
Pagi hari, seusai sarapan, semua peserta liburan mencari aktivitas masing-masing. Para pria bermain voli di tepi pantai sedangkan para wanita berkumpul di kolam renang.
Raina, Lila, Elina dan Siska berenang bersama dengan buah hati mereka. Maria, Angela, dan Riska mengawasi Bintang, Biru, Bima, Alia, dan Gibran yang bermain air di daerah yang dangkal.
Sedangkan Mira berjemur bersama dengan Laith. Sementara itu Santi, Rasti, dan nenek Mina duduk di tepi kolam, bercanda ria. Bersenda gurau, saling melemparkan candaan dan diakhiri dengan tawa lepas.
Karina dan Joya, hanya dia wanita itu yang tidak terlihat, baik di kolam renang maupun tepi pantai.
Sementara yang lain tengah bergembira, Karina dan Joya malah adu otak dengan permainan catur. Awalnya Karina menolak tapi Joya memaksanya.
Di sebuah ruangan yang luas, berwarna putih dengan lantai seperti papan catur. Ah ruangan ini memang ruangan permainan catur, bidaknya bukanlah benda mati melainkan manusia yang memakai simbol bidak catur.
Karina berwarna hitam sedangkan putih untuk Joya.
"Mengingat kekalahanmu tadi aku jadi ingat masa lalu," ucap Karina, menggerakan kuda miliknya.
"Masa lalu? Aku tidak ingat pernah kalah darimu," sahut Joya dengan nada acuh.
"Oh tidak ingat? Baguslah. Jika tidak ... kau pasti akan mengubur wajahmu di pasir," balas Karina, lebih acuh lagi.
Terdengar kekehan.
"Aku juga merasa begitu. Mengingat kekalahan itu menyebalkan," tawa Joya.
Karina mendengus.
"Ah kita seri, Karina. Kali ini kau kalah," seru Joya.
Karina diam sejenak, mengamati bidak-bidak catur yang masih berdiri di atas papan permainan.
Karina tersenyum tipis.
"Congratulation for you," ucap Karina, meninggalkan papan permainan, duduk di kursi di pinggir ruangan.
"Bagaimana rasanya kalah, Karina?"
Joya mendekat dengan senyum lebarnya.
"Menyebalkan," sahut Karina, meraih botol air mineral dan meminumnya.
"Apa kau pernah kalah sebelumnya?"tanya Joya penasaran.
Karina melirik Joya sekilas, menghela nafas kemudian mengangguk.
"Wah dengan siapa?"
Joya semakin antusias.
"Mengapa kau sangat penasaran dengan kekalahanku?"ketus Karina.
"Tentu saja. Jarang sekali melihat seorang Karina Tirta Sanjaya mengakui kekalahannya," jawab Joya, sumringah.
"Oh. Aku tidak pernah kalah dengan manusia tapi aku pernah beberapa kali kalah dengan hati," ujar Karina datar.
Joya mengeryit tipis.
"Kalah dengan hati? Maksudmu kepercayaan?"terka Joya.
Karina mengangguk.
"Ini lebih menarik lagi. Siapa kiranya yang tidak percaya dengan sepupu hebatku ini?"
Joya merangkul Karina. Karina berdecak sebal.
"Pikirkan sendiri!" ketus Karina, menyingkirkan lengan Joya dari pundaknya.
"Hm. Mengorek kekalahan itu memang tidak menyenangkan. Ah tadi kau mengatakan tidak pernah kalah dari manusia tapi pernah kalah dengan hati. Berarti kau pernah kalah dari hewan, tumbuhan, dan Tuhan dong?"
Karina melirik sinis. Dengan kesal menyentil keras dahi Joya. Joya mengeluh sakit, mengusap dahinya yang merah.
"Idiot!"gerutu Karina.
"Ku rasa sebagian otakmu masih koma," lanjut Karina.
Joya menunjukkan wajah kesalnya.
"Aku hanya pura-pura!"kilah Joya.
"Pura-pura idiot? Itu tidak lucu!"sahut Karina.
"Jika kau pura-pura coba katakan sekali lagi ucapanmu tadi!"
Karina memberi tatapan tajam pada Joya. Joya terkesiap, kemudian memperbaiki ekspresinya.
"Kau tidak pernah kalah dengan mahkluk hidup kecuali hati. Kau tidak pernah kalah dengan ciptaan-Nya tapi kalah dengan sang Pencipta. Benarkan kan?"
"Melihatmu seperti membuatku teringat wajah Bima yang meminta pujian. Joya umurmu sudah kepala tiga mengapa wajahmu masih baby face?"
Ada nada cemburu di sana.
"Tentu saja. Setelah menikah kan aku hanya fokus merawat diri tidak sepertimu yang fokus terbagi-bagi," ucap bangga Joya.
