Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 85


__ADS_3

Karina beranjak mendekati lemari buku. Masih dengan menggunakan kursi rodanya.


Pakai sajalah. Daripada nanti kaki aku mengulah terus Arion marah, nantinya aku pasti tak dibolehkan keluar rumah, batin Karina.


Karina meraba lemari buku. Mencari sebuah tombol. 


**Klik.


Kriet**.


Bunyi lemari terbuka. Menyingkir menjadi sebuah lorong. Karina meraih tombol listrik menghidupkan lampu lorong yang gelap gulita.


Karina tersenyum puas melihatnya. Sebelum memasuki lorong, Karina menghubungi Siska menitahkan tidak ada siapapun yang boleh masuk ke ruangannya jika tak ada persetujuan darinya.


Karina mulai memutar roda kursi rodanya. Melaju memasuki lorong. Lorong ini tak seram. Dengan cahaya terang-benderang ditambah lukisan aneka bunga dengan media langsung di permukaan dinding. Sesampainnya di ujung lorong, pintu terbuka otomatis sebab keramik terakhir dilengkapi dengan sensor gerak yang dapat membuka pintu otomatis jika dipijak atau disentuh.


Pintu ujung lorong terbuka. Di luar sudah menunggu sebuah mobil hitam. Karina segera keluar dari lorong. Pintu yang semula terbuka kembali tertutup. Li segera keluar dari mobil. Ya dialah yang Karina perintahkan untuk menjemputnya.


"Queen …," sapa Li membukakan pintu untuk Karina. Karina hanya mengangguk.


"Anda agak aneh jika duduk di kursi roda," ucap Li mengutarakan isi hatinya. Karina menaikkan satu alisnya dan tersenyum kecut.


"Hmm … ini sangat menggangguku. Tapi ada daya aku harus menurut padanya," ujar Karina berdiri dari kursi roda dan beralih duduk di kursi penumpang mobil.


Li hanya tersenyum dan segera melihat kursi roda lalu dimasukkan ke dalam bagasi kemudian segera masuk mobil mengambil posisi mengemudi. Perlahan mobil meninggalkan belakang cafe Karina yang sepi. 


Mobil membelah jalanan, terik matahari yang berada di atas kepala tak berpengaruh pada aktivitas kota yang padat. Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di markas Pedang Biru. Li segera turun dan mengambil kursi roda Karina.


Karina membuka pintu mobil dan duduk di kursi roda. Li segera mendorong kursi roda itu memasuki markas.


"Anda ingin pergi kemana Queen?" tanya Li saat tiba di perempatan koridor. 


"Ruang komputer," jawab Karina. Li segera mengambil arah lurus. 


"Queen," sapa para anggota ruang komputer. Karina mengangguk. Karina menatap datar layar monitor lebar di hadapannya. Terekam semua aktivitas para anggota di markas. Ada yang latihan bela diri, menembak, memanah dan lain sebagainya. 


"Anda ingin mencari apa Queen?" tanya Li berdiri di samping Karina.


Karina memejamkan matanya. Ia merasa ada yang disembunyikan Arion dari wajah resah dan khawatir sejak berada di bandara namun Arion coba tutupi. Apalagi dengan pulangnya Joya menambah kecurigaan Karina. Karina membuka matanya dan menghela nafas pelan.


"Apa saja yang dilakukan suamiku selama aku berada di negara B. Aku ingin mengetahuinya. Dan juga wanita ular yang mengintai perusahaanku belakangan ini," jawab Karina. Yang mendengar itu sigap mencari apa yang ingin diketahui oleh pimpinannya ini.


Karina menunggu dengan hati resah. Li menyodorkan satu botol wine pada Karina. Ia tahu jika Queennya sedang resah maka hal pertama yang dicari adalah minuman beralkohol.


Biasanya Karina akan langsung menyambar dan menegaknya sampai tandas. Namun kali ini ia hanya menatap datar sebotol wine yang di sodorkan Li tak berniat mengambilnya. Karina malah menepisnya.

__ADS_1


"Buatkan saja aku coklat hangat," tutur Karina tanpa menoleh ke arah Li. Li terperajat kaget. 


Ada apa dengannya? batin Li.


