
"Ya iyalah kamu harus setia. Masa' kamu kalah sama buaya, buaya saja setia masa' kamu enggak," ketus Karina.
"Oh jadi laki-laki itu harus buaya?" tanya Arion mengerjapkan matanya polos.
"Terserah! Tergantung arah pandang dan pikir masing-masing insan," jawab Karina. Arion tertawa renyah. Karina ikut tersenyum. Namun itu tak berlangsung lama.
Mata Karina membulat melihat seseorang yang berdiri di ambang pintu dengan mengangkat sebuah pistol.
Dor!
Suara tembakan keras terdengar, membuat telinga berdengung sesaat.
"Awas kakek!" Karina memekik dan bangkit memperingati kakek Bram. Sayangnya peringatan Karina dan respon kakek Bram kalah cepat dengan peluru yang dilontarkan oleh pistol orang tersebut. Suasana haru seketika menjadi membeku.
Kakek Bram terhuyung, membuat Marwan yang masih saling berpelukan ikut mundur ke belakang. Kakek Bram melepaskan pelukannya dan membuka topi yang selalu ia kenakan. Rambut yang hampir memutih semua tergambar, kakek Bram menyentuh bagian belakang kepalanya.
Ia merasa ada yang menembus kepalanya. Ia merasakan ada cairan yang keluar dari sana. Kakek Bram melihatnya. Berwarna merah dan kental.
Dengan nafas mulai memburu, kakek Bram berbalik dan melihat siapa yang menembaknya. Matanya terbelalak melihat Nitalah yang menembaknya. Ia tersenyum nanar dan menatap Nita meminta jawaban.
Nita menunjukkan wajah dinginnya. Ia menjatuhkan pistol itu bergitu saja.
"Nita apa yang kau lakukan? Kau sudah kehilangan akalmu!" seru Karina marah. Amri dengan cepat menangkap tubuh kakek Bram yang limbung.
Duduk dan memangku kepala kakek Bram di pahanya. Mata kakek Bram masih membuka, ia belum kehilangan nafasnya.
"Tunggu apa lagi? Cepat ke rumah sakit. Bagian kepala sangat sensitif. Jika di bagian lain aku atau Karina berani mengambilnya!" titah Arion memberi arahan pada semua yang masih membeku. Dengan segera mereka bertindak.
"Tidak usah. Ajalku sudah dekat sepertinya!" ujar kakek Bram lemah. Amri mengeluarkan air matanya, lagi.
"Dia adalah penyebabku kehilangan kehormatanku pada lelaki yang bukan mahramku. Dia sudah menodaiku secara paksa! Dia juga harus mati di tanganku!" jawab Nita, dengan nada dingin menatap tajam Marwan.
Wajah Marwan memucat. Kakek Bram menggerakkan mata marah menatap Marwan. Dengan susah payah ia mengangkat tangannya.
"Kau memang baj*ngan! Beraninya kau menodai istriku!" ujar kakek Bram lemah, namun penuh tekanan.
Karina memejamkan matanya sejenak. Dugaannya dan Arion tepat tak meleset.
"Nita!" seru Karina, menyadarkan Nita yang masih diam memaku menatap pemandangan di depannya. Nita tersentak dan menatap Karina.
"Nona?" gumam Nita pelan. Terdengar lagi suara seruan Karina, nadanya marah dan kecewa.
"Kau sadar apa yang kau lakukan? Apa aku pernah mengajarmu untuk membunuh suamimu sendiri?"
"Aku-" ucap Nita, ia diam lagi memperhatikan semuanya. Tak lama mata Nita terbelalak dan nafasnya seakan tercekat. Ia menggeleng keras.
__ADS_1
Dan dengan langkah cepat mendekati kakek Bram dan Nita. Kakek Bram masih membuka matanya. Masih ada hembusan nafas di sana.
"Mas, mas maafkan aku mas," tangis Nita, pecah seketika. Amri lagi-lagi menunjukkan wajah geramnya.
"Menjauh dari Ayahku! Kau pembunuh!" geram Amri, menghempaskan tangan Nita yang menyentuh kakek Bram.
"Jangan Ri," ucap lirik kakek Bram. Arion dan Karina mendekat. Mereka mengambil posisi di samping Amri.
"Nita," panggil kakek Bram dengan suara hanya hampir tak terdengar.
