
Karina menghela nafas panjang, menatap gedung-gedung dari jendela kaca ruang kerjanya. Tatapan Karina beragam, sebentar senang, sebentar sedih, lalu dingin dan terakhir datar.
Senang karena perusahaan Arion yang menang tender dan kini tengah dalam proses pengerjaan. Memang peristiwa itu sudah terjadi dua minggu lalu, akan tetapi kemenangan tender tersebut membuka banyak tawaran kerja sama untuk Wijaya Grub.
Karina tersenyum puas mengingat Arion yang perlahan menepati janji untuk menyetarakan diri dengan Karina. Sebenarnya Karina tidak masalah dengan status kekuasaan Arion yang berada di bawahnya. Akan tetapi kadang ia panas mendengar dan membaca desas-desus yang menyatakan mereka tidak cocok.
Ah biarlah. Ini hidupnya, pernikahannya, ia yang menjalani bukan mereka, tidak merugikan orang lain bukan? Terkadang Karina heran dengan orang-orang di luar sana yang sibuk mencari kesalahan orang lain tanpa pernah menilai diri sendiri.
Tersenyum geli mengingat kata mutiara dari seseorang yang sangat ia kagumi.
Benar. Mereka adalah orang yang paling perhatian dengan kita. Bekerja tanpa dibayar.
Kedua Karina sedih dengan Enji dan Joya yang tidak kunjung sadar. Sudah lebih dari sebulan Bayu pergi belajar di luar sana, apakah Enji memang betah bersembunyi di bawah sadarnya daripada bangun dan berkumpul dengannya?
Joya lagi, apa ia tidak terpanggil saat Gibran menangis? Apa ia tidak dengar saat Darwis menangis dan bercerita dengan menggenggam jemarinya? Apa ia tidak mendengar doa-doa agar ia cepat sadar? Kapan mereka sadar dan kembali berkumpul dengan mereka? Kapan sepupu kandung dan adik angkat Karina itu membuka mata dan melengkungkan senyum sehangat mentari dan seindah senja?
Hah ….
Karina kembali menghela nafas panjang. Tatapannya berubah dingin mengingat sesuatu. Jemarinya mengepal.
Beraninya dia!
Tatapan sedingin es itu berangsur berubah menjadi datar, lengkap dengan senyum smirk. Ada rencana baru yang dirancang di dalam pikirannya.
Tidak! Itu bukan hakku. Biarkan saja ia bermain-main di sana. Jika saatnya tiba … dia akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Karina menyentuh kaca yang dingin. Cuaca yang semula cerah berubah cepat menjadi mendung, disusul dengan gerimis yang perlahan menjadi hujan sedang.
Karina mengangkat alisnya melihat pepohonan yang ujungnya bergoyang dengan keras diterpa angin yang cukup kencang. Daun-daun berguguran, terbang kesana - kemari mencari tempat mendarat.
Pinus memang mahal tapi mangga lebih berguna. Semakin tinggi suatu pohon semakin gampang ia dipermainkan angin. Sama halnya dengan padi yang semakin berisi semakin merunduk. Aku akan menunggu saat kau berada di posisi pinus lalu menebangmu habis serta mencabut akarmu.
Karina menyeringai.
Tidak peduli apapun alasannya, perselingkuhan adalah hal terlarang dalam suatu hubungan. Ketidakpercayaan adalah awal hancurnya sebuah hubungan. Kau sudah mengakhiri hubunganmu dengannya tapi tidak dengannya. Jessica aku akan menonton sejauh mana pelarianmu.
Karina beranjak, duduk di kursi kekuasaannya. Menatap datar meja yang masih banyak berkas yang harus dikerjakan. Karina menghembuskan nafas kasar. Meraih berkas paling atas kemudian membuka file yang berhubungan dengan berkas di tangannya pada laptop.
Baru sebentar Karina berkutat dengan pekerjaannya, Karina menghentikan aktivitasnya. Terdiam menatap datar ke depan. Ada kerutan tipis di dahi Karina. Tangannya memegang perut.
"Auh."