Li dengan wajah bingung memerintahkan seorang anggota untuk membuat secangkir coklat hangat. Wine yang ia sodorkan pada Karina ditariknya kembali dan meminumnya.


Tak sampai tiga menit, secangkir coklat panas telah berada di tangan Karina. Karina menggoyangkannya pelan kemudian meminumnya.


Matanya tetap terarah pada layar monitor. Lima belas menit satu demi satu informasi mulai terpampang bergantian di layar minitor. 


Awalnya semua tak ada yang membuat Karina berubah ekspresi datarnya. Hingga sampai pada beberapa informasi terakhir yang membuat satu ruangan membelalakan mata mereka.


Tak sedikit yang menutup mata melihat film biru yang diperankan oleh suami serta mantan kekasih pimpinan mereka. Langit seakan runtuh di kepala mereka. Mata memerah. Amarah akan penghinatan membumbung tinggi. 


 Wajah Karina menggelap dan membeku. Lidahnya keluh. Emosi naik ke ubun-ubunnya. Li membekap mulutnya sendiri. Ia melirik Karina yang menggenggam erat cangkir.


Sangking eratnya cangkir itu retak dan pecah. Serpihannya melukai tangan Karina. Darah mulai menetes namun Karina tak merasakan apapun. Rasa marah, kecewa, sedih bercampur menjadi satu.


"Hentikan tayangan itu!!" pekik Li khawatir. Ia beranjak mengambil kotak P3K.


"Jangan! Aku ingin melihatnya sampai akhir!" titah Karina dingin. Mereka hanya bisa menurut.


Seseorang dari mereka membersihkan pecahan dan tumpahan coklat yang berserakan di lantai. Setelah bersih, Li berlutut di hadapan Karina, mencoba membuka tangan kanan Karina yang masih mengepal erat.


"Queen, lemaskan tangan Anda. Saya akan mengobati luka Anda," pinta Li khawatir. Karina melirik Li sekilas dan menarik senyum sinis.


Tetapi, Karina tetap membuka genggamannya. Menunjukkan telapak tangannya yang masih menancap serpihan kaca. Li segera membersihkan serpihan kaca itu dengan hati-hati. Ia meringis pelan saat satu demi satu serpihan ia tarik. Karina hanya setia dengan wajah datarnya. 


Suara desahan dan erangan terdengar begitu jelas. Tetapi ada satu hanya membuat dahi mereka mengerut, Karina hanya diam menatap itu tanpa berkedip. Anehnya nama  yang disebutkan oleh Arion bukanlah Joya melainkan Karina. Padahal Joya lah yang berada di bawah tubuhnya.


Apakah kau membayangkan itu aku, Ar? batin Karina berkecamuk.


Mencoba mencari jawaban. Li selesai membalut telapak tangan Karina. Ia kembali beranjak berdiri di samping Karina. Kotak P3K tak ia simpan, tetap ia pegang takut akan Karina yang akan terluka lagi.


"Percepat durasinya. Aku ingin lihat akhirnya," perintah Karina. Rekaman dipercepat.


Mereka semakin menahan geram dan emosi melihat kedua insan di rekaman itu bergulat sampai subuh. Terakhir adalah rekaman Arion yang terbangun dan terlihat linglung. Melirik kanan-kiri dan terlojak kaget menemukan wanita seranjang dengannya. Terlihat jelas wajah bingungnya. Arion membalikkan punggung wanita yang memunggunginya. Ia semakin terkejut.


Dengan secepat kilat, Arion berpakaian dan meninggalkan Joya sendiri. Rekaman di akhiri dengan Joya yang bangun dan dengan memakai selimut mengambil sesuatu dari dinding dan nakas. Itu sebuah kamera. Wajah cantiknya menunjukkan senyum sinis.


Rekaman berakhir.


"Kau masih ingat dengan perkataanmu beberapa bulan lalu tentang hal ini, Li?" tanya Karina menatap telapak tangannya yang diperban.


Li mengangguk.

__ADS_1


"Lantas apa kau akan lakukan hal itu?" tanya Karina lagi.


"Tentu Queen. Saya akan menghabisinya sekarang juga. Saya bersedia dihukum atas saran lancang saya," ucap Li.


