
Ucapan selamat dihadiahkan oleh seluruh penghuni istana atas kehamilan Raina dan Angela. Seluruh sangat bersyukur dan bersuka cita atas kabar ini. Dan entah kebetulan atau memang sudah takdir, ternyata Lila juga telah hamil satu bulan. Diketahui setelah Mira memeriksanya.
Memang sejak pagi Lila merasa tak enak badan namun dipaksakan untuk terlihat sehat. Wajah pucat seusai muntah ia tutupi dengan make up. Sam yang awalnya tidak menyadari keanehan pada Lila mulai curiga saat jalan-jalan tadi gelagat Lila seperti orang hendak muntah. Benar saja, Lila muntah dan berujung pingsan.
Pesta perayaan kehamilan Raina, Lila, dan Angela diadakan meriah di istana. Hidangan yang dibuat dengan tangan para suami, Star Boy dan Enji yang statusnya single dengan Darwis sebagai komandan sangat cocok di lidah para istri. Anggur dan jus juga terhidang di meja makan. Alunan musik santai nan menggembirakan menemani makan makan sekaligus pesta mereka. Selesai makan makan, mereka mengontrol ria dilanjutkan dengan unjuk bakat suara, lagi.
Malam liburan terakhir yang benar-benar membekas. Keadaan menjadi kacau saat Star Boy mulai mabuk dan bertingkah random. Ada yang ngoceh berbahasa inggris, ada yang teriak-teriak tak jelas, ada juga yang menunjukkan sisi lainnya, cuek dan dingin menjadi imut.
Ada lagi yang sibuk mencari handphone dan berakhir dengan melakukan live, ada juga yang sibuk memotret sana sini lalu diposting. Yang tertua malah sibuk berpegang dengan makanan menggunakan sumpit sedangkan satu lagi sibuk menantang yang lain yang bermain. Karina yang melihat semua itu hanya tertawa. Membiarkan malam ini bebas mengekspresikan diri.
Rian, Satya, dan Gerry yang mabuk berat berakhir di kamar dengan digotong oleh yang masih sadar.
Kebiasaan mabuk yang dulu sangat melekat pada Arion, Calvin, dan Sam kini hilang. Mereka minum jika sudah benar-benar frustasi, urusan formal, atau saat berkumpul itupun dalam dosis kecil, maksimal dua gelas kecil.
Lain halnya dengan Karina yang minum jika mood atau sekedar menghangatkan badan saat lembur. Wine di balik televisinya juga tak pernah kosong. Hal itu juga berlaku untuk bawahannya.
*
*
*
Hari terakhir liburan, Rian, Satya, dan Gerry bangun kesiangan. Saat keluar kamar mereka mendapati seluruh keluarga sudah bersiap pulang di ruang keluarga. Barang-barang juga sudah dibawa duluan ke bandara. Beberapa helikopter untuk membawa mereka ke dermaga juga sudah terparkir cantik di depan istana.
Menyadari bahwa tinggal mereka bertiga yang belum apa-apa, mereka secepat kilat langsung bersiap. Untung saja baju pakaian ganti sudah disediakan oleh istri masing-masing.
"Karina tak bisakah kau tunda agendamu? Kita pulang sama-sama," tanya Arion dengan wajah tak rela.
"Ini sudah aku undur Ar. Lagipula hanya tiga hari," jawab Karina.
"Itu benar, Tuan. Nona sudah mengundur agenda ini selama dua hari. Jika diundur lagi takutnya menimbulkan masalah yang serius," ujar Raina.
"Ya sudah toh Ar. Karina juga punya tanggung jawab lain," ucap Maria.
"Baiklah. Aku izinkan," ucap Arion. Karina hanya tersenyum simpul.
*
*
*
Setelah Rian, Satya, dan Gerry selesai mereka bergegas menuju luar istana. Para pelayan serta Bayu, Syaka, dan lainnya mengantar mereka. Sebelum berangkat, Karina memberi sedikit arahan pada mereka.
Juga memberi waktu sejenak untuk Enji dan Bayu. Tangis haru mewarnai perpisahan mereka yang pertemuan kelak tak tahu kapan. Selesai dengan Enji, Bayu menghampiri Amri dan Maria, Arion, juga Alia. Syaka memberi hormat pada Li dan Gerry selalu mentornya selama di markas.
Terakhir Bayu memberi hormat pada Karina. Karina memeluk Bayu dengan penuh kasih sayang.
"Jaga dirimu baik-baik," ucap Karina.
"Pasti Kak!"
"Anakku jadilah anak kebanggaan Ayah!"ucap Enji.
"Baik Ayah!"