Sebuah ringisan Karina adukan. Perutnya terasa sakit. Karina melihat mata kakinya saat merasakan ada yang mengalir dari pangkal pahanya.
Mengerjap memastikan cairan apa itu.
"Astaga!"seru Karina antara kaget, bahagia, dan cemas.
Apakah ini waktunya?
Karina berdiri dengan bagian bawah dressnya yang basah dengan air ketuban yang sudah pecah. Karina mengambil tas dan berjalan keluar. Sedikit tertatih sembari memegang perut dan pinggang bergantian.
Kini Karina telah berada di pintu ruangannya. Raina, Lila, Sasha, dan Aleza menatap Karina dengan penuh tanda tanya. Terlebih saat melihat Karina menggigit bibirnya seraya mengatur nafas.
"Nona … Anda mau melahirkan?"pekik Lila refleks saat melihat kaki Karina yang basah.
Karina mengangguk pelan. Sontak keempatnya langsung meninggalkan meja mendekati Karina. Lila mengambil alih tas Karina sedangkan Aleza dan Sasha memapah Karina.
Raina menghubungi rumah sakit kemudian menyusul Lila, Sasha, dan Aleza yang sudah masuk duluan ke lift. Raina turun sendiri ke basement.
Di basement, Pak Anton telah siaga dengan pintu mobil terbuka serta mesin mobil yang sudah menyala. Karina masuk ke mobil, Sasha mendampingi Karina. Aleza duduk di samping kursi Pak Anton.
Pak Anton segera mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, panik melihat Karina yang meringis dengan terus memegang perut. Sasha mengelap keringat yang membasahi wajah Karina. Sedangkan Aleza sibuk memberi instruksi untuk Karina, mengatur pernafasan.
"Berikan handphoneku," ucap Karina.
Sasha dengan cepat memberikan handphone Karina. Karina membuka layar kunci dan mencari kontak. Nomor Arion terletak paling atas, dengan cepat Karina memanggil nomor tersebut.
"Assalamualaikum, Sayang. Ada apa? Merindukanku?"sapa Arion dengan nada bahagia.
"Rindunya nanti saja. Kau cepat ke rumah sakit. Anak-anak kita mau lahir. Aku dalam perjalanan ke sana," ucap Karina dengan nada tinggi.
"What? Bintang Biru mau lahir? Sayang ... bagaimana keadaanmu? Kamu oke kan?"
"Cepat berangkat. Jangan sampai aku yang tiba duluan!"kesal Karina.
"Baik. Aku berangkat. Aku akan menunggu di sana!"
Karina mematikan panggilan.
*
*
*
__ADS_1
Karina menghubungi Arion saat sedang rapat bulanan. Handphone itu berdering saat suasana di dalam ruang meeting suram dengan ketidakpuasan Arion. Para peserta meeting diam-diam menghela nafas lega saat Arion menerima panggilan dari Karina. Tapi hanya sebentar, tubuh mereka menegang mendengar pimpinan masa depan mereka hendak lahir.
Mereka segera berhambur keluar saat Arion keluar dengan berlari. Mereka berharap Karina melahirkan dengan selamat dan kedua pewaris mereka baik-baik saja.
Mengemudi dengan kecepatan tinggi, menyalip kanan kiri tapi lampu merah tetap berhenti. Arion bagai orang kesurupan. Perasaannya campur aduk. Cemas, bahagia, was-was, tidak percaya, bahkan Arion mencubit lengannya untuk memastikan ia tidak mimpi.
Arion juga tidak lupa menyadari Amri dan Maria. Kedua orang tua itu juga tak kalah kagetnya dengan Arion dan mengatakan segera menyusul.
Hanya dalam sepuluh menit, Arion sudah tiba di rumah sakit. Di depan lobby sudah menunggu dokter Mira beserta perawat lengkap dengan kursi roda dan brankar.
"Karina belum tiba?"
"Belum, Tuan. Saya kira Nona bersama dengan Anda," sahut Mira.
"Kami beda perusahaan ," balas Arion, menatap ke arah gerbang masuk.