"Bagaimana dengan kalian? Apa kalian juga sama dengan Li?" tanya Karina pada orang-orang yang berada di ruang komputer.


"Tentu Queen. Saat ini juga kami akan menghabisinya. Membawa kepalanya dua mahkluk itu ke hadapan Queen," jawab mereka serentak.


"Tidak. Aku tak mau kepala mereka. Aku ingin mengikuti permainan sepupu tercintaku ini. Beraninya menjebak suamiku!" ucap Karina. Seringai terukir di wajahnya.


"Permainan? Maksud Anda?" tanya Li bergidik ngeri. 


"Hmm … bukankah kalian sudah lihat semuanya. Memasukkan obat perangsang ke minuman suamiku, membawa ke hotel. Dapat kalian lihat, Arion berontak dan berusaha lari agar tak terbakar birahi, namun tetap saja lelaki normal tak dapat menahannya. Ia mulai berhalusinasi bahkan Joya adalah aku," jelas Karina. Tawa pun ia suarakan.


"Dia membuat rekaman kejadian itu, lalu beberapa minggu lagi, ia mengaku hamil anak suami Anda dengan bukti rekaman video itu. Berusaha membuat anda kecewa dan meninggalkan suami Anda dengan sendirinya. Rencana yang cukup ampuh menggoyangkan dan meruntuhkan suatu mahligai pernikahan," lanjut Li menyambung perkataan Karina.


"Tapi tak akan semudah itu, Li. Mahligai rumah tanggaku tak akan semudah itu di hancurkan. Mari kita tambahkan cerita ini semakin menarik. Panggil Darwis ke ruang kerjaku!" titah Karina.


Li menyetujuinya. Ia yakin Queennya bukan wanita yang gegebah. Semua yang ia lakukan dilakukan dengan pengamatan dan rencana yang matang.


Salah seorang anggota pergi memanggil Darwis yang berada di pacuan kuda. Li mendorong kursi roda Karina menuju ruang kerja Karina di lantai dua. Bertepatan dengan tibanya Karian, Darwis pun tiba di depan pintu ruang kerja Karina. Keringat masih menempel pada tubuhnya. 


"Queen …," sapanya dengan senyuman manis. Karina menatap dingin Darwis. Mata Darwis tertuju pada tangan kanan Karina. Matanya memicing dan menatap khawatir itu. 


"Ada apa dengan tangan Anda, Queen?" tanyanya khawatir sembari menatap Li minta jawaban.


Li hanya mengisyaratkan Darwis agar tak banyak tanya. Li mendorong kursi roda masuk, Darwis mengekor dengan sejuta rasa penasaran. Dan anehnya hanya dia yang dipanggil. 


"Bagaimana rasanya Joya, Darwis?" tanya Karina dingin memulai pembicaraan.


Mata Darwis membulat, Li melirik ekspresi Darwis. Ia mencoba menebak hal apa yang akan Karina lakukan.


Mengapa Queen menanyakan hal ini? Apa dia tahu apa yang telah aku lakukan bersama Joya? batin Darwis resah.


"Mak-maksud Anda apa Queen?" tanya Darwis pelan.


"Jangan pura-pura bodoh. Kau pikir aku tak tahu apa yang terjadi antara kau dan wanita ular itu? Bukankan kalian membuat film biru namun tak direkam? Bagaimana rasanya? Apa berbeda dengan beberapa jala*g yang pernah kau tiduri?" sentak Karina dingin.


"An-anda tahu akan hal itu?" tanya Darwis gugup. Keringat dingin mengalir. 


Akan diapakan aku olehnya? tanya Darwis dalam hati. 


"Tentu saja. Jadi jawab pertanyaanku dengan benar. Jangan lemparkan pertanyaan terus!" ucap Karina dengan nada tinggi di kalimat terakhir. Darwis hampir saja jatuh terpenting ke belakang.  Ia menggigit bibirnya. 


Tak ada yang bisa ku rahasiakan darinya, batin Darwis.

__ADS_1


"Rasanya … em … begitu nikmat. Ia sudah lama tak bermain dengan kekasihnya," jawab Darwis dengan sedikit rona merah di wajahnya.


__ADS_2