"Baiklah. Selamat tinggal. Jaga diri kalian. Ini adalah perjalanan yang penuh dengan tantangan bukan sekadar permainan. Kalian sudah menjalaninya selama sembilan bulan. Itu masih fase mudah selanjutnya akan lebih sulit. Kalian akan dipaksa melampaui batasan kalian. Jadilah pribadi yang kuat, insan yang penuh dengan ketelitian dan penuh tanggung jawab. Saat ini memang kalian merasa semua ini berat. Tapi ini untuk masa depan kalian yang gemilang. Jangan merasa dunia tak adil. Kalian adalah anak-anak terpilih yang akan diingat sepanjang masa. Jadilah kebanggaanku, kebanggaan Pedang Biru!"
"Kami mengerti, Queen!"jawab kesepuluh anak itu.
"Syaka kau akan kembali saat usiamu genap 22 tahun. Mereka bertiga kelak akan menjadi tanggung jawabmu," ucap Karina khusus pada Syaka. Syaka menatap bergantian Bintang, Biru, dan Bima. Mengangguk mantap.
Selesai itu, Karina dan Arion naik ke dalam helikopter, disusul Enji, Amri, dan Maria. Lima helikopter itu terbang meninggalkan istana di tengah pulau pribadi itu. Menjauh, meninggalkan kenangan yang membekas. Jejak kaki mereka terhapus oleh air tapi kenangan langkah mereka akan tetap ada.
__ADS_1
*
*
*
Saat hendak berpisah dengan Karina, Bintang, Biru, dan Bima seakan tak rela berpisah dengan Karina. Bintang memeluk erat Karina, tak ingin digendong oleh Amri. Jika dipaksa ia akan menangis. Biru dan Bima sama-sama menunjukan wajah tak mengizinkan Karina perlu. Mereka menggerakkan tangan ingin memegang Karina. Karina menghela nafas kasar. Arion menaikkan alisnya.
"Kalian berangkat saja lebih dulu," ucap Karina pada Li, Elina, Gerry, Mira, Ferry serta Siska. Sedangkan yang lain sudah terbang lebih dulu menuju negara masing-masing.
"Baiklah," jawab Li.
Keenam orang itu berpamitan, segera naik ke dalam pesawat untuk kembali ke negara Y.
"Aku tidurkan mereka dulu," ucap Karina, melangkahkan kaki naik ke salah satu pesawat yang terparkir. Arion dan lainnya mengikut.
Karina menuju kamar diikuti Arion dan Enji. Meletakkan ketiga tuan muda Wijaya itu di ranjang. Bintang masih menangis karena tadi sempat dipaksa. Menangis senggugukan memegang erat jemari Karina. Bima dan Biru juga memegangi Karina.
"Baiklah. Mama akan menemani kalian," ucap Karina.
Karina menyenandungkan lagu anak sebagai pengantar tidur ketiga balita itu. Lambat laut, ketiga anak akhirnya tenang dan tertidur. Karina menghela nafas lega. Arion yang sedari tadi menyimak dengan berdiri bersandar pada pintu kamar, menghela nafas kasar.
"Sebaiknya kepergian kali ini diundur dulu. Firasatku buruk. Anak-anak juga menyadarinya. Mereka lebih peka itu sebabnya mereka menahanmu," ucap Arion.
"Jika bisa aku akan menundanya," jawab Karina, ingin berdiri namun tertahan karena jarinya dipegang oleh Bintang. Dengan lembut, Karina melepas tautan itu.
"Ar kau tahu posisiku. Biarpun itu bahaya aku juga harus pergi. Itu adalah tanggung jawabku," ucap Karina.
"Aku tahu. Tapi jika keadaan tak memungkinkan bagaimana bisa aku tak cemas? Jujur hatiku gelisah dengan kepergianmu kali ini. Tak tahu mengapa, aku merasa aku akan kehilanganmu. Sayang aku mohon undur kepergianmu. Setidaknya sampai mereka mengizinkan," harap Arion.
"Percayalah semua akan baik-baik saja. Aku akan pulang dengan selamat," ujar Arion, memeluk Arion.
"Jika begitu aku tak bisa menahanmu lagi. Berjanjilah kau akan pulang dengan selamat. Kabari aku setiap waktu."
"Aku berjanji. Aku akan kembali dengan selamat tanpa kurang satupun."
*
*
*
Karina melambaikan tangan saat pesawat yang membawanya lepas landas dari bandara pribadinya menuju negara Y. Karina menatap datar pesawat yang telah mengudara.
"Hatiku juga gelisah tapi ini adalah tanggung jawab. Ya Tuhan lindungilah hamba selalu. Lancarkanlah urusan hamba hingga hamba kembali dengan selamat."
Karina baru masuk ke dalam pesawat setelah pesawat itu hilang dari pandangannya.
*
*
*
Di dalam pesawat, Karina tidaklah duduk tenang istirahat, melainkan sibuk bekerja dengan laptopnya. Air hangat tersaji di dekat laptop. Kacamata yang Karina gunakan menambah kesan serius dan berwibawa.