"Mas, aku tak sengaja, aku emosi Mas, semua wajah lelaki yang ku lihat adalah wajahnya, aku tak mau membunuhmu!" ucap Nita, senggugukan. Kakek Bram tersenyum. Senyumnya sangatlah tulus, tanpa ada paksaan atau sakit hati. Ia paham kondisinya.
"Mas yang seharusnya minta maaf. Mas gak bisa melindungi kamu. Mas gagal lagi menjadi seorang suami. Nita, kemarin aku mengira aku akan tiada karena penyakit kanker hatiku ini, tapi aku tak mengira aku akan pergi karena lontaran peluru yang kau lepaskan. Aku tak ada penyesalan lagi, mati di tanganmu lebih bahagia rasanya. Terima kasih karena telah menjadi istri yang baik untukku. Menemaniku, merawatku dan menjagaku diriku di masa tua ini. Terima kasih untuk satu tahun terakhir ini. Jagalah Alia, jagalah buah hati kita," ucap kakek Bram, terbata-bata diiringi dengan darah yang keluar dari hidungnya. Nita menggeleng dan menangis tanpa suara. Ia menunduk.
Arion, Karina dan Amri membulatkan mata mereka mendengar penyakit kakek Bram.
"Ternyata ini alasananya," gumam Arion.
Huft, mengapa asal ada penyakit yang berhubungan denganku adalah kanker? batin Karina.
Kasihan kakek, pasti selama ini ia banyak menderita, batin Arion.
Kakek Bram lantas mengarahkan matanya melirik Karina dan Arion.
"Arion, Karina." Karina dan Arion terkesiap saat nama mereka dipanggil. Dengan cepat sahutan ya mereka berikan.
"Hah, hah, hah, sudah saatnya aku pergi, Allah sudah memberiku banyak waktu terakhir untuk meminta maaf pada kalian. Hiduplah dengan baik, jangan sampai kalian mati membawa penyesalan," ucap kakek Bram. Pandangannya yang redup tambah meredup.
"Pa," panggil Arion memegang pundak Amri. Amri paham. Dengan segera menuntun kakek Bram mengucapkan dua kalimat syahadat. Kakek Bram mengikutinya dengan nada dan suara terputus-putus.
"Muham- mad dar-rasulullah …," ucap kakek Bram menutup mata dan menghembuskan nafas terakhirnya.
Tangis pun kembali pecah dari Amri dan Nita. Arion menitikkan air mata tanpa suara. Sedangkan Karina memejamkan matanya dan mengusap air mata yang keluar.
"Akhhhh!" Suara pekikan keras membuyarkan suasana. Seketika mereka menoleh ke arah sumber suara. Marwan sudah tergeletak dengan leher terluka dan darah yang mengalir deras dari luka itu. Mata dan mulutnya terbuka lebar, tangannya masih menggenggam sebilah pisau yang terdapat noda darah di sana.
"Dia bunuh diri, penyesalan yang paling mudah," ucap Karina.
Saat adegan perpisahan tadi, Marwan merenungkan tentang hidupnya. Mengingat kembali masa lalu.
Jangan pernah menyimpan dendam pada mereka, kakak yang salah jatuh cinta padanya. Kalau sekarang ia hilang ingatan, kakak berdoa agar suatu saat nanti ia bisa mengingat kakak lagi. Itu sudah cukup bagiku. Sedangkan anak ini, janin ini adalah anugrah bagiku. Dia adalah pelitaku. Dia adalah semangat dan harapanku. Dia bukan anak haram, dia adalah anak yang sah, jadi kakak minta jangan pernah berbuat macam-macam yang pada akhirnya akan membuatmu menyesal dan tersiksa sendiri.
Ucapan sang kakak membuatnya menangis kala itu. Benar, kini ia menyesali perbuatannya. Tak sanggup menahan semuanya. Tatapan Marwan saat itu jatuh pada sebilah pisau berkarat tak jauh darinya.
Tak ada yang menyadari keberadaan pisau itu. Pengawal yang menjaganya pun terhanyut dalam perpisahan keluarga, di mana mereka menunduk memberi penghormatan terakhir.
__ADS_1
"Kakak, Azri aku datang pada kalian," gumam Marwan, segera menancapkan pisau berkarat itu di lehernya dan memekik saat pisau ia menariknya keluar, ia ambruk seketika. Tamatlah sudah riwayatnya.
