Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 252


__ADS_3

Karina tampak menaikkan satu alisnya sembari menyeruput jus kiwi. Tatapan matanya seperti tatapan mengejek Gerry. Gerry, ya menatap Karina penuh harap.


"Apa kau seorang pria?" tanya Karina dingin.


"Pasti! Memangnya aku banci ?" jawab Gerry dengan kernyitan di dahi.


"Sikapmu kali ini malah menunjukkan kamu banci. Kamu ragu dengan cintamu dan Mira. Kamu takut Mira berpaling. Kamu takut tidak bisa menggenggam jemari Mira sampai akhir. Masalah mertuanya, apakah aku yang akan menikah dengan Mira? Kau yang berhubungan kau juga yang harus bertindak. Bukankah sudah bagian dari tugasmu sebagai tunangan Mira untuk menyadarkan Adiguna sekaligus mendapat izinnya? Masalah Satya aku yakin kalian orang yang berwawasan luas. Apakah organisasi yang kalian bangun dengan tetesan darah dan keringat kalian akan hancur karena satu wanita? Ya aku tahu wanita itu bukan hal yang sepele. Tapi pasti kalian lebih paham," balas Karina panjang lebar juga. 


Karina menatap ekspresi Gerry yang terkesiap lalu menunduk. Tampaknya Gerry memikirkan ucapan Karina. Karina malah dengan santainya menyantap steak setengah matang di hadapannya. Gerry sendiri sudah makan sebelum Karina tiba. 


Gerry bergulat dengan ucapan Karina dan batinnya sendiri. Tangannya terlihat mengepal dengan wajahnya yang tertekan. Di satu sisi, ia agak lega karena Karina memberi restu. Karina tersenyum cuek dan tetap menyantap steaknya sampai suapan terakhir.


Gerry menghembuskan nafas kasar lalu menatap Karina dengan sorot mata yang cukup rumit. Karina menunjukkan wajah bertanya.


"Aku mengerti," ujar Gerry singkat.


Karina mengangguk.


"Tunggu saja Mira kembali. Kau belum bisa pergi ke manapun. Tugasmu menumpuk. Ingat laporan akhir tahun juga rapat akhir tahun. Aih ... aku benci akhir tahun. Banyak sekali yang harus ku hadiri."


Gerry tampak menyelis kesal terhadap Karina. Pasalnya baru beberapa tahun terakhir ini saja Karina menghadiri rapat. 


"Sesuai petunjuk Anda. Kalau begitu saya undur diri. Pegunungan dokumen sudah menanti saya," ujar Gerry berdiri dan menunduk hormat terhadap Karina.


Karina mengangguk. Gerry segera undur diri dan melangkah dengan hatinya yang tidak nyaman.


Restu Karina sudah didapat tapi masalahnya lebih serius daripada hanya restu Karina. Karina menatap punggung Gerry dengan senyum misteriusnya. Rencana pasti tersusun rapi di otak cantiknya.


Karina lalu berdiri dan menuju ruangannya. Pintu terbuka otomatis. Karina melangkah mendekati meja dan duduk di kursinya.


Emi masuk dengan membawa berkas di rekamannya. Emi segera menjelaskan dan melaporkan dengan detail mengenai cafe ini yang sudah berada di bawah pengawasannya, tepatnya setelah Siska dipindahkan ke First Love Cafe. 


Karina mendengarkan dengan seksama laporan Emi. Sesekali Karina mengajukan pertanyaan dan dijawab tuntas oleh Emi. Karina tersenyum puas dengan kinerja karyawannya.


Setelah Emi selesai dengan laporannya, Karina segera menandatangi setelah membacanya kembali. Emi lantas segera izin keluar ruangan Karina. 


Saat Karina membolak-balikkan lembaran dokumen, gawainya berbunyi dengan nama Maria tertera di layar. Karina mengeryit dan segera menjawabnya.


"Assalamualaikum, hallo Ma?" sapa Karina dengan nada bersahabatnya. 


"Waalaikumsalam, Sayang, kamu apa kabar?" balas Maria dengan nada ceria.


Karina tersenyum. Terlebih saat mendengar tawa Alia. Karina tanpa sadar mengusap lembut perutnya.


"Alhamdulillah baik, Ma. Mama dan Papa gimana kabarnya? Sepertinya sangat nyaman di negeri ginseng. Betah banget ya Mama sama Papa sampai lupa rumah. Eh Mama nggak bawa adik buat Ar sama Karina kan?" oceh Karina yang membuat Maria tersedak di tempatnya. 


"Apaan sih kamu ini Sayang? Mama sama Papa juga sadar umur."