Tiga puluh menit perjalanan, semua berjalan dengan baik. Akan tetapi tiba di menit ke empat puluh lima, perjalanan terganggu. Karina mendongak ketika merasa pesawat terguncang. Pramugari langsung menghampirinya dengan wajah panik.
"Ada apa?"
"Cuaca buruk, Nona. Pesawat tersambar petir. Sistem pesawat tidak berfungsi. Kapten sedang mencari pendaratan terdekat," ucap pramugari tersebut. Karina mengeryit tipis.
__ADS_1
"Sudah kirimkan sinyal ke pusat?" Pramugari tersebut mengangguk cepat.
"Lebih baik siapkan parasut," ucap Karina.
"Tapi-tapi Nona di bawah samudra. Tidak ada tempat pendaratan," sela co-pilot dengan wajah cemas.
"Kita tetap terjun. Atau kalian mau mati terbakar?" Nada bicara Karina datar. Wajahnya tenang tapi hatinya panik. Ia harus tenang agar bawahannya juga tenang.
"Nona kami sudah mengirim sinyal tapi saat ini kita hilang kontak dengan mereka. Nona apakah kita akan mati di sini?" Karina menatap satu persatu awak pesawat kecuali pilot yang masih berusaha keras mengendalikan pesawat.
"Mati atau tidak, kita sudah siap untuk itu. Pakai parasut kalian. Air juga pendaratan yang bagus!"titah Karina. Mau tak mau, mereka mulai memakai parasut. Karina melihat handphone dan laptopnya, mati.
Melihat jam tangannya, masih menyala tapi mulai kehilangan fungsi. Sebelum mati total Karina mengirim pesan suara kepada Arion. Benar saja setelah pesan itu dikirim, jam itu mati total. Karina menaikkan pandangan melihat awak kapal yang sudah selesai memakai parasut, sang pilot juga sudah memakainya. Pesawat mulai oleng, pramugari membuka pintu pesawat. Satu persatu terjun dari pesawat, memejamkan mata berharap ada keajaiban agar mereka selamat. Yang terakhir terjun adalah Karina.
"Ternyata ini alasan hatiku gelisah," gumam Karina, tersenyum tipis kemudian melompat.
Kejadian hari ini mengingatkan Karina dengan kejadian yang sama saat pergi ke Korea. Bedanya jika dulu ia bersama dengan keluarga, kini ia sendiri bersama dengan awak pesawat. Jika dulu ada kapal pesiar sebagai tempat mendarat maka sekarang hanya samudra dengan gelombang tinggi. Karina menarik tuas, mengembangkan parasutnya.
Aku mohon, selamatkan kami.
*
*
*
Markas pusat kacau dengan sinyal dan pendeteksi keamanan Karina yang berbunyi nyaring, dengan alarm berwarna merah. Tim penyelamat segera diturunkan ke titik terakhir Karina yang tersimpan.
Di sisi lain, Li dan Gerry saling tatap dengan wajah pias, segera membuka laptop mereka.
"Mendarat di bandara terdekat!"pekik Li.
Pilot mengangguk dan segera mengirimkan sinyal ke bandara terdekat, meminta izin mendarat.
"Ada apa?"tanya Mira yang ikut cemas dengan wajah Gerry yang kacau.
"Karina! Karina dalam bahaya. Pesawatnya hilang kontak. Deteksi keamanannya juga mati!"ucap Gerry.
"Apa?!" Ferry, Siska, Elina, dan Mira terkejut, wajah mereka ikut cemas.
"Percayalah Karina pasti selamat," ujar Li, ia harus tetap tenang. Percaya bahwa Karina akan selamat. Setelah mendapat izin mendarat, pesawat mendarat di bandara terdekat. Li segera memeriksa titik terakhir pesawat Karina.
"Samudra Hindia? Gerry coba cek cuaca di sana," ujar Li.
"Beri aku beberapa menit."
"Bagaimana?"
"Cuaca buruk. Kemungkinannya pesawat tersambar petir."
"Turunkan tim terdekat. Sisir samudra. Turunkan kapal selam. Blokir berita dari publik. Kita harus cepat menemukan Karina," ucap Li
"Kalian kembalilah ke negara Y. Eli, Mira kalian handle markas. Ferry dan Siska kalian fokus saja dengan pekerjaan kalian seperti biasa. Mengenai Karina serahkan pada kami dan tim!"lanjut Li.
"Tapi Li…."
"Aku mohon Eli. Ini demi kebaikan semuanya," ujar Li.
"Baiklah."
"Berhati-hatilah."
Li dan Gerry segera turun dari pesawat. Mira dan Elina saling tatap dengan wajah cemas. Berharap Karina dan suami mereka baik-baik saja dan pulang dengan selamat.
__ADS_1