Kedua anggota yang kaget segera menutup mata Marwan yang terbuka.
"Kalian berdua kembali ke markas untuk mengurus mayat keduanya. Pa, kau setujukan jika kakek kita makamkan di pemakaman Pedang Biru? Akan memakan waktu lama jika kita memakamkannya di negara B atau Y, bukankah disegerakan lebih baik?" tanya Karina. Amri mengangguk tanpa suara.
Salah seorang pengawal mengambil kantong jenazah dari mobil. Setelah itu, mereka memasukkan jenazah kakek Bram dan Marwan dan menggotongnya dimasukkan ke dalam mobil.
Terakhir, Karina, Arion dan Nita berjalan beriringan keluar dari gedung tua itu. Karena tadi perintah Karina adalah hancurkan gedung, maka setiap sudut sudah dipasangi bom.
Namun, baru saja beberapa langkah, Nita merasakan kepalanya pusing dan berkunang-kunang. Akhirnya ia limbung dan jatuh tak sadarkan diri. Arion dan Karina kaget.
"Cepat gendong dia, tak mungkinkan kita biarkan dia terpanggang nanti?" suruh Karina.
"Hm," sahut Arion. Menunduk dan menggendong Nita ala bydal stlye.
"Kamu gak panas lihat aku gendong wanita lain?" tanya Arion.
"Gak, lagipula diakan pingsan beneran, kalau pura-pura yang biarkan saja," sahut Karina.
"Heh, aku merasa lucu dan sedih sekaligus," ucap Arion saat tiba di mobil.
"Mengapa?" tanya Karina. Arion menghidupkan mesin mobil dan melaju meninggalkan area gedung. Mobil yang membawa jenazah kakek Bram, Marwan telah jalan duluan pulang ke markas bersama Amri.
Sekitar 50 meteran, Karina menekan salah satu tombol pada jamnya dan terdengar suara ledakan diikuti api yang membumbung tinggi.
"Kenapa? Kalian bertiga, kamu, Mama dan Nita merencanakan rencananya untuk memperbaiki hubungan. Setelah hubungan membaik malah berakhir dengan perpisahan, liburan yang tragis. Keluarga Wijaya akan berkabung untuk waktu yang cukup lama," jawab Arion.
"Ya, sungguh liburan yang mengesalkan. Tapi itulah takdir, apapun bisa berubah dalam waktu singkat. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Manusia hanya bisa berusaha, berdoa dan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Pasrah tanpa usahapun itu sia-sia, nol besar!" sahut Karina.
"Ah, ku rasa besok setelah peresmian kita langsung pulang saja, banyak yang harus diurus setelah ini," ujar Karina.
"Semoga Papa dan Nita serta Alia sabar menghadapinya. Uwu ternyata aku punya tante yang masih bayi, lucu sekali," ucap Arion, terkekeh membayangkan Nanti Alia akan memanggil namanya langsung.
"Tapi aku khawatir dengan kondisi Nita, kau pasti pernah membaca peraturan Pedang Biru kan?" ucap Karina dengan nada lemah.
"Ya, dia akan mendapat hukuman setelah acara berkabung selesai," jawab Arion melirik Nita yang masih pingsan
Setibanya di rumah sakit, Nita langsung mendapat penangan pertama. Karina dan Arion mencari ruangan di mana Alia dirawat. Dapat. Di salah satu ruangan, terdapat empat penjaga yang berdiri tegap di depan pintu.
Arion dan Karina segera melangkahkan kaki mereka ke sana. Tahu siapa Karina dan Arion, pintu segera dibukakan. Enji terlihat istirahat di sofa dan Maria duduk di dekat ranjang mengawasi Alia yang terlihat masih tertidur.
"Assalamualaikum Ma," ucap Arion dan Karina, melangkahkan kaki mereka masuk.
"Waalaikumsalam," jawab Maria.
__ADS_1
"Bagaimana kondisinya Ma?" tanya Arion.
"Syukurlah sudah stabil. Tapi suhu badannya masih tinggi padahal sudah diberi obat. Tapi untung saja ia berhasil melewati masa kritisnya tadi, kasihan anak sekecil ini sudah menderita," jawab Maria menatap kasihan Alia.