskan keluarga Wijaya dari dunia ini," desis Siska yang diangguki teman-temannya.
***
"Kita akan ke mana Nyonya?" tanya Didi pelan. Tak mau mengganggu Karina yang tengah memejamkan matanya. Karina membuka sebelah matanya.
"Terus saja jalan. Jika sudah sampai pinggir kota putar balik," jawab Karina dingin.
"Jika kami rasa bahan bakarnya kurang, beli pakai ini," tambah Karina meletakkan kartu goldnya di tempat dekat supir lalu kembali memejamkan matanya. Didi melaksanakan itu.
Namun, tetap saja ia merasa tertekan dengan aura dingin yang Karina keluarkan. Walaupun mata Nyonyanya terpejam, namun Didi merasa Karina sedang menatapnya dengan buas.
Dua jam berlalu, mereka masih berkendara menuju kembali ke pusat kota. Karina masih memejamkan matanya. Tak tahu apakah tertidur atau sedang merancang rencana. Begitupun satu jam kemudian, Didi mulai lelah. Ia pun memberanikan bertanya.
"Nyonya, kita mau kemana? Sudah lebih tiga jam kita berkendara," tanya Didi pelan.
Karina membuka matanya lalu mengambil air mineral dan meminumnya hingga tandas.
"Panta," singkat Karina dan memejamkan matanya kembali. Didi menghembuskan nafas kasar.
Perjalanan ke pantai dari tempat mereka berada membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Dan sekarang waktu menunjukkan waktu 03.45.
***
Pantai. Inilah salah satu tempat yang mampu menenangkan Karina. Mengeluarkan segala unek-uneknya bersama desiran ombak yang datang silih berganti. Didi setia di samping Karina.
Berjaga apabila Karina ingin sesuatu. Karina menatap sendu bibir pantai. Semilir angin menerpa wajah Karina. Membuat rambutnya melambai diterpa angin.
.
.
__ADS_1
.
Jika engkau dilanda dilema dan cobaan, kemanakah dirimu akan mengaduh setelah kepada Sang Maha Kuasa? by Karina.