Karina merasa hidung dan telinga Joya memanjang.
"Jadi kau mengatakan wajahku sudah tua hah?"desis dingin Karina.
"Eh bukan begitu," elak Joya setelah merasakan aura dingin Karina, seakan menyebar memenuhi ruangan membuatnya kesulitan bernafas.
"Lantas?"
"Wajahmu baby face, sangat mirip dengan Bintang," jawab Joya cepat.
Karina memberi tatapan menyelidik, Joya tersenyum kaku.
"Jelas sekali kau berbohong. Sepertinya aku harus rajin ke salon setelah ini," ucap Karina.
__ADS_1
Joya menghela nafas lega ketika Karina menarik aura dingin miliknya.
"Joya," panggil Karina.
"Hm."
"Kau tahu mengapa aku bermain catur hingga membangun ruangan ini?"tanya Karina.
"Taktik. Kewaspadaan, ketelitian, ketepatan, serta pengambilan langkah. Kau bermain catur untuk menentukan langkah apa yang akan kau ambil selanjutnya. Aku juga begitu Karina. Saat aku bimbang aku akan bermain catur sendiri sembari berpikir dan menentukan langkah apa yang akan aku ambil," jelas Joya.
Karina tersenyum tipis.
"Darimana kau tahu?"
"Kita sedarah tentu saja sehati," jawab Joya.
"Sehati?"
"Eh salah maksudku se frekuensi," ralat Joya.
"Ya kita memang saudara kandung."
Karina tertawa lepas. Joya ikut tertawa walaupun tidak tahu apa yang harus ditertawakan.
"Karina ada yang ingin aku tanyakan," ucap Joya, serius.
"Tanyakan saja."
"Sejak kapan kau tahu bahwa aku sepupumu?"
"Sejak kapan? Ku rasa sejak saat pertama kita bertemu langsung," jawab Karina.
"Artinya kau mempermainkanku?"
"Itu menyenangkan," jawab santai Karina.
"KARINA KAU MENYEBALKAN!"
"Berisik!"
Tanpa memperdulikan Joya yang tengah meledak, Karina melenggang keluar ruangan.
"DASAR MENYEBALKAN! TEGANYA KAU MEMPERMAINKANKU! KARINA JANGAN LARI KAU!"teriak Joya, langsung mengejar Karina.
"Mengapa dia emosional sekali?"gumam Karina, langsung lari ketika Joya mengejarnya.
Alhasil dua saudara kandung itu main kejar-kejaran. Karina tertawa meledek Joya yang belum bisa menangkapnya.
Joya berteriak dan mengumpat kesal pada Karina. Lihatlah Karina, dia berlari sembari mengejeknya.
"Dasar lambat!"ledek Karina.
Karina dan Joya kejar-kejaran sampai pinggir pantai. Para pria yang tengah bermain voli dan sepak takraw menoleh heran melihat dua wanita itu. Darwis dan Arion saling tatap, sama-sama menaikkan bahu tidak mengerti.
"Ternyata hanya wajahmu yang baby face. Tulangmu tidak bisa berbohong," ledek Karina.
"Kau itu lambat. Darwis istrimu sudah tua seperti nenek-nenek," seru Karina, menoleh sekilas pada Darwis.
Darwis terkesiap.
"Arion mengapa kau menikahi wanita menyebalkan seperti Karina? Karina awas kau!"seru Joya.
Arion mengerjap, melirik Darwis sembari menyentuh dahi.
"Biarkan saja. Bukan urusan kita," ujar Darwis.
"Siapa juga yang mau ikut campur urusan wanita," sahut Arion.
"Ahhhh!"
Terdengar suara teriakan kesakitan. Sontak mereka semua melihat ke arah larinya Karina dan Joya.
Kedua wanita itu berada di dalam air dan kini Karina merangkul Joya keluar dari air. Darwis dan Arion langsung berlari menghampiri keduanya.
"Ada apa?"tanya Darwis cemas.
"Joya menginjak bulu babi. Dasar ceroboh!"jawab Karina, mendudukkan Joya di tepi pantai.
"Landak laut? Coba aku lihat."
Darwis segera melihat telapak kaki Joya. Ada beberapa duri hitam yang menancap di sana. Joya meringis sakit, telapak kakinya terasa kaku.
"Bawa ke istana. Suruh pelayan siapkan air hangat juga cairan cuka dan air," ucap Karina.
Darwis segera menggendong Joya menuju istana.
"Bagaimana denganmu?"tanya Arion, cemas.
"Aku baik," jawab Karina, sembari meremas ujung bajunya.
"Bagaimana bisa di sini ada landak laut?"heran Li.
"Mungkin ombak membawanya," terka Enji.