Mira mengulum tersenyum, lupa.
Tak berselang lama, mobil putih yang dikemudikan Pak Anton tiba, berhenti mulus di depan Arion dan Mira.
Pak Anton langsung turun, ingin membuka pintu tapi sudah didahului oleh Arion.
Arion memegang kedua tangan Karinam membantunya keluar. Arion memapah Karina dibantu oleh Sasha.
"Tidak. Aku tidak mau naik itu!"tolak Karina ketika perawat mendekatkan brankar.
"Tapi Nona?"
Mira sedikit memaksa Karina.
"Sayang?"
"Pokoknya tidak mau!"kekeh Karina.
Harusnya ke markas saja tadi, gerutu Karina.
Arion menghela nafas melihat keras kepala Karina. Dengan cepat menggendong Karina masuk. Sasha dan Aleza langsung mengikut di belakang Arion. Mira yang terdiam sesaat langsung lari mengejar Arion.
Perawat membawa Arion ke ruang bersalin di mana segala sesuatunya sudah tersedia.
Dengan lembut membaringkan Karina di ranjang bersalin. Perawat hendak menyuntik dan memasang infus pada lengan Karina. Akan tetapi tatapan tajam serta elakan tangan Karina membuat perawat tersebut menatap Karina heran.
"Jauhkan jarum itu dariku!"desis Karina.
Arion hanya menggeleng. Ia tidak ingin memaksa Karina menerima suntikan. Bisa-bisa dia kena pukul dan Karinanya pingsan.
"Bawa keluar semua jarum di ruangan ini!"tegas Arion.
Mira sendiri mulai mengerjakan tugasnya, membantu Karina lahirlah.
"Masih bukaan ke tujuh. Tuan kita butuh beberapa saat lagi sebelum Nona melahirkan. Untuk mengurangi rasa sakitnya, Anda bisa mengajak Nona mengobrol," ujar Mira.
"Bukaan ke tujuh?"
"Duh padahal di atas meja sudah ada buku-buku mengenai itu, mengapa kau tidak membacanya?"
Karina menatap kesal Arion. Rasa sakitnya memang sakit tapi Karina berusaha menetralisirnya.
Merasakan setiap gerakan dan sakit yang ditimbulkan, mengatur pernafasan serta memindahkan fokus rasa sakit kepada Arion.
"Aku tidak punya waktu, Sayang," jawab Arion.
"Nggak punya waktu? Cuma baca semenit setiap hari nggak punya waktu? Buku setipis koran nggak tuntas dua minggu?"
Mata Karina menatap marah Arion. Arion menelan ludah kasar.
"Nanti kalau hamil anak ketiga aku janji bakalan baca dan menguasai semua yang berkaitan dengan kehamilan, melahirkan, dan menyusui," janji Arion.
"Anak ketiga-anak ketiga. Mereka ini saja belum lahir oi! Masuknya gampang keluarnya sulit," gerutu Karina kesal.
"Ya iyalah Sayang. Kan masukkan nano keluarnya senti," celetuk Arion.
Karina melebarkan matanya, sejenak.
"Sayang, apa rasanya sakit?"
Posisi kepala Karina yang mudah dijangkau oleh Karina, langsung saja Karina menyentil keras dahi Arion.
"Sakit, Yang," keluh Arion.
"Maka rasa sakit yang aku rasa puluhan kali lebih dari itu," ketus Karina.
"Sesakit apa?"
"Setelah melahirkan aku akan mematahkan 216 tulangmu bersamaan, kau akan tahu rasa sakitnya."
__ADS_1
Mata Arion melebar.
"Remuk dong tubuhku, Yang."
"Tubuh aku remuk nggak?"
Arion menggeleng.
"Tapi kamu pasti merasakan tulangmu remuk."
Karina tersenyum tipis.
"Mira berapa lama lagi?"tanya Arion tidak sabar.
"Sebentar lagi, Tuan," jawab Mira.