Suara Maria terdengar menyangkal disertai malu. Karina hanya terkekeh.


"Mama sama Papa juga Alia sudah comeback kok. Ini lagi di ruang tengah. Mama cuma mau tanya, outfit untuk Mama dan Papa sama kalian kan? Soalnya kata Bik Susan nggak ada paket untuk kami," tutur Maria penasaran. 


"Oh masalah itu ... ya kemarin Karina ubah keputusan. Outfit Mama dan Papa sama Karina, ada di rumah," jelas Karina meredakan rasa penasaran Maria.


Maria terdengar menghela nafas.


"Baguslah, Mama lega. Kalau gitu nanti malam Mama dan Papa ke sana. By de way kamu lagi di mana Sayang?" tanya Maria.


"Cafe Ma, Cold Cafe," jawab Karina. 

__ADS_1


"Lah kamu masih ke kantor? Bukankah kemarin kata Arion kamu kerja dari rumah? Karina kamu jangan terlalu lelah. Hati-hati Sayang, sudah bulan ke tujuh kan?"


Maria tampaknya terkejut yang ditanggapi dengan tawa ringan Karina.


"Karina nggak lelah kok, Ma. Percayalah. Karina sudah merasakan rasa dunia ini sejak dini. Jadi kehamilan Karina ini bukanlah penghalang untuk Karina bebas kemanapun. Karina juga nggak sendiri kok Ma. Ada Pak Anton dan beberapa pengawal Karina. Mama tidak perlu cemas berlebihan," terang Karina menenangkan Maria kembali. 


"Tapi, tetap saja Sayang. Aih …."


Maria kembali menghembuskan nafas kasar.


"Tapi kalau kamu memang mengambil keputusan pasti kamu bisa menanggungjawabinya, okey? Mama percaya. Yang penting jaga kesehatan kamu dan cucu twins kami."


Maria hanya bisa memberikan nasehat dan wanti-wanti. Karina mengangguk dan membenarkan ucapan Maria. 


"Eh nanti Malam biar Ar sama Karina saja yang ke rumah Mama. Pasti Mama dan Papa lelah setelah perjalanan yang cukup lama. Sekalian nanti Karina ajak Bayu dan Enji," ucap Karina.


"Ya sudah kalau begitu. Mama tunggu ya. Makan malam di rumah Mama, wajib!" tegas Maria.


"Iya," sahut singkat Karina dan panggilan ditutup dengan ucapan salam.


Karina menghela nafas kasar lalu memutar kursinya menatap indahnya taman dengan air mancur berbentuk mawar. Karina kemudian kembali mengecek pekerjaannya.


"Omset naik, tugas juga naik," gumam Karina kembali tenggelam dalam pekerjaannya.


*


*


*


Bayu berdecak sebal saat mendapati di gerbang Jessica belum tiba menjemputnya. Ia dan murid yang mengikuti ekstrakulikuler melukis baru pulang beberapa menit yang lalu.


Saat tengah menggerutu, Bayu mendapati ada bayangan yang mendekatinya. Bayu mengangkat pandangannya dan mendapati Lia yang tersenyum padanya. 


Bayu menunjukkan wajah juteknya dan membuang muka ke arah lain. Lia tetap mempertahankan senyumnya lalu duduk di samping Bayu. Bayu sedikit bergeser. Ia melirik Lia tajam. Bukannya takut, Lia malah semakin memperdekat jarak di antara mereka.


"Berhenti!" ucap Bayu saat ia sudah berada di ujung bangku.


Lia otomatis berhenti dan menatap Bayu dengan kerutan di dahi.


"Why?" tanya Lia seakan tidak mengerti.


"Geser ke sana, apa tubuhmu selebar bus hingga kau mau menguasai bangku ini sendiri?" tanya Bayu ketus.


Lia tersenyum.


"Kalau begitu mari berbagi, ayo. Tapi kau juga harus memberikan hatimu untukku. Bukankah maksud ucapanmu kau ingin kita berbagi tempat? Berbagi bangku sudah, berbagi cat lukis juga sudah, apakah ke depannya kita akan berbagi meja, piring atau rumah?"


Lia menunjukkan mata berbinarnya. Bayu seakan mual dan menatap sinis Lia. Yang ditatap malah menatap balik Bayu dengan rasa percaya diri. Bayu mendengus.


Bayu berseru senang dalam hati saat mobil yang ia kenali berhenti di depannya. Sebelum Jessica keluar untuk membukakan pintu, Bayu beranjak masuk duluan.


Lia tetap tersenyum. Dalam hati berharap setidaknya Bayu mengucapkan sampai jumpa besok. Tapi hanya harapan. Eh ... Lia terkesiap saat Bayu membuka kaca menunjukkan wajah juteknya.