"Laut dangkal adalah habitatnya. Tak perlu heran," ujar Gerry.
"Lagipula mengapa kalian kejar-kejaran seperti tadi?"heran Amri.
Karina menjawab dengan senyuman lebar, memekik pelan saat Arion menggendong dirinya.
"Basah kuyup, saatnya mandi," bisik Arion, langsung melangkah meninggalkan yang lain.
"Dasar anak muda. Pasti ada udang di balik batu," kekeh Amri.
"Hanya tertusuk landak laut. Bukan masalah besar. Ayo lanjut bermain sampai jam makan siang," ajak Gerry.
__ADS_1
"Beneran nggak papa tuh?"ragu Li.
"Tergigit ular laut baru panik," sahut Gerry.
"Baiklah."
"Tapi cairan cuka untuk apa? Buat sushi kaki Joya?"
Sam mulai nyeleneh.
"Iya kali kakinya diam diamputasi gara - gara duri."
Calvin menanggapi.
Gerry menepuk dahinya kesal. Satya dan Rian terkekeh melihat Gerry yang terlihat frustrasi.
"Dasar udik! Makanya kerja itu jangan monoton dalam ruangan. Cuka itu berguna seandainya ada sisa duri yang nggak bisa dicabut sama pinset. Percuma mafia kalau pengetahuan dangkal!"jelas Gerry.
"Ya-ya. Pengetahuan kami memang dangkal, kakak ipar. Mohon bimbing kami."
Sam dan Calvin malah membungkuk layaknya seorang murid yang memberi hormat kepada guru pada zaman kerajaan.
"Wah Ger kau punya murid yang amazing," puji Satya dengan nada meledek.
"Siapa yang mau jadi guru mereka?!"sangkal Gerry.
"Ya kau lah."
"Menyebalkan!"gerutu Gerry.
Tiba saatnya makan siang. Semua berkumpul di meja makan yang ditata sedemikian rupa di halaman istana, tentu saja lengkap dengan peneduh untuk menghindari panas matahari.
Joya sedari bertemu dengan Karina setelah mengalami beberapa tindakan akibat tertusuk dari landak laut, menatap Karina cemberut. Karina pura - pura tidak menyadarinya, dalam hati tertawa melihat tatapan kesal Joya.
"Em. Bagaimana lukamu, Joya?"tanya Rian memecah perang tak kasat mata Joya dan Karina.
"Sudah beres. Hanya saja hatiku masih sakit," ujar Joya.
"Sakit hati? Joya seusai kanker otak kau kena penyakit lever?"
Li menatap Joya prihatin.
"Sembarangan!"sangkal Darwis.
"Sakit hati kenapa?"
Karina angkat bicara.
"Tentu saja atas perlakuanmu tadi!"
"Oh bukankah itu salahmu sendiri?"
"Jika kau tak lari ke air bagaimana mungkin aku terkena duri landak laut?"
"Siapa suruh tetap mengejar?"
"Kau yang memancingku!"
"Apa gunanya memancingmu?"
"KARINA KAU MENYEBALKAN!!"
"Apa salahnya jika aku menyebalkan?"
"Kau!"
Joya kehabisan kata-kata. Karina menaikkan satu alisnya, tersenyum lebar penuh kemenangan.
"Pokoknya kau menyebalkan. Kau harus bertanggung jawab padaku!"
"Aku bukan lesbian."
"Siapa yang mengatakan kita akan menikah?"
"Lantas?"tanya Karina.
"Kau harus menerima hukuman dariku."
"Aku tak salah mengapa aku menerima hukuman?"
"Karena kau kalah dariku."
"Ck. Katakan," putus Karina, lama-lama jengah juga berdebat dengan Joya.
"Kau harus menari," ucap Joya.
"Aku tak mau," sahut Karina cepat.
"Why? Apa kau tak bisa menari? Katanya seorang Karina Tirta Sanjaya serba bisa."
Joya menaikturunkan alisnya, tersenyum lebar saat Karina berdecak sebal.
"Baiklah. Menari apa?"
"Lilac," jawab Joya cepat.
"Lilac? Maksudmu aku harus nyanyi sambil dance gitu?"
"Itu lebih baik."
"Haih. Berikan aku waktu sebentar."
Karina beranjak dari kursinya, masuk ke dalam istana.
Tak berselang lama, Karina keluar dengan pakaian yang sudah berganti, dress berwarna lilac sesuai lagu yang akan dibawakan.
__ADS_1
Karina kini berada di tempat yang disediakan, yang biasa digunakan saat memimpin apel pagi atau tempat untuk berpidato. Karina menjentikkan jarinya, alunan musik mulai terdengar. Tepuk tangan meriah menyambut lirik pertama yang Karina nyanyikan.