Setelah beberapa menit ruang bersalin gaduh dengan perdebatan manis Arion dan Karina. Akhirnya saat yang ditunggu datang juga. Sudah bukaan ke sepuluh. Mira memberi aba-aba untuk Karina mendorong bayinya keluar.
"Ikuti aba-abab saya ya Nona."
Karina hanya mengangguk samar sebagai jawaban.
"Hitungan ketiga Nona mulai mengejan ya."
Karina kembali mengangguk, mengatur pernafasanya. Arion menggenggam erat jemari Karina, turut merasakan sakit yang kini Karina rasakan semakin menjadi.
"Satu … dua ... tiga!"
"Mmmm … ahh … arrggghhh! Ini sakit Ar!"erang Karina.
"Kamu pasti bisa Sayang! Kamu wanita hebat. Jangan lupakan juga kita harus membuat lima anak lagi! Ayo Sayang dorong terus!"semangat Arion, mendapat lirikan tajam Karina.
"Lima anak katamu? Dua anak saja belum keluar!"
"Baikkah. Ayo keluarkan dulu dua anak kita. Ayo Karina, kemana kekuatanmu? Dokter bagaimana sudah keluar?"
Arion menatap Mira.
"Sedikit lagi Nona. Tarik nafas hitungan ketiga kembali mengenjan!"
"Satu … dua … tiga!"
Karina kembali mengenjan. Mendorong anaknya keluar. Karina mengertakkan giginya. Kuku Karina yang tidak terlalu panjang mencengkeram erat lengan Arion.
"Ayo Nona. Sedikit lagi! Tarik nafas dorong!"
"Ayo Sayang! Aku akan turuti apapun keinginan kamu nanti! Apapun akan aku berikan!"
"Janji ya!"
Arion mengangguk mantap.
Karina berteriak kencang diikuti dengan suara tangis bayi yang pecah, suaranya sampai ke ruang tunggu bersalin, membuat Amri, Maria, Sasha, dan Aleza sontak berdiri. Saling tatap dengan tatapan memastikan.
Di dalam, Arion menatap haru anaknya yang masih berlendir, hatinya membuncah bahagia.
"Selamat Nona, Tuan. Anak pertama kalian perempuan," ujar Mira, memberikan bayi kemerahan itu kepada perawat untuk dibersihkan.
Arion tersenyum lebar. Mengecup kening Karina. Karina masih mengatur nafas dengan mata menatap lekat punggung perawat yang membersihkan anak pertamanya.
Karina kembali meringis sakit saat perutnya kembali mengulah. Anak keduanya juga akan lahir. Mira kembali memandu Karina.
Arion kembali memberi semangat.
Kelahiran yang kedua tidak sesulit yang pertama. Tidak membutuhkan waktu lama, bayi laki-laki anak kedua Karina dan Arion lahir ke dunia ini dengan tangis yang lebih kencang daripada sang kakak.
Untaian kata syukur terus mengalir dari Arion. Karina yang terbaring lemas tapi tetap menatap lekat kemana anak-anaknya dibawa.
Arion menerima dengan hati-hati putri kecilnya, bersiap untuk mengumandangkan iqamah di telinga putrinya dengan lembut. Hati Karina menghangat.
"Karina putri pertama kita ini akan diberi nama Bintang Calysta Tirta Wijaya," ucap Arion, meletakkan perlahan Bintang di sisi Karina.
"Bintang Calysta?"
Karina dengan lembut mengusap pipi Bintang.
"Welcoma Bintang," sambut Karina.
Kini giliran anak keduanya yang Arion azanin. Anak itu tampak anteng dan menikmati seruan azan Arion.
"Dan si tampan ini akan diberi nama Biru Chandra Tirta Wijaya," ucap Arion, meletakkan Biru di samping kiri Karina.
"Welcome, StarBlue."
Karina memeluk kedua anaknya. Arion menunduk, kembali mendaratkan kecupan di kening Karina.
__ADS_1
"Terima kasih Sayang. Kau sangat hebat," ucap Arion.
"Aku baru hebat setelah melahirkan lima anak lagi," sahut Karina yang disambut tawa renyah dari Arion.