"Aku harap besok otakmu sudah kembali pulih, Nona Graham. Pikiranmu terlalu jauh sampai berbagi rumah. Janganlah sering berkhayal!" ucap dingin Bayu dan setelah itu mobil melaju meninggalkan depan sekolah.


Lia menggertakkan giginya kesal.


"Suatu hari ... semua akan jadi nyata Bayu! Kau akan bertekuk lutut di hadapanku. Suatu hari kau akan mengemis cinta dan perhatianku! Dasar gunung es penakluk hati!" pekik Lia dengan kesungguhan.

__ADS_1


Tak lama berselang jemputannya datang dan Lia segera masuk mobil kembali ke kediaman Graham. 


"Nona, keluarga akan mengadakan makan malam dengan keluarga Kusuma. Nyonya berharap Anda bersedia bergabung," ucap Bik Tum, pengasuh Lia sejak usia 4 tahun.


Lia yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang mendengus kasar lalu menggeleng.


"Apa tentang perjodohan lagi? Berapa kali harus aku katakan? Aku menolak perjodohan dini dengan keluarga Kusuma. Bik, Lia hanya ingin Bayu. Jika kalian ingin menjodohkanku, maka jodohkan aku dengan putra keluarga Sanjaya, Bayu Tirta Sanjaya!" jelas Lia lalu memejamkan matanya. 


Bik Tum tampak terpaku mendengar ucapan anak asuhnya ini. Biasanya Lia akan menolak dengan alasan sakit, banyak tugas, mengantuk, dan sebagainya. Kini Lia mengatakan keinginannya dengan jelas. Bik Tum lalu keluar kamar Lia dan mencari anggota keluarga lain untuk menyampaikan keingingan Lia.


Semua anggota keluarga hanya mampu menghela nafas kasar dan saling pandang. 


"Ingin menjadikan dia menantu kita bukanlah opsi yang buruk. Akan tetapi kalian tahu kan betapa menyeramkannya Kakak, Ayah, dan keluarganya?" ucap Lestari sebagai Mama dari Lia.


"Aih makan malam hari ini tetap berjalan. Kita bahas masalah apapun kecuali perjodohan," titah Tuan Besar kediaman Graham dengan nada beratnya.


Mau tak mau segenap anggota yang bergabung, mengangguk.


*


*


*


Saat pulang kantor Arion menyempatkan diri mampir ke toko bunga. Arion memilih mawar merah yang dipadukan dengan mawar biru.


Cnta yang dipadukan dengan kemisteriusan, mawar merah simbol Arion dan biru untuk Karina. Kini Arion kembali ke mobil dengan bucket di tangannya. Senyum menghiasi wajahnya. Kebetulan hari ini ia pulang lebih awal dari biasanya. Sebelum magrib ia pastikan sudah berada di rumah.


Tiba di rumah Arion mendapati Karina tengah membaca majalah di ruang tengah ditemani segelas susu coklat. Arion tersenyum cerah dan segera mendekat.


Karina mengangkat wajahnya saat mendengar langkah kaki. Matanya disuguhi indah dan harumnya bunga mawar. Dengan senang hati Karina meletakkan majalah dan mengambil bucket yang Arion berikan.


"Nggak ada coklatnya?" tanya Karina.


Arion yang baru duduk di samping Karina menggeleng.


"Tanpa coklat kamu sudah manis, Sayang. Aku takut jika aku memberimu coklat kamu akan semakin manis dan aku akan terkena diabetes," ujar Arion mencubit hidung Karina.


Karina mencembik kesal. 


"Alasan. Gombalan lama. Bilang saja kamu takut saldo kartu kamu kurang, huh!" ketus Karina.


Tangannya menyentuh kelopak mawar dan mencopot satu kelopak mawar merah.


"Apakah aku tipe pria pelit? Sayang, aku serius. Kamu sudah manis. Tidak perlu tambahan coklat lagi. Kamu mau aku kena anemia setiap hari karena disuguhi wajah manis kamu?" 


"Berlebihan sekali! Terserah kamu deh," sahut malas Karina.


Arion terkekeh. Karina lalu memanggil Bik Mirna untuk menyusun bunga-bunga itu di dalam vas.


"Oh ya Ar, malam ini kita ke rumah Mama dan Papa ya," ucap Karina memberitahu.


Arion tampak terkejut.


"Sudah kembali mereka?" tanya Arion.


Karina mengangguk.


"Ya sudah. Kalau begitu ayo lekas bersiap," ajak Arion.

__ADS_1


Keduanya lantas beranjak menuju kamar mereka.


__ADS_2